Kisah Pejuang

daftar para pejuang kanker yang berhasil melewati masa kelamnya

Ucapan Anak Membuat Saya Ingin Sembuh

Saya, Maylania, kini menginjak usia 43 tahun. Saya ingat sekali di pagi hari tanggal 28 September 2008, bertepatan dengan hari ulang tahun anak pertama saya, saya divonis menderita kanker payudara di bagian kanan. Masih dalam keadaan shock, saya menolak untuk percaya. Saya merasa ada keluhan di bagian kiri, kenapa payudara kanan saya yang ada pengapuran? Pasti dokternya salah. Payudara kiri saya hanya terdapat benjolan yang boleh diambil atau tidak. Saya merasa tidak mungkin. Namun, setelah saya cek di tempat lain, diagnosanya tetap sama. Saya kanker payudara bagian kanan.

Sore harinya, saya mendatangi acara ulang tahun anak saya yang ke 7 tahun. Saya hanya terduduk di pojok ruangan. Teman-teman anak saya satu per satu mulai berdatangan bersama mama-nya. Saya menangis mengingat bahwa anak saya sebentar lagi akan kehilangan saya sebagai mama-nya. Bagaimana nanti di ulang tahunnya yang ke 8 atau ke 9? Saya tidak lagi bisa hadir mendampinginya. Lalu nanti kalau temannya ulang tahun, siapa yang akan menemaninya ke acara ulang tahun temannya? Saya menatap anak saya yang sedang bahagia bersama papanya. Saya tidak tega membayangkan anak saya sedih ketika saya tidak ada nanti.Hanya semua itu yang ada di pikiran saya. Kalau kanker, ya sudah pasti akan meninggal. Tidak ada harapan untuk bisa sembuh.

Puji Tuhan, operasi saya berjalan lancar. Sebulan setelah operasi, saya menjalani kemoterapi selama 6 kali setiap seminggu sekali. Rambut saya perlahan mulai rontok. Anak saya yang selalu mengambil helai-helai rambut saya yang bertebaran di lantai. Saya menatap cermin, rambut saya mulai menipis. Saya terlihat sakit dan lemah. Daripada terus-terusan melihat rambut saya jatuh dari kepala saya, saya mengambil keputusan untuk mencukur habis semua rambut yang tumbuh di kepala saya.

Dukungan terus diberikan oleh keluarga, teman, dan tetangga. Mereka selalu memberi semangat kepada saya selama proses kemoterapi yang sangat menyiksa. Mereka juga terus mengingatkan saya untuk minum obat terapi hormon setiap hari selama sepuluh tahun. Namun, sumber kekuatan yang paling utama muncul dari anak saya yang berusia 2 tahun saat itu. Saya tidak mau makan asupan nutrisi yang dianjurkan oleh dokter. Saya harus makan makanan seperti putih telur dan sari ikan kutuk. Rasanya yangtidak enak dan baunya yang amis membuat saya mual. Tapi kala itu, ia memberikan makananannya kepada saya seraya berucap, “Ayo Ma, kita minum bareng.”

Saya pun menahannya, “Jangan, Nak. Rasanya tidak enak.” Namun anakku tetap memaksa untuk ikut makan, “Mama makan, aku juga makan. Ayo kita makan ini bersama supaya mama tidak sendirian.” Saya langsung tersentak, betapa inginnya anak saya ingin saya sembuh sampai dia ingin ikut merasakan pahitnya makanan itu. Saya langsung merasakan kekuatan untuk melawan penyakit kanker ini. Saya ingin berjuang agar bisa sembuh dan terus bisa bersama anak-anak saya.
Saat saya operasi, saya dikunjungi oleh Ibu Theresia, ketua RRS (Reach to Recovery Surabaya). Saya ikut bergabung dengan komunitas itu setelahnya. Saya ingin menularkan rasa semangat saya kepada orang lain yang juga sedang sakit atau yang sedang kemoterapi. Seperti acara yang diadakan YKPI ini, penting untuk bertemu dengan sesama survivor dan yang sedang mengalami kanker payudara. Kita bisa saling berbagi dan menguatkan diri. Saya menjadi sadar bahwa saya tidak sendiri, saya memiliki banyak saudara yang mengalami hal yang sama. Kita harus semangat dan kuat melawan kanker payudara. Kita tidak sendirian.

Penulis: Riska Lenggogini/Team PR & Media YKPI

Read more...

Melawan Kanker dengan Semangat Hidup

Ada yang berbeda di bulan puasa tahun 2016 ini, saya, Zartini, melakukan tadarusan di rumah seperti biasa ketika saya merasa nyeri di payudara saya. Rasa sakit ini terasa lain dan serius. Saya langsung teringat kata-kata teman saya yang meninggal karena kanker payudara 8 tahun lalu, rasa nyerinya sampai tembus ke punggung belakang. Saya langsung meraba payudara dan ada benjolan yang muncul. Saya kaget karena saya sudah tiga kali mammografi, dan tidak pernah ada apa-apa. Terakhir saya mammografi adalah dua tahun lalu yang hasilnya negatif.

Suami langsung menyarankan saya segera ke dokter. Dokter Didit di Rumah Sakit Rawamangun mengatakan,  kalau 2 tahun yang lalu belum muncul dan sekarang ada benjolan, kemungkinan adalah kanker ganas. Saya menolak percaya karena saya merasa bahwa ini tidak mungkin ganas. Saya sering kontrol kok. Saya pun meminta untuk menunda operasi sampai habis lebaran. Namun, dokter menyarankan untuk mengambil langkah segera. Tiga hari kemudian, saya menjalani operasi. Ternyata Dokter Didit benar, kanker yang tumbuh adalah kanker ganas sehingga payudara saya harus diangkat.

Kanker itu berat. Tidak mudah bagi saya yang kini memasuki usia 52 tahun menjalani semuanya. Dunia saya terasa runtuh. Saya selalu merasa bahwa kematian itu nyata berada di depan saya. Saya selalu merasa gelisah setiap kali saya mencoba tidur. Perasaan saya sakit, seperti ada beban besar di hati saya yang membuat saya tercekat. Saya menangis sambil menggumam dalam hati, “Besok saya masih bisa bangun tidak ya?”

Setiap malam, selalu kata-kata itu yang saya ucapkan. Ketika terbangun di besok paginya, saya selalu mengucap syukur kepada Allah SWT. Alhamdulillah saya masih diberi kesempatan untuk terus menghembuskan napas. Saya masih bertahan untuk bisa terus hidup.

Proses kemoterapi juga tidak kalah beratnya. Makan yang adalah hal paling esensial bagi makhluk hidup menjadi musuh berat saya. Saya selalu keringatan setiap kali akan makan. Perut saya mual. Mulut dan lidah saya penuh dengan sariawan. Makanan sulit sekali untuk masuk ke mulut saya. Saya selalu merasa kelaparan, tapi makanan tetap saja susah untuk dikonsumsi. Saya merasa frustrasi. Dokter menyarankan saya makan saja semuanya, tapi saya selalu ketakutan. Apa boleh saya makan ini? Memangnya kalau saya makan itu tidak akan berpengaruh pada kanker saya? Saya parno dengan semua yang akan saya makan.

Saya down. Saya hanya terbaring di kasur, sambil terus mengaji dan dzikir. Saya tidak semangat untuk melakukan aktivitas lain.  Lalu kemudian, semua itu berubah ketika ponsel saya berdering dari ibu Enita dari YKPI. Dia menelepon saya sampai malam hari, menyemangati saya agar tetap teguh dan kuat. Saya diajak untuk ikut YKPI dimana banyak orang-orang yang menderita hal sama seperti saya.

