Kanker Payudara Bukanlah Halangan untuk Melanjutkan Kehidupanku

Tresnawaty adalah seorang dokter bedah yang telah berkecimpung di Komunitas Peduli Kanker Payudara (PKP) Cirebon dalam waktu yang cukup lama. Kegigihan beliau dalam melawan kanker telah menginspirasi rekan-rekan Tresnawaty, baik di dalam atau di luar komunitas PKP Cirebon. Kegigihan inilah yang telah membawa Tresnawaty menjadi pemimpin dalam komunitas Peduli Kanker Payudara yang terkenal aktif di Cirebon ini. 

Pada awalnya Tresnawaty tidak pernah menyangka, bahwa seorang dokter bedah akan terkena penyakit kanker. Wanita kelahiran 17 Juni 1969 ini adalah seorang dokter bedah yang aktif dan teliti dalam menangani pasien setiap harinya. Tahun 2011 menjadi tahun awal perjuangan Tresnawaty dalam melawan kanker. Ia menyadari keanehan yang terjadi pada payudaranya melalui benjolan yang tiba-tiba disadarinya.  

Karena merasa bingung, Tresnawaty memutuskan untuk menghubungi gurunya di Bandung untuk memperoleh kejelasan. Sang guru pun menyarankan Tresnawaty untuk melakukan Tes Biopsi guna mengetahui kepastian status benjolan yang ada di payudara Tresnawaty tersebut. Setelah hasil test diperoleh, ia merasa lega karena tumor di payudaranya dinyatakan sebagai tumor jinak. Tresnawaty pun beraktifitas seperti biasa tanpa kekhawatiran yang ia rasakan sebelumnya. 

Dua bulan berlalu, Tresnawaty memutuskan untuk melakukan pengecekan kembali pada Desember 2011. Anehnya, hasil test kali ini menyatakan bahwa jenis tumor yang ada dalam tubuh Tresnawaty merupakan tumor ganas yang membutuhkan tindakan sesegera mungkin. Rasa kaget, sedih, dan terguncang menyelimuti hatinya yang pada saat itu hanya bisa menangis seperti manusia pada umumnya. Namun, Tresnawaty tidak tinggal diam. Dengan positif ia berpikir bahwa menangis bukan lah jawaban dari penyakit ini, “Air mata tidak dapat mengubah keadaan, kenapa harus ditangisi, ini harus dilawan”, batinnya.

Operasi pengangkatan pun dilakukan sebagai tindakan awal yang dilakukan guna mencegah penyebaran jaringan kanker ke organ lain. Tresnawaty pun menjalaninya dengan hati yang ikhlas dan tabah sembari menyusun langkah berikutnya untuk melawan penyakit ini. Tresnawaty menyadari bahwa ia tidak dapat tinggal diam dalam menghadapi penyakit ini. Kemoterapi pun ia jalani beberapa kali, meskipun terapi tersebut menyebabkan rasa sakit yang melemahkan fisiknya. 

Bagi Tresnawaty, penyakit kanker bukanlah penyakit yang menghalanginya untuk mengabdikan diri sebagai dokter. Dengan profesional ia tetap melakukan pengabdian kepada pasien-pasiennya. Walaupun harus mengurangi jumlah pasien karena rasa sakit paska kemoterapi, Tresnawaty tetap berjuang dengan tegar. Ia mengakui bahwa kekuatan yang didapatnya dalam menghadapi ujian ini tidak lepas dari dukungan keluarga. Ia berpendapat bahwa keluarga merupakan pendukung nomor satu yang membuatnya bertahan hidup.  

Dengan tekad yang kuat, Tresnawaty pun berpesan kepada penyintas kanker payudara lainnya di Indonesia yang selama ini masih terjebak dalam keputusasaan untuk bangkit. “Apabila terdiagnosa, kita jangan menghindari, tapi kita harus hadapi karena hal tersebut tidak bisa dirubah lagi,” ujarnya. “Mari kita membuat deal dengan breast cancer. Breast cancer, kamu harus kalah dengan aku,” tambahnya. Menurut Tresnawaty tetap happy, doa, dan dukungan keluarga adalah kombinasi yang ampuh untuk melawan rasa putus asa. Mengajak orang menuju kebaikan dan meningkatkan kesadaran orang lain terhadap kanker payudara, juga dinilai telah membuat Tresnawaty lebih senang dan positif, karena adanya semangat yang timbul dari dalam dan luar dirinya. “Penyintas sebaiknya menjadi motivator, sehingga akan terpacu untuk menjadi lebih sehat,” pesannya.

Sebagai aktivis dan dokter, Tresnawaty menilai bahwa acara Temu Penyintas Kanker Payudara se-Indonesia yang diadakan Pita Pink YKPI (Yayasan Kanker Payudara Indonesia) pada tanggal 1 Oktober 2016 silam merupakan acara yang sangat bagus, positif, dan sudah sepantasnya dicontoh oleh daerah-daerah lain. Acara seperti ini dapat dijadikan wadah pertukaran pikiran dan informasi antara para penyintas kanker payudara dari seluruh indonesia. PKP Cirebon, sebagai komunitas yang peduli terhadap isu seputar kanker payudara, sudah melakukan berbagai kegiatan yang berguna untuk masyarakat. Hal ini ditunjukan dengan diadakannya promosi  dan kampanye kesahatan ke sekolah, kantor, dan komunitas lain guna memberikan pengetahuan lanjut dan informasi terkini mengenai kanker payudara yang diprakarsai oleh para survivor dan warrior di Cirebon.

Penulis: Nanda Afriani/Team PR & Media YKPI

Jangan Takut, Hadapi Kanker Dengan Senyuman

Ceria adalah satu kata yang dapat menggambarkan sosok wanita bernama Rani Nur Firdausi. Hidupnya indah sampai akhirnya diusianya ke 31 tahun tepatnya tahun 2013, ia divonis mengidap kanker payudara stadium 2. Ini berawal ketika tahun 2012 akhir ia mendapati ada benjolan di payudara sebelah kirinya. Tidak terpikirkan olehnya bahwa benjolan tersebut ialah asal muasal penyakit ganas ini bersarang di tubuh mungilnya.

“Aku pikir benjolannya muncul saat haid saja, jadi aku tidak khawatir” pungkasnya. Namun setelah haid selesai, ia heran mengapa benjolan tersebut tidak ikut menghilang atau setidaknya mengecil. Sempat terpikir olehnya untuk memeriksakan hal ini ke dokter, justru pemikiran lain yang terlintas dikepalanya, “Nanti sajalah ke dokter, aku ingin jalan-jalan dulu”. Rani takut jika ia memeriksakan hal ini ke dokter, justru ia dilarang untuk berpetualang. Walhasil sebelum melakukan pemeriksaan lebih lanjut, ia memutuskan untuk berlibur terlebih dahulu.

Petualangan berakhir, saatnya ia untuk memeriksakan benjolan yang ada di payudaranya kepada dokter. Pertama dokter memutuskan untuk mengambil tindakan biopsi. Ritual itu dilakukannya sekitar bulan Maret 2013 dan hasilnya adalah ia divonis mengidap kanker payudara stadium 2. Pada saat itu, Rani tidak memberitahukan keadaannya pada sang ibu. Ia takut ibu yang sangat ia sayangi menjadi sedih. “Aku tidak mau ibuku down melihat kondisiku saat itu” ucapnya. Rani memutuskan untuk menguatkan dirinya terlebih dahulu, tidak lupa juga untuk meminta second opinion ke dokter lain, serta mencari informasi selengkap-lengkapnya tentang kanker payudara.

