daftar artikel/berita mengenai konten kesehatan

Kematian akibat Kanker Payudara pada 2018 Capai 627 Ribu Orang

Denpasar – Linda Agum Gumelar menegaskan kanker payudara merupakan penyakit dengan angka kejadian tinggi, yang berkembang cepat tanpa rasa sakit, dan membutuhkan biaya tinggi untuk pengobatannya.

Bahkan, berdasarkan data dari Badan International untuk Penelitian Kanker, di dunia tercatat sekitar 627.000 orang meninggal karena kanker payudara periode Januari hingga September 2018.

Lebih lanjut, Pendiri sekaligus Ketua Yayasan Kanker Payudara Indoensia (YKPI) itu menjelaskan kanker payudara merupakan penyakit dengan persentase kasus baru tertinggi, yaitu 42,1 persen, di mana persentase kematian akibat kanker ini mencapai 17 persen. Di Indonesia, penyakit ini juga tinggi angkanya.

“Dari data Globocan 2018, kasus baru kanker payudara di Indonesia mencapai 30,9 persen atau sebesar 58.256 dari 188.231 kasus. Ini tinggi sekali,” kata Linda saat menjadi keynote speaker di acara Festival Kampung Berseri Astra (KBA), di Kampus Udayana, Jimbaran Bali, beberapa waktu lalu.

Selain memaparkan tentang program YKPI, Linda yang pernah divonis kanker payudara ini juga berbagi pengalaman inspiratif berjuang melawan kanker, dan ihwal mendirikan yayasanya itu.

Dalam kesempatan sama, para petinggi Astra International dan civitas akademika Universitas Udayana yang hadir dalam acara ini, sangat mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan Astra International, terutama dengan melibatkan generasi milenial, masyarakat luas, pemerintah dan juga sektor swasta untuk pembangunan bangsa dan negara.

“Filosifi catur dharma Astra melalui 4 pilarnya sangatlah strategis dan mendasar untuk menjadikan Indonesia lebih maju dan mandiri. Saya bangga sekali akan antusias anak muda, khususnya generasi milenial yang nantinya akan menggantikan kita-kita untuk memimpin negara tercinta ini,” tambah mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak itu.

Sementara, Environment & Social Responsibility Division Head Astra International, Riza Deliansyah, mengatakan pihaknya telah lama menjalin kerjasama dengan YKPI. Hal ini sejalan dengan filosofi catur dharma Astra yaitu menjadi milik yang bermanfaat bagi bangsa dan negara melalui empat pilarnya.

“Keempat pilar itu adalah Astra Sehat, Astra Hijau, Astra Kreatif dan Astra Cerdas. Sejak tahun 2013 Astra telah membina 72 KBA yang tersebar di 34 provinsi. Program pembinaan ini merupakan bagian dari SATU Indonesia dan tahun ini kita sudah melakukannya di 4 provinsi, Jawa, NTT, Kalimantan dan ditutup di Provinsi Bali,” terang Riza.

Riza menambahkan alasanya melibatkan kalangan civitas akademika karena selain mahasiswa kelak yang akan memimpin bangsa, hal ini sesuai dengan cita-cita Astra untuk sejahtera bersama bangsa yang tidak dapat dilakukan sendiri.

Seperti yang digarisbawahi Presiden Direktur PT Astra International , Prijono Sugiarto, melalui video conference yang mendapat antusias mahasiswa. Menurutnya, melalui kegiatan CSR Astra International, keempat pilar di atas akan terintegrasi dengan baik melalui kerjasama pemerintah, komunitas, akademisi dan penggerak masyarakat.

“Harapanya masyarakat luas dapat terinspirasi untuk berkolaborasi berkarya untuk Indonesia. Keinginan Astra, maju bersama untuk bangsa,” ujar Prijono.

Hal senada diungkapkan oleh Linda Gumelar. “Pembangunan bangsa harus dilakukan secara sinergi sesuai dengan 3 pilar pembangunan, yaitu pemerintah, masyarakat dan swasta dalam hal ini Astra. Ini luar biasa sekali. Apalagi dengan pilar Astra Sehat juga mengajak peran serta generasi milenial,” kata Linda lagi.

Sebelum menutup paparannya , Linda kembali mengingatkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS), berpola hidup sehat, hindari stress, hindari narkoba dan jangan lupa deteksi dini kanker payudara tidak hanya untuk perempuan tetapi juga untuk laki-laki.

