daftar para pejuang kanker yang berhasil melewati masa kelamnya

Yesaya, Abadikan Pengalaman Kanker lewat Buku

Jakarta – Yesaya Fernindi Hohu tak pernah membayangkan sebelumnya kanker payudara akan membuatnya bolak-balik ke meja operasi.

Namun karena enggan terpuruk dalam kepahitan, Yesa memilih mengabadikan pengalamannya lewat sebuah buku, bertajuk It’s Me vs Cancer: Diary Kocak Survivor Kanker.

Saat ditemui Jurnas.com beberapa waktu lalu, Yesa berulang kali menekankan pentingnya mencegah sejak dini. Hal itu dia lakukan bukan tanpa alasan. Pasalnya perempuan asal Cilacap Jawa Tengah ini sedang berjuang melawan kanker payudara stadium empat.

Sembari menjawab pertanyaan tim, nafas Yesa sempat beberapa kali terengah. Dia tak bisa lama-lama berdiri, sesekali ia memegang bagian kanan bawah ketiaknya, yang baru saja menjalani operasi ke-sembilan.

Saat itu tak ada pilihan lain selain pengobatan. Yesa pun mulai intens menjalani Kemoterapi sebanyak 18 kali, kemo untuk hepar 6 kali, kemo untuk tulang 5 kali, dan radiasi mulai per 25 Oktober, sampai usai operasi ke-sembilan akan diadakan radiasi ulang untuk kelenjar getah bening.

Selama obrolan, Yesa kerap disapa teman-teman yang menanyakan kondisinya usai operasi. Dengan suara renyahnya Yesa menjawab: Aku gak apa-apa kok, siapa yang sakit?

Kekuatan yang dialami Yesa tak serta merta ada, sebab ia pernah mengalami fase terpuruk manakala vonis menghampiri. Saat itu ia banyak merenung, dialog dengan Tuhan melalui salat seraya meyakinkan diri bahwa ia mampu melalui meski sudah lumpuh. Ia tak lagi berpikir kalau kanker itu menyeramkan tapi bagaimana berjuang menghadapinya.

Tak hanya itu, perempuan yang lahir di Lampung ini juga mengisi masa-masa pengobatan dengan menulis catatan-catatan pengalaman hidupnya melalui sosial media.

Aktif menulis hingga seorang kawan pun terketuk ingin bantu menerbitkan kisahnya, sampai kemudian terbit buku bertajuk “It`s Me vs Cancer: Diary Kocak Survivor Kanker”.

Buku yang terbit rupanya makin melecutkan semangat sembuh Yesa. Melalui buku itu ia juga menyampaikan betapa deteksi dini itu sangat penting, lewat periksa payudara sendiri (Sadari) dan periksa payudara klinis (Sadanis).

Menulis menjadi terapi bagi Yesa. Dengan menulis, ia tak lagi stres, ditambah dukungan dari keluarga dan teman yang tak ada habis-habisnya.

Read more...

Neni Ismail, Merajut Payudara Artifisial untuk Penyintas

Jakarta – Hidup dengan satu payudara tak jarang membuat perempuan merasa minder. Namun tidak bagi Neni Ismail, yang telah kehilangan satu payudaranya akibat terkena kanker payudara.

Alih-alih berputus asa, Neni yang terkena Ca Mammae (istilah untuk kanker payudara) pada awal 2018, mengalihkan kesedihannya dengan merajut knokers atau payudara artifisial. Knokers hasil buatanya, dia bagikan secara cuma-cuma ke sesama penyintas yang sudah memasuki tahap mastektomi.

Kepada Jurnas.com, Neni menceritakan awalnya memang tak pernah menyangka akan terjangkit kanker payudara. Pasalnya, perempuan ini rutin mempraktikkan pola hidup sehat, mulai dari berenang, lari, hingga makanan bergizi.

Namun kecurigaan Neni muncul pada Februari lalu, saat payudaranya terasa seperti kesetrum ketika disentuh. Semakin lama, rasa kesetrum semakin sering, dan anehnya hanya di satu titik.

Ketika diraba pun Neni tidak merasakan apa-apa, hingga suatu saat dia diperiksa di Puskesmas, dan dokter menemukan benjolan sebesar 2-3,5 cm, yang letaknya agak di dalam.

Untuk memastikan hal itu, Neni dirujuk ke dokter bedah. Dokter pun menyarankan benjolan di payudara Neni supaya diangkat dan dibiopsi eksisi.

Pada akhir Februari, benjolan di payudara Neni diangkat. Dan secara hampir bersamaan, hasil patologi anatominya keluar. Dia dinyatakan menderita kanker payudara, dengan kecurigaan awal ganas.

Dua minggu setelah menjalani patologi anatomi, pemeriksaan imunohistokimia atau IHK Neni juga keluar. Neni diminta untuk merujuk ke Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, untuk proses pengangkatan seluruh payudaranya.