Setelah siap mental, akhirnya Rani memberanikan diri untuk memberitahu ibunya perihal penyakitnya ini. “Mam, ternyata ini kanker payudara” ujarnya sambil sedikit mengeluarkan air mata ketika diwawancarai tim PR media YKPI. Mungkin ia teringat masa-masa kala itu. Pastinya sebagai seorang anak, Rani sangat tidak ingin membuat orangtuanya sedih apalagi membuat sedih seorang Ibu. Rani pun sempat berucap kepada sang Ibunda, “Mam, ade minta maaf kalau ade sakit nanti nyusahin mamih”. Ketegaran yang Rani miliki ternyata memang menurun dari sang Ibu, tanpa berfikir lama ibunya langsung menerima kenyataan bahwa anaknya divonis kanker payudara. Ibunda langsung menyetujui keputusan Rani untuk mengambil jalur pengobatan medis yaitu untuk melakukan mastektomi atau operasi pengangkatan payudara. Pikirnya tidak apa ia harus kehilangan satu payudaranya karena jika tidak dilakukan sekarang, kedepannya dikhawatirkan akan menimbulkan penyakit lain. “Aku tidak memikirkan apa-apa saat itu, yang penting aku bisa sehat, kerja, dan jalan-jalan” ungkapnya. Beruntungnya Rani, setelah melakukan mastektomi, ia hanya harus menjalani kemoterapi sebanyak enam kali saja tanpa harus melalui proses radiasi. Setelah itupun ia cukup kontrol rutin setiap tiga bulan sekali ke dokter.

Selama menjalani kemoterapi, Rani masih terus bekerja seperti biasa dan setelah kemoterapi selesai ia rutin berolahraga dan mengikuti berbagai kegiatan lari. Rani percaya Tuhan selalu ada untuknya, itulah yang membuatnya terus bersemangat dalam menjalani hidup. “Tuhan pasti kasih yang terbaik, jadi aku tidak perlu takut” pungkasnya. Pembawaan Rani yang ceria membuat orang-orang disekelilingnya berpendapat bahwa ia tidak seperti seseorang yang sedang sakit parah. Mereka heran, apa benar seorang Rani mengidap kanker payudara. Bahkan jika sedang bercanda, mereka sering mengatakan bahwa dokternya telah salah mendiagnosanya mengidap kanker payudara.

Wanita yang kini berusia 35 tahun ini sangat bersyukur dan berterima kasih karena dikelilingi oleh orang-orang yang sangat mendukungnya. Selama pengobatan berlangsung, ia merasa semakin kuat dan semangat. Tidak ia pungkiri, keluarga dan sahabat selalu ada setia bersamanya saat suka maupun duka. “Sempat merasa sendiri dan takut ditinggal keluarga dan teman-teman” ujarnya mengingat masa-masa awal pengobatan dahulu.

Rani sadar bahwa kanker payudara bukanlah harga mati. Kanker payudara tidak sama dengan mati. Kematian bukanlah hal yang bisa kita hindari, tetapi ada kehidupan yang harus kita perjuangkan. Rani tidak mempermasalahkan kondisi fisiknya saat ini yang hanya memiliki satu payudara. Menurutnya, kanker adalah awal hidup yang lebih berkualitas. Memulai hidup sehat dan teratur dengan menjaga pola makan, rajin berolahraga, dan mengontrol stress. Rani pun mengingat masa-masa sebelum ia mengidap penyakit ini, ternyata ia jarang sekali mengkonsumsi air putih dan lebih senang mengkonsumsi fast food dan teh dalam botol dikesehariannya.

Saat ini Rani tergabung dalam Yayasan Kanker Payudara Indonesia atau YKPI. Ia sangat antusias dengan kegiatan yang diadakan oleh YKPI, seperti sharing dan seminar. Baginya, bergabung dengan YKPI merupakan sebuah anugerah karena dapat mempertemukannya dengan keluarga baru yang berisi para wanita tangguh. Rani juga menambahkan bahwa sosialisasi tentang pengecekan dini itu penting dan memberitahu bahwa kemoterapi itu tidak menakutkan seperti yang banyak dikatakan orang-orang diluar sana. “Jangan takut, pokoknya yang paling penting jangan lupa untuk selalu tersenyum dalam menghadapi hari-hari karena kanker bukan akhir dari segalanya” tutup Rani.

Penulis: Azizah Nadilla Syahna/Team PR & Media YKPI

Tuhan Memberikan Kado Terindah Dalam Hidup Ku

Tetap mengucap syukur pada Tuhan atas apa yg terjadi dalam kehidupanku…

Pravita tidak pernah menyangka pada hari ulang tahun ada kado terindah yang diterimamya, yaitu bahwa ia terdiagnosa kanker payudara. Kaget, sedih, kecewa,senang, bersyukur semua perasaan bercampur jadi satu. Kaget karena ia tidak pernah menyangka Tuhan memberikan kado ini saat berulang tahun. Sedih karena sebagai manusia ia mempunyai perasaan mengapa Tuhan memilihnya untuk menerima penyakit ini yg konon kata banyak orang penyakit yang menyeramkan. Kecewa karena teman-teman pergi menjauh. Senang karena orang terdekat menjadi semakin perhatian. Bersyukur karena dibalik penyakit ini, Tuhan punya rencana yang jauh lebih indah.
Usai didiagnosa kanker payudara, wanita yang akrab disapa Vita ini langsung memulai pengobatan dan kemoterapi. Setelah kemoterapi pertama dan kedua, ia merasa rambutnya mulai rontok sedikit demi sedikit. “Awalnya rontoknya sedikit, sekali kita pegang ya rontoknya lumayan juga. Tapi karena banyak anak-anak jadi saya gundulin saja langsung benar-benar botak, dan jujur, saya tidak merasa malu ataupun terkucilkan” ungkap wanita 4 anak ini kepada tim PR YKPI.

Menjalani kemoterapi memang sakit tetapi sakit itu akan tergantikan dengan semangat kita melihat orang yang kita sayangi tersenyum.  Anak-anak yang masih kecil menjadi pemicu semangatnya untuk sembuh dari rasa sakit itu. Ia masih punya tanggung jawab untuk membesarkan anak-anaknya, apalagi kala itu anaknya yang terkecil, si kembar Aiko dan Eiko baru berusia dua tahun. Mereka belum mengerti mengenai penyakit ini, mengenai apa kanker itu sebenarnya. “Si kembar masih dua tahun jadi dia cuma bilang ‘ih mama botak’, dia masih belum tau sakit atau apa. Tapi anak saya yang paling besar mungkin sudah tau, dan di sekolahnya menjadi bahan pembicaraan teman-temannya” cerita Vita. Dan kemudian ia menjawab “Biarkan saja orang berbicara apa tentang mama yang terpenting adalah apapun yg terjadi pada mama, kamu tetap anak mama dan mama tetap mama kamu, nak.”.

Lima bulan berselang, tepatnya bulan Januari 2015 Vita dioperasi di salah satu rumah sakit di Malaysia. Awalnya ia sempat shock  karena mendengar bahwa payudaranya akan diangkat semuanya. Namun dokter meyakinkannya bahwa dengan enam kali kemoterapi yang sudah dilakukan, benjolan tersebut dibuat mengecil terlebih dahulu kemudian diangkat. Dukungan suami pun memberikan kekuatan bagi Vita untuk menjalankan operasi. “Suami terus support, yang penting bisa sembuh, bisa tetap mengurus anak-anak, dan bisa berkarya,” ujar wanita kelahiran 8 Agustus 1983 ini.

Bergabung dengan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) pada Oktober 2015, Vita ingin mengajak semua orang, khususnya wanita-wanita yang didiagnosa kanker payudara, untuk mau membuka diri. Walaupun mengidap kanker, mereka juga layak untuk bergabung dengan orang-orang sehat. Kanker bukan penyakit menular, justru dengan semangat hidup yang luar biasa, kanker itu bisa hilang. Jangan pernah menutup diri dan merasa malu. “Tidak masalah, namanya semua orang hidup itu pasti ada sakit ada senang ada susah. Jadi kalau orang mau bilang apa kita biarkan saja, cuek saja mereka mau berbicara apa. Justru ketika kita sudah fight, sudah sembuh, mereka akan melihat bahwa ternyata kanker itu  bisa diobati,” kata Vita.