Benar saja, setelah itu saya merasa bahwa kanker yang saya lawan itu ya sama dengan perempuan-perempuan ini. Keluhan yang dirasakan sama. Penderitaan yang dijalani juga tidak ada bedanya dengan saya. Saya langsung bertanya-tanya dengan sesama penderita tentang pengalaman mereka selama kemoterapi. Mereka bilang bahwa saya harus tetap makan supaya tidak kekurangan nutrisi. Justru sehabis kemoterapi, makan itu hal yang wajib dan sangat diperlukan. Saya pun percaya pada mereka. Mereka sudah melewati itu semua kok, berarti saya juga bisa.

Keluarga juga memberi dukungan yang besar. Suami saya rela mengambil pensiun dini untuk mengurus saya padahal dia masih memiliki waktu kerja hingga 7 bulan lagi. Saya juga selalu terbayang anak saya Rizky, karena dia penyandang autism yang tentu sangat membutuhkan saya. Hal yang selalu terngiang-ngiang di telinga saya adalah kata-kata mereka yang berkata, “Mama yang kuat ya, kita masih ingin selalu bersama Mama. Kita sangat membutuhkan Mama” Semangat dan dukungan darisuami beserta keluarga memang sangat dibutuhkan untuk melawan kanker pada saat kita benar-benar down.

Baru-baru ini saya menjalani kemoterapi yang ketiga. YKPI selalu menyemangati saya selama masa kemoterapi ini. Mereka selalu bilang, kenapa harus takut dengan kanker anggap saja seperti sakit pusing biasa. Dengan dukungan dan semangat dari teman-teman, saya sekarang semangat. Saya sudah mulai senang melakukan aktivitas dan ikut acara-acara.

Paling terpenting dalam menjalani kemoterapi adalah harus adanya semangat untuk sembuh dan semangat untuk makan. Harus ada asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh. Kalau mual ya harus dipaksa. Lawan kemoterapi dengan terus makan. Memang berat, saya mengakuinya, tapi jika ingin sembuh kita harus lawan kemoterapi. Lawan kanker. Jika ada semangat dan kemauan, dan tidak lupa juga untuk terus berdoa, Insya Allah kita akan sembuh.

Penulis: Riska Lenggogini/Team PR dan Media YKPI

Read more...

Anak Jadi Penyemangatku Melawan Kanker Payudara

Kehadiran anak dalam keluarga adalah salah satu karunia terindah yang diberikan Tuhan, terkhusus bagi seorang Ibu. Begitu pula dengan Nitta Suzanna, baginya sang anak adalah segalanya. Nitta sangat beruntung dimana saat ia berada di titik terendah dalam hidupnya, disaat itu pula sang anak hadir memberikan semangat yang begitu amat besar padanya. Ya, pada Oktober 2015 silam wanita 38 tahun ini harus menerima kenyataan pahit bahwa ia divonis menderita kanker payudara stadium 2 grade 3. Dunia seakaan runtuh pada saat itu, hatinya ciut seketika. Namun sang anak, Farrel hadir sebagai motivator dalam kehidupannya.

“Kamu hebat, mommy…”

“Kamu cantik, mommy…”

“Kamu harus ada buat aku ya…”

“Kamu pasti sembuh…”

Kata-kata inilah yang selalu terlontar dari sang anak. Bocah 11 tahun ini begitu memberikan kekuatan dan semangat pada Nitta untuk bangkit dan sembuh dari kanker payudara. Ditambah lagi dukungan dari keluarga besar yang selalu berlimpah untuk Nitta.

“Saya pasti bisa sembuh…” ucap Nitta kala itu. Ia ingin semangat yang sang anak dan keluarga telah berikan kepada dirinya tidak berakhir sia-sia hanya karena kesedihan dan kepasrahan semata akan penyakit ini (kanker payudara).

Akhirnya awal November 2015, Nitta menjalani operasi Lampektomi di Rumah Sakit Pondok Indah. Lampektomi sendiri adalah operasi pengangkatan sel atau jaringan kanker payudara tanpa perlu mengangkat payudara. Pengobatan berlanjut, Januari 2016 hingga April 2016 Nitta menjalani kemoterapi sebanyak enak kali (setiap 3 minggu sekali).

Menjalani kemotarapi bukanlah hal yang mudah, rasa sakit kerap ia rasakan setelah menjalani ritual yang satu ini. Tubuh lemah, diare, mual, dan masalah kerontokan rambut. Hal inilah yang terus menerus Nitta rasakan setiap selesai menjalani kemoterapi. Kesabarannya membuahkan hasil, tepat dihari ulang tahunnya yang jatuh pada 29 April 2016 ia dinyatakan bersih. Hasil PET scan menunjuka bahwa tidak ada penyebaran jaringan kanker payudara. “Ini merupakan kado ulang tahun terindah sepanjang hidup saya…” ungkapnya bahagia. Sejak itu, Nitta mulai menjalani radiasi sebanyak 25 kali dan mulai menjalani terapi hormon dengan tamofen untuk 5 tahun kedepan.

Nitta menyadari bahwa ia tidak bisa melawan takdir Tuhan. Ia percaya bahwa Tuhan pasti memberikan yang terbaik untuk dirinya. Nitta bertekad untuk mengalahkan kanker payudara dengan selalu berfikir positif. Tekadnya untuk melawan kanker payudara pun ia buktikan dengan bergabung bersama YKPI (Yayasan Kanker Payudara Indonesia). Bergabungnya ia dengan YKPI pun dirasa sudah menjadi jalan Tuhan. Sebab tepat 8 bulan sebelum Nitta divonis mengidap kanker payudara, ia telah memutuskan untuk menjadi volunteer di sebuah lembaga yayasan. “Pada saat itu saya berfikir, sudah saatnya saya memberikan kontribusi untuk masyarakat” ujarnya. Namun tidak ada lembaga yayasan yang memberikan respon hingga akhirnya YKPI merespon niat baiknya tersebut. Nitta ingin menginspirasi dan mengajak wanita-wanita di Indonesia untuk melakukan deteksi dini payudara. “Semakin cepat terdeteksi, semakin kecil risikonya. Dihimbau untuk melakukan yang telah dokter sarankan dan untuk tidak melakukan pengobatan secara alternatif” pesannya kepada para wanita.

Penulis: Azizah Nadilla Syahna/Team PR & Media YKPI

Read more...

Kemoterapi Pertama Jadi Kado Ulang Tahun

Endang Widyastuti masih tampak bugar di usianya yang hampir menginjak kepala tujuh. Jika kita melihat sekilas, tidak terlihat tanda-tanda bahwa wanita berusia 69 tahun ini adalah seorang survivor kanker payudara. Berawal dari tahun 2000 ketika ia menemukan benjolan di payudara kirinya karena rabaan. Benjolan itu tidak terasa sakit, namun karena perasaan curiga yang muncul, ibu yang akrab disapa Endang ini langsung memeriksakan diri ke Rumah Sakit Pertamina. Setelah dilakukan mamografi dan pemeriksaan darah, tidak ditemukan indikasi CA (cancer antigen).

Dua tahun berselang ketika ada beban kerja yang berat dan Jakarta dilanda bencana banjir besar, Ibu Endang yang kala itu menjabat sebagai Kepala Dinas Bina Mental Spiritual dan Kesejahteraan Sosial PemProv DKI Jakarta memiliki tanggung jawab yang besar atas pekerjaannya dan mulai kurang beristirahat. Efeknya, benjolan itu kemudian mulai berdenyut terasa sakit dan terkadang mengeluarkan cairan. “Rasanya seperti bengkak ketika kita mau menyusui anak namun saat dilihat justru biasa saja, tidak bengkak,” jelas Ibu Endang.

