Berdamai Dengan Kanker

Berdamai Dengan Kanker

Kanker adalah kata yang sangat menakutkan. Kebanyakan orang mengidentikkan kanker sama dengan menderita, sama dengan kematian. Kenyataan tidaklah demikian. Akhir tahun 2011, saya terdeteksi kanker payudara stadium 3B. Takut, kaget, sedih sudah pasti, belum lagi ketika harus menghadapi dokter untuk pemeriksaan ginjal. Saat itu dokter mengatakan jika saya mendapatkan kemoterapi, maka ada kemungkinan akan merusak fungsi ginjal dan saya harus menjalani hemodialisis (cuci darah) seminggu tiga kali. Ketakutan? Wajar saja, saat itu saya memutuskan tidak mau menjalani kemoterapi dan operasi.

Berawal dari kekhawatiran inilah saya mulai mencari pengobatan alternatif. Selama 2,5 tahun saya menjalani pengobatan alternatif, namun bukan sembuh yang saya dapat, melainkan kerusakan pada payudara saya. Pengalaman dengan pengobatan alternatif membuat saya menyadari bahwa kanker hanya bisa ditangani menggunakan terapi medis.

Tuhan buka jalan bagi saya

Termotivasi dengan pengalaman kakak ipar saya yang menjalani operasi pengangkatan rahim, saya bersedia menjalani terapi medis kembali. Dengan persetujuan suami dan anak-anak, saya berangkan ke Penang, Malaysia untuk menjalani terapi medis di sana. Ditemani kakak ipar dan tante (adik mama) Saya konsultasi dengan Dr. Cheong Yew Teik di Penang Adventis Hospital. Melihat kondisi payudara saya Dr. Cheong geleng-geleng kepala dan berkata “teruk” yang artinya kondisinya sudah buruk. Beliau mejelaskan bahwa saya harus menjalani operasi, dan karena area yang harus dioperasi cukup lebar, maka saya perlu mengambil kulit di bagian punggung untuk menambal area payudara yang akan dioperasi. Terlintas di benak saya operasi pada bagian payudara dan punggung yang harus saya jalani. Sungguh berat. Dr. Cheong kemuudian menjelaskan bahwa kanker payudara saya stadium 3 dan saya disarankan untuk menjalani kemoterapi sebanyak 8 kali. Setelah kemoterapi maka operasi (mastektomi) baru dapat dilakukan. Setelah operasi pun perawatan yang harus saya jalani juga belum selesai. Saya masih harus menjalani 25 kali radioterapi dan 17 kali kemoterapi lagi dengan obat Herceptin.

Wow… terlintas di pikiran saya, apakah harus sepanjang itu saya menjalani pengobatan untuk mempertahankan hidup? Dalam benak saya bertanya, sanggupkah saya menjalani semua ini? Saya disarankan untuk berkonsultasi dengan Dr. Ang Soo Fan, beliau seorang dokter bagian onkologi di Penang Adventist Hospital. Kali ini diagnosa Dr. Ang lebih seram lagi, beliau mengatakan saya stadium 4 dan tak bisa disembuhkan.

Kemudian saya berpikir apa gunanya saya menjalani rangkaian pengobatan ini apabila tidak bisa sembuh. Namun saya punya keyakinan dokter bukanlah Tuhan, masih ada Tuhan Yang Maha Penyembuh. Mendengar vonis Dr. Ang saya berbisik kepada kakak ipar dan tante yang menemani saya agar jangan menceritakan hal ini kepada suami dan anak-anak. Rupanya bisikan saya ini didengar oleh Dr. Ang. Beliau marah dan mengharuskan saya untuk memberi tahu seluruh keluarga, termasuk asisten rumah tangga di rumah. Hal ini diperlukan untuk mendukung proses penyembuhan.

Setelah berkonsultasi dengan dokter pada kunjungan pertama saya ke Penang itu saya langsung menjalani kemoterapi untuk pertama kalinya. Sebelumnya saya belum bisa membayangkan apa yang dimaksud dengan kemoterapi. Ternyata kemoterapi yang saya jalani hanya menggunakan infus dan berjalan dengan baik. Pada kemoterapi pertama ini ada pengalaman yang unik. Karena perawat melihat wajah saya yang ketakutan, perawat mempersilakan saya menjalani kemoterapi di atas tempat tidur, padahal sebenarnya tempat tidur ini diperuntukkan bagi pasien yang sudah dalam kondisi parah. Setelah itu saya juga dipanggilkan seorang pendoa agar saya tenang dan dikuatkan melalui doa.

