daftar para pejuang kanker yang berhasil melewati masa kelamnya

Kekuatan Doa dan Keluarga Membuatnya Bertahan

Tak pernah terlintas dalam pikiran bahwa Diah Retno Wilaks Kusumaning Tyas akan mengidap kanker payudara. Awal ketakutan yang ia rasakan ketika anak perempuan yang kedua melihat ada kelainan pada bentuk payudara. “Dia memaksa ingin melihatnya namun saya menolak. Akhirnya di suatu sore selesai mandi, anakku memaksa untuk melihat bentuk payudaraku. Dengan berlinang air mata, dia memohon dan menyarankan agar saya untuk periksa ke dokter” ceritanya kepada tim PR & Media YKPI (Yayasan Kanker Payudara Indonesia).

Beberapa hari kemudian, kelahiran 16 November 1957 yang biasa dipanggil dengan Laksy mengunjungi dokter radiologi dan memeriksakan keadaannya. Hasilnya tidak menunjukkan tanda keganasan namun ia dianjurkan untuk kembali enam bulan kemudian. Walau demikian, ada rasa takut yang sangat luar biasa didirinya karena merasakan sesuatu yang tidak beres dengan payudaranya. Anaknya yang berprofesi sebagai dokter terus memantau keadaan orangtua yang tercinta, namun Laksy tetap merasakan ketakutan dan membuat emosinya tidak stabil. Setiap hari Laksy selalu sembunyikan ketakutan itu dengan berdoa setiap malam, “Ya Allah, apa yang aku takutkan jangan sampai terjadi.” Pintanya.

Keraguan yang kerap kali muncul dalam benak membuatnya membuat Laksy tidak tenang. Laksy mengajak anaknya untuk mencari second opinion, oleh karena itu pada 13 Desember 2010, Laksy melakukan pemeriksaan mammografi dan USG di salah satu rumah sakit swasta di Medan.

Perasaan takut dan penasaran membuatnya bergumam, “Udah kelihatan ya dok, tanda-tanda keganasannya?” Dokter pun menjawab, “Belum.” Dan sepuluh menit berselang barulah kata-kata yang tidak diinginkannya keluar dari dokter itu, “Pemeriksaan perlu dilanjutkan dan saya dianjurkan segera menemui dokter bedah onkologi”. Pinta dokter kepadanya

Bagai petir di siang bolong, anaknya yang ikut mendampinginya tertegun hingga berlinang air mata, Ia menguatkan Bundanya dengan berkata, “Bunda, pasti Bunda baik-baik saja, kanker Bunda masih dini. Ayo kita langsung jumpai dokter bedah onkologi. Pandang kami Bunda, kami masih butuh Bunda. Bunda harus semangat menghadapi ini semua, percaya dan yakin bunda pasti baik-baik saja.”

Walaupun kaki rasanya seperti tidak menginjak bumi, hari itu Laksy pulang ke rumah menunggu praktek dokter bedah onkologi sore harinya. Sesampai di rumah, Laksy sholat Zuhur sambil menangis dan berdoa, “Ya Allah, terima kasih Engkau beri aku cobaan, aku yakin karena Engkau tahu aku kuat menerimanya, dan dengan Engkau beri aku cobaan, aku bisa lebih introspeksi diriku yang banyak dosa ini. Laa ila ha illa anta subhanaka inni kuntum minazzolimiin.”

Selesai sholat, Laksy segera menelpon suaminya yang saat itu berada di Tanjungbalai. Ia mengatakan bahwa dirinya mengidap kanker dan seketika itu pula suami tercinta menangis. Saat itu Laksy semakin percaya bahwa suaminya sangat sayang pada dirinya.

Sore harinya Laksy mengunjungi dokter bedah onkologi dengan membawa hasil mamografi dan USG, antrian pasien yang banyak yang dilihatnya membuat dirinya bergumam dalam hati, “Ternyata penderita kanker bukan saya saja.”  Dan setelah konsultasi, malam itu pun Laksy langsung di opname di rumah sakit sambil menunggu suami tiba di Medan.