Di acara Temu Penyintas Kanker Payudara Se-Indonesia pada 1 Oktober 2016 di Hotel Mercure Ancol, Jakarta. Vita hadir didampingi lengkap dengan suami dan keempat anaknya. Bahkan alunan lagu dari anaknya sikembar yang dipersembahkan untuk mama dan para Penyintas membuat banyak orang yang hadir larut terharu bangga akan keharmonisan keluarga Vita.
Pengalaman yang ia rasakan meskipun terlihat sebagai wanita yang penuh semangat, sebagai manusia biasa ada kalanya Vita merasa terpuruk. Terutama ketika saat di kamar sendiri ia kerap bertanya ‘Kenapa harus saya, Tuhan? Saya salah apa?’ dan teman-teman mulai menjauh. “Justru kita tau mana sobat yang baik dan tidak, peran orang terdekat dan keluarga juga sangat penting disitu, harus bisa memahami dan mengerti betul. Terutama usai kemoterapi jadi sangat sensitif seperti anak kecil yang ingin diperhatikan,” aku Vita.

“Saat obat kemo diinjeksikan dari kulit terluar masuk ke dalam terasa dingin dan  menjalar dari tangan kanan saya naik sampai ke daerah kepala dan turun ke ke daerah perut sampai disitulah saya langsung merasa tidak nyaman gelisah, mual, dan saya pun meneteskan air mata untuk menahan ketidak nyamanan itu.  Namun demikian, tidak usah takut dengan kemo karena itu hanya efek sementara di dalam tubuh. Tetap berdoa dan meminta kekuatan kepada Tuhan mungkin ada rencana baik yang diberikan Tuhan dibalik penyakit yang saya derita,” tambah Vita sembari mengenang saat-saat ia berjuang melawan penyakitnya.

Vita juga mengungkapkan bahwa ia pernah mengalami masa kritis usai kemoterapi ketiga. Suhu tubuhnya mencapai 41 derajat celcius, jumlah sel darah merah dan sel darah putihnya juga menurun hingga dilakukan transfusi darah. “Kuasa Tuhan bekerja dalam diri saya, dan kini saatnya saya untuk membantu dan men-support teman-teman lainnya lewat sharing pengalaman supaya mereka terus berjuang. Fight!” tegas Vita.

Penulis: Mathilda Liliana P/Team PR & Media YKPI

“Tuhan, kenapa harus kakakku?”

Aku sadar kami hanyalah makhluk kecil dimatamu tuhan..

Aku sadar kami hanya manusia tak berdaya dihadapmu Tuhan..

Tapi kenapa ini menimpa keluarga kami?Kenapa harus kakakku yang kau titipi penyakit seberat ini?

Inilah aku, Harty Triasfasta Hohu yang akan menceritakan kisah kakakku yang kuat…

Yesa, nama itu terdengar indah ditelingaku, bagiku nama panggilan dari kakaku yang bernama lengkap Yesaya Fermindi Hohu itu adalah nama malaikat yang ada dihidupku. Yesa, ya dia adalah kakaku yang dilahirkan di Lampung pada 1 Agustus 1980 adalah seorang yang kuat, tegar dan tidak ada kata menyerah dalam kamus hidupnya.Seperti biasa, kami hidup layaknya keluarga lain, bahagia seperti adanya.Tidak ada kata sedih, tidak ada tangis, dan juga tidak ada rasa cemas hinggap dikeluarga kami.

Hingga akhirnya 2 tahun lalu, Yesa kakaku yang paling kusayang tiba-tiba merasakan sakit yang teramat dibagian pinggangnya. Kami tidak menaruh curiga akan sakit yang dirasakan oleh kakakku. “Ka, kaka baik baik saja?” tanyakku kepada Yesa. Dengan senyuman khas nya dia hanya mengaku kalau itu hanya sakit biasa, dan dia berpesan agar tidak menghawatirkan dirinya.

Waktu terus berlalu, hingga akhirnya sakit yang pernah dirasakannya itu muncul kembali, dan ini lebih parah dibandingkan sakit yang dirasakan sebelumnya. Kakaku tidak bisa jalan! Kenapa ini Tuhan?Apa yang terjadi oleh kakakku?

Akhirnya aku memutuskan untuk mengajak  kakaku Yesa untuk menggunakan cara tradisional untuk pergi ke ahli pijat karena kami beranggapan bahwa ini hanya sakit yang muncul dari syarafnya, akan tetapi perhitungan kami salah, sepulangnya dari tempat itu bukan sembuh yang dirasakan, akan tetapi bertambah parah, kakaku merasakan sakit yang berlebih. Karena itu kakaku memutuskan untuk membuat kartu kesehatan dan berencana untuk memeriksakan kondisinya ke Rumah Sakit di daerah Tangerang.

Dan pada hari itu kami pun berangkat ke Rumah sakit. Setibanya di rumah sakit, kami tidak mengerti apa yang dikatakan dokter terhadap kondisi Yesa, Dokter berkata kenapa Yesa datang dalam keadaan “penuh” yang sesungguhnya kami tidak tahu arti dari kata yang dikatakan oleh dokter.

Akhirnya Yesa memberanikan diri untuk bertanya ke Dokter apa yang dimaksudkan dengan ”Penuh” ? Maksud Dokter apa?” Tanya Yesa dalam keadaan bingung.Tanpa menjelaskan lebih, Dokter hanya berkata bahwa kami harus datang besok pagi dalam keadaan Yesa sedang berpuasa untuk melakukan Biopsi.

Kami orang awam, kami bukan lulusan Dokter, kami bingung untuk apa tindakan Biopsi yang dilakukan oleh Dokter untuk kakakku Yesa. Dan akhirnya kami memutuskan untuk pulang dan juga memutuskan untuk datang lagi ke Rumah Sakit sesuai dengan apa yang dikatakan Dokter kepada kami.

Keesokan harinya operasi pun dilakukan oleh tim dokter untuk Yesa, Dokter pun keluar dari kamar Operasi. Akupun bertanya kepada dokter bagaimana hasil dari operasi yang telah dilakukan, apakah berhasil? Dengan senyum dokter hanya berkata, “operasi hari ini lancar, akan tetapi belum terangkat semua”. “Terangkat semua?” aku semakin tidak mengerti, sebenarnya apa yang terjadi, sakit apa yang diindap oleh kakakku Yesa sehingga dokter mengatakan ini belum semua keangkat?. Setelah itu dokter memberikanku sebuah plastik dan berkata untuk membawa bungkusan itu ke Rumah sakit Umum Tangerang untuk diperiksa lebih lanjut. Tanpa berpikir panjang, aku pun langsung bergegas menuju Rumah Sakit Tangerang, sesampainya disana pihak Rumah Sakit mengatakan bahwa hasilnya akan keluar 14 hari kemudian.

Empat belas hari kemudian, hasil dari Rumah Sakit pun keluar, hasil yang diberikan langsung aku bawa ke pihak Dokter yang mengoperasi Yesa 2 minggu lalu. Dan hari ini pun tiba! Aku dan Yesa mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan Dokter, mendengarkan sesungguhnya apa yang terjadi. Dokter tanpa basa basi mengatakan bahwa penyakit yang diindap kakakku Yesa adalah kanker, kanker ganas yang sudah menggerogoti sebagian dari badannya.Kanker? Kanker apa? Ya aku tau kanker! Tapi, Bukankah kanker itu penyakit yang mematikan? Kanker itu ada didalam tubuh kakakku? Kenapa harus Yesa? Kenapa harus ada didalam tubuh yang kuat itu? Kenapa Tuhan, kenapa?..

Aku terkejut! Dan aku tahu kalo Yesa juga tekejut..

Aku sedih! Dan aku tahu Yesa juga sedih..