“Kalian generasi milenial, berdasarkan studi dari laman womensmarketing, 53 persen dari kalian ini peduli akan kesehatan dan kebugaran. Kalian rela mengeluarkan uang lebih banyak untuk urusan ini. Jadi hiduplah sehat karena kalian kelak akan memimpin negara ini. Saya juga berharap, kalian menjadi bagian untuk Indonesia bisa bebas kanker payudara stadium lanjut tahun 2030. Jangan lupa lakukan deteksi dini dengan memeriksa payudara sendiri,” tutupnya disambut riuh peserta.

Read more...

Awas, Limfedema Mengintai Penderita Kanker Payudara

Jakarta (Jurnas) – Limfedema atau edema merupakan pembengkakan bagian tubuh karena penumpukan cairan limfe, atau gangguan pada sistem limfatik. Umumnya pembengkakan ini terjadi pada salah satu atau kedua lengan yang tungkai.

Kepada Jurnas.com, dr. Walta Gautama dari Rumah Sakit Kanker Dharmais mengatakan, limfedema rentan menimpa penderita kanker payudara yang sedang menjalani perawatan maupun terapi. Dan hingga saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit tersebut secara tuntas.

Kendati belum ada obat yang bisa menyembuhkan, bukan berarti limfedema tak bisa dikenali penyebabnya. Menurut dr. Walta, setidaknya ada empat penyebab limfedema.

Pertama, operasi. Jika kelenjar limfe diambil saat operasi mastektomi, maka akan ada saluran yang terpotong. Akibatnya, aliran cairan limfe menjadi terhambat, dan berisiko terjadinya penumpukan cairan limfe atau limfedema.

“Makin banyak kelenjar limfe yang diambil, makin berisiko untuk terjadinya limfedema,” kata dr. Walta beberapa waktu lalu.

Kedua, terapi radiasi. Terapi ini berisiko menyebabkan penyempitan dan memicu kerusakan pada pembuluh limfe. Sehingga, risiko limfedema ikut meningkat.

“Ketiga, kemoterapi tertentu. Misalnya, taxanes karena bersifat meretensi cairan tubuh,” paparnya.

Lalu penyebab lainnya yakni sel kanker payudara. Bila sel kanker sudah menginvasi saluran limfovaskular, maka akan terjadi penyumbatan saluran limfe.

Oleh karena itu, untuk mencegah limfedema, dr. Walta menyarankan enam hal berikut:

  1. Hindari terpapar panas
  2. Hindari luka atau infeksi
  3. Hindari pengecekan tekanan darah
  4. Turunkan berat badan
  5. Gunakan manset saat naik pesawat
  6. Gunakan tabir surya dan pelembab.

Adapun tanda-tanda limfedema meliputi:

  1. Bengkak
  2. Kulit kencang
  3. Kulit kering
  4. Lengan kaku
  5. Rasa berat di lengan
  6. Tanda-tanda infeksi
Read more...

Harapan Hidup Penderita Kanker Payudara 98 Persen, Asal..

Jakarta – Untuk kedua kalinya Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) bekerjasama dengan Double Tree by Hilton Jakarta, menggelar acara Pink Ribbon Gala Charity Dinner, Saling Jaga Saling Peduli. Masih dalam rangkaian bulan peduli kanker payudara Internasional, gala dinner diselenggarakan di Double Tree Hotel Jakarta, Senin (22/10).

Ketua YKPI, Linda Agum Gumelar,  menegaskan kepedulian masyarakat dan dukungan kepada para penyintas kanker payudara dapat menekan angka kejadian kanker payudara stadium lanjut. “Jika kanker payudara ditemukan dalam stadium awal maka kemungkinan untuk bisa mencapai harapan hidup  yang lebih lama adalah sekitar 98 %,” kata Linda penuh semangat.

Mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan RI Kabinet Indonesia bersatu itu menambahkan, berdasarkan data dari Globacan 2018 angka kejadian kanker payudara pada perempuan di Indonesia yang didiagnosa kanker adalah yang paling tinggi (sekitar 42,1 %). “Angka kematian karena kanker payudara juga cukup tinggi di Indonesia. Hal ini terjadi karena pasien pada umumnya datang memeriksakan diri ke dokter hampir 70 % sudah dalam stadium lanjut,” ujar Linda lagi seraya mengingatkan pentingnya deteksi dini kanker payudara melalui SADARI dan SADANIS.