Besoknya, Laksy melakukan full check up. Ia dikenalkan oleh dokter bedah onkologi pada dokter anestesi dan dokter patologi anatomi. Karena rencana didurante operasi langsung diperiksa jaringannya untuk mengetahui batas jaringan yang akan diambil sesuai dengan penyebarannya. Sambil menepuk bahu dirinya, dokter onkologi berkata, “ Sudah siapkah Diah? Besok kita mainkan, semangat dan tegar ya!” Kemudian Laksy menjawab, “Saya sudah siap dan pasrah. Terserah dokter, lakukan yang terbaik buat saya.”

Tanggal 15 Desember 2010, dengan mengucap bismillah Laksy masuk ruang operasi dengan diantar suami, anak-anak, serta para sahabat yang tak pernah berhenti memberikan suntikan semangat. Saat operasi, langsung dilakukan PA dan alhamdullilah belum ada penyebaran di kelenjar. Walaupun demikian, operasi dilakukan seaman mungkin dan tujuh kelenjar ketiak diambil. Operasi berlangsung agak lama karena ternyata dirinya juga mengidap kelainan pada proses pembekuan darah. “Lengkaplah penderitaan saya” ucapnya kala itu.

Seharusnya Laksy diijinkan boleh pulang setelah lima hari paska operasi, namun kelainan darah mengakibatkan dirinya harus tinggal dirumah sakit lebih lama. “Selain lama tinggal di rumah sakit, saya juga ditransfusi sepuluh kantong darah. Setelah itu, hasil jaringan yang telah diangkat diperiksa lagi untuk mengetahui apakah sel kanker tersebut lebih sensitif terhadap obat ataukah kemoterapi. Setelah mengetahui obat yang cocok dan kesiapan tubuh, saya menjalani enam kali kemoterapi yang dilakukan tiga minggu sekali” katanya menceritakan proses menjadi penghuni rumah sakit selamat tiga minggu.

Menurut Laksy, “Kemoterapi ternyata sangat menyakitkan”. Namun kehadiran dan cinta yang dicurahkan suami dan anak-anak memberikan suntikan semangat baru bagi dirinya untuk berjuang. Walaupun ia merasa diberi cobaan yang sangat berat, Laksy tetap ingat kata-kata ini: “Allah tidak akan memberika sesuatu tanpa ada hikmahnya,” dan kunci atas kekuatan yang Laksy miliki adalah selalu yakin pada kekuatan doa.

Bagi pejuang Kanker yang akan memasuki masa pensiunnya sebagai Pegawai Negeri Sipil tahun depan ini memiliki keinginan menjadi relawan YKPI untuk mengisi hari-hari pensiunnya. “Begitu saya dikenalkan dengan komunitas Pita Pink – YKPI saya makin berkeyakinan bahwa saya tidak sendiri, saya dikelilingi oleh orang-orang hebat di komunitas ini” ujarnya. Untuk menunjukan keseriusan untuk menjadi relawan YKPI di bulan Agustus 2016 ia pun berangkat ke Jakarta untuk mengikuti kegiatan Pelatihan Pendampingan Pasien Kanker Payudara angkatan ke-2 yang diselenggarakan YKPI.

Bahkan Laksy juga akan mengajak 2 orang Survivors dan 1 dokter Onkologi dari Medan untuk bersama dirinya hadir diacara Temu Penyintas Kanker Payudara Se-Indonesia yang diselenggarakan pada 1 Oktober 2016. “Mereka nanti akan mudah dikenali karena kami menggunakan kain ulos” tambahnya dengan penuh semangat.

“Kami ingin hadir di Jakarta untuk mengajak para penyintas kanker tidak berputus asa dan mereka tidak sendiri. Mereka bersama kami” Tutupnya mengakhiri wawancara jarak jauhnya dengan tim PR & Media YKPI.

————————————–

Kisah diatas sebagaimana ditulis langsung dan disampaikan dr. Diah Retno Wilaks Kusumaning Tyas kepada YKPI (Yayasan Kanker Payudara Indonesia) untuk menyambut bulan Kanker Payudara Dunia setiap bulan Oktober.

