Author - admin

YKPI Adakan Temu Penyintas Se-Indonesia

Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) mengadakan temu penyintas kanker payudara se-Indonesia, Sabtu (1/10), menyambut bulan kanker payudara sedunia. Dalam acara yang diadakan di Mercure Convention Center Ancol, acara tersebut turut memecahkan rekor nasional dan dunia dengan jumlah peserta penyintas kanker payudara terbanyak, yaitu sebanyak 700 peserta. Dalam sambutan yang diberikannya, Linda Gumelar selaku ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia mengaku sempat pesimis dengan jumlah peserta yang ditargetkan yaitu sebanyak 400 orang.

“Tahun lalu kami diundang dokter Aryo Djatmiko, Kepala Rumah Sakit Onkologi Surabaya, beliau mengadakan suatu kegiatan di Surabaya yang bisa menghadirkan banyak survivors kanker payudara dan setelah itu kami bertanya apakah kami boleh mengadakan di Jakarta, dan hal itu didukung oleh beliau,” ujar Linda Gumelar

“Dan sejak enam bulan yang lalu kami berusaha untuk bagaimana mengumpulkan teman-teman semua dan kita memberanikan untuk me-launching acara ini. Waktu itu kami bertanya ‘dok 400 atau 300 (peserta) bisa tidak dok?’ dan dokter percaya bisa mencapai 400 peserta dari seluruh Indonesia. Dan ternyata akhirnya kita kewalahan, lebih dari 400 yang hadir dan sekarang mencapai 663 penyintas yang hadir dan kami sempat menutup pendaftaran karena takut membludak,” tambah istri Agum Gumelar dalam sambutannya.

Dalam acara tersebut hadir pula sejumlah publik figur yang menjadi duta YKPI dan turut meramaikan kegiatan, diantaranya Dhini Aminarti, Ririn Dwi Ariyanti, Raline Shah, Taufik Hidayat, dan Rossa yang menghibur penyintas dengan beberapa tembang lagu. Raline yang hari itu harus terbang ke Abu Dhabi menyempatkan bertemu penyintas kanker payudara.

“Sebenarnya fungsi saya disini dan kedatangan saya disini adalah sebagai pemberi semangat saja karena acara ini untuk penyintas kanker payudara se-Indonesia dari YKPI. Sejauh ini saya membantu YKPI untuk menggalang dana dengan mendesain pin untuk dijual dan hasil penjualannya untuk memberikan mamografi gratis untuk perempuan-perempuan di Jabodetabek dan luar Jabodetabek karena tidak semua rumah sakit memiliki mesin mamografi,” ujar Raline yang sudah lima tahun menjadi duta breast cancer awareness.

Ririn dan Dhini yang hadir sebagai duta Pita Pink – YKPI mengutarakan bahwa acara ini bisa menjadi pengingat tidak hanya bagi wanita saja tapi juga para pria agar tetap waspada dan saling peduli untuk menjaga kesehatan.

“Acara ini patut sering diadakan karena mengingat mereka para survivor, mereka butuh sesuatu untuk menghibur diri mereka sendiri selain diri mereka sendiri dan keluarganya karena mereka dapat bertemu survivors lain, bikin mereka lebih happy sehingga mereka bisa melupakan apa yang sedang mereka alami,” kata Dhini Aminarti.

Ririn menambahkan bahwa support mental juga menjadi hal penting yang dapat diberikan kepada para penyintas kanker payudara bahwa penyakit yang mereka alami bukan akhir dari kehidupan mereka. Ia juga melihat persaudaraan dan dukungan sesama penyintas yang tercipta dalam acara dapat menguatkan satu sama lain dalam acara temu penyintas dengan tag line ‘Saling Jaga Saling Peduli’.

“Mereka merasa punya keluarga besar yang mengerti keadaan mereka dengan kekeluargaan yang lebih erat karena mereka satu perjuangan. Mungkin bagi mereka tidak harus berbicara banyak tapi bisa saling mengerti situasi satu sama lain dan yang lebih dikeluarkan disini yaitu support mental itu sendiri.

Atas penyelenggaraan ini, YKPI mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai “Temu Penyitas Kanker Payudara Terbanyak” yang langsung diberikan oleh pendiri MURI, Jaya Suprana kepada Linda Agum Gumelar selaku ketua YKPI dan Rima Melati selaku Pembina YKPI.

Menurut Linda Agum Gumelar selaku Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia: Kanker Payudara tetap menjadi penyakit yang meresahkan masyarakat, bahkan sudah merambah ke tingkat yang lebih mengkhawatirkan dimana tidak hanya wanita saja yang bisa terkena penyakit ini, tetapi pria juga bisa terkena begitu juga anak usia 15 tahun sudah ada yang terkena. Dengan kondisi yang sangat memprihatinkan ini, kami sebagai mitra pemerintah dalam menyebarkan kepedulian terhadap kanker payudara ini harus semakin aktif merangkul berbagai pihak untuk waspada akan bahaya kanker payudara.