“Seluruh payudara saya harus diangkat, karena ada tulisan tepian tidak bersih dianggap ada sisa sel kankernya,” lirih Neni.

Sebelum operasi pengangkatan, Neni sempat diberikan dua pilihan oleh dokter. Pertama, payudara diangkat lebih besar namun tidak seluruhnya, dan kedua diambil seluruhnya.

Jika Neni mempertahankan sisa payudaranya, maka selanjutnya dia harus menjalani proses kemoterapi dan radiasi. Sementara jika dimastektomi, proses tersebut tidak diperlukan.

“Akhirnya mastektomi, ternyata efek kelenjar getah bening ikut diangkat, dan dokter bilang tidak boleh mengangkat beban berat,” tuturnya.

Kepada Neni, dokter mengatakan operasi kanker payudara dalam beberapa kasus, juga ikut mengangkat kelenjar getah bening. Adapun setiap orang berbeda jumlah kelenjar getah bening yang diangkat.

“Progresnya setelah ada pemeriksaan lagi ternyata jaringan saya tidak ada, tidak tahu kenapa hilang jaringannya,” lanjut Neni.

Tak hanya Mastektomi, Neni juga juga menjalani operasi pengangkatan indung telur oleh dokter kandungan. Saat itu usianya sudah menginjak 48 tahun. Sementara jika indung telur diangkat, dia dipastikan tidak bisa hamil lagi.

“Kalau di usia itu tidak ada rencana hamil mending angkat rahim dan serviks, supaya menyebar,” kata Neni.

Akhirnya, Neni menyimpulkan bahwa setiap perempuan wajib melakukan deteiksi dini. Dan jika hasil deteksi dini juga harus ditindaklanjuti dengan pemeriksaan medis.

“Meski saya sudah menjalankan hidup sehat, berenang, lari, dan makan sehat ternyata bisa juga kena,” kenangnya.

Meski kini ia menjalani hidup dengan satu payudara, namun Neni tetap semangat. Energinya dipakai untuk merajut knokers dari benang wol yang dimasukkan dalam bra.

“Awalnya saya sendiri, lama-lama banyak yang nyumbang benang dan saya bikin banyak, kami bikin grup enam orang kita bagi-bagi. Ukurannya ada yang besar dan kecil sesuai keinginan,” tandasnya.

Read more...

Kanker Payudara “Dekatkan” Nurul dengan Tuhan

Jakarta – Saat pertama kali mendengar vonis kanker payudara, Nurul Hidayah lemas tak berdaya. Perasaan sedih dan hancur campur aduk. Namun siapa sangka, justru penyakit itu membuatnya lebih dekat dengan Tuhan.

Kisah itu dialami pada awal 2015 silam. Sebab merasa ada benjolan di payudara kirinya, Nurul datang ke dokter. Namun tak dinyana, dokter langsung memvonisnya kanker ganas stadium awal, dan berpotensi meletus jika tak segera ditangani.

“Walaupun masih kecil benjolannya, belum ada tiga sentimeter namun hanya butuh waktu kurang dari tiga bulan untuk payudara saya meletus,” ucap Nurul kepada Jurnas.com beberapa waktu lalu.

Nurul patah arang. Kenyataan itu bahkan sempat membuat perempuan kelahiran 2 Juni 1973 ini menyalahkan Tuhan atas penyakitnya.

“Kenapa ya Allah? Waktu itu saya hanya butuh untuk sendiri dan merenung. Jujur saja saya tidak tahu harus ke mana atau berbuat apa,” lirihnya.

Di tengah kesedihannya, Nurul memutusan berjalan kaki ke luar rumah tanpa tujuan. Sepanjang jalan, vonis dokter terngiang-ngiang di kepalanya. Beribu pertanyaan mengapa yang muncul, pada akhirnya berujung tanpa jawaban.

Sibuk mencari jawaban, Nurul tanpa sadar bahwa dia telah berjalan terlalu jauh dari rumah. Sudah 15 kilometer dia lalui tanpa kelelahan, karena dirundung kesedihan yang teramat sangat.

Akhirnya, dengan hati mantap Nurul mengambil keputusan penting kala itu. Dia akan hadapi sesakit dan sesulit apapun, kanker yang menggerogoti payudaranya.

“Karena ternyata baru saya sadari bahwa saya punya keluarga dan teman-teman yang peduli dan sayang pada saya. Apalagi saya punya empat anak yang amazing, saya ingin berjuang lebih lama untuk hidup mendampingi mereka juga mengajarkan mereka untuk lebih dekat pada Tuhan dan mengantar mereka ke masa depan,” tutur ibu empat anak ini.

Sejak keputusan besar itu ia kukuhkan, Nurul kembali menemui dokter lagi dan menyatakan bersedia untuk operasi Mastektomi.