Dalam menyambut bulan Oktober bulan Kanker Payudara Dunia, YKPI akan menyelenggarakan  “TEMU PENYINTAS KANKER PAYUDARA SE-INDONESIA”di Hotel Mercure Ancol Jakarta, pada 1 Oktober 2016 pukul 09.00-12.00 WIB.

Read more...

Berdamai Dengan Kanker

Kanker adalah kata yang sangat menakutkan. Kebanyakan orang mengidentikkan kanker sama dengan menderita, sama dengan kematian. Kenyataan tidaklah demikian. Akhir tahun 2011, saya terdeteksi kanker payudara stadium 3B. Takut, kaget, sedih sudah pasti, belum lagi ketika harus menghadapi dokter untuk pemeriksaan ginjal. Saat itu dokter mengatakan jika saya mendapatkan kemoterapi, maka ada kemungkinan akan merusak fungsi ginjal dan saya harus menjalani hemodialisis (cuci darah) seminggu tiga kali. Ketakutan? Wajar saja, saat itu saya memutuskan tidak mau menjalani kemoterapi dan operasi.

Berawal dari kekhawatiran inilah saya mulai mencari pengobatan alternatif. Selama 2,5 tahun saya menjalani pengobatan alternatif, namun bukan sembuh yang saya dapat, melainkan kerusakan pada payudara saya. Pengalaman dengan pengobatan alternatif membuat saya menyadari bahwa kanker hanya bisa ditangani menggunakan terapi medis.

Tuhan buka jalan bagi saya

Termotivasi dengan pengalaman kakak ipar saya yang menjalani operasi pengangkatan rahim, saya bersedia menjalani terapi medis kembali. Dengan persetujuan suami dan anak-anak, saya berangkan ke Penang, Malaysia untuk menjalani terapi medis di sana. Ditemani kakak ipar dan tante (adik mama) Saya konsultasi dengan Dr. Cheong Yew Teik di Penang Adventis Hospital. Melihat kondisi payudara saya Dr. Cheong geleng-geleng kepala dan berkata “teruk” yang artinya kondisinya sudah buruk. Beliau mejelaskan bahwa saya harus menjalani operasi, dan karena area yang harus dioperasi cukup lebar, maka saya perlu mengambil kulit di bagian punggung untuk menambal area payudara yang akan dioperasi. Terlintas di benak saya operasi pada bagian payudara dan punggung yang harus saya jalani. Sungguh berat. Dr. Cheong kemuudian menjelaskan bahwa kanker payudara saya stadium 3 dan saya disarankan untuk menjalani kemoterapi sebanyak 8 kali. Setelah kemoterapi maka operasi (mastektomi) baru dapat dilakukan. Setelah operasi pun perawatan yang harus saya jalani juga belum selesai. Saya masih harus menjalani 25 kali radioterapi dan 17 kali kemoterapi lagi dengan obat Herceptin.

Wow… terlintas di pikiran saya, apakah harus sepanjang itu saya menjalani pengobatan untuk mempertahankan hidup? Dalam benak saya bertanya, sanggupkah saya menjalani semua ini? Saya disarankan untuk berkonsultasi dengan Dr. Ang Soo Fan, beliau seorang dokter bagian onkologi di Penang Adventist Hospital. Kali ini diagnosa Dr. Ang lebih seram lagi, beliau mengatakan saya stadium 4 dan tak bisa disembuhkan.

Kemudian saya berpikir apa gunanya saya menjalani rangkaian pengobatan ini apabila tidak bisa sembuh. Namun saya punya keyakinan dokter bukanlah Tuhan, masih ada Tuhan Yang Maha Penyembuh. Mendengar vonis Dr. Ang saya berbisik kepada kakak ipar dan tante yang menemani saya agar jangan menceritakan hal ini kepada suami dan anak-anak. Rupanya bisikan saya ini didengar oleh Dr. Ang. Beliau marah dan mengharuskan saya untuk memberi tahu seluruh keluarga, termasuk asisten rumah tangga di rumah. Hal ini diperlukan untuk mendukung proses penyembuhan.