Aku tahu Yesa berusaha sekuat mungkin untuk tidak menunjukkan rasa sedih dan pedihnya mendengar apa yang dikatakan Dokter. Melihat Yesa berusaha untuk menutup kesedihannya, aku pun berusaha untuk tidak menunjukkan rasa sedihku.Aku sadar mataku sudah penuh dengan air mata yang bisa jatuh kapan saja.Tapi aku sadar, aku harus kuat, aku tidak ingin menambah kesedihan untuk kakakku Yesa, aku tidak ingin menjadi beban untuk kakakku Yesa.

Akhirnya kami memutuskan untuk terus mengobati penyakit ganas itu, kami memutuskan untuk melawan kanker itu.Sebulan penuh kami terus memeriksakan keadaan Yesa ke RUmah Sakit Darmais Jakarta.

Aku bangga terhadap kakakku Yesa, aku tahu dia tahu bahwa penyakitnya sudah menggerogoti dirinya. Dengan keadaan kanker payudara stadium tiga grade 3 Yesa masih mampu mengendarai kendaraan beroda dua untuk berangkat kerumah sakit.

Sepertinya hanya Yesa lah yang mampu melakukan itu. Berangkat pukul tiga pagi dan pulang disaat matahari tenggelam menjadi rutinitas kami dikala itu.

Hingga pada suatu saat, alat dirumah sakit yang sering kami datangi mengalami kerusakan pada alatnya, dan pihak rumah sakit mengatakan untuk melakukan pemeriksaan di rumah sakit, yang sesungguhnya alat itu hanya tersedia di tiga rumah sakit di Jakarta. Pada rumah sakit pertama, pihak rumah sakit mengatakan bahwa laboratorium untuk alat tersebut tutup karena menjelang hari raya Idul Fitri, tanpa menunggu waktu lama aku langsung mencari rumah sakit lain. Dan akhirnya, rumah sakit tersebut masih beroperasi.

Aku langsung memberitahu Yesa untuk berangkat kerumah sakit tersebut. Dan diluar dugaanku selama ini, Yesa menangis! Yesa lelah dengan semua yang dilaluinya! Tuhan, berikan kekuatan untuk Yesa Tuhan…

Dengan tangisnya Yesa mengatakan kalau dirinya sudah tidak kuat lagi menjalani ini semua. Dengan menahan tangis aku berkata kepada dirinya “Ka, kamu harus kuat, ayo kita berjuang sedikit lagi ka..”. aku terus membujuknya untuk terus berjuang melawan penyakitnya. “Ayo Ka kita bisa, kalau Kaka lelah naik motor kita naik angkutan aja, biar ini semua cepat selesai Ka”.

Tapi aku tahu Yesa kuat, dan dia memutuskan untuk berangkat ke rumah sakit dengan menggunakan sepeda motor, karena kami berdua sadar menggunakan angkutan umum bukan cara yang efisien untuk saat ini.

Dirumah Sakit, kami dikejutkan lagi oleh kabar yang membuat hati kami seperti disayat oleh pisau. Dokter mengatakan bahwa kanker yang ada didalam tubuh Yesa sudah menajalar ke bagian tulangnya, dan juga ada titik-titik yang menjalar ke bagian Rahim.

Dan akhirnya dokter memutuskan untuk mengangkat Rahim Yesa untuk menghindari penyebaran yang lebih dari kanker tersebut.Dan operasi pun berjalan dengan lancar.

Tuhan masih memberikan cobaannya kepada kami, Yesa diketahui juga mengidap kelainan pada liver dan juga paru-parunya. Akan tetapi, dia tidak mau kalah dengan penyakitnya. Disaat semua penyakitnya berusaha untuk semakin menyebar, dia tetap kuat. Bahkan, dalam keadaan tersebut, kakak masih menjadi salah satu driver taksi online di Jakarta.

Yesa terus berjuang untuk mempertahankan hidupnya.Yesa sudah mulai terbiasa dengan segala yang dijalaninya saat ini. Dia akan merasa fit disaat dia merasa fit, dan dia juga merasa drop disaat dia sudah lelah dengan aktifitasnya.

Sekarang, Yesa memang tidak berubah, aku tahu yang dipikirkannya bukanlah sehat untuk dirinya, akan tetapi dia berusaha sehat untuk anaknya yang masih duduk dibangku taman kanak-kanak. Sehingga bekerja sebagai supir online terus ditekuni dengan semangat. “Keahlian saya hanya bisa menyupir, saya nggak mau mikirin sakit saya, saya mau enjoy dan mau cari uang untuk hidup kami” tuturnya saat bertemu dengan rekannya.

Dan juga sekarang Yesa sudah bergabung dengan YKPI (Yayasan Kanker Payudara Indonesia), yang mana didalamnya semua merasakan hal yang sama. Sama-sama berjuang untuk melawan penyakit ganas yang ada didalam tubuh mereka. Saling menyemangati, saling menasehati dan saling memberikan masukkan membuat Yayasan ini menjadi salah satu Yayasan yang bisa menguatkan Yesa dengan keadaan yang ada. Terimakasih YKPI.

Tuhan..

aku tahu engaku memberikan semua ini karena engkau sayang kakakku..

aku tahu hanya orang yang kau cintai yang akan menerima ini semua..

tapi kenapa harus kakakku Tuhan..

kakak kuat, kakak harus sehat. Aku akan selalu dampingin kakak, aku sayang kakak..

love you Yesa..

Salam sayang dari adikmu,

Disampaikan langsung oleh adik Yesa, Harty Triasfasta Hohu kepada tim PR & Media YKPI saat Temu Penyintas Kanker Payudara se-Indonesia, 1 Oktober 2016.

“Temukan Passion Setelah Vonis Kanker Payudara”

Menikah dengan lelaki yang dicintai adalah mimpi setiap wanita di seluruh dunia. Kebahagiaan membangun rumah tangga hingga mengurus dan membesarkan anak bersama rasanya sudah terbayang oleh Irmaya. Ya, tahun 2008 adalah tahun yang dinanti-nanti Irma, begitu ia biasa dipanggil. Pasalnya kira-kira enam bulan lagi ia akan dipersunting oleh lelaki pujaannya.

Namun seketika kebahagiaan tersebut sirna berubah menjadi kesedihan dimana pada tahun yang sama, ia divonis mengidap kanker payudara ganas yang mengakibatkan payudaranya harus diangkat. Kala itu, Irma memasuki usia 27 tahun. Usia yang masih terbilang muda untuk mengidap sebuah penyakit yang mematikan bagi puluhan ribu wanita di dunia. Keresahan bergejolak di dadanya. Bagaimana cara ia menjelaskan kepada calon suami dan keluarganya. Irma merasakan mimpi-mimpi indah pernikahan mulai menjauh darinya. Ia pasrah jika kelak calon suami dan keluarga besarnya meninggalkannya. Ketika ia pasrah akan nasibnya, saat itulah calon suami dan keluarganya justru mendukung langkah Irma untuk melakukan operasi pengangkatan payudara.

Sebelum memutuskan untuk melakukan operasi, terlebih dahulu Irma pergi ke Jakarta untuk mendapatkan second opinion dari dokter lain, tetapi ternyata hasilnya sama dengan hasil prediksi dokter di Surabaya bahwa ia mengidap kanker payudara ganas. Dengan berat hari, Irma pulang ke Surabaya untuk melakukan operasi pengangkatan payudara. Alasan kepulangannya ke kampung halaman adalah agar saat menjalani proses operasi ia berada didekat keluarga tercinta. Seluruh keberanian dan tekad yang ia keluarkan untuk menjalani operasi pengangkatan payudara. Selang seminggu setelah operasi, kabar buruk kedua menghampirinya. Ia dipecat atau diberhentikan dari tempat ia bekerja. Sedih, kecewa, marah, semuanya menjadi satu. “Kau berikan aku penyakit ini (kanker payudara), lalu pekerjaanku pun juga Kau ambil. Sekarang apa lagi? Ambil saja nyawaku sekalian” umpat Irma kala itu. Ia merasa tidak ada gunanya ia hidup.Tidak punya uang, ia pun coba melamar pekerjaan ke perusahaan lain. Hasilnya pun nihil, penolakan yang ia terima. Karena apa? Karena kanker payudara. “Sungguh penyakit ini telah mengambil banyak hal dariku” ucap Irma.