“Alhamdulillah semua berjalan lancar, meski dokter jadwalkan kemoterapi sebanyak delapan kali yang sangat menyiksa, namun ternyata bila kita resapi dan lakukan dengan ikhlas semua itu terasa nikmat karena dengan sakit ini dosa-dosa kita berguguran,” ucapnya penuh haru.

Nurul pun konsisten menjalani semua perintah dokter, ia yakin dan percaya tetap pada Allah bahwa hidup dan mati rahasia-Nya, bukan karena masalah kanker.

Sekarang telah hampir 4 tahun berlalu, Nurul merasa sehat dan ia berharap akan selalu sehat. Tidak muluk-muluk ia selalu positif thinking dan selalu menjaga pola hidup juga pola makan. Nurul percaya kita bisa bila berusaha dan jangan pernah lari dari kenyataan.

“Hikmahnya karena ini semua saya jadi lebih dekat pada Allah, lebih religius, lebih tahu artinya ikhlas dan memandang dunia dari sudut pandang yang berbeda dari sebelum saya divonis kanker. Tidak boleh lari dan takut pasrah kepada tuhan setelah berusaha semaksimal mungkin,” ucapnya.

Kini Nurul tetap menjalankan aktivitasnya meski banyak berubah karena ia tak boleh terlalu lelah. Sebelum kanker menyerangnya, Nurul kerja di konveksi sekarang di rumah sambil terima pesanan sprei atau apapun yang bisa ia jahit.

“Saya suka banget menjahit dan masak kue atau masakan apa saja, asyik di dapur saya. Sering juga ada yang datang mijitin bayi kerumah karena saya belajar fisioterapi juga untuk baby sejak saya punya anak pertama. Saya menyukai semua yang saya lakukan,” pungkasnya.

Read more...

Rahmawati Nyaris Berakhir di Meja Pengobatan Alternatif

Jakarta – Rahmawati masih ingat betul saat pertama kali dokter menjatuhkan vonis kanker payudara stadium 3B kepadanya. Di tengah rasa putus asa, nyawanya bahkan nyaris berakhir di meja pengobatan alternatif.

Wati, demikian nama panggilan perempuan asal Jakarta ini, menuturkan pertama kali merasakan ada benjolan di payudara kanannya pada awal 2008. Alih-alih ke dokter, Wati memilih mendiamkan benjolan tersebut.

“Baru setelah makin terasa aku datang ke dokter,” kata Wati saat ditemui Jurnas.com beberapa waktu lalu.

Setelah memutuskan datang ke Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta beberapa bulan kemudian, Wati mulai menjalani biopsi. Hasilnya, benjolan itu dinyatakan kanker payudara stadium 3B.

Bak disampar petir di siang bolong, Wati shock. Pikirannya berkelana ke mana-mana. Hendak berobat ke medis, keuangannya jauh dari kata cukup.

“Akhirnya aku diam saja,” lirih Wati.

Wati tak benar-benar diam. Sembari merutuki nasibnya, Wati mencoba pengobatan alternatif. Namun tak dinyana, alih-alih sembuh, kankernya makin menjadi-jadi.

Karena itu pula, Wati akhirnya berhenti melakukan pengobatan. Tiga tahun dia membiarkan kanker yang menggerogoti payudaranya itu tanpa satu pengobatan pun.

“Setelah berobat alternatif tidak keman-mana, sampai koma, dan tidak bisa apa-apa, berat badan jadi 30 kilogram, rasanya kena kanker itu sangat menggerogoti,” kenangnya.

Setelah sedemikian parah, Wati dan sang suami akhirnya Kartu Jakarta Sehat (KJS), dengan maksud agar bisa mendaftar ke BPJS, dan kembali memulai pengobatan medis.

“Aku pun dimarahi dokter lantaran benjolan sudah pecah lalu kena ke jantung, paru-paru juga terendam cairan, jadi langkah awal proses membereskan itu dulu,” imbuh Wati.

Keinginan sembuh begitu kuat Wati rasakan. Setelah proses pembersihan cairan, ia menjalani Mastektomi, yakni pengangkatan payudara di tahun 2014.

Tak terasa, kini sudah 10 tahun Wati berjuang. Payudaranya sudah terangkat, dan ia tetap konsisten menjalani perawatan.

“Sekarang aku rajin kontrol dan minum obat Femara setiap bulan sampai lima tahun ke depan,” ujarnya.

Dari pengalaman tersebut, Wati belajar bahwa ketika ada benjolan meski tidak merasakan sakit, harus segerala melakukan periksa payudara sendiri (Sadari).

“Jangan diam, begitu ada yang tidak beres langsung periksa, kanker tidak bisa menunggu karena cepat sekali menyebar tahu-tahu sudah stadium lanjut,” imbau Wati.

Ia selalu memberi semangat positif pada diri sendiri, apapun yang dokter minta dilakukan, ia percaya upayanya adalah satu keniscayaan. “Pelan-pelan kita pasti sehat, masalah umur Allah yang mengatur. Kita harus happy,” ujarnya sumringah.