Setelah berkonsultasi dengan dokter pada kunjungan pertama saya ke Penang itu saya langsung menjalani kemoterapi untuk pertama kalinya. Sebelumnya saya belum bisa membayangkan apa yang dimaksud dengan kemoterapi. Ternyata kemoterapi yang saya jalani hanya menggunakan infus dan berjalan dengan baik. Pada kemoterapi pertama ini ada pengalaman yang unik. Karena perawat melihat wajah saya yang ketakutan, perawat mempersilakan saya menjalani kemoterapi di atas tempat tidur, padahal sebenarnya tempat tidur ini diperuntukkan bagi pasien yang sudah dalam kondisi parah. Setelah itu saya juga dipanggilkan seorang pendoa agar saya tenang dan dikuatkan melalui doa.

Kemoterapi pertama sudah saya jalani kemudian kembali ke Jakarta, saya mengalami pendarahan di payudara. Terbersit di benak saya, tamatlah hidup saya. Atas inisiatif kakak ipar saya dilarikan ke RS Medistra, Jakarta. Melihat kondisi payudara saya, dr. Aru yang saat itu menangani saya menanyakan bagaimana cerita pengobatan saya. Kemudian saya ceritakan semua termasuk pengalaman saya menjalani pengobatan alternatif. Mendengar cerita saya dr. Aru bertanya “Kapan Ibu bertobat?” Saya menjawab, “Mulai hari ini saya bertobat dan kembali ke terapi medis”

Saya menjalani rangkain kemoterapi di Penang dengan bolak-balik ke Jakarta-Penang. Sampai pada kemoterapi kedelapan. Dr. Cheong yang baik hati berkunjung ke ruang kemoterapi dan bertanya, “Saya mendengar Ibu telah menjalani delapan kali kemoterapi dan tidak mengalami muntah dan lainnya ya? Bagus!”. Saya kemudian mengatakan kepada Dr. Cheong jika saya berharap agar dengan kondisi yang semakin baik ini saya tidak perlu menjalani operasi. Dr. Cheong menjelaskan bahwa apabila hasil observasi setelah kemoterapi benjolan yang ada di payudara saya lembut maka bisa saja tidak perlu dilakukan operasi. Namun hasilnya ternyata ada benjolan berukuran kecil yang keras di payudara. Saya pun tetap harus menjalani operasi. Mendengar kata ‘operasi’ saya terus terang sangat takut. Dr. Cheong kemudian bertanya. “Kenapa Takut?”. Saya jawab “Saya takut mati.”. Dr. Cheong berusaha menenangkan saya dan berdasarkan pengalamannya selama ini belum ada pasiennya yang meninggal karena operasi payudara.

Jadwal operasi bulan Januari 2015 saya kembali ke Penang dengan seluruh anggota keluarga, suami, dan tiga anak saya beserta dengan kakak ipar bersama suaminya dan tante saya yang selalu setia medampingi saya selama menjalani kemoterapi. Kebetulan saat itu, Martin anak pertama saya sedang kembali ke Indonesia, ketika itu Martin menetap di Den Haag, Belanda. Maka kesempatan ini saya manfaatkan juga untuk berkumpul dengan keluarga. Sama dengan kunjungan sebelumnya, saya masih belum bersedia untuk dioperasi. Dr. Cheong mengizinkan saya untuk pulang dan berpikir kembali.

Atas dukungan suami dan ketiga anak saya yang sudah secara langsung mendengarkan penjelasan Dr. Cheong pada kunjungan sebelumnya. Saya akhirnya memberanikan diri berangkat ke Penang ditemani adik, kakak ipar dan tante yang bersama anak bungsu saya untuk menjalani operasi.

Puji Tuhan, operasi berjalan lancar dan saya tidak merasakan apa-apa. Begitu membuka mata, mastektomi yang saya jalani sudah selesai. Malam hari setelah dioperasi, Dr. Cheong berkunjung ke kamar perawatan dan meminta saya untuk mengangkat tangan kanan. Saya pun sudah bisa mengangkat tangan kanan saya. Dr. Cheong mengatakan bahwa ini sangat baik. Beliau sebelumnya mengkawatirkan akan ada infeksi karena saat akan operasi HbAlc (gula darah) saya 17 dan delapan titik getah bening saya juga diangkat karena positif mengidap kanker. Setelah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, saya berjalan kaki ke gereja Katolik terdekat dengan kantong darah untuk menampung darah sisa operasi masih terpasang di badan saya. Sekali lagi saya memohon kekuatan kepada Sang Pencipta.