Pengobatan yang ia jalani, seperti kemoterapi dan radiasi membuat ia kehilangan mahkotanya, rambut. Gundul, botak, inilah yang menggambarkan dirinya saat itu. Tidak terima dengan fisiknya kala itu, Irma memutuskan untuk mengenakan wig dikesehariannya agar tetap terlihat stylish. Namun, apa yang didapat? Malah kerepotan dan penyakit baru. Kulit kepalanya mulai gatal dan kerap dilanda pusing akibat terlalu sering mengenakan wig. Sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk berhijab. Irma tersadar selama ini ia sombong kepada Tuhan. “Mungkin ini cara Ia menegurku untuk lebih dekat dengan-Nya” pikirnya. Mulai saat itu ia mulai belajar ikhlas akan cobaan kehidupan yang ia dapatkan dengan mendekatkan diri kepada sang maha pencipta, Allah S.W.T.

Kebencian Irma terhadap perusahaan tempat ia bekerja dulu, mulai berangsur berubah menjadi semangat positiv untuk membuktikan kepada pimpinan dan rekan-rekan kerjanya bahwa ia dapat meraih kesuksesan dengan caranya sendiri. Irma belajar mengenal dirinya, mencari tahu kreasi apa yang dapat ia kembangkan. Terbukti dengan hati yang tenang dan ikhlas, Irma mulai berkreasi membuat makaroni panggang di Surabaya. Dengan bantuan sang Ibu dan Suami tercinta, Irma mampu menghadirkan kreasi makaroni panggang yang ia pasarkan secara online dengan nama, Madame Schotel. Saat ini pun penghasilan yang ia terima dari penjualan makaroni panggang lebih besar dari gaji bulanan yang biasa ia dapatkan saat masih bekerja di perusahaan sebelumnya.

“Kanker payudara membuat saya belajar banyak hal. Belajar menghargai hidup, bahkan setiap udara yang saya hirup, saya syukuri” ucapnya saat ini. Menurutnya, Tuhan punya jalan lain untuk dirinya. Memang Tuhan mengambil banyak hal darinya, tetapi Tuhan menggantinya dengan beribu kali lipat berkahNya. Sekarang dengan bisnis barunya, Irma mulai kembali membangun kepingan mimpi-mimpinya. Ia bermimpi untuk mengembangkan bisnis makaroni panggangnya ini tidak hanya sebatas di Surabaya saja, tempat ia tinggal saat ini. Tanpa ia sadari, ia menjadi belajar banyak hal yang sebelumnnya tidak pernah terpikirkan olehnya. Mulai dari belajar memasak, membuat website, fotografi, hingga marketing. Ilmu yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan, ilmu yang tidak ia pernah pelajari sebelumnya. “Kanker payudara menjadikanku bersemangat dalam memulai hidup baru, Bangga kepada diri sendiri saat ini bisa menemukan passionku menjadi seorang pebisnis. Semua hal yang tadinya kupikir tidak bisa, sekarang aku bisa lakukan”. ungkap wanita 35 tahun ini dengan penuh bangga.

Saat ini Irma tergabung dalam Reach to Recovery (RRS) Surabaya, sebuah support grup bagi penderita kanker payudara di daerah Surabaya. Irma cukup aktif memberikan kampanye tentang deteksi dini kanker payudara. Menurutnya, kegiatan yang diadakan oleh Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) pada 1 Oktober 2016 lalu di hotel Mercure Ancol, Jakarta sangat membantu dalam menambah semangat dan motivasi bagi sesama survivor kanker payudara lainnya. Selain itu ia juga dapat berkenalan dengan teman baru dan mengenal dokter-dokter yang kompeten dalam bidang kanker payudara di Indonesia.

Kanker Mendorongku Menyebarkan Hal Positif

Yulia Sofiati adalah pribadi yang sangat positif. Dalam kesehariannya tidak pernah dalam benaknya ada rasa dengki, dendam, atau pun iri terhadap orang lain. Ia adalah pribadi yang selalu berusaha untuk menyelaraskan hati dan ucapannya. Mengeluh adalah hal terakhir yang terlintas dalam benaknya.

Keteguhan dan pemikiran positif Yulia juga tercermin dalam usahanya berperang melawan kanker. Wanita yang lahir 64 tahun silam ini sudah divonis positif mengidap kanker payudara sejak 11 tahun yang lalu. Kemoterapi pun ia jalani dengan ikhlas, guna mencapai kesembuhan yang sepenuhnya.

Tahun 2005 menjadi awal dimana ia harus lebih kuat dari sel kanker yang ada dalam tubuhnya. Yulia bercerita bahwa ia menyadari ada keanehan yang terjadi dalam dirinya ketika sedang melakukan sholat. Ketika itu ia melihat ada bercak merah segar pada bagian dada di mukena yang sedang ia gunakan. Berusaha berpikir positif, ia menganggap itu sebagai angin lalu “Ah, paling nyamuk tidak sengaja terpukul,” gumamnya kala itu. Yulia pun menjalani hari-harinya seperti biasa. Tidak ada keluhan tentang rasa sakit atau pun tidak nyaman yang terlontar darinya.

Selang beberapa hari kemudian, bercak merah itu pun muncul kembali pada saat menunaikan ibadah sholat, lagi-lagi Yulia mengabaikannya. Perasaan tidak enak pun tidak dapat lagi dibantah oleh Yulia ketika ia mendapati bercak merah yang sama untuk ketiga kalinya. Seketika warga Bangil, Surabaya, itu pergi ke kamar mandi dan melihat pantulannya di cermin. Benar saja, kali ini tidak hanya cairan merah segar yang ada di mukenanya, namun juga gumpalan darah ia temukan di payudaranya. “Ini apa ya?” Kiranya kala itu. “Kok tidak ada yang luka, namun berdarah seperti ini?”

Dengan perasaan shock dan bingung, Yulia pergi ke dokter umum untuk mengecek keadannya. Dokter umum menyimpulkan bahwa Yulia baik-baik saja. Tidak puas dengan jawaban sang dokter, Yulia pun berinisiatif untuk pergi ke dokter bedah umum. Lagi-lagi nihil. Dokter bedah umum pun tidak dapat menjelaskan kondisi yang terjadi pada Yulia kala itu.

Baru setelah bercerita pada temannya, Yulia disarankan untuk mengunjungi Dokter Onkologi yang berada di Surabaya. Jarak 40km yang memisahkan Surabaya dan Bangil ia tempuh seorang diri, guna mendapatkan kepastian mengenai kondisi kesehatannya. Sesampainya di Surabaya, ia disarankan untuk mengikuti tes mamografi. “Rasanya sakit sekali, saya sampai menangis berkali-berkali saking sakitnya proses tes tersebut,” ungkapnya pada tim PR YKPI. Tidak hanya tes mamografi, Yulia juga diharuskan untuk melakukan pengecekan darah dari putingnya dan diminta menunggu beberapa jam untuk mengetahui hasil tes tersebut. Pada saat itu, Yulia sama sekali belum memberi tahu suaminya mengenai hal ini. “Takut bapak mikir macam-macam dan terjadi apa-apa, makanya saya diam saja,” katanya.

Saat yang ditunggu pun tiba. Yulia menerima hasil tes dengan hati yang gundah. Hasil tes mengatakan bahwa di payudara Yulia positif terdapat sel kanker payudara. Tidak seperti orang pada umumnya, Yulia, yang selalu berpikiran positif pada saat itu malah bersyukur kepada Allah karena keanehan dalam tubuhnya sudah terungkap. “Alhamdulillah, penyakitnya ketemu sudah!” ujarnya ketika itu.