Untuk membuat dirinya bahagia, ia mengisi waktu dengan menyibukkan diri membuat aneka kerajinan tangan dari decopage yang bisa bantu menambah keuangan keluarga.

Read more...

Hasta Sanders Berjuang Lawan Pengobatan Alternatif

Jakarta – Praktik pengobatan alternatif untuk kanker payudara masih menjamur. Padahal selama ini belum ada fakta sahih yang membuktikan bahwa metode non-medis tersebut mampu menyembuhkan kanker payudara.

Hal inilah yang dirasakan oleh Hasta Sanders. Sebagai penasihat Bali Pink Ribbon Foundation, Hasta prihatin banyak penyintas yang lebih memilih pengobatan alternatif, ketimbang berobat langsung ke dokter.

Bahkan, sang kakak tercinta juga berpulang akibat kanker payudara, setelah menjalani pengobatan alternatif. Pengalaman itu membuatnya membulatkan tekad menjadi seorang pendamping kanker payudara, sekaligus mengenalkannya pertama kali dengan aktivis Bali Pink Ribbon.

Hasta sadar tingkat prevalensi kanker payudara di Bali cukup tinggi, yakni 1.233 penderita pada 2013. Dan pola pikir sebagian besar penyintas untuk berobat lewat alternatif, menjadi sebuah tantangan khusus.

“Belum lagi sebagian besar dari mereka sangat meyakini jika sakit adalah karma atau akibat ilmu hitam, sehingga tak mudah untuk diajak berobat,” tutur Hasta saat ditemui di acara Temu Penyintas Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) di Jakarta.

Pengobatan medis, lanjut Hasta, dulunya belum jadi pilihan utama. Malah, kebanyakan penderita kanker payudara datang ke rumah sakit, setelah memasuki stadium lanjut.

Kendati demikian, Hasta tidak menyerah dengan kondisi di tahah kelahirannya. Meski belum bisa mengubah pola pikir yang sudah mengakar terkait pengobatan alternatif secara menyeluruh, setidaknya dia sudah melakukan upaya maksimal.

Dan sekarang, lima tahun terakhir semenjak dia mulai menggelorakan pengobatan medis lewat sosial media, kesadaran perlahan tumbuh. Hingga suatu saat, kata Ellen, Rumah Sakit Sanglah, Denpasar, sempat kebanjiran pasien kanker payudara.

Sebagai seorang penasihat, Hasta berharap kelak bersama Bali Pink Ribbon ia akan lebih banyak menyuarakan kewaspadaan dan pentingnya deteksi dini.

Tentang Bali Pink Ribbon

Bali Pink Ribbon didirikan oleh Gaye Warren, seorang penderita kanker payudara Inggris yang telah tinggal di Jakarta selama lebih dari dua puluh tahun. Setelah perawatannya sendiri untuk kanker payudara dan suaminya pensiun, mereka pindah dari Jakarta ke Bali.

Tak lama setelah itu, Gaye menemukan bahwa infrastruktur di Bali untuk membuat perempuan sadar akan kanker payudara hampir tidak ada, meskipun keahlian medis profesional tersedia di pulau itu dengan setidaknya dua rumah sakit menawarkan perawatan kanker payudara kepada pasien.

Sebagai anggota Asosiasi Perempuan Internasional Bali, Gaye dan dua temannya membujuk Ketua Umum BIWA untuk memulai kampanye penggalangan dana untuk kesadaran kanker payudara di Bali.

Dari benih kecil itu, mereka berempat mengembangkan prototipe Pita Pink Walk untuk Bali, berdasarkan pengalaman Gaye tentang Pita Merah Muda Berjalan di Inggris.

Read more...

Efek Kemoterapi Ubah Hidup Ellen Oltarina

Jakarta – Bagi sebagian besar penderita kanker payudara, mimpi buruk bukan hanya bayangan kematian saja. Lebih dari itu, proses penyembuhan melalui kemoterapi juga sama mengerikannya.

Seperti disampaikan oleh Ellen Oltarina. Dia sempat mengeluh, karena efek pasca kemoterapi sangat menyiksanya. Namun beruntung, kesabaran dan keikhlasan mengantarkannya melewati fase tersebut.

Cerita Ellen berawal dari 2010 lalu, ketika dia mengetahui ada benjolan kecil. Sebab curiga, dia lalu mulai melakukan mammografi dan USG. Akan tapi kata dokter, hasilnya tidak mengkhawatirkan, sehingga tidak perlu menjalani operasi.

Setahun berlalu. Ellen yang sempat melanjutkan pemeriksaan melalui biopsi, tidak menemukan perubahan yang signifikan. Karena itu dia santai.