Perjalanan selanjutnya adalah saya harus menjalani radioterapi sebanyak 25 kali. Saya memutuskan untuk menjalani radioterapi di rumah sakit yang ada di Jakarta. Saya kemudian menggunakan Jaminan Kesehatan Nasional yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS Kesehatan) mengingat biaya yang sudah saya keluarkan sudah sangat besar dan proses pengobatan saya masih panjang.

Cerita kebanyakan orang bahwa dengan menggunakan fasilitas yang disediakan BPJS Kesehatan kita harus menunggu selama berbulan-bulan tidak saya alami. Puji Tuhan, saya hanya menunggu selama dua minggu dan mendapatkan panggilan dari MRCCC Siloam Hospital untuk menjalani radioterapi. Dokter yang menangani radioterapi saya adalah dr. Fielda, yang kemudian memutuskan bahwa radioterapi yang harus saya jalani adalah sebanyak 30 kali. Bersamaan dengan radioterapi saya masih harus menjalani kemoterapi dengan Herceptin sebanyak 17 kali selama satu tahun sesuai dengan anjuran Dr. Ang dari Penang. Sebagai informasi Herceptin ditanggung oleh BPJS Kesehatan sebanyak 8 ampul. Harga 1 ampul Rp 22.400.000 dengan ukuran 440 cc. Herceptin ini diberikan berdasarkan berat badan, untuk saya memerlukan 350 cc untuk sekali infus. Dengan kemasan 440 cc maka setiap kali pengobatan ada sisa yang dapat saya gunakan untuk pengobatan selanjutnya. Saya sempat membayar sendiri sebanyak 3 kali karena jumlah yang ditanggung oleh BPJS Kesehatan dibatasi.  Perlu saya sampaikan di sini, bahwa penggunaan obat Herceptin yang ditanggung oleh BPJS Kesehatan harus memenuhi syarat pasien dengan kondisi IHK -HER 2 (+) yang dibuktikan dengan hasil patologi dan mengalami penyebaran (metastasis). Puji Tuhan, tidak ada efek samping yang saya rasakan selama menjalani kombinasi pengobatan radioterapi dan kemoterapi Herceptin ini. Namun setelah memasuki siklus kemoterapi Herceptin yang ke 13, muncul nodul (benjolan kecil) di bekas jahitan. Pada saat siklus ke 14 sudah disiapkan, saya pamit kepada dokter di Jakarta untuk kembali berangkat ke Penang.

Tepat pada satu tahun setelah operasi pertama yaitu pada Februari 2016, saya kembali menjalani operasi ke-2 untuk mengangkat 3 nodul kecil yang ada pada saya. Nodul yang diangkap ini juga diambil untuk dilakukan penelitian patologi untuk kemudian menentukan status IHK-HER2 saya. Pada operasi pertama hasil patologi saya dengan HER2 (+) adalah dengan ER (-), PR (-) Cerb B2 (+). Sementara pada operasi kedua hasil patologi HER2 (+) dengan ER (+), PR (-), Cerb B2 (+). Hasil ini oleh Dr. Dismas Chaspuri yang menangani saya selama berobat di MRCCC Siloam Hosptal dianggap satu tingkat lebih baik dari sebelumnya. Kemudian saya diberi obat “Letrozole” untuk diminum setiap hari selama 2 tahun hingga saat ini.

Setelah operasi kedua, hasil CT Scan pada tulang dada saya ada penyebaran sel kanker dan dokter meminta saya untuk melakukan radioterapi selama 17 hari di Penang. Saya tinggal di Penang selama 17 hari ditemani oleh suami. Radioterapi yang saya terima sebanyak 10 kali.

