Cinta adalah Sumber Kekuatanku untuk Sembuh

Seperti ada petir yang menyambar tubuhku ketika aku, Ika Sakti, menerima diagnosa itu dari dokter. Penyakit mematikan yang sama sekali tak pernah terbayangkan ada di dalam tubuhku. Akhir Februari 2015 saat aku berusia 47 tahun, penyakit yang mengerikan itu menggerogoti tubuhku. Aku tidak tahu mengapa penyakit ini ada di tubuhku, mengapa ini semua menimpaku? Hatiku semakin terguncang ketika aku tau, penyakit kanker yang menimpaku sudah memasuki stadium tiga. Ini semua seperti mimpi buruk untuk ku.

Sesaat aku merasa Tuhan tak sayang padaku dengan memberikan penyakit mematikan ini. Tetapi aku salah, penyakit ini membuat aku berinstropeksi dir bahwa selama ini aku memang menjalani pola hidup yang kurang sehat. Pekerjaanku sebagai notaris yang menyita waktu membuat aku menjadi tidak memperhatikan kesehatanku. Penyakit ini juga membuatku lebih dekat dengan Tuhan. Aku menemukan kedamaian dan ketenangan jiwa justru setelah aku terdiagnosa penyakit mematikan ini.

Ini awalnya sungguh berat untuk ku. Berat bagiku untuk menerima penyakit ini. Namun, aku sungguh sangat beruntung memiliki keluarga yang amat mencintaiku. Aku memiliki dua orang anak laki-laki yang sungguh luar biasa. Bahkan, si sulung memberikan kado yang indah untuk ku. Anakku diterima di jurusan Teknik Metalurgi di salah satu Universitas Negeri terbaik di Indonesia. Itu sebuah kado yang sangat indah yang membuatku terus bersemangat untuk melawan penyakit ini. Aku memang wanita beruntung, Tuhan sangat baik terhadapku. Tuhan memberikan aku anak-anak yang sungguh membanggakan dan juga memberiku seorang suami yang sangat setia terhadapku.

Suamiku setia mendampingi saat aku melakukan pengobatan kemoterapi dan setia mengurusku saat kondisiku drop. Bahkan, disaat aku melakukan kemoterapi yang ke 18 dan radiasi yang ke 30, tanganku tidak dapat digerakkan sama sekali, kakiku menjadi berat sehingga selama dua minggu aku harus terus berada di tempat tidur, suamiku dengan ikhlas mengurusku dan menjadikanku bak seorang putri. Disitulah aku mengerti bahwa Tuhan memang memberikan aku cobaan yang sangat berat untukku, namun dibalik itu semua aku jadi tahu, Tuhan telah memberikanku keluarga yang amat mencintaiku. Merekalah sumber kekuatanku hingga saat ini. Aku sangat bersyukur memiliki mereka, Terima kasih Tuhan.

Selain keluargaku, teman-teman dari komunitas Yayasan Kanker Payudara Indonesia juga membuat aku menjadi sosok yang lebih kuat untuk dapat melawan penyakitku. Saat aku terdiagnosa mengidap kanker payudara, ibuku mengajakku bertemu dengan Ibu Linda Gumelar dan bergabung dengan YKPI. Setelah beberapa lama bergabung dengan komunitas ini, aku merasa menjadi lebih baik. Aku mendapat cinta dan perhatian dari teman-teman sesama penderita kanker payudara. Kami saling menyemangati satu sama lain, dan itu menjadi obat bagi kami. Dulu, sebelum aku bergabung dengan komunitas ini, aku seperti tak sanggup menghadapi penyakit ini. Namun, semenjak bertemu dengan ibu Linda Gumelar, pelan-pelan aku dapat kembali bersemangat untuk melawan penyakitku seperti beliau dulu melawan penyakit itu.

Bagi para wanita di luar sana yang sedang mengidap penyakit yang sama sepertiku, percayalah, Tuhan menitipkan penyakit ini di dalam tubuh kita untuk membuat kita jauh lebih kuat dalam menjalani hidup. Terdiagnosa kanker bukan berarti akhir dari segalanya. Bersemangatlah untuk orang-orang yang mencintaimu dan berjuanglah untuk sembuh.

Penulis: Intan Ayudia Pratiwi/Team PR & Media YKPI

Share this post