daftar artikel/berita mengenai konten kesehatan

SADARI, Cara Mudah Deteksi Dini Kanker Payudara

Jakarta – Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar mengimbau masyarakat melakukan periksa payudara sendiri (SADARI), yang berguna untuk mendeteksi kanker payudara sejak dini.

Cara ini, menurut Linda, sangat penting agar kanker payudara segera mendapatkan tindakan medis bila memang merasakan sejumlah gejala antara lain: Benjolan keras di payudara atau ketiak; perubahan ukuran dan bentuk payudara, terutama ketika mengangkat payudara; keluar cairan dari puting payudara; atau keluar darah dari puting.

“Gejala lainnya ialah puting memerah dan menjadi lembap, atau justru berubah bentuk misalnya melesak ke bagian dalam. Kalau sudah begini, segera bawa ke dokter agar tertangani,” kata Linda dalam kegiatan FunWalk 2018 yang didukung Double Tree dari Hilton Hotel, di FX Senayan, Jakarta pada Minggu (7/10) pagi.

Linda mengingatkan agar pasien kanker payudara tidak menempuh pengobatan herbal, bila telah mengetahui sedang mengidap kanker payudara. Pasalnya, selama ini alih-alih menyembuhkan, pengobatan herbal justru membuat kondisi payudara makin memburuk.

Di masyarakat, lanjut Linda, masih banyak ditemui pasien yang memilih pengobatan herbal karena dipandang murah dibandingkan medis. Akibatnya, cara ini justru mengantarkan pada risiko kematian yang lebih besar.

“Mereka baru ke dokter setelah stadium lanjut. Walhasil, sulit disembuhkan dan peluang hidup menipis, karena memang sudah busuk dan sel kanker sudah menjalar ke mana-mana. Seandainya dibawa sejak awal, tentu peluang sehat lebih besar,” jelas mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) tersebut.

Kesadaran masyarakat terhadap kanker payudara, menurut Linda, hingga saat ini juga masih lemah. Terbukti, 70 persen pasien kanker yang memeriksakan diri ke dokter sudah berada di tahap stadium lanjut.

Rendahnya kesadaran memeriksa kanker payudara diperburuk pula dengan pola pikir masyarakat yang beranggapan bahwa kanker payudara hanya terjadi pada perempuan. Padahal pembunuh nomor dua di Indonesia setelah kanker serviks itu, juga menyerang laki-laki.

“Kanker payudara juga bisa terjadi pada laki-laki. Meskipun persentasenya di bawah satu persen, tapi kalau sudah terkena kanker payudara, pasti ganas,” ujar Linda.

Memang, lanjut Linda, laki-laki pengidap kanker payudara di Indonesia masih jarang. Bahkan menilik program unit mobil mammografi (UMM) YKPI, para peserta yang melakukan mammografi gratis didominasi oleh perempuan.

Dia memaparkan, sejak 2015 hingga Mei 2018 UMM YKPI sudah memeriksa 10.356 orang. Dari jumlah tersebut, 1.511 orang atau 14,7 persen menderita tumor jinak.

“Sehingga mereka (yang menderita tumor jinak, Red) harus melakukan pemeriksaan lanjutan,” tuturnya.

Sedangkan yang menderita tumor ganas sebanyak 50 peserta atas 1,5 persen. Angka itu, kata Linda, terus mengalami kenaikan setiap tahun.

Read more...

YKPI: Kesadaran Memeriksa Kanker Payudara Masih Minim

Jakarta – Kesadaran masyarakat terhadap kanker payudara masih minim. Buktinya, menurut Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar, 70 persen pasien yang memeriksakan diri ke dokter, sudah berada pada tahap stadium lanjut.

Tentu hal ini, kata Linda, menyulitkan proses penyembuhan. Pasalnya, semakin awal kanker payudara dideteksi, angka harapan hidup semakin tinggi.

“Di masyarakat ada yang sudah paham (harus memeriksakan diri) tapi tidak berani. Khawatir dan takut. Padahal kalau ditemukan di stadium awal, harapan hidupnya masih tinggi. Berbeda halnya kalau sudah busuk gara-gara terus menerus ditunda,” kata Linda di sela-sela hari ulang tahun (HUT) YKPI ke-15, di Panglima Polim, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

Pernyataan senada juga diungkapkan oleh ahli onkologi dr. I Made Christian Binekada, M.Repro, Sp.B (K) Onk. Rendahnya kesadaran masyarakat memeriksakan diri ke dokter ditandai dengan lebih dipilihnya pengobatan alternatif atau herbal.