Saat ini saya masih menjalani pengobatan untuk mencegah terjadinya pertumbuhan sel kanker kembali. Saya dirujuk pada dr. Andhika Rachman onkologi di MRCCC Siloam Hospital. Beliau kemudian menganjurkan saya untuk mengikuti uji klinis Herceptin Emtansine sebuah obat formulasi baru daripada Herceptin yang sudah pernah saya gunakan sebelumnya. Uji klinis ini memungkin saya mendapatkan obat tanpa perlu membayar dan semua biaya ditanggung oleh penyelenggara uji klinis yaitu perusahaan farmasi Roche. Saat ini saya sedang menunggu jadwal konsultasi dr. Andhika Rachman untuk menjalani tes elektrokardiogram (EKG) sebab salah satu syarat seleksi awal membaca hasil EKG dan hasil lab sebagai syarat untuk mengikuti uji klinis ini.

Puji Tuhan lagi, beberapa bulan lalu melalui kebaikan hati Ibu Ati Windratmo saya diundang dr. Shanti Gultom masuk dalam Komunitas Pita Pink pimpinan Ibu Linda Gumelar. Komunitas ini sangat bermanfaat bagi saya karena dapat berbagi pengalaman dengan sesama pejuang kanker. Saya berkesempatan diundang dalam diskusi panel “Implementasi JKN dalam Penjaminan Pelayanan Kepada Pasien Kanker Anak & Kanker Payudara”.

Dalam kesempatan ini saya berterima kasih kepada keluarga, YKPI dan handai taulan yang selalu mendukung saya dalam doa.

Tak dapat dipungkiri “Kuasa doa” sungguh luar biasa.

Berdoa, semangat menjalani pengobatan medis, kita pasti sembuh.

—————-

Kisah diatas sebagaimana ditulis langsung dan disampaikan Maria Cecilia kepada YKPI (Yayasan Kanker Payudara Indonesia) untuk menyambut bulan Kanker Payudara Dunia setiap bulan Oktober.

Dalam menyambut bulan Oktober bulan Kanker Payudara Dunia, YKPI akan menyelenggarakan  “TEMU PENYINTAS KANKER PAYUDARA SE-INDONESIA”di Hotel Mercure Ancol Jakarta, pada 1 Oktober 2016 pukul 09.00-12.00 WIB.

Read more...

Kanker: Awal dari Kehidupan yang Lebih Bermakna

Sebagai individu, kita seringkali dihadapkan pada pahit manisnya kehidupan. Layaknya roda yang berputar pada porosnya, kehidupan juga memiliki porosnya sendiri yang membawa kita ke titik puncak maupun titik terendah.

Lisamerie Parantean mungkin beranggapan bulan Oktober 2014 adalah salah satu titik terendah dalam hidupnya. Setelah melakukan biopsi, ia didiagnosa kanker payudara dengan stadium 0, saat itu dokter onkologi sudah mengajurkan untuk operasi pengangkatan tumor ganas tersebut. Satu hari menjelang operasi, Lisa memutuskan untuk tidak datang ke RS dan menolak untuk di operasi karena ia belum bisa menerima kenyataan dan memutuskan untuk berobat secara alternatif. Enam bulan berlalu, di bulan April 2015 Lisa memutuskan untuk kembali berobat secara medis, sesuai janji yang ia pegang kepada dirinya dan keluarganya yaitu jika dalam 6 bulan keadaannya tidak membaik maka ia akan kembali kontrol ke dokter. Kali ini dokter menegaskan bahwa kanker payudaranya sudah mencapai stadium 3B. Lisa merasa dunia hampir berhenti untuknya. Beberapa dokter di beberapa kota di Indonesia maupun di luar negeri ia temui untuk mencari opini tambahan sambil berharap bahwa diagnosa akan berubah menjadi lebih baik. Semua dokter berpendapat sama, Lisa tidak bisa menunda lagi, ia secepatnya harus ditangani.

Perlahan tapi pasti Lisa akhirnya berkomitmen untuk menjalani semua proses pengobatan secara medis, yaitu dimulai dengan 3x kemoterapi neoadjuvant (sebelum operasi), operasi pengangkatan tumor, dilanjutkan dengan 6x kemoterapi lanjutan dan diakhiri dengan radiasi sebanyak 27x.  Dalam proses menjalani pengobatan inilah Lisa menemukan pandangan dan misi baru atas tantangan hidup yang menimpanya saat itu.