Dihadiri oleh beragam kalangan yang peduli pada perjuangan melawan kanker payudara,  acara yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan kanker payudara di Indonesia demi terwujudnya Indonesia bebas kanker payudara stadium lanjut 2030 ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih berarti melalui penggalangan dana. Seluruh dana yang didapat malam ini akan disumbangkan ke Yayasan Kanker Payudara Indonesia.

“Saya dan beberapa teman yang hadir disini adalah bagian dari survivors kanker payudara. Tahun 1996 saya pernah divonis menderita kanker payudara. Tentunya saat itu saya tidak bisa menerima, sedih, marah karena hanya kematian yang terbayang.  Namun, dukungan,  semangat dan rasa sayang  dari keluarga, teman, dan semua orang yang peduli  ternyata dapat menjadi obat paling ampuh dalam menemani masa-masa sulit berjuang melawan kanker dan menjalani semua tahapan pengobatan dokter. Tanpa itu semua, saya tidak akan berada di sini malam ini,” kata Linda lagi seraya berterima kasih untuk semua bentuk kepedulian dan donasi yang diberikan melalui YKPI.

Lebih lanjut Linda menjelaskan pengobatan penyakit mematikan ini memang tidak murah. Melalui pelbagai program YKPI yang dipimpinnya, Linda memaparkan upaya pencegahan dini kanker payudara stadium lanjut dengan sosialisasi deteksi dini ke beberapa daerah serta pengoperasian unit mobil mammografi bekerjasama dengan RSK Dharmais yang membutuhkan biaya tinggi. “Sejak 2015 hingga Agustus 2018 kami telah melakukan pemeriksaan mammografi sebanyak 10.544, dimana  1.565 orang diantaranya mengalami tumor jinak dan 152 orang dicurigai ganas,” terang Linda.

YKPI juga menjalankan program pelatihan pendampingan pasien kanker payudara dan mendirikan rumah singgah di Jakarta untuk membantu meringankan beban para penderita kanker payudara selama melakukan pengobatan di Jakarta.

Sementara itu, Regional GM of Indonesia & Timor Leste Hilton, Nils-Arne Schroeder menegaskan sebagai salah satu perusahaan perhotelan terbesar di dunia, pihaknya selalu berupaya memberikan dampak yang positif bagi masyarakat sekitar. “Dalam bulan kanker payudara ini, penting bagi kami untuk berperan dalam menaikkan kesadaran masyarakat melalui serangkaian aksi sosial termasuk mengadakan acara yang kami selenggarakan hari ini. Dengan mendedikasikan waktu dan energi kami untuk berbagai kegiatan dan juga mengumpulkan Tim Member serta masyarakat untuk tujuan bersama, hal ini merupakan bentuk dukungan kami untuk para penyitas dan pasien kanker payudara,” tutup Nils.

Read more...

Penderita Kanker Payudara Tertinggi di Indonesia

Jakarta – Kanker leher rahim dan payudara merupakan tertinggi yang diderita perempuan Indonesia akibat rendahnya kesadaran deteksi dini kanker payudara.

Demikiaan disampaikan Ketua Umum Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YPKI), Linda Agum Gumelar di sela-sela kegiatan jalan santai memperingati Bulan Peduli Kanker Payudara Internasional di kawasan Car Free Day, Sudirman, Jakarta, Minggu (7/10).

“Padahal  perkembangan teknologi informasi saat ini, pengetahuan masyarakat, khususnya perempuan mengenai kanker payudara sebetulnya sudah lebih baik. Apalagi dengan hadirnya program JKN-KIS sekarang ini, masyarakat lebih gampang akses pelayanan di fasilitas kesehatan”ujar Linda.

Meskipun demikian, kesadaran untuk memeriksakan diri atau deteksi dini masih sangat rendah. Buktinya sebagian besar dari para penderita yang memeriksakan diri ke dokter sudah dalam kondisi stadium lanjut. Padahal, bila ditemukan sejak dini, maka peluang untuk sembuh lebih besar.

“Ada sebagian perempuan yang takut atau belum siap apabila didiagnosa menderita kanker payudara. Itulah sebabnya meskipun mereka sudah merasakan keganjalan di payudara, tapi menunda pemeriksaan.”