“Nah di tahun 2014 itulah, tiba-tiba benjolan menjadi aneh, membesar begitu cepat dan keras hingga payudara saya tidak bisa digerakkan atau remas seperti layaknya payudara normal,” tutur Ellen kepada Jurnas.com.

Awalnya, Ellen mengira payudaranya mengeras karena akan kedatangan tamu bulanan (menstruasi, red). Namun karena terasa aneh, dia memilih pergi ke dokter.

“Pikiran saya langsung menduga kalau ini Ca Mamae,” sambungnya.

Dokter pun kembali melakukan biopsi, dan hasilnya seperti apa yang dia pikirkan. Ellen mengidap kanker payudara stadium 2A, Her 2 positif.

“Karena saat itu usia saya 52 tahun dan menstruasi masih lancar normal, kata dokter harus diberhentikan dulu. Akhirnya target Mastektomi tiga bulan, dan saya harus jadwal kemo preop tiga kali per tiga minggu, ditambah setiap malam hari minum Femara,” ujar ibu dua anak ini.

Ada hal unik yang dirasakan perempuan asal Cirebon ini, waktu kali pertama divonis kanker payudara. Karena sudah menyiapkan diri untuk hal terburuk, ia pun tetap ngobrol dengan dokter layaknya perempuan sehat.

“Tapi entah mengapa air mata menetes sendiri satu demi satu, bulir turun perlahan, rasanya tidak sopan banget terlihat biasa tapi menangis, mungkin denial kali ya, padahal ekspresi biasa sambil ngobrol gitu. Begitu sampai di rumah baru saya menangis, tapi Alhamdulillaah saya tipe yang semangat mungkin karena saya biasa bekerja ya jadi ada pengalihan,” tuturnya.

Sebelum menjalani proses kemoterapi, hasil patologi anatomi menyatakan kanker Ellen sudah sampai stadium 3B. Dia memilih tak reaktif, karena sebelumnya sudah banyak membaca banyak referensi soal kanker.

“Saya sudah sering mendengar kisah orang-orang yang menjalani kemo,” ungkap pegawai Bank milik BUMN ini.

Singkat cerita, Ellen menjalani kemoterapi. Dari tiga kali kemoterapi, Ellen mengakui situasi paling berat yakni pascakemo ketiga, yang dia rasakan luar biasa efeknya. Padahal kemoterapi sebelumnya, ia mengakui masih bisa santai jalan-jalan ke mal.

Tapi kali ini Ellen merasa pusing. Perutnya terasa mual dan mulai malas makan, perasan tidak karuan, seluruh badan linu, nyeri luar biasa terutama kaki tangan. Penderitaan itu ditambah dengan perut seringkali membesar dan seolah mau meletus.

“Seluruh sisi mulut saya sariawan, lidah putih menebal rasanya benar-benar tidak nyaman, karena pengaruh steroid tangan bengkak besar sekali, muka, tangan, dan kaki menghitam, ditambah muka bulat moon face,” ungkap Ellen lagi.

Ellen menceritakan, selama masa kemoterapi, ia diberi obat Mycostatin oleh dokter. Setiap pagi pun ia harus membersihkan lidahnya dengan alat kerok lidah.

Namun sampai habis dua botol obat, putih di lidah Ellen tak kunjung hilang. Perempuan ini juga merasa susah makan, sementara badannya terus bertambah gemuk hingga naik 16 kilogram.

Rasa kebas dan kesemutan seakan sudah menjadi langganan. Hingga akhirnya dia mengalami paru-paru basah pada suatu waktu.

“Alhamdulillah belum perlu disedot bisa dengan terapi, ketika bengkak sempat dirujuk ke dokter bedah vaskuler, beberapa bulan saya dikasih obat pengencer darah Xarelto,” tambahnya.

Tak berhenti sampai di situ. Efek meminum obat pengencer darah membuat kuku kakinya copot tanpa terasa. “Sampai pernah sempat kesenggol sepeda sedikit  tidak merasa apa-apa, tiba-tiba banyak darah segar di bawah saya kaget, ini darah apa ya ternyata darah dari kaki saya,” ucapnya.

Belum pula hilang efek kemoterapi, Ellen dihampiri oleh penyakit limfedema, yakni pembengkakan yang umumnya terjadi pada salah satu atau kedua lengan dan tungkai,yang disebabkan oleh penghambatan atau gangguan pada sistem limfatik, yang merupakan bagian dari sistem imun dalam tubuh.

Umumnya, limfedema terjadi pada perempuan yang menjalani perawatan atau terapi kanker payudara. Berkat penyakit tersebut, Ellen harus menambah jadwal berobatnya di Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta.

“Saya sempat terapi setiap hari senin hingga jumat selama kurang lebih dua bulan,” lanjutnya.

Waktu pun berlalu. Kini Ellen dinyatakan tidak perlu berobat. Namun dokter tetap memintanya rutin kontrol ke dokter selama tiga bulan sekali, rutin periksa CA153 dan CEA tiap enam bulan sekali, dan petscan.