“Saya bukan saja merasa lebih dikuatkan tapi saya memilki pandangan-pandangan baru tentang hidup yaitu menjadi lebih mensyukuri dan menghargai kehidupan. Saya juga ingin mengisi kehidupan ini dengan hal-hal yang berguna, bukan saja untuk diri sendiri tapi untuk banyak orang,” kata wanita yang kini memasuki usia 38 tahun.

Ungkapan Lisa tersebut diutarakannya paska bergabung dengan YKPI (Yayasan Kanker Payudara Indonesia) sejak Agustus 2015 silam. Ia merasa senang karena banyak memiliki teman-teman baru seperjuangan yang tentunya sangat memahami apa yang sedang dialaminya. Oleh karena itu, wanita yang bekerja sebagai Freelancer Journalist ini tidak merasa berjalan sendiri dalam menghadapi kanker payudaranya.

Ada pepatah yang mengatakan ‘everything happens for a reason.’ Hal yang menimpa Lisa ini tentunya terjadi untuk sebuah alasan. Ia mengungkapkan bahwa banyak hal baik dan berguna yang dulu ia ingin lakukan tetapi selalu ditunda, sekarang tidak lagi. Dia tidak pernah lagi menunda, karena setiap detik begitu berharga dan penuh dengan kesempatan untuk berbuat hal yang berguna. “Seperti kata Benjamin Franklin ‘you may delay but time will not,” ujarnya.

Bergabung dengan komunitas Pita Pink yang merupakan bagian dari YKPI ini menjadi salah satu hal baik yang tidak ingin ditundanya yang akhirnya menjadi salah satu titik balik kehidupannya untuk menjadi lebih positif dan termotivasi. Lisa mengungkapkan kesan mendalam setelah bergabung dengan komunitas yang peduli terhadap penderita Breast Cancer (BC) ini. Tidak tanggung-tanggung, ia pun menjadi peserta dalam workshop ‘Pelatihan Relawan Pendamping Pasien Kanker Payudara Bersertifikat Internasional’. “Sangat mengesankan dan berguna sebagai bekal untuk memiliki pengetahuan yang cukup mengenai do’s and dont’s bagi pasien BC dan juga tentunya untuk melatih diri menjadi relawan pendamping pasien kanker payudara yang kompeten.”

Menghadapi breast cancer bukan menjadi alasan untuk tidak berbagi dan menutup diri, ini telah dibuktikan Lisa bersama survivors lainnya yang tergabung dalam komunitas Pita Pink-YKPI. Banyak hal positif yang bisa diambil serta pelajaran berharga yang dapat dibagikan. Salah satunya adalah kanker bukanlah akhir dari kehidupan, melainkan awal dari kehidupan yang lebih bermakna! Lakukan apa yang bisa kamu lakukan SEKARANG! You may delay but time will not!

—————-

Kisah diatas sebagaimana disampaikan Lisamerie Parantean kepada tim Public Relation & Media YKPI untuk menyambut bulan Kanker Payudara Dunia setiap bulan Oktober.

Dalam menyambut bulan Oktober bulan Kanker Payudara Dunia, YKPI (Yayasan Kanker Payudara Indonesia) akan menyelenggarakan  “TEMU PENYINTAS KANKER PAYUDARA SE-INDONESIA” di Hotel Mercure Ancol Jakarta, pada 1 Oktober 2016 pukul 09.00-12.00 WIB.

Read more...

“Keluargaku adalah Kekuatanku”

Aku Cynthia, wanita berusia 51 tahun yang tidak memiliki kelebihan apapun. Tetapi, Aku memiliki  suami, anak-anak dan keluarga besar di dalam hidupku yang membuat aku tahu bahwa aku memiliki kelebihan yang sangat besar. Ya, keluargaku adalah kekuatan dan segalanya bagiku yang menjadi kelebihan dalam diriku.

Aku wanita biasa, wanita normal layaknya wanita lainnya yang ada di muka bumi, hingga pada suatu waktu di pertengahan tahun 2013 aku sadar bahwa aku berbeda. Aku tidak sama seperti mereka! Aku sakit! Aku merasakan adanya benjolan di payudaraku. Aku sadar ini bukan pertanda baik untuk diriku.