Selain benjolan pada payudara, terdapat benjolan lainnya dibagian leher Ibu Endang yang jika diraba terasa masif sehingga ia memutuskan untuk kembali memeriksakan diri ke dokter umum di Rumah Sakit Pertamina. Dokter umum menyarankannya ke dokter bedah dan kemudian dilakukan pemeriksaan darah, mamografi, dan beberapa pemeriksaan lainnya. Saat melihat hasil pemeriksaan itu dokter mengatakan, “Ya, ini harus dioperasi.”

Dari hasil rabaan dokter pada kedua benjolan itu, diperkirakan ada tiroid di leher dan di payudara hanya benjolan biasa. Namun ketika di atas meja operasi ternyata ada cancer antigen di payudara. Kemudian dengan persetujuan suaminya, tiroid dan payudara Ibu Endang diangkat. Setelah itu, dimulailah 6 kali kemoterapi dan 25 kali sinar, baik di leher maupun payudara. “Jadi, tepat ulang tahun saya ke-55 hadiahnya adalah kemoterapi pertama. Saya ingat sekali,” ujar wanita kelahiran 25 April 1947. Selain itu juga ia harus taat minum obat selama 5 tahun.

Ibu Endang mengaku tidak merasakan apa-apa sampai selesai dioperasi. Namun usai operasi dilakukan, ada dokter, suami, serta anak-anak berkumpul dan mengatakan bahwa payudaranya sudah diambil. “Kata anak-anak ‘Sudah diambil, Ma,’ artinya payudara ini sudah diambil semua. Saya juga tidak terlalu merasakan apa-apa karena masih dalam suasana banyak orang yang menjenguk, begitu sudah tiga hari baru saya menyadari, ‘Oh iya ya, penyakit saya serius, payudara saya sudah tidak ada,’ kemudian saya melihat kepada suami, dia dengan ikhlas sekali membuat saya tidak down.”

“Ketika saya menyadari itu, kemudian saya meminta suami memeluk saya erat-erat untuk memberikan kekuatan pada saya. Disitu suami berkata, ‘Sebetulnya semenjak kamu keluar dari kamar operasi, disitu saya sudah mau peluk kamu tapi banyak sekali selang-selang bergantungan jadi tidak bisa,’” cerita Ibu Endang dengan mata berkaca-kaca.

Kehadiran suami dan kedua anaknya yang setia menemani beserta dukungan sanak saudara dan rekan kerja yang menjenguknya memberikan Ibu Endang kekuatan tersendiri. “Kuat atau tidak sebetulnya ada pada diri kita sendiri untuk menghadapinya. Memang ketika kita sadar maka kita akan bersandar pada sekeliling kita, yang dekat dengan kita, terutama suami. Suami saya support dan tegar, ya saya jadi kuat juga. Begitu juga dengan anak-anak,” tutur wanita dua anak ini.

Sebagai seorang survivor yang sudah terbebas dari kanker payudara selama 14 tahun, Ibu Endang mengungkapkan bahwa ia selalu menuruti nasihat yang diberikan dokter. Dokter mengingatkannya untuk tidak makan makanan berlemak dan jangan lupa beristirahat dengan teratur. Selain itu, melupakan stres berkepanjangan juga menjadi salah satu kuncinya untuk bisa survive hingga sekarang. “Kita harus pintar membuang stres karena stres juga memicu segala penyakit apalagi kalau kita sudah ada indikasi kanker,” pesan Ibu Endang.

Kita tidak pernah menyangka ketika sakit menghampiri. Namun ketika sakit itu sudah ada pada diri kita, yang bisa kita lakukan hanyalah kembalikan kepada Tuhan kemudian berusaha untuk sembuh. Ibu Endang juga menambahkan bahwa penyakit itu ada pemicunya. Pemicunya itu ada dalam pikiran, pola hidup, dan pola makan kita. “Jadi yang saya jaga sekarang adalah pola makan, pola istirahat, dan kemudian yang juga saya jaga adalah perasaan diri. Jadi segala sesuatu jangan dibawa stres, jangan dimasukkan ke hati. Rasional saja semua bisa diselesaikan dan berdoa, pasrah kepada Tuhan,” tutup Ibu Endang.
Penulis: Mathilde Liliana P/Team PR & Media YKPI

Read more...

Antara aku, Keluarga Ku, dan Kanker

Aku terlahir dengan nama lengkap  Sripanti Handayani, orang orang disekelilingku sering memanggilku Anda. “Bersyukur”. Apabila ada kata sempurna di dunia, mungkin itu kata yang paling pas untuk menggambarkan hidupku. Aku  wanita 38 tahun yang memiliki suami yang perhatian dan juga 2 anak yang membanggakan. Rutinas harianku  bekerja di salah satu perusahaan swasta di Ibukota sebagai Manager  Customer Care Department, dimana hariku harus senantiasi memperlihatkan keceriaan dan semangat agar dapat melayani orang-orang yang berbeda setiap harinya.

Aku termasuk seseorang yang sangat menikmati apa itu hidup, aku jalani hidup dengan rasa syukur dan juga ceria. Aku beranggapan bahwa hidup itu hanya sekali dan aku harus menikmati arti kehidupan. Hingga akhinya…

Tahun 2016 menjadi tahun yang membolak-balikkan hidupku dan pikiranku. Tahun di mana aku merasa kehilangan sesuatu yang aku miliki. Tahun di mana aku merasa ini adalah akhir dari segalanya.

Aku merasa ada yang berbeda di tubuhku, aku merasakan adanya benjolan dibagian payudaraku. Seperti biasa, aku melakukan pemeriksaan sederhana dengan menggunakan tangan dan terasa ada benjolan sekitar 4 cm. Awalnya aku beranggapan bahwa ini hanya benjolan biasa yang hanya terjadi karena aku sedang dalam masa menstruasi. Tapi, anggapanku salah. Di malam hari sebelum aku tidur, aku merasa benjolan ini semakin membesar. Dan akhirnya aku memutuskan untuk memeriksanya kerumah sakit.

Keesokan harinya, aku berangkat menuju Rumah Sakit Kanker Darmais. Di sana aku melakukan pemeriksaan seluruh tubuh, termasuk pemeriksaan fisik dan USG . Hari berikutnya, hasil dari rumah sakit sudah kupegang. Dokter mengatakan bahwa ada keganasan hinggap di bagian payudaraku. Dan dokter tersebut langsung merujuk diriku ke dokter bedah, diputuskan untuk melakukan mamografi  untuk mengetahui seberapa ganasnya benjolan itu di dalam tubuhku.

Dan akhirnya, dokter bedah mengatakan untuk melakukan pembedahan dengan melakukan operasi untuk mengangkat benjolan yang ada di daerah payudaraku. Seminggu setelah melakukan operasi, aku menunggu hasil dari dokter  apakah ada kanker atau tidak. Dan akhirnya tiba saatnya dokter pun mengatakan memang ada kanker stadium 2B di payudaraku dan diputuskan untuk diangkat. Saat itu aku tidak berpikir apapun selain kesembuhanku. Aku tidak memikirkan fisik luarku , Yang aku pikirkan adalah bagaimana penyakit ini hilang dari tubuhku dan juga untuk menghindari penyebaran lebih ke bagian tubuhku yang lain. Walaupun tidak dipungkiri ada rasa sedih mendalam yang hinggap di jiwaku.