Sampai pada di titik ini, Ellen menekankan bahwa kuncinya ialah kesabaran, ikhlas dan semangat yang tinggi. Dia yakin semua butuh proses, semangat juang harus selalu ekstra tinggi, sabar, dan ikhlas menjalani semua perawatan.

Ellen pernah membaca sebuah buku yang menyebut bahwa penyintas harus berdamai dengan penyakit dalam tubuhnya. Dan itu lalu ia praktikkan.

“Ternyata benar banget manfaatnya terasa, apapun selalu dibuat happy meski tidak sesuai harapan,” imbuhnya.

Tak hanya itu, Ellen coba mengambil makna postif dari proses yang ia jalani, hidup jadi lebih sehat dan makan yang mengandung gizi.

“Kunci utama terltak pada ikhlas yang membuat saya selalu besyukur dan pasrah pada semua upaya juga tidak mengeluh. Jika saya masih sering mengeluh berarti saya belum ikhlas dan harus dikoreksi lagi , perbaiki lagi dan belajar lagi, begitu seterusnya,” pungkas Ellen

Read more...

Rini: Selama Ada Obatnya, Yakinlah Kanker Akan Sembuh

Tuhan tak akan memberikan cobaan di luar kemampuan manusia ciptaanya. Sebesar dan sesering apapun cobaan itu, jika kita mampu melampauinya meski berulang, tugas manusia hanya menjalankanya dengan ikhlas. Inilah yang dilalui Rini (49), penyintas kanker payudara dari Komunitas Srikandi Jakarta.

Betapa tidak, hampir setiap dua tahun sekali sejak 2011, Rini harus melakukan puluhan kali kemoterapi dan radiasi. Padahal dokter sempat memvonisnya sudah sehat dan tubuhnya sudah bersih dari semua sel kanker. “Tapi ya gitu, dicek normal, terus ada lagi. Padahal saya sudah menjalani pola hidup sehat. Saya juga gak tau kenapa ini bisa terjadi. Mungkin cobaan dari Tuhan, ya harus saya lalui dengan sabar,” lirih perempuan berhijab saat ditemui Jurnas.com di acara Temu Penyintas Kanker Payudara yang diselenggarakan YKPI.

Rini mengawali ceritanya saat menemukan benjoan pada payudaranya di tahun 2011 itu. Tak percaya pada pemeriksaan pertama, ia kemudian mencari second opinion dari dokter lain di rumah sakit lain, hingga akhirnya ia harus pasrah menerima keputusan mengerikan itu.

“Ketika ada benjolan kecil, saya gak percaya kalau itu bahaya. Ditemani suami periksa lagi ke dokter lain. Sampai akhirnya  kata dokter harus operasi karena kanker payudara saya  sudah stadium 2B,” ujarnya. Suaranya berat mengingat betapa sulitnya masa itu karena ia adalah perempuan aktif yang bekerja kantoran. Rini mengaku sangat “down”, sedih dan marah akan nasibnya,

Rini menambahkan setelah operasi itu ia melakukan enam kali kemoterapi dan puluhan kali radiasi. “Lalu saya dinyatakan sehat dan hidup normal lagi. Pokoknya payudara saya bersih, sudah tidak ada kanker lagi,” kata Rini yang memutuskan untuk berpola hidup sehat.

Namun, siapa yang menyangka jika pada 2014, Rini yang kala itu kerap mengalami batuk-batuk hebat  didiagnosis jika sel kankernya sudah menyebar ke paru-paru. Ia pun kembali harus mencium khasnya obat-obatan rumah sakit dengan melakukan kemoterapi dan puluhan radiasi lagi. Selang dua tahun kemudian, tepatnya di 2016,  ia pun mengalami hal sama dan harus kembali dikemoterapi dan radiasi.

“Sekarangpun saya masih harus kemo dan radiasi lagi. Rasanya ingin tidak mempercayai semua ini, tapi ya saya harus menjalani hidup. Saya punya suami dan anak, berusaha normal saja. Bersama-sama mengupayakan agar saya bisa sehat terus demi mereka,” tambah Rini lagi.

Rini bersyukur karena keluarganya begitu mendukungnya untuk sehat. Pun demikian dengan teman-teman di kantornya. Ia sangat yakin selama ada obatnya, penyakit kankernya akan sembuh. “Selama ada obatnya, semangat aja deh. Saya juga masih beraktivitas DAB bekerja. Karena saya punya motivasi tinggi untuk melanjutkan hidup. Saya juga ingin semua perempuan yang bernasib sama jangan menyerah, Tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar kemampuan kita,” tutupnya.

Read more...