Awalnya aku mencoba meyakinkan diriku bahwa ini hanyalah benjolan biasa dan tidak akan membahayakan diriku, hingga setelah lima bulan lamanya aku merasakan benjolan ini semakin membesar, dan ini membuat aku takut, “Tuhan apa ini yang tumbuh dalam payudaraku,” ujarku dalam hati. Pada akhirnya aku memberanikan diri untuk datang ke dokter untuk memeriksakan apa yang terjadi. Seperti dipukul bongkahan kayu! Mendengar dokter mengatakan bahwa aku mengidap kanker payudara stadium 2B. Aku benar-benar sakit! Apa yang harus aku lakukan?!

Aku tidak percaya dengan apa yang aku alami…

Aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan dokter kepada diriku…
Aku tidak percaya dengan semua diagnosis itu…
Hanya sedih yang kurasakan, hanya tangis yang bisa aku lakukan…
Aku takut! Ya, aku sangat takut! Kenapa ini harus terjadi kepadaku?!…
Seperti luka yang menganga yang di tetesi perasan jeruk, pedih, ya itu yang aku rasakan kala itu…

Akan tetapi aku disadarkan oleh suami, anak-anak dan keluarga besarku. Ya aku memiliki kelebihan dalam hidupku, dan mereka adalah kelebihan yang kumiliki. Aku tahu aku menjalani semua ini tidak sendiri. Mereka sangat sabar menghadapi dan mendampingi diriku dalam keadaan kondisi tidak stabil. Dan aku juga tahu mereka tidak akan meninggalkanku.

Pada awalnya aku merasa sendiri yang mengidap penyakit ini. Hanya aku dan diriku yang harus merasakan sakit ini, tetapi aku salah, aku bertemu dengan teman-teman yang sama seperti diriku. Teman teman yang memiliki semangat walaupun mereka tau ada penyakit berbahaya  yang singgah di tubuh mereka.

Teman teman pengidap kanker Payudara sangat menolong diriku, menolong dalam mengendalikan emosi untuk bisa lecapture01-1bih tenang dan juga mengajarkan aku untuk selalu percaya diri. Yang aku tahu, rasa percaya diriku sudah hancur dikala dokter mendiagnosis penyakitku. Dan juga, merekalah yang membimbingku dalam mengambil keputusan cara apa yang akan aku tempuh nantinya.

Aku sadar betul harus melawan penyakit ini, harus mengobati penyakit  ini. Pada akhirnya dengan bimbingan teman-teman penderita kanker payudara, serta mempertimbangkan kekurang dan kelebihan metode pengobatan, aku mantap untuk mengambil rangkaian pengobatan medis. Aku menjalani kemoterapi, operasi pengangkatan kanker dan radiasi. Karena aku tahu bahwa medis lebih terjamin keberhasilannya dan begitulah kenyataannya.

Bulan Oktober menjadi bulan berarti bagi aku, ya, bulan ini adalah bulan Kanker Payudara Dunia, dimana aku kini menjadi bagian didalamnya, dimana kini teman dan keluargaku bertambah dalam naungan YKPI. Menurut aku kehadiran Yayasan Kanker Payudara Indonesia sangat membantu para penderita kanker Payudara. Selamat Ulang tahun bulan Kanker Payudara Dunia.

?Happiness is the best way to survive Cancer.

?Saling Jaga Saling Peduli

Cynthia SM Ponto
(51 tahun)

———-
Kisah diatas sebagaimana disampaikan Cynthia SM Ponto kepada tim Public Relation & Media YKPI untuk menyambut bulan Kanker Payudara Dunia setiap bulan Oktober.

Dalam menyambut bulan Oktober bulan Kanker Payudara Dunia, YKPI (Yayasan Kanker Payudara Indonesia) akan menyelenggarakan  “TEMU PENYINTAS KANKER PAYUDARA SE-INDONESIA” di Hotel Mercure Ancol Jakarta, pada 1 Oktober 2016 pukul 09.00-12.00 WIB.

Read more...