Sebagai wanita aku memang tidak bisa membohongi diri sendiri. Sedih! Pedih! Bingung! Dan aku belum bisa menerima apa yang terjadi. Aku merasa sangat menjaga makanan yang aku asup setiap harinya, dalam hati aku sering berpikir kenapa harus aku? Aku sudah menjaga badanku, tapi kenapa harus aku?! Aku wanita yang tidak merokok, aku juga wanita yang sudah melahirkan dan juga menyusui, bahkan 2 kali! Yang seharusnya resiko penyakit itu tidak ada di dalam hidupku. Tapi inilah nasibku, aku harus bisa menerimanya dan apapun itu juga harus aku jalani.

Hampir setiap malam aku berpikir aku adalah wanita yang tidak sempurna, yang ada didalam pikiranku adalah ketakutanku akan suamiku yang meninggalkanku karena penyakitku ini. Dan juga dalam tangis aku berpikir tentang bagaimana anak-anakku? Mereka masih kecil! Dalam pikirku bagaimana mereka apabila tidak memiliki ibu padahal mereka masih sangat kecil? Saat itu aku juga memikirkan kemoterapi yang aku tahu bahwa orang yang mengidap kanker harus menjalankannya. Seperti gemuruh yang ada dipikiranku saat itu, perang pikiran terus menerus yang aku rasakan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya kemoterapi dan rontoknya rambut setelah proses itu, juga efek lainnya seperti sepengetahuanku. Dan juga keluarga yang sedih memikirkan penyakit yang kurasakan, sama sepertiku, mereka belum bisa menerima. Ini merupakan titik terendah dalam hidupku, ini merupakan hal tersedih dalam hidupku.

Akhirnya keluargaku bisa menerima apa yang ku alami. Mereka memiliki peranan yang sangat berati. Peranan keluarga juga sangat berpengaruh, terutama dukungan dari suami dan juga anak – anakku. Aku harus menjelaskan perlahan mengenai penyakit ini kepada anak-anakku. Mereka masih kecil dan tidak mengetahui apa itu kanker. “Mommy, nanti payudaranya tumbuh lagi kan?”, pertanyaan yang lucu, pikirku. Berbeda dengan suamiku, yang lebih stress memikirkan, karena dia adalah tipe pemikir yang berbanding terbalik denganku yang lebih ceria menghadapi apa yang terjadi, meskipun  kekhawatiran itu selalu ada. Tapi aku bangga dengan suamiku, yang masih bisa menerimaku apa adanya dengan apa yang terjadi di dalam hidupku.

Akhirnya aku diundang di dalam Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), yang di dalamnya terdapat orang-orang yang sama denganku, bahkan aku mungkin jauh lebih beruntung dari mereka yang terdiagnosa dengan macam-macam penyebaran. Tapi mereka semua ceria, mereka bersemangat. Mereka semua memiliki semangat hidup yang lebih besar dibandingkan diriku yang seharusnya aku bersyukur kanker yang ada di tubuhku termasuk stadium rendah. Ya, YKPI banyak sekali manfaatnya di dalam hidupku dan juga hidup teman-temanku. Banyak kegiatan positif yang sering dilaksanakan untuk tidak hanya kita memikirkan diri kita dan juga penyakit yang kita rasakan. Dan sedikit banyak  bisa melupakan bahwa kita rata2 pasukan “dada rata”.

Kanker, menurutku memang penyakit yang sangat menakutkan. Semua orang tidak ingin dihampiri oleh penyakit itu. Tapi, dengan kanker ada di dalam tubuhku, aku sadar untuk lebih menghargai hidup, sadar untuk menikmati hidup. Aku katakan bahwa  kita yang terdiagnosa kanker adalah orang-orang terpilih. Tuhan telah memilih kita artinya kita dapat kesempatan untuk selalu dan sealu berbuat baik dan  terus bersyukur  serta menghargai helai demi helai arti kehidupan kita saat ini. Dan juga aku tahu aku memiliki kekuatan terbesar dalam hidupku. Ya, anak-anak menjadi hal yang paling berperan untuk membuatku lebih semangat. Pesanku untuk semua adalah, apabila kita sakit, jangan mengganggap kita sakit dan tidak bisa melakukan berbagai aktivitas dan hanya terpuruk dengan apa yang terjadi. Kita harus sadar bahwa banyak orang yang menyayangi kita dan memberi kita support. Dan hal itulah yang bisa membuat kita lebih semangat untuk menghadapi hidup.

Penulis: Fatin Hamamah Zain/ Team PR & Media YKPI

Read more...

Cinta adalah Sumber Kekuatanku untuk Sembuh

Seperti ada petir yang menyambar tubuhku ketika aku, Ika Sakti, menerima diagnosa itu dari dokter. Penyakit mematikan yang sama sekali tak pernah terbayangkan ada di dalam tubuhku. Akhir Februari 2015 saat aku berusia 47 tahun, penyakit yang mengerikan itu menggerogoti tubuhku. Aku tidak tahu mengapa penyakit ini ada di tubuhku, mengapa ini semua menimpaku? Hatiku semakin terguncang ketika aku tau, penyakit kanker yang menimpaku sudah memasuki stadium tiga. Ini semua seperti mimpi buruk untuk ku.

Sesaat aku merasa Tuhan tak sayang padaku dengan memberikan penyakit mematikan ini. Tetapi aku salah, penyakit ini membuat aku berinstropeksi dir bahwa selama ini aku memang menjalani pola hidup yang kurang sehat. Pekerjaanku sebagai notaris yang menyita waktu membuat aku menjadi tidak memperhatikan kesehatanku. Penyakit ini juga membuatku lebih dekat dengan Tuhan. Aku menemukan kedamaian dan ketenangan jiwa justru setelah aku terdiagnosa penyakit mematikan ini.

Ini awalnya sungguh berat untuk ku. Berat bagiku untuk menerima penyakit ini. Namun, aku sungguh sangat beruntung memiliki keluarga yang amat mencintaiku. Aku memiliki dua orang anak laki-laki yang sungguh luar biasa. Bahkan, si sulung memberikan kado yang indah untuk ku. Anakku diterima di jurusan Teknik Metalurgi di salah satu Universitas Negeri terbaik di Indonesia. Itu sebuah kado yang sangat indah yang membuatku terus bersemangat untuk melawan penyakit ini. Aku memang wanita beruntung, Tuhan sangat baik terhadapku. Tuhan memberikan aku anak-anak yang sungguh membanggakan dan juga memberiku seorang suami yang sangat setia terhadapku.

Suamiku setia mendampingi saat aku melakukan pengobatan kemoterapi dan setia mengurusku saat kondisiku drop. Bahkan, disaat aku melakukan kemoterapi yang ke 18 dan radiasi yang ke 30, tanganku tidak dapat digerakkan sama sekali, kakiku menjadi berat sehingga selama dua minggu aku harus terus berada di tempat tidur, suamiku dengan ikhlas mengurusku dan menjadikanku bak seorang putri. Disitulah aku mengerti bahwa Tuhan memang memberikan aku cobaan yang sangat berat untukku, namun dibalik itu semua aku jadi tahu, Tuhan telah memberikanku keluarga yang amat mencintaiku. Merekalah sumber kekuatanku hingga saat ini. Aku sangat bersyukur memiliki mereka, Terima kasih Tuhan.