Hal itu, menurut Christian, tak lepas dari pola pikir masyarakat setempat. Mereka menganggap seakan-akan pengobatan alternatif lebih menjamin, dari pada mengeluarkan ongkos mahal untuk memeriksakan diri ke dokter.

“Akhirnya pengobatan medis jadi second line-nya. Pengobatan di luar medis jadi first line. Sehingga sekarang bagaimana mengubah paradigma itu dengan kehadiran para pendamping, relawan, dan klinisi untuk menerobos tradisi demikian,” ujar Christian.

Read more...

Tak Hanya Wanita, Pria Juga Miliki Risiko Terkena Kanker Payudara

Pontianak – Pemerintah Kota (Pemkot) Singkawang menggelar sosialisasi deteksi dini kanker payudara di Kantor Wali Kota, Jalan Firdaus, Selasa (7/8/2018).

Kegiatan sosialisasi dilakukan bekerjasama dengan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) dan menghadirkan Dr Agus Sutarman Sp.B(K)Onk sebagai pembicara.

Dr Agus Sutarman Sp.B(K)Onk mengatakan, pria memiliki risiko terkena kanker payudara.

“Cuman sedikit dibandingkan perempuan, 1 banding 100,” tuturnya.

Hal ini karena perempuan memiliki kelenjar payudara yang lebih banyak dibandingkan perempuan. Sementara laki-laki tidak terlalu banyak.

Penderita kanker payudara di Indonesia lebih banyak ketimbang jenis kanker yang lain. Bahkan di dunia juga sama.

Deteksi dini sangat penting dilakukan karena dengan diagnosa dini, bisa mengetahui sejak awal.

Bila mengetahui sejak awal, kemungkinan sembuh lebih besar dibandingkan mengetahui pada stadium lanjut, kemungkinan sembuhnya lebih kecil.

“Kanker payudara bisa disembuhkan kalau diketahui sejak dini,” ungkapnya.

Read more...

Waspadai Kanker Payudara Sejak Dini, Inilah Ciri-ciri Gejalanya

Pontianak – Pemerintah Kota (Pemkot) Singkawang menggelar sosialisasi deteksi dini kanker payudara di Kantor Wali Kota, Jalan Firdaus, Selasa (7/8/2018).

Kegiatan sosialisasi dilakukan bekerjasama dengan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) dan menghadirkan dr Agus Sutarman Sp.B(K)Onk sebagai pembicara.

Dr Agus Sutarman Sp.B(K)Onk mengatakan, ada beberapa ciri adanya kanker payudara.

Pertama terdapat benjolan yang tidak disertai dengan nyeri. Benjolan itu tumbuh dengan cepat.

“Atau perubahan seperti kulit jeruk, atau timbul luka di permukaan payudara, itu yang paling sering,” katanya.

Bila menemukan ciri-ciri tersebut, segera datang ke dokter atau fasilitas kesehatan yang ada untuk ditindaklanjuti pemeriksaan medis.

Kanker payudara itu bisa menyebar ke paru-paru dan menyebabkan sesak. Bisa juga ke tulang yang menyebabkan tulang patah.

“Bila tulang belakang yang kena, akibatnya bisa lumpuh. Kalau livernya kena, fungsinya bisa terganggu,” tuturnya.

Read more...

Obat Herbal untuk Kanker Payudara Tak Teruji Klinis

Jakarta – Penggunaan obat herbal untuk pengobatan kanker payudara masih berisiko. Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar mengatakan, obat herbal belum teruji secara klinis untuk menyembuhkan penyakit mematikan nomor dua di dunia tersebut.

“Seharusnya memang menempuh cara medis, karena sudah teruji secara klinis. Artinya secara internasional sudah diakui,” ujar Linda di sela-sela nonton bareng (nobar) ‘Si Doel The Movie’ di XXI Plaza Senayan Jakarta, bersama Yayasan LIONS Club Jakarta Cosmopolitan, pada Sabtu (4/8).

“Obat herbal belum teruji klinis dapat menyembuhkan kanker,” tambahnya.

Linda tak melarang penggunaan obat herbal. Namun, menurutnya sejauh ini obat herbal digunakan hanya untuk menjaga daya tahan tubuh, bukan pengobatan.

“Mungkin itu (obat herbal, Red) untuk menjaga daya tahan tubuh,” lanjut Linda.