Selain itu, kata Linda masih bayak pasien kanker payudara yang memilih pengobatan alternatif atau herbal. Umumnya mereka memilih pengobatan herbal karena dinilai lebih murah dan tidak memiliki efek samping, seperti tanpa operasi atau kemoterapi dengan segala efek sampingnya. Padahal, banyak kasus yang menunjukkan, alih-alih menyembuhkan, pengobatan herbal justru membuat kondisi kanker payudara makin memburuk.

“Mereka baru ke dokter setelah stadium lanjut. Akibatnya, sulit disembuhkan dan peluang hidup menipis, karena memang sudah busuk dan sel kanker sudah menjalar ke mana-mana. Seandainya dibawa sejak awal, tentu peluang sehat lebih besar,” kata Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) di era Kabinet Indonesia Bersatu ini.

Rendahnya kesadaran memeriksa kanker payudara diperburuk pula dengan pola pikir masyarakat yang beranggapan bahwa kanker payudara hanya terjadi pada perempuan. Padahal, pembunuh nomor dua di Indonesia setelah kanker serviks itu, juga menyerang laki-laki.

Menurut Linda, kanker payudara juga bisa terjadi pada laki-laki. Meskipun persentasenya di bawah satu persen, tapi kalau sudah terkena kanker payudara bisa dipastikan ganas. Meski jarang ditemukan kanker payudara pada pria, tapi risiko itu tetap ada. (Kedaulatan Rakyat)

Read more...

YKPI: Pengobatan Herbal Perparah Kondisi Pasien Kanker Payudara

Jakarta – Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Gumelar mengatakan pengobatan herbal bagi pasien kanker payudara justru memperparah kondisi pasien tersebut.

“Selama ini, alih-alih menyembuhkan, pengobatan herbal justru membuat kondisi pasien kanker payudara makin memburuk,” ujar Linda di Jakarta, Rabu.

Untuk itu, Linda mengingatkan pasien kanker payudara agar tidak menempuh pengobatan herbal jika diketahui mengidap kanker payudara. Di masyarakat, lanjut Linda, masih banyak ditemui pasien yang memilih pengobatan herbal karena dipandang murah dibandingkan medis. Akibatnya, cara ini justru mengantarkan pada risiko kematian yang lebih besar.

“Setelah kondisinya stadium lanjut, mereka baru ke dokter, sehingga sulit disembuhkan dan peluang hidup menipis, karena memang sudah busuk dan sel kanker sudah menjalar ke mana-mana. Seandainya dibawa sejak awal, maka tentu peluang sehat lebih besar,” tambah dia.

Hal ini dibuktikan sebanyak 70 persen pasien kanker yang memeriksakan diri ke dokter sudah berada di tahap stadium lanjut. Penyebab karena rendahnya kesadaran dalam memeriksa kanker payudara dan diperburuk pula dengan pola pikir masyarakat yang beranggapan bahwa kanker payudara hanya terjadi pada perempuan. Padahal pembunuh nomor dua di Indonesia setelah kanker serviks itu, juga menyerang laki-laki.

“Kanker payudara juga bisa terjadi pada laki-laki. Meskipun persentasenya di bawah satu persen, kalau sudah terkena kanker payudara, pasti ganas”.

Linda mengajak masyarakat untuk melakukan pendeteksian secara dini kondisi payudara. Cara ini, menurut Linda, sangat penting agar kanker payudara segera mendapatkan tindakan medis bila memang merasakan sejumlah gejala antara lain benjolan keras di payudara atau ketiak; perubahan ukuran dan bentuk payudara, terutama ketika mengangkat payudara; keluar cairan dari puting payudara; atau keluar darah dari puting.

“Gejala lainnya ialah puting memerah dan menjadi lembab, atau justru berubah bentuk misalnya melesak ke bagian dalam. Kalau sudah begini, segera bawa ke dokter agar tertangani,” imbuh Linda. (Antara)

Read more...

SADARI, Cara Mudah Deteksi Dini Kanker Payudara

Jakarta – Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar mengimbau masyarakat melakukan periksa payudara sendiri (SADARI), yang berguna untuk mendeteksi kanker payudara sejak dini.

Cara ini, menurut Linda, sangat penting agar kanker payudara segera mendapatkan tindakan medis bila memang merasakan sejumlah gejala antara lain: Benjolan keras di payudara atau ketiak; perubahan ukuran dan bentuk payudara, terutama ketika mengangkat payudara; keluar cairan dari puting payudara; atau keluar darah dari puting.