Kemoterapi pertama sudah saya jalani kemudian kembali ke Jakarta, saya mengalami pendarahan di payudara. Terbersit di benak saya, tamatlah hidup saya. Atas inisiatif kakak ipar saya dilarikan ke RS Medistra, Jakarta. Melihat kondisi payudara saya, dr. Aru yang saat itu menangani saya menanyakan bagaimana cerita pengobatan saya. Kemudian saya ceritakan semua termasuk pengalaman saya menjalani pengobatan alternatif. Mendengar cerita saya dr. Aru bertanya “Kapan Ibu bertobat?” Saya menjawab, “Mulai hari ini saya bertobat dan kembali ke terapi medis”

Saya menjalani rangkain kemoterapi di Penang dengan bolak-balik ke Jakarta-Penang. Sampai pada kemoterapi kedelapan. Dr. Cheong yang baik hati berkunjung ke ruang kemoterapi dan bertanya, “Saya mendengar Ibu telah menjalani delapan kali kemoterapi dan tidak mengalami muntah dan lainnya ya? Bagus!”. Saya kemudian mengatakan kepada Dr. Cheong jika saya berharap agar dengan kondisi yang semakin baik ini saya tidak perlu menjalani operasi. Dr. Cheong menjelaskan bahwa apabila hasil observasi setelah kemoterapi benjolan yang ada di payudara saya lembut maka bisa saja tidak perlu dilakukan operasi. Namun hasilnya ternyata ada benjolan berukuran kecil yang keras di payudara. Saya pun tetap harus menjalani operasi. Mendengar kata ‘operasi’ saya terus terang sangat takut. Dr. Cheong kemudian bertanya. “Kenapa Takut?”. Saya jawab “Saya takut mati.”. Dr. Cheong berusaha menenangkan saya dan berdasarkan pengalamannya selama ini belum ada pasiennya yang meninggal karena operasi payudara.

Jadwal operasi bulan Januari 2015 saya kembali ke Penang dengan seluruh anggota keluarga, suami, dan tiga anak saya beserta dengan kakak ipar bersama suaminya dan tante saya yang selalu setia medampingi saya selama menjalani kemoterapi. Kebetulan saat itu, Martin anak pertama saya sedang kembali ke Indonesia, ketika itu Martin menetap di Den Haag, Belanda. Maka kesempatan ini saya manfaatkan juga untuk berkumpul dengan keluarga. Sama dengan kunjungan sebelumnya, saya masih belum bersedia untuk dioperasi. Dr. Cheong mengizinkan saya untuk pulang dan berpikir kembali.

Atas dukungan suami dan ketiga anak saya yang sudah secara langsung mendengarkan penjelasan Dr. Cheong pada kunjungan sebelumnya. Saya akhirnya memberanikan diri berangkat ke Penang ditemani adik, kakak ipar dan tante yang bersama anak bungsu saya untuk menjalani operasi.

Puji Tuhan, operasi berjalan lancar dan saya tidak merasakan apa-apa. Begitu membuka mata, mastektomi yang saya jalani sudah selesai. Malam hari setelah dioperasi, Dr. Cheong berkunjung ke kamar perawatan dan meminta saya untuk mengangkat tangan kanan. Saya pun sudah bisa mengangkat tangan kanan saya. Dr. Cheong mengatakan bahwa ini sangat baik. Beliau sebelumnya mengkawatirkan akan ada infeksi karena saat akan operasi HbAlc (gula darah) saya 17 dan delapan titik getah bening saya juga diangkat karena positif mengidap kanker. Setelah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, saya berjalan kaki ke gereja Katolik terdekat dengan kantong darah untuk menampung darah sisa operasi masih terpasang di badan saya. Sekali lagi saya memohon kekuatan kepada Sang Pencipta.

Perjalanan selanjutnya adalah saya harus menjalani radioterapi sebanyak 25 kali. Saya memutuskan untuk menjalani radioterapi di rumah sakit yang ada di Jakarta. Saya kemudian menggunakan Jaminan Kesehatan Nasional yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS Kesehatan) mengingat biaya yang sudah saya keluarkan sudah sangat besar dan proses pengobatan saya masih panjang.