Selain keluargaku, teman-teman dari komunitas Yayasan Kanker Payudara Indonesia juga membuat aku menjadi sosok yang lebih kuat untuk dapat melawan penyakitku. Saat aku terdiagnosa mengidap kanker payudara, ibuku mengajakku bertemu dengan Ibu Linda Gumelar dan bergabung dengan YKPI. Setelah beberapa lama bergabung dengan komunitas ini, aku merasa menjadi lebih baik. Aku mendapat cinta dan perhatian dari teman-teman sesama penderita kanker payudara. Kami saling menyemangati satu sama lain, dan itu menjadi obat bagi kami. Dulu, sebelum aku bergabung dengan komunitas ini, aku seperti tak sanggup menghadapi penyakit ini. Namun, semenjak bertemu dengan ibu Linda Gumelar, pelan-pelan aku dapat kembali bersemangat untuk melawan penyakitku seperti beliau dulu melawan penyakit itu.

Bagi para wanita di luar sana yang sedang mengidap penyakit yang sama sepertiku, percayalah, Tuhan menitipkan penyakit ini di dalam tubuh kita untuk membuat kita jauh lebih kuat dalam menjalani hidup. Terdiagnosa kanker bukan berarti akhir dari segalanya. Bersemangatlah untuk orang-orang yang mencintaimu dan berjuanglah untuk sembuh.

Penulis: Intan Ayudia Pratiwi/Team PR & Media YKPI

Read more...

Kanker Payudara Bukanlah Halangan untuk Melanjutkan Kehidupanku

Tresnawaty adalah seorang dokter bedah yang telah berkecimpung di Komunitas Peduli Kanker Payudara (PKP) Cirebon dalam waktu yang cukup lama. Kegigihan beliau dalam melawan kanker telah menginspirasi rekan-rekan Tresnawaty, baik di dalam atau di luar komunitas PKP Cirebon. Kegigihan inilah yang telah membawa Tresnawaty menjadi pemimpin dalam komunitas Peduli Kanker Payudara yang terkenal aktif di Cirebon ini. 

Pada awalnya Tresnawaty tidak pernah menyangka, bahwa seorang dokter bedah akan terkena penyakit kanker. Wanita kelahiran 17 Juni 1969 ini adalah seorang dokter bedah yang aktif dan teliti dalam menangani pasien setiap harinya. Tahun 2011 menjadi tahun awal perjuangan Tresnawaty dalam melawan kanker. Ia menyadari keanehan yang terjadi pada payudaranya melalui benjolan yang tiba-tiba disadarinya.  

Karena merasa bingung, Tresnawaty memutuskan untuk menghubungi gurunya di Bandung untuk memperoleh kejelasan. Sang guru pun menyarankan Tresnawaty untuk melakukan Tes Biopsi guna mengetahui kepastian status benjolan yang ada di payudara Tresnawaty tersebut. Setelah hasil test diperoleh, ia merasa lega karena tumor di payudaranya dinyatakan sebagai tumor jinak. Tresnawaty pun beraktifitas seperti biasa tanpa kekhawatiran yang ia rasakan sebelumnya. 

Dua bulan berlalu, Tresnawaty memutuskan untuk melakukan pengecekan kembali pada Desember 2011. Anehnya, hasil test kali ini menyatakan bahwa jenis tumor yang ada dalam tubuh Tresnawaty merupakan tumor ganas yang membutuhkan tindakan sesegera mungkin. Rasa kaget, sedih, dan terguncang menyelimuti hatinya yang pada saat itu hanya bisa menangis seperti manusia pada umumnya. Namun, Tresnawaty tidak tinggal diam. Dengan positif ia berpikir bahwa menangis bukan lah jawaban dari penyakit ini, “Air mata tidak dapat mengubah keadaan, kenapa harus ditangisi, ini harus dilawan”, batinnya.

Operasi pengangkatan pun dilakukan sebagai tindakan awal yang dilakukan guna mencegah penyebaran jaringan kanker ke organ lain. Tresnawaty pun menjalaninya dengan hati yang ikhlas dan tabah sembari menyusun langkah berikutnya untuk melawan penyakit ini. Tresnawaty menyadari bahwa ia tidak dapat tinggal diam dalam menghadapi penyakit ini. Kemoterapi pun ia jalani beberapa kali, meskipun terapi tersebut menyebabkan rasa sakit yang melemahkan fisiknya. 

Bagi Tresnawaty, penyakit kanker bukanlah penyakit yang menghalanginya untuk mengabdikan diri sebagai dokter. Dengan profesional ia tetap melakukan pengabdian kepada pasien-pasiennya. Walaupun harus mengurangi jumlah pasien karena rasa sakit paska kemoterapi, Tresnawaty tetap berjuang dengan tegar. Ia mengakui bahwa kekuatan yang didapatnya dalam menghadapi ujian ini tidak lepas dari dukungan keluarga. Ia berpendapat bahwa keluarga merupakan pendukung nomor satu yang membuatnya bertahan hidup.  

Dengan tekad yang kuat, Tresnawaty pun berpesan kepada penyintas kanker payudara lainnya di Indonesia yang selama ini masih terjebak dalam keputusasaan untuk bangkit. “Apabila terdiagnosa, kita jangan menghindari, tapi kita harus hadapi karena hal tersebut tidak bisa dirubah lagi,” ujarnya. “Mari kita membuat deal dengan breast cancer. Breast cancer, kamu harus kalah dengan aku,” tambahnya. Menurut Tresnawaty tetap happy, doa, dan dukungan keluarga adalah kombinasi yang ampuh untuk melawan rasa putus asa. Mengajak orang menuju kebaikan dan meningkatkan kesadaran orang lain terhadap kanker payudara, juga dinilai telah membuat Tresnawaty lebih senang dan positif, karena adanya semangat yang timbul dari dalam dan luar dirinya. “Penyintas sebaiknya menjadi motivator, sehingga akan terpacu untuk menjadi lebih sehat,” pesannya.

Sebagai aktivis dan dokter, Tresnawaty menilai bahwa acara Temu Penyintas Kanker Payudara se-Indonesia yang diadakan Pita Pink YKPI (Yayasan Kanker Payudara Indonesia) pada tanggal 1 Oktober 2016 silam merupakan acara yang sangat bagus, positif, dan sudah sepantasnya dicontoh oleh daerah-daerah lain. Acara seperti ini dapat dijadikan wadah pertukaran pikiran dan informasi antara para penyintas kanker payudara dari seluruh indonesia. PKP Cirebon, sebagai komunitas yang peduli terhadap isu seputar kanker payudara, sudah melakukan berbagai kegiatan yang berguna untuk masyarakat. Hal ini ditunjukan dengan diadakannya promosi  dan kampanye kesahatan ke sekolah, kantor, dan komunitas lain guna memberikan pengetahuan lanjut dan informasi terkini mengenai kanker payudara yang diprakarsai oleh para survivor dan warrior di Cirebon.

Penulis: Nanda Afriani/Team PR & Media YKPI

Read more...

Jangan Takut, Hadapi Kanker Dengan Senyuman

Ceria adalah satu kata yang dapat menggambarkan sosok wanita bernama Rani Nur Firdausi. Hidupnya indah sampai akhirnya diusianya ke 31 tahun tepatnya tahun 2013, ia divonis mengidap kanker payudara stadium 2. Ini berawal ketika tahun 2012 akhir ia mendapati ada benjolan di payudara sebelah kirinya. Tidak terpikirkan olehnya bahwa benjolan tersebut ialah asal muasal penyakit ganas ini bersarang di tubuh mungilnya.

“Aku pikir benjolannya muncul saat haid saja, jadi aku tidak khawatir” pungkasnya. Namun setelah haid selesai, ia heran mengapa benjolan tersebut tidak ikut menghilang atau setidaknya mengecil. Sempat terpikir olehnya untuk memeriksakan hal ini ke dokter, justru pemikiran lain yang terlintas dikepalanya, “Nanti sajalah ke dokter, aku ingin jalan-jalan dulu”. Rani takut jika ia memeriksakan hal ini ke dokter, justru ia dilarang untuk berpetualang. Walhasil sebelum melakukan pemeriksaan lebih lanjut, ia memutuskan untuk berlibur terlebih dahulu.