Jika pasien tetap menginginkan penggunaan obat herbal, Linda menyarankan agar berkonsultasi kepada dokter terlebih dahulu. Karena obat herbal hanya untuk meningkatkan daya tahan tubuh, maka pengobatan kanker payudara perlu mendapatkan perawatan khusus.

“Harus konsultasi dengan dokter supaya sejalan dengan obat-obatan yang disarankan dokter. Jadi, hanya meningkatkan daya tahan tubuh tidak mengobati penyakit,” jelasnya.

Read more...

Cara Mendeteksi Kanker Payudara Sejak Dini

Jakarta – Kanker payudara dapat menyerang siapa saja, termasuk perempuan muda. Karena itu, pemeriksaan sejak dini berguna untuk memperpanjang harapan hidup pasien.

Beberapa cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi kanker ialah periksa payudara sendiri (SADARI). SADARI dilakukan dengan peralatan medis, di antaranya alat mammografi, ultrasonografi, dan MRI (Magnetic Resonance Imaging).

Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar menjelaskan, YKPI rutin melakukan mammografi gratis sejak 2005 silam. Semenjak beroperasi, bus mammografi yang bekerja sama dengan Rumah Sakit Dharmais dapat ditemui setiap minggu di puskesmas-puskesmas yang ada di seluruh Jakarta.

Linda berharap masyarakat Indonesia semakin sadar untuk melakukan deteksi dini kanker payudara. Sebab, 70 persen orang yang melakukan deteksi dini ternyata sudah menderita kanker payudara stadium lanjut.

“Bahkan WHO memperkirakan akan terjadi ledakan kanker di negara berkembang di tahun 2030,” kata Linda saat menggelar pemeriksaan mammografi gratis di kediamannya, Jakarta, Jumat (2/2).

Data YKPI 2016 menemukan, dari 2.515 perempuan yang memeriksakan payudara mereka lewat mammografi, 1,2 persen di antaranya dicurigai tumor ganas, dan 14,8 persen lainnya terdeteksi tumor jinak. Sedangkan hingga Desember 2017, dari 3.160 pasien yang diperiksa, 1,4 persen di antaranya dicurigai tumor ganas.

“Meskipun hanya 1,4 persen, secara statistik mungkin tidak signifikan. Akan tetapi sekecil apapun mereka, tetaplah manusia. Satu nyawa yang bisa diselamatkan sangat berarti. Jadi, bagi YKPI ini murni pekerjaan sosial untuk menolong perempuan Indonesia,” terangnya.

Dalam kesempatan berbeda, dokter sekaligus penyintas kanker, dr. Inez Nimpuno menekankan pentingnya penyediaan layanan kesehatan, untuk mengenali karakteristik perempuan ketika terkena kanker payudara sejak awal.

Alasannya, ketika perempuan menderita kanker, maka ada dampak langsung yang dirasakan oleh keluarga. Berbeda halnya ketika sakit yang sama diderita oleh laki-laki.

“Contoh, kalau seorang ibu sakit, maka dampak langsungnya juga pada anggota keluarga, anak dan suami akan terpengaruh karena perempuan lah yg mengurus anak dan suaminya. Tetapi kalau laki-laki (suami, Red) yang sakit, maka tidak ada dampak langsung pada anak, karena masih ada perempuan yang ada mengurus anak dan rumah tangga,” terangnya.

Selain itu, kanker payudara menurut Inez juga dinilai melibatkan persoalan identitas diri perempuan. Karena kanker tersebut menyerang organ yang dianggap mendefinisikan apakah seseorang itu perempuan atau bukan.

“Segala usaha untuk mengedukasi masyarakat tentang kesetaraan gender sangat penting, dan makin penting jika dilihat dari sudut pandang perempuan sebagai pasien kanker Penyediaan layanan kesehatan harus ditaruh dalam kerangka ini. Kesimpulannya, kanker payudara adalah persoalan gender,” tegasnya.

Link Referensi: http://www.jurnas.com

Read more...

9 Faktor Risiko Kanker Payudara, Ada yang Anda Miliki?

Jakarta, Kanker payudara tidak hanya menyerang perempuan. Meski relatif jarang, kanker ini juga bisa menyerang laki-laki. Bahkan bisa lebih ganas dibanding kanker payudara pada perempuan.

Ditemui dalam pemeriksaan mamografi gratis yang diselenggarakan oleh Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) di Jakarta baru-baru ini, dr Martha Rodia Manurung selaku dokter dari Poliklinik Deteksi Dini Kanker di Rumah Sakit Kanker Dharmais menyebut sedikitnya ada 9 faktor risiko seseorang terkena kanker payudara.