Tak Hanya Temani Berobat Istri, Rizal Ikut Membotaki Kepalanya

Suami atau anak adalah pendukung utama para penyintas kanker payudara melewati serangkaian pengobatan yang menyakitkan dan melelahkan. Dari merekalah semangat untuk melawan kanker selalu membara. Seperti yang dilakukan Rizal, suami dari penyintas payudara Petra, yang hingga kini masih terus berjuang melawan penyakitnya.

Rizal ketika ditemui Jurnas.com menjadi salah satu pemberi testimoni menemani istrinya pada acara Para Penyintas Kanker Payudara Se- Indonesia beberapa waktu lalu, mengatakan dirinya seperti merasakan sakit yang dirasakan istrinya. “Terkadang saya ingin memindahkan penyakit istri saya ke tubuh saya, kalau melihat dia sudah tidak kuat,” kata Rizal melirik mesra sang istrik.

Bahkan, saat istrinya harus membotaki kepalanya, Rizal pun tak sungkan untuk menjadikan kepalanya plontos. “Jadi kita pernah sama-sama botak, biar dia merasa ada temanya dan istri saya jadi makin semangat melakukan kemo,” kenang Rizal diamini Petra.

Dukungan suami yang tak ada habisnya ditambah semangat dari teman-teman dan dokter ditambahkan Petra menjadi pegangan hidupnya untuk tetap kuat dan ikhlas. Ini diawali saat Petra didiagnosis kanker pada 2011. “Rasanya saat itu dunia seperti runtuh, tapi berkat suami, saya bisa menjalani hidup normal seperti biasa meski kanker menyerang bagian tubuh saya yang lain,” cerita Petra.

Rizal menambahkan istrinya harus menjalani radiasi sebanyak 30 kali dan mastektomi selama sembilan kali. Ia pun tak pernah absen mendampingi istrinya dari awal istrinya divonis kanker hingga saat ini yang masih terus menjalani terapi medis.

“Sejujurnya saya sangat tidak tega tapi juga kagum melihat perjuangan istri saya berobat selama tiga tahun melawan kanker payudaranya.  Lalu tiba-tiba dia mengalami batuk yang tak kunjung sembuh, dan ternyata sel kanker sudah menyerang sampai paru-paru. Saya tetap temani dia melanjutkan kemo hingga dinyatakan bersih,” lanjut Rizal seraya menambahkan kanker juga telah menyerang sel indung telur istrinya.

Rizal mengimbau siapapun tak boleh menyepelekan gejala kanker sekecil apapun dan percaya pada pengobatan medis bukan alternatif. Ia pun percaya, dukungan keluarga sekecil apapun akan menjadi obat mujarab selain obat-obatan medis.

Rupanya perjuangan Rizal mendampingi istrinya masih harus diuji lagi. Sel kanker yang menyerang tubuh istrinya tumbuh lagi dan masih harus terus berobat. Meski dokter telah menyatakan tubuh istrinya bersih dari sel kanker, Rizal mengatakan dirinya harus siap untuk semua kemungkinan. Kendati begitu, hingga kapankun Rizal telah berkomitmen untuk mendampingi istrinya sampai sembuh total. “Saya sangat bersyukur karena istri saya menghadapi semuanya dengan ikhlas, happy dan semangat. I love you gendut,” katanya sambil mengecup kening sang istri.

Read more...

Lisnawati: Pilih Dokter, Jangan Alternatif

Banyak yang bilang kalau kita terkena penyakit harus disyukuri sebagai penebus dosa. Tapi mitos itu tidak berlaku bagi Lisnawati (58), guru seni asal Kendari, Sulawesi Tenggara. Baginya, kanker payudara yang dideritanya adalah penyakit yang harus segera diobati agar ia dapat melanjutkan hidup demi keluarga dan murid-muridnya.

Itu terjadi 18 tahun lalu saat usianya masih 40 tahunan. Dokter memvonisnya terkena kanker payudara dan harus segera dioperasi.  “Waktu itu saya chek up di sebuah rumah sakit di Makasar. Kadang terasa ada biji, agak keras. Lalu saya didiagnosis stadium dini kanker payudara,” kata Lisnawati mengingat awal kanker menyerang tubuhnya.

Sama seperti perempuan lain yang didiagnosis kanker payudara, Lisnawati pun awalnya kuatir dan takut. Apalagi dokter saat itu menyarankan agar payudaranya diangkat saja demi hasil yang lebih baik. “Tentu awalnya takut bercampur kaget dan kuatir juga mengetahui hasil itu. Lalu saya berembuk dengan suami dan anak untuk mengambil keputusan terbaik bagi keselamatan saya. Dan mereka pun mendukung tindakan itu,” tambah Lisnawati seraya mengatakan keluarganya adalah pendukung utama untuk kesembuhan dirinya.

Lisnawati mengaku banyak teman-temanya yang menyarankan untuk mencari pengobatan alternatif daripada harus dioperasi atau diangkat payudaranya. “Tapi saya tidak terpengaruh, saya sama sekali tidak tertarik. Saya yang merasakan, penyakit ini nyata. Mana mungkin saya bisa percaya cara alternative bisa menyembuhkan,” tandas Lisnawati.