“Gejala lainnya ialah puting memerah dan menjadi lembap, atau justru berubah bentuk misalnya melesak ke bagian dalam. Kalau sudah begini, segera bawa ke dokter agar tertangani,” kata Linda dalam kegiatan FunWalk 2018 yang didukung Double Tree dari Hilton Hotel, di FX Senayan, Jakarta pada Minggu (7/10) pagi.

Linda mengingatkan agar pasien kanker payudara tidak menempuh pengobatan herbal, bila telah mengetahui sedang mengidap kanker payudara. Pasalnya, selama ini alih-alih menyembuhkan, pengobatan herbal justru membuat kondisi payudara makin memburuk.

Di masyarakat, lanjut Linda, masih banyak ditemui pasien yang memilih pengobatan herbal karena dipandang murah dibandingkan medis. Akibatnya, cara ini justru mengantarkan pada risiko kematian yang lebih besar.

“Mereka baru ke dokter setelah stadium lanjut. Walhasil, sulit disembuhkan dan peluang hidup menipis, karena memang sudah busuk dan sel kanker sudah menjalar ke mana-mana. Seandainya dibawa sejak awal, tentu peluang sehat lebih besar,” jelas mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) tersebut.

Kesadaran masyarakat terhadap kanker payudara, menurut Linda, hingga saat ini juga masih lemah. Terbukti, 70 persen pasien kanker yang memeriksakan diri ke dokter sudah berada di tahap stadium lanjut.

Rendahnya kesadaran memeriksa kanker payudara diperburuk pula dengan pola pikir masyarakat yang beranggapan bahwa kanker payudara hanya terjadi pada perempuan. Padahal pembunuh nomor dua di Indonesia setelah kanker serviks itu, juga menyerang laki-laki.

“Kanker payudara juga bisa terjadi pada laki-laki. Meskipun persentasenya di bawah satu persen, tapi kalau sudah terkena kanker payudara, pasti ganas,” ujar Linda.

Memang, lanjut Linda, laki-laki pengidap kanker payudara di Indonesia masih jarang. Bahkan menilik program unit mobil mammografi (UMM) YKPI, para peserta yang melakukan mammografi gratis didominasi oleh perempuan.

Dia memaparkan, sejak 2015 hingga Mei 2018 UMM YKPI sudah memeriksa 10.356 orang. Dari jumlah tersebut, 1.511 orang atau 14,7 persen menderita tumor jinak.

“Sehingga mereka (yang menderita tumor jinak, Red) harus melakukan pemeriksaan lanjutan,” tuturnya.

Sedangkan yang menderita tumor ganas sebanyak 50 peserta atas 1,5 persen. Angka itu, kata Linda, terus mengalami kenaikan setiap tahun.

Read more...

YKPI: Kesadaran Memeriksa Kanker Payudara Masih Minim

Jakarta – Kesadaran masyarakat terhadap kanker payudara masih minim. Buktinya, menurut Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar, 70 persen pasien yang memeriksakan diri ke dokter, sudah berada pada tahap stadium lanjut.

Tentu hal ini, kata Linda, menyulitkan proses penyembuhan. Pasalnya, semakin awal kanker payudara dideteksi, angka harapan hidup semakin tinggi.

“Di masyarakat ada yang sudah paham (harus memeriksakan diri) tapi tidak berani. Khawatir dan takut. Padahal kalau ditemukan di stadium awal, harapan hidupnya masih tinggi. Berbeda halnya kalau sudah busuk gara-gara terus menerus ditunda,” kata Linda di sela-sela hari ulang tahun (HUT) YKPI ke-15, di Panglima Polim, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

Pernyataan senada juga diungkapkan oleh ahli onkologi dr. I Made Christian Binekada, M.Repro, Sp.B (K) Onk. Rendahnya kesadaran masyarakat memeriksakan diri ke dokter ditandai dengan lebih dipilihnya pengobatan alternatif atau herbal.

Hal itu, menurut Christian, tak lepas dari pola pikir masyarakat setempat. Mereka menganggap seakan-akan pengobatan alternatif lebih menjamin, dari pada mengeluarkan ongkos mahal untuk memeriksakan diri ke dokter.

“Akhirnya pengobatan medis jadi second line-nya. Pengobatan di luar medis jadi first line. Sehingga sekarang bagaimana mengubah paradigma itu dengan kehadiran para pendamping, relawan, dan klinisi untuk menerobos tradisi demikian,” ujar Christian.