Berikut ini 9 faktor risiko yang dimaksud:

1. Usia 
Mayoritas kasus kanker payudara terjadi pada perempuan berusia di atas 50 tahun, tetapi juga dapat terjadi pada anak laki-laki atau perempuan mulai dari usia 15 tahun.

2. Faktor Genetik
Gen yang dibawa oleh anggota keluarga kita dapat diturunkan dan mengakibatkan penyakit tertentu. Penyebab kanker payudara pun bisa disebabkan oleh mutasi gen yang tidak diwariskan biasanya terjadi pada mutasi gen yang disebut Human Epidermal Growth factor receptor 2 atau yang disingkat dengan HER2.

Sedangkan gen paling umum diwariskan adalah gen kanker payudara 1 (BRCA1) dan gen kanker payudara 2 (BRCA2), keduanya meningkatkan risiko kanker payudara dan kanker ovarium.

3. Kontrasepsi Oral
Penggunaan kontrasepsi oral atau hormonal juga berisiko menyebabkan kanker payudara. dr Martha menyarankan untuk menghindari penggunaan alat kontrasepsi hormonal yang secara kumulatif melebihi delapan tahun dan gunakan kontrasepsi mekanik seperti spiral dan kondom untuk mengurangi risiko kanker payudara.

4. Menstruasi Dini
Bagi perempuan yang mengalami menstruasi pertamanya di bawah usia 12 tahun sangat berisiko terkena kanker payudara. Hal ini dikarenakan peningkatan jumlah estrogen dalam tubuhnya, selama jangka waktu yang lama. Estrogen juga dikaitkan dengan kanker payudara karena dapat menyebabkan sel kanker untuk tumbuh.

5. Riwayat Penyakit
Jika Anda sudah pernah menderita kanker payudara pada satu payudara, Anda memiliki peningkatan risiko mengembangkan kanker pada payudara satunya.

6. Kehamilan Pertama di Usia Tua
Hamil di atas usia 35 tahun dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Wanita yang hamil di usia tua berisiko tinggi melahirkan bayi prematur, dan hal ini akan berefek pada proses penyusuan dan penyapihan yang tidak normal.

7. Menopause Usia Lanjut
Menopause setelah usia 50 tahun meningkatkan resiko untuk mengalami kanker payudara. Dijelaskan oleh dr Martha, dalam perbandingan wanita yang telah menjalani ooforektomi bilateral sebelum usia 35 tahun mempunyai resiko sepertiganya dibanding yang mengalami menopause pada usia normal, yaitu 50 tahun ke atas.

8. Pola Hidup Tidak Sehat
“Kasus kanker payudara meningkat karena dewasa ini kebanyakan orang-orang menjalani pola hidup tidak sehat. Banyak makan fast food, mudah stress, jarang berolahraga, bekerja shift malam. Semua itu bisa memicu terjadinya kanker payudara,” papar dr Martha.

Pola hidup tak sehat juga dapat menyebabkan obesitas yang menjadi salah satu penyebab terkena kanker payudara.

9. Tidak menyusui, tidak menikah, tidak punya anak
dr Martha mengungkapkan bahwa wanita yang tidak pernah mengalami kehamilan yang lengkap atau tidak pernah melahirkan, dan tidak pernah menyusui, lebih berpotensi terkena kanker payudara.

Referensi: http://health.detik.com/

Read more...

YKPI Sosialisasikan Deteksi Dini Bahaya Kanker Payudara Di Korem 171/PVT

Kota Sorong, 19 Februari 2018- PW: Bagi sebagian wanita yang ada di Indonesia bahkan dunia, kanker payudara merupakan salah satu penyakit yang di takuti. Karena banyak pemahaman yang menyebutkan, jika seorang wanita yang terkena penyakit kanker payudara ini akan menyebabkan kematian bagi penderita. Namun sebenarnya pemahaman itu keliru, karena banyak wanita yang menderita penyakit ini dapat bertahan hidup dan sembuh dari sakit. Oleh sebab itu Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), untuk terus mensosialisasikan deteksi dini bahaya kanker payudara dan kanker servik. Bertempat di Aula Makorem 171/PVT Kota Sorong, YKPI yang di pimpin langsung Ketua yayasan Ibu Linda Agum Gumelar dan Ibu Titien Pamudji mengadakan sosialisasi deteksi dini bahaya kanker payudara.