Biaya pengobatan kankernya ditambakan Lisnawati tidaklah murah. Untungnya, kata Lisnawati lagi, ia ditolong Askes atau sekarang orang lebih mengenal dengan BPJS. “Askes menanggung pengobatan saya sekitar 85%,” imbuhnya,

Lisnawati yang selalu ceria dan semangat ini kini mengisi hari-harinya dengan memberikan motivasi pada sesame penyintas. Baru-baru ini, ia pun mengikuti pelatihan pendamping kanker payudara yang diselenggarakan YKPI di Jakarta. “Saya yakinkan mereka jalan medis adalah jalan terbaik. Jangan coba-coba alternatif. Tak perlu takut dan ragu. Kita berjuang, jangan lari ke alternatif, datang ke dokter. Saya adalah contoh nyata,” seru Lisnawati penuh semangat.

Read more...

Irianti: Khawatir Kanker Payudara Menurun Pada Anak Perempuanya

Kanker payudara pada dasarnya dapat menyerang siapapun. Kanker payudara bisa menyerang tanpa memandang usia, status ekonomi, sosial, budaya, dan pendidikan.

Penelitian menunjukkan munculnya kasus kanker payudara  5-10 persen  berhubungan dengan faktor genetik. Namun apakah benar kanker payudara itu bersifat menurun? Jika ibunya terdiagnosis, maka anak perempuanya akan otomatis akan terkena.

Hal ini menjadi kekhawatiran sendiri dari seorang penyintas kanker payudara asal Surabaya, Irianti, yang memiliki anak perempuan. Irianti paham benar jika ada banyak hal yang dapat menimbulkan risiko terkena kanker payudara.

Pola hidup tak sehat, jarang berolahraga, hingga konsumsi makanan berlemak masuk dalam list penyebabnya. Tapi tetap saja, Irianti harus lebih waspada pada segala kemungkinan terburuk. Ia tidak mau anak perempuanya mengalami hal sama dengannya.

Kekuatiran Irianti diperkuat dengan pernyataan dr. Zora Revina yang pernah diulas Jurnas.Com pada berita  Juli lalu. Dokter dari Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD) ini mengatakan faktor keturunan juga bisa menjadi salah satu pemicu risiko kanker payudara.

Karena itu, kata dr. Zora, bagi keluarga yang memiliki riwayat terkena penyakit ini, harus memeriksakan diri sebelum terlambat.

“Kalau ibunya menderita kanker payudara, maka anaknya yang perempuan bisa jadi ada risiko terkena kanker payudara. Untuk memastikan hal itu, nanti ada screening-nya untuk menghitung presentase si anak terkena kanker,” ujar dr. Zora kala itu.

Kendati begitu,  dr. Zola menggarisbawahi, meski faktor keturunan bisa memicu risiko kanker payudara, tidak ada yang bisa memastikan seseorang akan terkena kanker payudara.

Ia menambahkan berkembangnya ilmu dan teknologi di bidang bedah payudara saat ini, serta penanganan secara professional dari tim medis menjadikan kanker payudara dapat didiagnosis sedini mungkin sehingga penderita dapat menjalani operasi dengan berbagai macam pilihan tehnik terkini sesuai dengan standar dan protokol internasional.

Irianti kemudian mengenang asal mula dirinya divonis kanker payudara. Tahun 2015, ia begitu yakin akan terkena kanker ketika puting susunya masuk ke dalam meski tanpa rasa sakit. “Lalu ada benjolan 2 CM, saya deg-degan, tapi saya bertekat harus segera memeriksakan diri ke dokter. Cek medis. Karena puting saya juga tambah masuk,” katanya.

Perkembangan kankernya, ditambahkan Irianti, sangatlah cepat. Tapi ia bersyukur karena tidak menunda melakukan cek medis dan tidak berlari ke pengobatan alternatif. “Saya enam kali kemo, minum obat dan langsung operasi,” ujar Irianti yang sempat melakukan rekonstruksi payudaranya pasca operasi dengan mengambil lemak dari perut.

“Bagi penderita kanker yang masih muda, jangan terlalu risau dengan penampian payudara kita, karena payudara bisa digantikan dari lemak bagian tubuh lain,” semangatnya untuk memotivasi penyintas yang lebih muda.

Ya, semangat itu bagai obat kedua selain tindakan medis. Irianti mengatakan selalu mengajak suami dan anaknya selama mengikuti pengobatan. “Kita harus punya semangat untuk saling menyemangati agar hati selalu gembira dan bahagia. Sebagai penyintas kita punya kewajiban moral untuk memberikan dampingan pada sesama penyintas. Kita tidak sendiri. Kita bersama lawan penyakit ini,” seru Irianti lagi.

Read more...