Rasa syukur itu tidak berlangsung lama. Yulia merasa lemas seketika, ketika mendapati ia harus melakukan operasi pengangkatan payudara. Air mata mengalir dengan deras. Merasa membutuhkan petunjuk, Yulia pun menghubungi anaknya di Jakarta. Respon yang ia dapat positif sekali, “Jangan ragu, Ma! Lakukanlah operasi itu, karena memang hanya itulah solusinya!” ujar sang anak. Suami Yulia pun pasrah, walaupun pada awalnya sangat sulit baginya untuk menerima keadaan ini.

Wanita yang telah melakukan 12 kali kemoterapi seorang diri ini mengakui bahwa belum banyak yang mengerti soal kanker payudara di daerahnya. Proses penyembuhan yang berat pun tak menghalanginya untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat Bangil “Saya malah tambah aktif menjadi relawan untuk menambah lahan pahala. Itulah prinsip yang saya tanam dalam diri saya selama ini,” akunya.

Yulia telah melakukan penyuluhan mengenai kanker payudara di rumahnya di Bangil. Dengan mendatangkan dokter onkologi, ia mengadakan sesi konsultasi dan tanya jawab. Melalui usaha yang giat, Yulia telah berjasa mengajak banyak penyintas kanker untuk memeriksakan dirinya ke dokter spesialis onkologi. Tidak terkecuali penyintas yang sudah berada pada stage yang sangat krusial. Yulia pun mengaku senang sudah menginspirasi banyak orang untuk berobat, sehingga resiko kematian dapat dicegah se-dini mungkin.

Menutup sesi wawancara dengan tim PR YKPI, Yulia berpesan kepada penyintas kanker payudara lainnya untuk senantiasa menjaga ketenangan jiwa. “Intinya kita tidak boleh merasa sendirian!” himbaunya. “Kalau toh benar-benar ada penyakit, langsung aja ke spesialisnya, tidak perlu takut. Saya dulu merasa ini momok, tapi memang dokter lah yang lebih tau cara mengobatinya,” tutupnya.

Kuncinya adalah Pengecekan Dini

Panik dan takut adalah hal yang dirasakan Sumarni ketika ia mendapati benjolan aneh pada payudaranya untuk pertama kali. “Kok bisa sih sakit sepeti ini,” gumamnya dalam hati. Dengan kekhawatiran yang ada dalam benaknya, pada bulan November 2015, Sumarni mengunjungi dokter umum untuk menyampaikan keluhan yang dirasakan pada payudaranya. Dokter umum menyampaikan bahwa tidak perlu ada yang dikhawatirkan oleh Sumarni. Sumarni hanya diberi obat pereda rasa sakit, yang menurut Sumarni pada saat itu sangat berguna untuk menghilangkan gangguan pada payudaranya.

Selang lima bulan, rasa sakit itu muncul kembali. Sumarni pun segera mengunjungi dokter umum atas saran suami dan keluarganya. Kembali memberikan keluhan yang sama, sang dokter yang juga mempunyai keluarga yang menderita kanker payudara menyarankan Sumarni untuk melakukan uji laboratorium dan USG. Hasil tersebut diduga merupakan tumor dan disarankan ke dokter bedah.

Usai mengunjungi dokter bedah di Bandung, pada 14 April 2016 pukul 09.00 WIB, ibu lima anak ini  langsung diopname dan menjalani operasi pengangkatan sel kanker payudara tersebut. “Saya masuk rumah sakit jam sembilan pagi, maghribnya di hari yang sama langsung dioperasi,” ujar Sumarni kepada tim Publick Relation (PR) & Media Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) di acara Temu Penyintas Kanker Payudara Se-Indonesia, 1 Oktober 2016.

Dengan keteguhan hati semua rangkaian pengobatan dilakukan oleh Sumarni. Dukungan pun tak henti-hentinya mengalir, “Aku yakin kamu bisa sembuh!,” adalah ungkapan yang sangat sering dilontarkan oleh sang suami.

Sel kanker sepanjang 1,5cm yang menggerogoti Sumarni diangkat dalam operasi sepanjang 9 cm kemudian dibawa untuk dilakukan patologi anatomi (PA). Hasil PA menunjukan bahwa payudara kanan Sumarni harus diangkat seluruhnya. Dua belas hari berselang wanita 44 tahun ini kembali menjalani operasi untuk mengangkat payudaranya. “Lakukan yang terbaik untuk isteri saya, dok!” merupakan pesan suaminya yang mengharapkan kesembuhan sang isteri.

Dorongan yang kuat dari keluarga dan sanak saudara menjadikan Sumarni tetap bersemangat dalam melakukan serangkaian terapi dan pengecekan lanjutan. Dan karena sel kanker tersebut belum menyebar, Sumarni tidak perlu melakukan kemoterapi. Dorongan keluarga untuk melakukan pengecekan dini juga itulah yang telah membuat Sumarni cukup beruntung, sehingga sel kanker pada tubuhnya dapat dideteksi dalam usia dini.

Dalam kesehariannya, Sumarni tidak pernah merasa putus asa. Dengan keyakinan penuh, Sumarni menyadari bahwa segala cobaan dari Allah pasti akan ada obatnya jika ia berusaha sekuat tenaga dalam mencarinya. “Jangan takut, tetap berusaha kita punya Allah! Allah akan memberikan kemudahan. Ia tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan umat-Nya,” papar Sumarni.

“Kuncinya adalah keberanian. Jangan diam-diam saja. Periksakan sesegera mungkin!,” pesannya kepada segenap penyintas kanker payudara lain. Menyudahi sesi berbagi dengan tim PR & Media YKPI, Sumarni berpendapat bahwa acara berskala nasional seperti yang diadakan oleh YKPI pada Bulan Kepedulian Kanker ini sangat bermanfaat untuk para penyintas kanker, sehingga mereka dapat berbagi pengalaman dan membuat mereka menyadari bahwa mereka tidak sendiri dalam menghadapi cobaan yang tengah dialaminya.

Merajut Hidup Bahagia Bersama Kanker

Saya tidak akan pernah lupa dengan apa yang saya alami 12 tahun lalu. Waktu itu, saya berumur 48 tahun dan memutuskan untuk melakukan check-up kandungan dan payudara. Awalnya saya pikir, tidak akan ada sesuatu yang berbahaya mengingat dua tahun sebelumnya, saya pernah melakukan pemeriksaan khususnya payudara dengan Mammografi di Indonesia dan hasilnya baik-baik saja. Namun pemeriksaan kali ini lain karena dokter mengatakan bahwa ada yang mencurigakan di bagian dalam payudara sebelah kanan, dan menyarankan saya untuk melakukan biopsi. Saya masih ingat perasaan saya saat itu: rasanya begitu gundah dan gelisah. Begitu takut saya memikirkan apa yang akan terjadi pada diri saya. Namun saya tetap menguatkan hati untuk melakukan biopsi keesokan hari.

Usai melakukan biopsi, hari berikutnya dokter memberitahu saya bahwa saya positif kanker payudara ganas stadium 1. Tapi ajaibnya, ada sebuah kekuatan yang seperti menopang saya. Kegundahan saya tidak sebesar hari sebelumnya. Setelah diskusi dengan beberapa dokter dan atas saran suami saya pula, maka saya memutuskan untuk melakukan mastektomi, yaitu pengangkatan payudara sebelah kanan seluruhnya. Hal ini dilakukan karena posisi benjolan ada di dalam dekat dengan tulang rusuk, tidak teraba, tidak terasa, dan tidak ada keluhan. Seperti yang kita tahu, payudara adalah simbol kebanggaan bagi wanita dan pengangkatan ini mau tidak mau membuat hati saya sedikit bersedih. Saya membayangkan akan berjalan seperti apa operasi tersebut. Namun entahlah, saya merasa kuat dan merasa siap menghadapi apa yang akan terjadi di depan saya.

Mastektomi berjalan dengan lancar. Meskipun awalnya saya merasa berdebar. Tapi bukan hanya hal ini yang harus saya lewati. Ada fase lanjutan yang mau tak mau menggetarkan semangat saya: kemoterapi. Banyak orang yang bilang, kemoterapi bukanlah proses yang menyenangkan.