Kegiatan sosialisasi ini hasil kerjasama antara YKPI dan Persit Kartika Chandra Kirana Koorcab Rem 171 PD XVIII/Kasuari. Kegiatan yang dibuka langsung oleh Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Koorcab Rem 171 PD XVIII/Kasuari Ibu Natalia Ignatius Yogo Triyono MA ini, dilanjutkan dengan pemaparan deteksi dini bahaya kanker oleh Dr Bob Andinata SpB(K)Onk (Spesialis Onkologi/Kanker). Para peserta nampak sangat serius mencermati setiap detail materi deteksi dini bahaya kanker yang disampaikan oleh Dr Bob. Dan dalam beberapa saat diselingi kuis, yang di pandu oleh Suster Ester. Semua peserta yang hadir Nampak ingin mengetahui lebih jauh tentang kanker payudara. Hal itu terlihat pada saat sesi tanya jawab, dimana banyak pertanyaan yang dilontarkan perwakilan peserta dari IWAPI, FKPPI, Ibu-ibu Persik KCK, Mahasiswi dan Dosen pendamping, Murid-murid SMA serta Guru pendamping.

Ibu Linda Agum Gumelar yang pernah di diagnosa terkena penyakit kanker payudara ini, menganjurkan agar setiap wanita melakukan “SADARI – Periksa Payudara Sendiri”. “Saya pernah di diagnosa kanker, tapi dengan SADARI itu dapat mengetahui ada benjolan dan langsung berkonsultasi dengan dokter. Jadi lakukan SADARI dan bila merasa ada kejanggalan, segera ke dokter”, anjur Ibu Linda. “Banyak pasien kanker yang berpikiran meninggal, namun YKPI ini ingin terus membangun semangat/ pikiran positif bagi mereka. Kami ingin mengatakan bahwa kami ada (tidak meninggal). Kenapa? Karena kami mengetahui sejak dini dan melakukan cara pengobatan yang benar berdasarkan petunjuk kedokteran”, tambah Ibu Linda.

Dr Bob dalam kesempatan lain juga menghimbau agar media-media terus mempublikasikan masalah kanker payudara ini, baik deteksi dininya sampai penanganan medisnya jika sudah ada gejala terkena kanker payudara. “Ketidaktahuan masyarakat dan banyak mitos yang menyesatkan masyarakat, sehingga masyarakat melakukan pengobatan alternatif bukan medis. Saat masyarakat menggunakan pengobatan alternatif dan tidak kunjung sembuh, mereka kemudian ke dokter. Tetapi sudah terlambat, dikarenakan waktu sudah terbuang saat melakukan pengobatan alternatif. Jadi saat datang di dokter sudah stadium tinggi dan susah di sembuhkan. Sebenarnya ini yang menyebabkan kematian (karena terlambat di tangani dokter)”, terang Dr Bob.

Menurut Dr Bob, penderita kanker payudara tidak semuanya harus di kemoterapi. “Tidak semua penderita kanker payudara harus di kemoterapi. Karena saat ini momok masyarakat adalah takut di operasi dan kemoterapi. Jadi pikiran itu harus dihilangkan dan jika pengobatan sudah bagus, dapat dipastikan angka kematian akan semakin kecil”, jelas Dr Bob. Kegiatan yang dihadiri Danrem 171/PVT Brigjen TNI Ignatius Yogo Triyono MA, Kasi Pers Korem 171/PVT Letkol Inf Rudi Andriono SIP serta Dandenkesyah/Srg Letkol Ckm Agung Sunarko, S.sos ini, dihadiri lebih dari 400 orang peserta.

Read more...

Pelatihan Pendamping Pasien Kanker Payudara, Angkatan III, 2017

Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) melaksanakan Pelatihan Relawan Pedamping Pasien Kanker Payudara Angkatan III yang dilaksanakan pada tanggal 4-6 Agustus 2017 di Kampus London School of Public Relations (LSPR), Sudirman Park, Jakarta Pusat. Mengikuti Pelatihan Relawan ini menjadi idaman orang. Ini terbukti dengan kegiatan tahun ketiga yang diadakan YKPI ini pesertanya meningkat.