Read more...

Tak Hanya Wanita, Pria Juga Miliki Risiko Terkena Kanker Payudara

Pontianak – Pemerintah Kota (Pemkot) Singkawang menggelar sosialisasi deteksi dini kanker payudara di Kantor Wali Kota, Jalan Firdaus, Selasa (7/8/2018).

Kegiatan sosialisasi dilakukan bekerjasama dengan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) dan menghadirkan Dr Agus Sutarman Sp.B(K)Onk sebagai pembicara.

Dr Agus Sutarman Sp.B(K)Onk mengatakan, pria memiliki risiko terkena kanker payudara.

“Cuman sedikit dibandingkan perempuan, 1 banding 100,” tuturnya.

Hal ini karena perempuan memiliki kelenjar payudara yang lebih banyak dibandingkan perempuan. Sementara laki-laki tidak terlalu banyak.

Penderita kanker payudara di Indonesia lebih banyak ketimbang jenis kanker yang lain. Bahkan di dunia juga sama.

Deteksi dini sangat penting dilakukan karena dengan diagnosa dini, bisa mengetahui sejak awal.

Bila mengetahui sejak awal, kemungkinan sembuh lebih besar dibandingkan mengetahui pada stadium lanjut, kemungkinan sembuhnya lebih kecil.

“Kanker payudara bisa disembuhkan kalau diketahui sejak dini,” ungkapnya.

Read more...

Waspadai Kanker Payudara Sejak Dini, Inilah Ciri-ciri Gejalanya

Pontianak – Pemerintah Kota (Pemkot) Singkawang menggelar sosialisasi deteksi dini kanker payudara di Kantor Wali Kota, Jalan Firdaus, Selasa (7/8/2018).

Kegiatan sosialisasi dilakukan bekerjasama dengan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) dan menghadirkan dr Agus Sutarman Sp.B(K)Onk sebagai pembicara.

Dr Agus Sutarman Sp.B(K)Onk mengatakan, ada beberapa ciri adanya kanker payudara.

Pertama terdapat benjolan yang tidak disertai dengan nyeri. Benjolan itu tumbuh dengan cepat.

“Atau perubahan seperti kulit jeruk, atau timbul luka di permukaan payudara, itu yang paling sering,” katanya.

Bila menemukan ciri-ciri tersebut, segera datang ke dokter atau fasilitas kesehatan yang ada untuk ditindaklanjuti pemeriksaan medis.

Kanker payudara itu bisa menyebar ke paru-paru dan menyebabkan sesak. Bisa juga ke tulang yang menyebabkan tulang patah.

“Bila tulang belakang yang kena, akibatnya bisa lumpuh. Kalau livernya kena, fungsinya bisa terganggu,” tuturnya.

Read more...

Obat Herbal untuk Kanker Payudara Tak Teruji Klinis

Jakarta – Penggunaan obat herbal untuk pengobatan kanker payudara masih berisiko. Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar mengatakan, obat herbal belum teruji secara klinis untuk menyembuhkan penyakit mematikan nomor dua di dunia tersebut.

“Seharusnya memang menempuh cara medis, karena sudah teruji secara klinis. Artinya secara internasional sudah diakui,” ujar Linda di sela-sela nonton bareng (nobar) ‘Si Doel The Movie’ di XXI Plaza Senayan Jakarta, bersama Yayasan LIONS Club Jakarta Cosmopolitan, pada Sabtu (4/8).

“Obat herbal belum teruji klinis dapat menyembuhkan kanker,” tambahnya.

Linda tak melarang penggunaan obat herbal. Namun, menurutnya sejauh ini obat herbal digunakan hanya untuk menjaga daya tahan tubuh, bukan pengobatan.

“Mungkin itu (obat herbal, Red) untuk menjaga daya tahan tubuh,” lanjut Linda.

Jika pasien tetap menginginkan penggunaan obat herbal, Linda menyarankan agar berkonsultasi kepada dokter terlebih dahulu. Karena obat herbal hanya untuk meningkatkan daya tahan tubuh, maka pengobatan kanker payudara perlu mendapatkan perawatan khusus.

“Harus konsultasi dengan dokter supaya sejalan dengan obat-obatan yang disarankan dokter. Jadi, hanya meningkatkan daya tahan tubuh tidak mengobati penyakit,” jelasnya.

Read more...