Toh mau tidak mau, saya harus melewati hal tersebut. Dan memang benar yang dikatakan oleh banyak orang, bahwa kemoterapi begitu menyakitkan. Rasanya seperti nyawa dan raga terpisah. Seringkali saya merasa napas saya tersekat. Bahkan pernah saya lari keluar ruangan, hanya untuk menenangkan perasaan saya. Panas dan terbakar selalu saya rasakan usai kemoterapi. Rasanya seperti antara hidup dan mati. Rasa sakitnya menjalar di seluruh tubuh.

Namun akhirnya saya nikmati saja. Saya membaca buku tentang kanker sehingga sedikit banyak tahu efek-efek yang akan terjadi dalam proses kemoterapi. Ini banyak membantu saya untuk tidak cemas dengan efek kemoterapi. Saya menjalani 6 kali kemoterapi, 5 tahun minum obat Tamoxiven dan 3 tahun Arimidex. Satu yang saya tidak permah lalai adalah kontrol setiap 3 bulan sekali, serta tak lupa check up setahun sekali. Rasanya saya jadi seperti bersahabat dengan segala perawatan dan obat-obatan itu, atas anjuran dokter.

Belum selesai sampai di situ, pada tahun 2008, saya kembali mendapatkan kabar buruk. Bahwa obat-obatan yang saya minum mungkin saja membuat kista Dermoid di indung telur sebelah kanan. Kista yang semula hanya 1 cm, dalam 4 tahun tumbuh menjadi 8 cm. Untuk kedua kalinya saya dianjurkan untuk dilakukan pengangkatan rahim dan indung telur. Betapa rasanya seluruh dunia runtuh di hadapan saya.

Tadinya saya begitu bersedih dan meratapi hal ini. Mengapa harus saya? Mengapa harus organ-organ kewanitaan? Tapi kekuatan tak terlihat itu muncul lagi di diri saya. Kekuatan itulah yang membuat saya tak lelah menebarkan semangat positif ke orang-orang di sekitar saya. Saya tahu, penyakit saya adalah penyakit serius. Bahkan, pada suatu hari, pernah anak saya bertanya, apakah saya kuat menderita seperti ini? Apakah Mama masih bersemangat untuk hidup?

Kepadanya, saya bilang, saya akan hidup sampai waktu yang telah ditentukan untuk saya. Dan mengisinya dengan semangat dan kebahagiaan. “Saya mau kuat. Saya mau mengisi sisa hidup dengan kebahagiaan”

Menjadi perempuan bukan sekadar perkara organ-organ kewanitaan. Saya tetap berdiri tegak dan percaya diri sebagai seorang wanita, meskipun payudara sebelah kanan saya telah diangkat, dan meskipun rahim serta indung telur saya sudah tak ada. Saya tetap merasa cantik meskipun rambut saya rontok. Menjadi cantik adalah tentang menjadi bahagia dan senantiasa merasa sehat

Kini saya sudah survive dari kanker. Desember 2015 kemarin saya sudah boleh periksa 6 bulan sekali. Berkat semangat untuk hidup, saya bisa sampai sekarang. Hal-hal itulah yang selalu saya bagikan kepada sesama penderita kanker payudara. Kita harus disiplin terhadap pengobatan dan patuh pada anjuran dokter. Saya selalu menjadi motivator bagi teman-teman saya yang mengalami hal sama. Saya datangi teman yang melakukan operasi. Jika mereka takut, saya tunjukkan bekas operasi saya.

Menurut saya, penting bagi para penyintas kanker untuk  membuka diri, karena dengan membuka diri, maka informasi pun mudah untuk didapatkan, begitu juga semangat untuk hidup. Kanker memang sebuah momok dalam hidup kita, tapi ada kalanya, kita harus berdamai dengan kanker tersebut, dan mengisi sisa hidup dengan hal-hal yang positif.

Tahun 2005, saya diajak ibu Agum Gumelar untuk bergabung di Pita Pink yang sekarang dikenal dengan YKPI (Yayasan Kanker Payudara Indonesia). Saya senang sekali karena saya selalu suka menyemangati sesama penyintas, mulai dari teman-teman terdekat hingga perempuan yang tidak saya kenal sama sekali. Saya ikut pendidikan khusus pendamping pasiens kanker payudara di gelombang pertama, dan saya sudah lulus bersertifikat dari TUV. Maka informasi pun mudah untuk didapatkan, begitu juga semangat untuk hidup. Kanker memang sebuah momok dalam hidup kita, tapi ada kalanya, kita harus berdamai dengan kanker tersebut, dan mengisi sisa hidup dengan hal-hal yang positif.

—————-

Kisah di atas sebagaimana disampaikan Nani Firmansyah kepada tim Public Relation & Media YKPI untuk menyambut bulan Kanker Payudara Dunia setiap bulan Oktober.

Kanker Harus Dilawan, Bukan Ditakuti

Berbarengan dengan meletusnya Gunung Kelud, meletus pula tangisan Handayani ketika ia positif terdiagnosis kanker payudara pada tahun 2014. Awal mulanya, ia menyadari keanehan yang terjadi pada payudaranya ketika mandi. “Kok ketika saya memakai sabun mandi, terasa ada benjolan,” akunya.

Berawal dari rasa penasaran, Handayani pun memutuskan untuk pergi ke Puskesmas. Dokter di Puskesmas menyatakan bahwa tidak ada ada yang perlu dikhawatirkan oleh Handayani. “Saat itu, dokter hanya bilang itu adalah hal normal pada orang yang baru saja menopause,” ujarnya sambil mengingat ucapan dokter kala itu. Namun, kegundahan melanda ibu 2 anak ini, “Loh, apa hubungannya menopause dengan benjolan ini?” tanyanya dalam hati.

Tidak sampai dua bulan kemudian, Handayani berani mengungkapkan keanehan pada payudaranya kepada sang adik yang bekerja di Rumah Sakit Sardjito, Yogyakarta. Kaget karena baru dikabari setelah dua bulan, sang adik pun mengingatkan Handayani untuk tidak “sembrono” dalam menghadapi kasus ini dan meminta sang kakak untuk memeriksakan kembali keadannya di rumah sakit yang lebih besar.

Atas saran sang adik, Handayani pun bertolak dari Magelang ke Yogyakarta untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap kondisi yang dihadapinya. Kekhawatiran sang adik terbukti, setelah malakukan uji laboratorium dan mamografi di Yogyakarta, Handayani dinyatakan positif kanker payudara. Tindakan segera diambil. Dengan perasaan yang masih diguncang shock dan kebingungan, Handayani melakukan operasi pengangkatan dua hari kemudian.

Tidak hanya sampai di situ, setelah operasi pengangkatan, Handayani juga dihimbau untuk melakukan terapi kimia (kemoterapi) selama lima tahun ke depan. “Pas pertama tahu, saya bingung dan pasrah. Namun, memang sudah keharusan saya untuk sembuh.” tuturnya. Sampai sejauh ini Handayani telah melakukan delapan kali kemoterapi ditambah pengecekan rutin selama enam kali dan dua puluh lima kali penyinaran. Semua hal tersebut dilakukan demi mencapai kesembuhan.

Dalam hal inspirasi dan semangat yang didapatnya dalam menghadapi kanker payudara, Handayani mengakui bahwa Ibu Linda Agum Gumelar lah yang menjadi tokoh panutannya. “Saya terinspirasi Ibu Agum untuk mengikuti organisasi seperti YKPI ini. Terlebih setaelah beliau memberikan pengarahan di komunitas kanker milik Akmil di Magelang” ungkapnya dengan kekaguman. Ia menilai kepedulian Ibu Gumelar kepada para penyintas patut dicontoh oleh masyarakat magelang dan masyarakat Indonesia pada umumnya. “Untuk kota Magelang masih kurang dilakukan, ada yayasan dari akmil tapi belum terlalu terstruktur,” paparnya dengan harapan adanya peningkatan kesadaran terhadap kanker payudara di daerahnya.