Dengan peningkatan peserta dari tahun ketahun bertambah dan juga peserta dari daerah yg ikut juga meningkat, di tahun ketiga ini peserta yang mengikuti pelatihan naik 20 % yaitu berjumlah 70 peserta yg berasal berasal dari berbagai daerah yaitu Jakarta, Padang, Pekalongan, Bali, Cirebon, Yogyakarta, Makasar, Palangkaraya, Surabaya, Lampung, Jember, Banjarmasin, dan Bekasi mendaftar mengikuti pelatihan bersertifikat internasional TUV Rheinland ini. “Kami terpaksa membatasi peserta, karena tidak menyangka jika ditahun sebelumnya terdapat 60 peserta, begitu pendaftaran dibuka banyak yang mendaftar namun karena kapasitas ruangan tersedia dan menjaga kualitas dari pelatihan ini, kami terpaksa membatasi jumlah peserta” ujar Linda Amalia Sari Gumelar selaku ketua YKPI.

Pelatihan ini diisi dengan sejumlah materi yang diharapkan akan berguna bagi para peserta yang mengikuti. Berbagai pilar dan pihak terkait kegiatan ini ikut serta diantaranya, perawat, dokter, relawan, penyintas maupun masyarakat umum mendaftar dan ikut serta dalam kegiatan ini.
Begitu besarnya animo peserta untuk mengikuti pelatihan ini, diuraikan faktor penyebabnya oleh ketua dan pendiri YKPI, Linda Gumelar “Karena pada pelatihan ini lebih ditekankan soal materi nya bukan secara teknis saja tapi juga apa dan bagaimana si kanker payudara itu, dan bgm mencegah kanker dengan deteksi dini”.

Dalam pelatihan ini para peserta mendapatkan teori dan penjelasan dari pakarnya, diskusi kelompok, role play hingga ujian tertulis. Peserta juga diberikan materi tentang bagaimana mereka dapat menjadi pendamping yang baik. Materi-materi yang diberikan antara lain pengetahuan dasar tentang kanker payudara, cara berkomunikasi dengan penderita kanker yang benar, dan membaca psikologi penderita kanker.
“Kalau pendamping itu, bukan berarti seperti orang yang sok tau, mentang mentang dia sudah pernah atau mantan penderita jadi sok tau gitu, tetapi harus bisa sharing atau berbagi bukan jadi sok tau”, kata dr.Walta Gautama SpB(K) Onk yang menjadi salah satu pembicara dengan materi pengetahuan tentang kanker payudara di pelatihan ini.

Ini merupakan kedua kalinya dr.Walta Gautama SpB(K) Onk menjadi pembicara di acara pelatihan ini setelah di tahun sebelumnya dia digantikan oleh dr.Bob Adinata,SpB(K) Onk dikarenakan ada tugas ke luar kota. Bahkan dr. Walta pagi itu harus berjuang melawan kantuknya setelah sebelumnya ia harus melakukan operasi hingga pukul tiga pagi, dan jam 8 paginya dokter kanker yang bertugas di RS Dharmais ini berbagi pengetahuan untuk peserta pelatihan YKPI. Beberapa narasumber yang dihadirkan YKPI untuk pelatihan ini diantaranya ibu Rini Sanyoto,MBA, dan ibu Nelly Hursepuny, S.Psi yang membahas tentang psikologi dan komunikasi dengan penderita kanker.

Koordinator Pelatihan ini, bu Ning Anhar menuturkan “Jadi kalau pada waktu pendampingan nanti ada pertanyaan dari pasien kanker, mereka bisa menjawab dengan pengetahuan dari pelatihan ini, kalau yang tidak mereka ketahui itu mereka tampung dulu, lalu ditanyakan pada dokter yang merawat pasien tersebut”
Selain itu para peserta yang lulus akan mendapatkan sertifikat yang bertaraf Internasional TUV Rheinland setelah dapat melewati test yang diberikan, para peserta setelah pelatihan harus memberikan laporan pendampingan pada 3 tahun mendatang untuk membuktikan bahwa para peserta menerapkan ilmu yang sudah didapatkan disini.

Dalam pelatihan ini YKPI bekerjasama dengan Rumah Sakit Kanker Dharmais, London School of Public Relations, PT. TUV Rheinlad selaku perusahaan  di bidang Testing, Inspection, Certification, Consultation and Training dan Wardah Cosmetic serta BSN Medical. Sebagai anggota Reach to Recovery Internasional (RRI) pelatihan ini sudah disesuaikan dengn Reach to Recovery Training Guidelines.

Sertifikat yang dikeluarkan dalam pelatihan ini diakui oleh Reach to Recovery International dan Rumah Sakit Kanker Dharmais, setiap 3 tahun YKPI bersama TUV Rheinland akan melakukan evaluasi bagi para pendamping yang telah mendapatkan sertifikat.

Penulis: EranitaDewi/Relawan-binaan Humas YKPI

Read more...