Petualangan berakhir, saatnya ia untuk memeriksakan benjolan yang ada di payudaranya kepada dokter. Pertama dokter memutuskan untuk mengambil tindakan biopsi. Ritual itu dilakukannya sekitar bulan Maret 2013 dan hasilnya adalah ia divonis mengidap kanker payudara stadium 2. Pada saat itu, Rani tidak memberitahukan keadaannya pada sang ibu. Ia takut ibu yang sangat ia sayangi menjadi sedih. “Aku tidak mau ibuku down melihat kondisiku saat itu” ucapnya. Rani memutuskan untuk menguatkan dirinya terlebih dahulu, tidak lupa juga untuk meminta second opinion ke dokter lain, serta mencari informasi selengkap-lengkapnya tentang kanker payudara.

Setelah siap mental, akhirnya Rani memberanikan diri untuk memberitahu ibunya perihal penyakitnya ini. “Mam, ternyata ini kanker payudara” ujarnya sambil sedikit mengeluarkan air mata ketika diwawancarai tim PR media YKPI. Mungkin ia teringat masa-masa kala itu. Pastinya sebagai seorang anak, Rani sangat tidak ingin membuat orangtuanya sedih apalagi membuat sedih seorang Ibu. Rani pun sempat berucap kepada sang Ibunda, “Mam, ade minta maaf kalau ade sakit nanti nyusahin mamih”. Ketegaran yang Rani miliki ternyata memang menurun dari sang Ibu, tanpa berfikir lama ibunya langsung menerima kenyataan bahwa anaknya divonis kanker payudara. Ibunda langsung menyetujui keputusan Rani untuk mengambil jalur pengobatan medis yaitu untuk melakukan mastektomi atau operasi pengangkatan payudara. Pikirnya tidak apa ia harus kehilangan satu payudaranya karena jika tidak dilakukan sekarang, kedepannya dikhawatirkan akan menimbulkan penyakit lain. “Aku tidak memikirkan apa-apa saat itu, yang penting aku bisa sehat, kerja, dan jalan-jalan” ungkapnya. Beruntungnya Rani, setelah melakukan mastektomi, ia hanya harus menjalani kemoterapi sebanyak enam kali saja tanpa harus melalui proses radiasi. Setelah itupun ia cukup kontrol rutin setiap tiga bulan sekali ke dokter.

Selama menjalani kemoterapi, Rani masih terus bekerja seperti biasa dan setelah kemoterapi selesai ia rutin berolahraga dan mengikuti berbagai kegiatan lari. Rani percaya Tuhan selalu ada untuknya, itulah yang membuatnya terus bersemangat dalam menjalani hidup. “Tuhan pasti kasih yang terbaik, jadi aku tidak perlu takut” pungkasnya. Pembawaan Rani yang ceria membuat orang-orang disekelilingnya berpendapat bahwa ia tidak seperti seseorang yang sedang sakit parah. Mereka heran, apa benar seorang Rani mengidap kanker payudara. Bahkan jika sedang bercanda, mereka sering mengatakan bahwa dokternya telah salah mendiagnosanya mengidap kanker payudara.

Wanita yang kini berusia 35 tahun ini sangat bersyukur dan berterima kasih karena dikelilingi oleh orang-orang yang sangat mendukungnya. Selama pengobatan berlangsung, ia merasa semakin kuat dan semangat. Tidak ia pungkiri, keluarga dan sahabat selalu ada setia bersamanya saat suka maupun duka. “Sempat merasa sendiri dan takut ditinggal keluarga dan teman-teman” ujarnya mengingat masa-masa awal pengobatan dahulu.

Rani sadar bahwa kanker payudara bukanlah harga mati. Kanker payudara tidak sama dengan mati. Kematian bukanlah hal yang bisa kita hindari, tetapi ada kehidupan yang harus kita perjuangkan. Rani tidak mempermasalahkan kondisi fisiknya saat ini yang hanya memiliki satu payudara. Menurutnya, kanker adalah awal hidup yang lebih berkualitas. Memulai hidup sehat dan teratur dengan menjaga pola makan, rajin berolahraga, dan mengontrol stress. Rani pun mengingat masa-masa sebelum ia mengidap penyakit ini, ternyata ia jarang sekali mengkonsumsi air putih dan lebih senang mengkonsumsi fast food dan teh dalam botol dikesehariannya.

Saat ini Rani tergabung dalam Yayasan Kanker Payudara Indonesia atau YKPI. Ia sangat antusias dengan kegiatan yang diadakan oleh YKPI, seperti sharing dan seminar. Baginya, bergabung dengan YKPI merupakan sebuah anugerah karena dapat mempertemukannya dengan keluarga baru yang berisi para wanita tangguh. Rani juga menambahkan bahwa sosialisasi tentang pengecekan dini itu penting dan memberitahu bahwa kemoterapi itu tidak menakutkan seperti yang banyak dikatakan orang-orang diluar sana. “Jangan takut, pokoknya yang paling penting jangan lupa untuk selalu tersenyum dalam menghadapi hari-hari karena kanker bukan akhir dari segalanya” tutup Rani.

Penulis: Azizah Nadilla Syahna/Team PR & Media YKPI

Read more...

Tuhan Memberikan Kado Terindah Dalam Hidup Ku

Tetap mengucap syukur pada Tuhan atas apa yg terjadi dalam kehidupanku…

Pravita tidak pernah menyangka pada hari ulang tahun ada kado terindah yang diterimamya, yaitu bahwa ia terdiagnosa kanker payudara. Kaget, sedih, kecewa,senang, bersyukur semua perasaan bercampur jadi satu. Kaget karena ia tidak pernah menyangka Tuhan memberikan kado ini saat berulang tahun. Sedih karena sebagai manusia ia mempunyai perasaan mengapa Tuhan memilihnya untuk menerima penyakit ini yg konon kata banyak orang penyakit yang menyeramkan. Kecewa karena teman-teman pergi menjauh. Senang karena orang terdekat menjadi semakin perhatian. Bersyukur karena dibalik penyakit ini, Tuhan punya rencana yang jauh lebih indah.
Usai didiagnosa kanker payudara, wanita yang akrab disapa Vita ini langsung memulai pengobatan dan kemoterapi. Setelah kemoterapi pertama dan kedua, ia merasa rambutnya mulai rontok sedikit demi sedikit. “Awalnya rontoknya sedikit, sekali kita pegang ya rontoknya lumayan juga. Tapi karena banyak anak-anak jadi saya gundulin saja langsung benar-benar botak, dan jujur, saya tidak merasa malu ataupun terkucilkan” ungkap wanita 4 anak ini kepada tim PR YKPI.

Menjalani kemoterapi memang sakit tetapi sakit itu akan tergantikan dengan semangat kita melihat orang yang kita sayangi tersenyum.  Anak-anak yang masih kecil menjadi pemicu semangatnya untuk sembuh dari rasa sakit itu. Ia masih punya tanggung jawab untuk membesarkan anak-anaknya, apalagi kala itu anaknya yang terkecil, si kembar Aiko dan Eiko baru berusia dua tahun. Mereka belum mengerti mengenai penyakit ini, mengenai apa kanker itu sebenarnya. “Si kembar masih dua tahun jadi dia cuma bilang ‘ih mama botak’, dia masih belum tau sakit atau apa. Tapi anak saya yang paling besar mungkin sudah tau, dan di sekolahnya menjadi bahan pembicaraan teman-temannya” cerita Vita. Dan kemudian ia menjawab “Biarkan saja orang berbicara apa tentang mama yang terpenting adalah apapun yg terjadi pada mama, kamu tetap anak mama dan mama tetap mama kamu, nak.”.