Cerita kebanyakan orang bahwa dengan menggunakan fasilitas yang disediakan BPJS Kesehatan kita harus menunggu selama berbulan-bulan tidak saya alami. Puji Tuhan, saya hanya menunggu selama dua minggu dan mendapatkan panggilan dari MRCCC Siloam Hospital untuk menjalani radioterapi. Dokter yang menangani radioterapi saya adalah dr. Fielda, yang kemudian memutuskan bahwa radioterapi yang harus saya jalani adalah sebanyak 30 kali. Bersamaan dengan radioterapi saya masih harus menjalani kemoterapi dengan Herceptin sebanyak 17 kali selama satu tahun sesuai dengan anjuran Dr. Ang dari Penang. Sebagai informasi Herceptin ditanggung oleh BPJS Kesehatan sebanyak 8 ampul. Harga 1 ampul Rp 22.400.000 dengan ukuran 440 cc. Herceptin ini diberikan berdasarkan berat badan, untuk saya memerlukan 350 cc untuk sekali infus. Dengan kemasan 440 cc maka setiap kali pengobatan ada sisa yang dapat saya gunakan untuk pengobatan selanjutnya. Saya sempat membayar sendiri sebanyak 3 kali karena jumlah yang ditanggung oleh BPJS Kesehatan dibatasi.  Perlu saya sampaikan di sini, bahwa penggunaan obat Herceptin yang ditanggung oleh BPJS Kesehatan harus memenuhi syarat pasien dengan kondisi IHK -HER 2 (+) yang dibuktikan dengan hasil patologi dan mengalami penyebaran (metastasis). Puji Tuhan, tidak ada efek samping yang saya rasakan selama menjalani kombinasi pengobatan radioterapi dan kemoterapi Herceptin ini. Namun setelah memasuki siklus kemoterapi Herceptin yang ke 13, muncul nodul (benjolan kecil) di bekas jahitan. Pada saat siklus ke 14 sudah disiapkan, saya pamit kepada dokter di Jakarta untuk kembali berangkat ke Penang.

Tepat pada satu tahun setelah operasi pertama yaitu pada Februari 2016, saya kembali menjalani operasi ke-2 untuk mengangkat 3 nodul kecil yang ada pada saya. Nodul yang diangkap ini juga diambil untuk dilakukan penelitian patologi untuk kemudian menentukan status IHK-HER2 saya. Pada operasi pertama hasil patologi saya dengan HER2 (+) adalah dengan ER (-), PR (-) Cerb B2 (+). Sementara pada operasi kedua hasil patologi HER2 (+) dengan ER (+), PR (-), Cerb B2 (+). Hasil ini oleh Dr. Dismas Chaspuri yang menangani saya selama berobat di MRCCC Siloam Hosptal dianggap satu tingkat lebih baik dari sebelumnya. Kemudian saya diberi obat “Letrozole” untuk diminum setiap hari selama 2 tahun hingga saat ini.

Setelah operasi kedua, hasil CT Scan pada tulang dada saya ada penyebaran sel kanker dan dokter meminta saya untuk melakukan radioterapi selama 17 hari di Penang. Saya tinggal di Penang selama 17 hari ditemani oleh suami. Radioterapi yang saya terima sebanyak 10 kali.

Saat ini saya masih menjalani pengobatan untuk mencegah terjadinya pertumbuhan sel kanker kembali. Saya dirujuk pada dr. Andhika Rachman onkologi di MRCCC Siloam Hospital. Beliau kemudian menganjurkan saya untuk mengikuti uji klinis Herceptin Emtansine sebuah obat formulasi baru daripada Herceptin yang sudah pernah saya gunakan sebelumnya. Uji klinis ini memungkin saya mendapatkan obat tanpa perlu membayar dan semua biaya ditanggung oleh penyelenggara uji klinis yaitu perusahaan farmasi Roche. Saat ini saya sedang menunggu jadwal konsultasi dr. Andhika Rachman untuk menjalani tes elektrokardiogram (EKG) sebab salah satu syarat seleksi awal membaca hasil EKG dan hasil lab sebagai syarat untuk mengikuti uji klinis ini.

Puji Tuhan lagi, beberapa bulan lalu melalui kebaikan hati Ibu Ati Windratmo saya diundang dr. Shanti Gultom masuk dalam Komunitas Pita Pink pimpinan Ibu Linda Gumelar. Komunitas ini sangat bermanfaat bagi saya karena dapat berbagi pengalaman dengan sesama pejuang kanker. Saya berkesempatan diundang dalam diskusi panel “Implementasi JKN dalam Penjaminan Pelayanan Kepada Pasien Kanker Anak & Kanker Payudara”.

Dalam kesempatan ini saya berterima kasih kepada keluarga, YKPI dan handai taulan yang selalu mendukung saya dalam doa.

Tak dapat dipungkiri “Kuasa doa” sungguh luar biasa.

Berdoa, semangat menjalani pengobatan medis, kita pasti sembuh.

—————-

Kisah diatas sebagaimana ditulis langsung dan disampaikan Maria Cecilia kepada YKPI (Yayasan Kanker Payudara Indonesia) untuk menyambut bulan Kanker Payudara Dunia setiap bulan Oktober.

Dalam menyambut bulan Oktober bulan Kanker Payudara Dunia, YKPI akan menyelenggarakan  “TEMU PENYINTAS KANKER PAYUDARA SE-INDONESIA”di Hotel Mercure Ancol Jakarta, pada 1 Oktober 2016 pukul 09.00-12.00 WIB.

Share this post