Handayani juga berpesan kepada masyarakat, baik tua maupun muda, untuk lebih peduli terhadap kanker payudara. “Adik-adik yang masih muda jangan segan juga untuk mengikuti hal-hal seperti ini,” pesannya. Kegiatan seperti seminar nasional ini dinilai sangat berguna oleh Handayani karena selain mendapatkan teman, ia juga dapat mendapat informasi baru yang dibagikan baik oleh survivor maupun tenaga ahli seperti dokter.

Handayani ingin menyampaikan kepada para penyintas kanker bahwa kanker tidak perlu ditakuti, melainkan perlu untuk dilawan. “Jangan takut untuk periksa diri dan harus semangat sembuh, lebih baik periksakan saja, baik masih muda atau tua,” tegasnya menutup sesi wawancara dengan PR YKPI pada acara temu penyintas kanker payudara se-Indonesia.

Jangan Pernah Takut Karena Kita Tidak Sendiri

Ketika itu aku menyadari ada gejanggalan dalam tubuhku. Tak lama akupun segera memeriksakan diri ke dokter dan setelah menjalani serangkaian tes pada hari itu juga aku divonis postitif kanker payudarapada sebelah kiri. Pasrah merupakan kata yang tepat untuk aku ungkapkan saat mendengar vonis dari dokter. Ya, tahun 2006 merupakan tahun yang cukup berat untukku. Padahal baru selang tiga tahun, aku harus merelakan kepergian Ibuku tercinta karena penyakit yang sama yaitu kanker payudara. Dan saat itu, ternyata aku juga terkena salah satu penyakit genetik ini. Hanya pasrah dan juga berusaha untuk menyembuhkan penyakit ini.

Tanpa menunda-nunda lagi,  setelah berdiskusi dengan keluargaku, jelang tiga harikemudian akupun langsung menjalani operasi pengangkatan. Dengan dukungan dari suami dan dua anakku, aku beranikan diri untuk menjalani semua rangkaian penyembuhan saat itu. Tanpa rasa takut aku jalani semua rangkaian beratitu dalam upaya penyembuhanku.

Aku jalani kemo pertama, kedua, ketiga sampai dengan kedelapan belas. Helai demi helai mahkota rambutku mulai merontok. Lambat laun akupun harus mengikhlaskan untuk kehilangan mahkotaku. Tiada kata yang dapat aku curahkan untuk mendeskripsikan bagaimana rasa sakit luar biasa yang aku rasakan saat itu. Namun semua itu tidak menghalangkan aktivitas keseharianku dan juga semangatku untuk tetap hidup.

Menurut kebanyakan orang, setalah menjalani penyembuhan selama lima tahun maka akan terbebas dari penyakit kanker payudara ini. Tetapi, tidak untukku. Mungkin Tuhan ingin kembali meningkatkan derajatku di hadapanNya. Lagi, dokter menemukan benjolan pada payudaraku sebelah kanan. Entah rasa apa yang aku rasakan saat dokter memberitahukan kalau aku harus kembali menjalani operasi dan juga kemo. Aku hanya dapat berserah diri kepadaNya sambil terus berusaha.

Mengetahui pertumbuhan akar kanker yang sangat cepat, tanpa menunda aku kembali mengambil keputusan untuk operasi. Suami dan anak-anakku adalah dukungan terbesar untukku. Hari operasi itupun tiba, jam tujuh pagi aku memasuki ruang operasi.Kali ini ada yang berbeda dari operasi pertamaku pada tahun 2006 lalu.Belum sadar, setelah selesai mengangkat benjolan, Dr. Wiwin yang menanganiku tiba-tiba meminta izin kepada suamiku untuk melakukan operasi lainnya yaitu operasi keloid.  Pukul tujuh pagi aku memasuki ruang operasi dan baru pukul tujuh malam aku siuman. Alhamdulillah kondisiku cukup fit sehinggaoperasi yang cukup memakan waktu itu berjalan lancar.

Serangkaian penyembuhan yang menyakitkan itu harus kembali aku jalani. Mudah marah, sangat sensitif juga aku alami akibat bawaan dari kemo. Beruntung aku mempunyai suami dan anak-anak yang mengerti kondisiku. Untuk penyembuhan payudara sebelah kanan ini aku menjalani enam kali kemo. Sekali kemo aku harus mengeluarkan biaya sebesar 32 juta rupiah, sangat berbeda pada tahun 2006 lalu yaitu hanya 6,3 juta rupiah.

Kanker payudara tidaklah menjadi penghalang bagiku untuk melanjutkan hidup dan aku tidak larut dengan kesedihan. Dengan pasrah sambil tetap semangat, aku tetap jalani hidupku seperti biasanya tanpa rasa takut. Bahkan sekarang aku semakin semangat untuk meneruskan hidupku. Aku juga pernah merawat Almarhumah Ibuku yang memiliki penyakit sama denganku sehingga membuatku tidak takut menjalani penyakit ini.

Saat ini aku sudah menjadi survivor kanker payudara. Menjalani operasi memang keputusan terbaik untukku dan sampai saat ini aku masih tetap bisa bertahan. Berjaga-jaga jika aku harus menjalani kemo lagi, vena port di tanamkan pada tubuhku yang semakin menua ini. Alat itu ditanam seumur hidup karena bagian tangan kanan dan kiriku sudah tidak dapat ditusuk jarum. Tiga bulan sekali aku harus jalani spooling agar saluran tetap berjalan lancar.

Ya,Semua itu harus aku lewati dengan semangat untuk tetap hidup. Salah satu alasan hingga saat ini aku masih semangat adalah aku masih ingin memomong cucu-cucuku. Dengan begitu aku jadi semakintermotivasi dan selalu ikhlas dengan apa yang telah diberi oleh Yang Maha Kuasa.

Pesanku untuk semua penyintas yang masih berjuang dari kanker payudara, jangan takut untuk menjalani semua rangkaian itu. Aku sudah menjalaninya selama sepuluh tahun dan hingga saat ini aku masih bertahan. Jika sudah divonis agar segera menjalani operasi karena pertumbuhan akar kanker sangat cepat. Dokterku pernah berkata, “Hari ini empat, dan besok sudah menjadi enam belas.”Secepat itulah pertumbahan kanker. Jadi, jangan pernah berfikir untuk pergi berobat ke alternatif karena akan membuang-buang waktu.

Datang jauh-jauh dari Surabaya, aku sempatkan waktuku untuk datang ke acara yang sangat bagus ini, acara Temu Penyintas Kanker Payudara Se Indonesia yang digagas oleh Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI). Meskipun aku tidak bergabung dengan komunitas manapun, tapi aku selalu aktif dalalam acara- acara kanker baik di Surabaya atau di luar kota seperti ini.  Terakhir aku datang ke acara serupa yang di selenggarakanoleh Ibu Linda Gumelar di Hotel Sheraton Surabaya.

Menurutku, acara ini sangat bagus dan sangat bermanfaat, khususnya bagi para penyintas kanker payudara yang pastinya menjadi semakin sensitif. Dengan adanya acara ini, kita bisa saling sharing pengalaman-pengalaman, bercengkrama, bersenang-senang sehingga diri kita dapat terhibur. Karena saat sedang sendiri, rasanya hanya kita saja yang mendapatkan penyakit seperti ini. . Padahal banyak di luar sana yang mengalami hal yang sama seperti kita. Maka, berkomunikasi khusunya dengan sesama penyintas seperti ini akan sangat bermanfaat bagi kita.  Aku berharap, semoga kedepannya, acara ini akan semakin baik lagi. Dan tentunya harus tetap semangat!

—————-

Kisah di atas sebagaimana disampaikan Asia Astrianadari, kelahiran 14 Desember 1955 asal  Surabaya (61 Tahun) kepada tim Public Relation & Media YKPI untuk menyambut bulan Kanker Payudara Dunia setiap bulan Oktober.