Lima bulan berselang, tepatnya bulan Januari 2015 Vita dioperasi di salah satu rumah sakit di Malaysia. Awalnya ia sempat shock  karena mendengar bahwa payudaranya akan diangkat semuanya. Namun dokter meyakinkannya bahwa dengan enam kali kemoterapi yang sudah dilakukan, benjolan tersebut dibuat mengecil terlebih dahulu kemudian diangkat. Dukungan suami pun memberikan kekuatan bagi Vita untuk menjalankan operasi. “Suami terus support, yang penting bisa sembuh, bisa tetap mengurus anak-anak, dan bisa berkarya,” ujar wanita kelahiran 8 Agustus 1983 ini.

Bergabung dengan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) pada Oktober 2015, Vita ingin mengajak semua orang, khususnya wanita-wanita yang didiagnosa kanker payudara, untuk mau membuka diri. Walaupun mengidap kanker, mereka juga layak untuk bergabung dengan orang-orang sehat. Kanker bukan penyakit menular, justru dengan semangat hidup yang luar biasa, kanker itu bisa hilang. Jangan pernah menutup diri dan merasa malu. “Tidak masalah, namanya semua orang hidup itu pasti ada sakit ada senang ada susah. Jadi kalau orang mau bilang apa kita biarkan saja, cuek saja mereka mau berbicara apa. Justru ketika kita sudah fight, sudah sembuh, mereka akan melihat bahwa ternyata kanker itu  bisa diobati,” kata Vita.

Di acara Temu Penyintas Kanker Payudara Se-Indonesia pada 1 Oktober 2016 di Hotel Mercure Ancol, Jakarta. Vita hadir didampingi lengkap dengan suami dan keempat anaknya. Bahkan alunan lagu dari anaknya sikembar yang dipersembahkan untuk mama dan para Penyintas membuat banyak orang yang hadir larut terharu bangga akan keharmonisan keluarga Vita.
Pengalaman yang ia rasakan meskipun terlihat sebagai wanita yang penuh semangat, sebagai manusia biasa ada kalanya Vita merasa terpuruk. Terutama ketika saat di kamar sendiri ia kerap bertanya ‘Kenapa harus saya, Tuhan? Saya salah apa?’ dan teman-teman mulai menjauh. “Justru kita tau mana sobat yang baik dan tidak, peran orang terdekat dan keluarga juga sangat penting disitu, harus bisa memahami dan mengerti betul. Terutama usai kemoterapi jadi sangat sensitif seperti anak kecil yang ingin diperhatikan,” aku Vita.

“Saat obat kemo diinjeksikan dari kulit terluar masuk ke dalam terasa dingin dan  menjalar dari tangan kanan saya naik sampai ke daerah kepala dan turun ke ke daerah perut sampai disitulah saya langsung merasa tidak nyaman gelisah, mual, dan saya pun meneteskan air mata untuk menahan ketidak nyamanan itu.  Namun demikian, tidak usah takut dengan kemo karena itu hanya efek sementara di dalam tubuh. Tetap berdoa dan meminta kekuatan kepada Tuhan mungkin ada rencana baik yang diberikan Tuhan dibalik penyakit yang saya derita,” tambah Vita sembari mengenang saat-saat ia berjuang melawan penyakitnya.

Vita juga mengungkapkan bahwa ia pernah mengalami masa kritis usai kemoterapi ketiga. Suhu tubuhnya mencapai 41 derajat celcius, jumlah sel darah merah dan sel darah putihnya juga menurun hingga dilakukan transfusi darah. “Kuasa Tuhan bekerja dalam diri saya, dan kini saatnya saya untuk membantu dan men-support teman-teman lainnya lewat sharing pengalaman supaya mereka terus berjuang. Fight!” tegas Vita.

Penulis: Mathilda Liliana P/Team PR & Media YKPI

Read more...

“Tuhan, kenapa harus kakakku?”

Aku sadar kami hanyalah makhluk kecil dimatamu tuhan..

Aku sadar kami hanya manusia tak berdaya dihadapmu Tuhan..

Tapi kenapa ini menimpa keluarga kami?Kenapa harus kakakku yang kau titipi penyakit seberat ini?

Inilah aku, Harty Triasfasta Hohu yang akan menceritakan kisah kakakku yang kuat…

Yesa, nama itu terdengar indah ditelingaku, bagiku nama panggilan dari kakaku yang bernama lengkap Yesaya Fermindi Hohu itu adalah nama malaikat yang ada dihidupku. Yesa, ya dia adalah kakaku yang dilahirkan di Lampung pada 1 Agustus 1980 adalah seorang yang kuat, tegar dan tidak ada kata menyerah dalam kamus hidupnya.Seperti biasa, kami hidup layaknya keluarga lain, bahagia seperti adanya.Tidak ada kata sedih, tidak ada tangis, dan juga tidak ada rasa cemas hinggap dikeluarga kami.

Hingga akhirnya 2 tahun lalu, Yesa kakaku yang paling kusayang tiba-tiba merasakan sakit yang teramat dibagian pinggangnya. Kami tidak menaruh curiga akan sakit yang dirasakan oleh kakakku. “Ka, kaka baik baik saja?” tanyakku kepada Yesa. Dengan senyuman khas nya dia hanya mengaku kalau itu hanya sakit biasa, dan dia berpesan agar tidak menghawatirkan dirinya.

Waktu terus berlalu, hingga akhirnya sakit yang pernah dirasakannya itu muncul kembali, dan ini lebih parah dibandingkan sakit yang dirasakan sebelumnya. Kakaku tidak bisa jalan! Kenapa ini Tuhan?Apa yang terjadi oleh kakakku?

Akhirnya aku memutuskan untuk mengajak  kakaku Yesa untuk menggunakan cara tradisional untuk pergi ke ahli pijat karena kami beranggapan bahwa ini hanya sakit yang muncul dari syarafnya, akan tetapi perhitungan kami salah, sepulangnya dari tempat itu bukan sembuh yang dirasakan, akan tetapi bertambah parah, kakaku merasakan sakit yang berlebih. Karena itu kakaku memutuskan untuk membuat kartu kesehatan dan berencana untuk memeriksakan kondisinya ke Rumah Sakit di daerah Tangerang.

Dan pada hari itu kami pun berangkat ke Rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, kami tidak mengerti apa yang dikatakan dokter terhadap kondisi Yesa, Dokter berkata kenapa Yesa datang dalam keadaan “penuh” yang sesungguhnya kami tidak tahu arti dari kata yang dikatakan oleh dokter.

Akhirnya Yesa memberanikan diri untuk bertanya ke Dokter apa yang dimaksudkan dengan ”Penuh” ? Maksud Dokter apa?” Tanya Yesa dalam keadaan bingung.Tanpa menjelaskan lebih, Dokter hanya berkata bahwa kami harus datang besok pagi dalam keadaan Yesa sedang berpuasa untuk melakukan Biopsi.

Kami orang awam, kami bukan lulusan Dokter, kami bingung untuk apa tindakan Biopsi yang dilakukan oleh Dokter untuk kakakku Yesa. Dan akhirnya kami memutuskan untuk pulang dan juga memutuskan untuk datang lagi ke Rumah Sakit sesuai dengan apa yang dikatakan Dokter kepada kami.

Keesokan harinya operasi pun dilakukan oleh tim dokter untuk Yesa, Dokter pun keluar dari kamar Operasi. Akupun bertanya kepada dokter bagaimana hasil dari operasi yang telah dilakukan, apakah berhasil? Dengan senyum dokter hanya berkata, “operasi hari ini lancar, akan tetapi belum terangkat semua”. “Terangkat semua?” aku semakin tidak mengerti, sebenarnya apa yang terjadi, sakit apa yang diindap oleh kakakku Yesa sehingga dokter mengatakan ini belum semua keangkat?. Setelah itu dokter memberikanku sebuah plastik dan berkata untuk membawa bungkusan itu ke Rumah sakit Umum Tangerang untuk diperiksa lebih lanjut. Tanpa berpikir panjang, aku pun langsung bergegas menuju Rumah Sakit Tangerang, sesampainya disana pihak Rumah Sakit mengatakan bahwa hasilnya akan keluar 14 hari kemudian.

Empat belas hari kemudian, hasil dari Rumah Sakit pun keluar, hasil yang diberikan langsung aku bawa ke pihak Dokter yang mengoperasi Yesa 2 minggu lalu. Dan hari ini pun tiba! Aku dan Yesa mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan Dokter, mendengarkan sesungguhnya apa yang terjadi. Dokter tanpa basa basi mengatakan bahwa penyakit yang diindap kakakku Yesa adalah kanker, kanker ganas yang sudah menggerogoti sebagian dari badannya.Kanker? Kanker apa? Ya aku tau kanker! Tapi, Bukankah kanker itu penyakit yang mematikan? Kanker itu ada didalam tubuh kakakku? Kenapa harus Yesa? Kenapa harus ada didalam tubuh yang kuat itu? Kenapa Tuhan, kenapa?..

Aku terkejut! Dan aku tahu kalo Yesa juga tekejut..

Aku sedih! Dan aku tahu Yesa juga sedih..

Aku tahu Yesa berusaha sekuat mungkin untuk tidak menunjukkan rasa sedih dan pedihnya mendengar apa yang dikatakan Dokter. Melihat Yesa berusaha untuk menutup kesedihannya, aku pun berusaha untuk tidak menunjukkan rasa sedihku.Aku sadar mataku sudah penuh dengan air mata yang bisa jatuh kapan saja.Tapi aku sadar, aku harus kuat, aku tidak ingin menambah kesedihan untuk kakakku Yesa, aku tidak ingin menjadi beban untuk kakakku Yesa.

Akhirnya kami memutuskan untuk terus mengobati penyakit ganas itu, kami memutuskan untuk melawan kanker itu.Sebulan penuh kami terus memeriksakan keadaan Yesa ke RUmah Sakit Darmais Jakarta.

Aku bangga terhadap kakakku Yesa, aku tahu dia tahu bahwa penyakitnya sudah menggerogoti dirinya. Dengan keadaan kanker payudara stadium tiga grade 3 Yesa masih mampu mengendarai kendaraan beroda dua untuk berangkat kerumah sakit.

Sepertinya hanya Yesa lah yang mampu melakukan itu. Berangkat pukul tiga pagi dan pulang disaat matahari tenggelam menjadi rutinitas kami dikala itu.

Hingga pada suatu saat, alat dirumah sakit yang sering kami datangi mengalami kerusakan pada alatnya, dan pihak rumah sakit mengatakan untuk melakukan pemeriksaan di rumah sakit, yang sesungguhnya alat itu hanya tersedia di tiga rumah sakit di Jakarta. Pada rumah sakit pertama, pihak rumah sakit mengatakan bahwa laboratorium untuk alat tersebut tutup karena menjelang hari raya Idul Fitri, tanpa menunggu waktu lama aku langsung mencari rumah sakit lain. Dan akhirnya, rumah sakit tersebut masih beroperasi.

Aku langsung memberitahu Yesa untuk berangkat kerumah sakit tersebut. Dan diluar dugaanku selama ini, Yesa menangis! Yesa lelah dengan semua yang dilaluinya! Tuhan, berikan kekuatan untuk Yesa Tuhan…

Dengan tangisnya Yesa mengatakan kalau dirinya sudah tidak kuat lagi menjalani ini semua. Dengan menahan tangis aku berkata kepada dirinya “Ka, kamu harus kuat, ayo kita berjuang sedikit lagi ka..”. aku terus membujuknya untuk terus berjuang melawan penyakitnya. “Ayo Ka kita bisa, kalau Kaka lelah naik motor kita naik angkutan aja, biar ini semua cepat selesai Ka”.

Tapi aku tahu Yesa kuat, dan dia memutuskan untuk berangkat ke rumah sakit dengan menggunakan sepeda motor, karena kami berdua sadar menggunakan angkutan umum bukan cara yang efisien untuk saat ini.

Dirumah Sakit, kami dikejutkan lagi oleh kabar yang membuat hati kami seperti disayat oleh pisau. Dokter mengatakan bahwa kanker yang ada didalam tubuh Yesa sudah menajalar ke bagian tulangnya, dan juga ada titik-titik yang menjalar ke bagian Rahim.

Dan akhirnya dokter memutuskan untuk mengangkat Rahim Yesa untuk menghindari penyebaran yang lebih dari kanker tersebut.Dan operasi pun berjalan dengan lancar.

Tuhan masih memberikan cobaannya kepada kami, Yesa diketahui juga mengidap kelainan pada liver dan juga paru-parunya. Akan tetapi, dia tidak mau kalah dengan penyakitnya. Disaat semua penyakitnya berusaha untuk semakin menyebar, dia tetap kuat. Bahkan, dalam keadaan tersebut, kakak masih menjadi salah satu driver taksi online di Jakarta.

Yesa terus berjuang untuk mempertahankan hidupnya.Yesa sudah mulai terbiasa dengan segala yang dijalaninya saat ini. Dia akan merasa fit disaat dia merasa fit, dan dia juga merasa drop disaat dia sudah lelah dengan aktifitasnya.

Sekarang, Yesa memang tidak berubah, aku tahu yang dipikirkannya bukanlah sehat untuk dirinya, akan tetapi dia berusaha sehat untuk anaknya yang masih duduk dibangku taman kanak-kanak. Sehingga bekerja sebagai supir online terus ditekuni dengan semangat. “Keahlian saya hanya bisa menyupir, saya nggak mau mikirin sakit saya, saya mau enjoy dan mau cari uang untuk hidup kami” tuturnya saat bertemu dengan rekannya.

Dan juga sekarang Yesa sudah bergabung dengan YKPI (Yayasan Kanker Payudara Indonesia), yang mana didalamnya semua merasakan hal yang sama. Sama-sama berjuang untuk melawan penyakit ganas yang ada didalam tubuh mereka. Saling menyemangati, saling menasehati dan saling memberikan masukkan membuat Yayasan ini menjadi salah satu Yayasan yang bisa menguatkan Yesa dengan keadaan yang ada. Terimakasih YKPI.

Tuhan..

aku tahu engaku memberikan semua ini karena engkau sayang kakakku..

aku tahu hanya orang yang kau cintai yang akan menerima ini semua..

tapi kenapa harus kakakku Tuhan..

kakak kuat, kakak harus sehat. Aku akan selalu dampingin kakak, aku sayang kakak..

love you Yesa..

Salam sayang dari adikmu,

Disampaikan langsung oleh adik Yesa, Harty Triasfasta Hohu kepada tim PR & Media YKPI saat Temu Penyintas Kanker Payudara se-Indonesia, 1 Oktober 2016.

Read more...