Dengan berbagai kegiatan yang dilakukan YKPI dalam bulan peduli kanker payudara internasional ini diharapkan dapat meningkatkan kepedulian masyarakat akan pentingnya kesadaran akan bahaya kanker payudara melalui deteksi dini dan juga pentingnya dukungan dari keluarga dan sahabat pasien untuk menghadapi kanker payudara.duta-ykpi-menghibur-penyitaspemberian-rekor-muri

YKPI juga  mempunyai wadah bagi para survivors dan warriors yang bernama PitaPink Survivors dan Warriors (PPSW) untuk mereka bisa saling tukar menukar pengalaman dan saling support.

Untuk mencegah kanker payudara sedini mungkin, YKPI dan para dokter Onkologi kerap melakukan kampanye untuk para perempuan melakukan SADARI, yaitu PERIKSA PAYUDARA SENDIRI yang harus dilakukan oleh setiap perempuan sebulan sekali, karena 80% benjolan di payudara dapat diketahui oleh perempuan tersebut. Salah satu faktor dominan pengendali angka kematian akibat kanker payudara adalah deteksi dini. Benjolan atau keluhan pada payudara harus diwaspadai sebagai gejala kanker payudara dan segera periksakan ke dokter. 1 dari 2 pasien kanker payudara meninggal karena telad ditangani. Sekitar 98% pasien akan bertahan hidup lebih dari lima tahun bila kanker terdeteksi dini dan diobati secara medis.

Kanker Payudara bisa datang kepada perempuan mana saja, bisa perempuan yang masih remaja (telah haid), hingga yang sudah usia lanjut (diatas 70 tahun), perempuan yang menikah dan punya anak, bisa juga pada perempuan yang tidak menikah dan juga bisa laki-laki.

Read more...

Kanker Mendorongku Menyebarkan Hal Positif

Yulia Sofiati adalah pribadi yang sangat positif. Dalam kesehariannya tidak pernah dalam benaknya ada rasa dengki, dendam, atau pun iri terhadap orang lain. Ia adalah pribadi yang selalu berusaha untuk menyelaraskan hati dan ucapannya. Mengeluh adalah hal terakhir yang terlintas dalam benaknya.

Keteguhan dan pemikiran positif Yulia juga tercermin dalam usahanya berperang melawan kanker. Wanita yang lahir 64 tahun silam ini sudah divonis positif mengidap kanker payudara sejak 11 tahun yang lalu. Kemoterapi pun ia jalani dengan ikhlas, guna mencapai kesembuhan yang sepenuhnya.

Tahun 2005 menjadi awal dimana ia harus lebih kuat dari sel kanker yang ada dalam tubuhnya. Yulia bercerita bahwa ia menyadari ada keanehan yang terjadi dalam dirinya ketika sedang melakukan sholat. Ketika itu ia melihat ada bercak merah segar pada bagian dada di mukena yang sedang ia gunakan. Berusaha berpikir positif, ia menganggap itu sebagai angin lalu “Ah, paling nyamuk tidak sengaja terpukul,” gumamnya kala itu. Yulia pun menjalani hari-harinya seperti biasa. Tidak ada keluhan tentang rasa sakit atau pun tidak nyaman yang terlontar darinya.

Selang beberapa hari kemudian, bercak merah itu pun muncul kembali pada saat menunaikan ibadah sholat, lagi-lagi Yulia mengabaikannya. Perasaan tidak enak pun tidak dapat lagi dibantah oleh Yulia ketika ia mendapati bercak merah yang sama untuk ketiga kalinya. Seketika warga Bangil, Surabaya, itu pergi ke kamar mandi dan melihat pantulannya di cermin. Benar saja, kali ini tidak hanya cairan merah segar yang ada di mukenanya, namun juga gumpalan darah ia temukan di payudaranya. “Ini apa ya?” Kiranya kala itu. “Kok tidak ada yang luka, namun berdarah seperti ini?”

Dengan perasaan shock dan bingung, Yulia pergi ke dokter umum untuk mengecek keadannya. Dokter umum menyimpulkan bahwa Yulia baik-baik saja. Tidak puas dengan jawaban sang dokter, Yulia pun berinisiatif untuk pergi ke dokter bedah umum. Lagi-lagi nihil. Dokter bedah umum pun tidak dapat menjelaskan kondisi yang terjadi pada Yulia kala itu.

Baru setelah bercerita pada temannya, Yulia disarankan untuk mengunjungi Dokter Onkologi yang berada di Surabaya. Jarak 40km yang memisahkan Surabaya dan Bangil ia tempuh seorang diri, guna mendapatkan kepastian mengenai kondisi kesehatannya. Sesampainya di Surabaya, ia disarankan untuk mengikuti tes mamografi. “Rasanya sakit sekali, saya sampai menangis berkali-berkali saking sakitnya proses tes tersebut,” ungkapnya pada tim PR YKPI. Tidak hanya tes mamografi, Yulia juga diharuskan untuk melakukan pengecekan darah dari putingnya dan diminta menunggu beberapa jam untuk mengetahui hasil tes tersebut. Pada saat itu, Yulia sama sekali belum memberi tahu suaminya mengenai hal ini. “Takut bapak mikir macam-macam dan terjadi apa-apa, makanya saya diam saja,” katanya.

Saat yang ditunggu pun tiba. Yulia menerima hasil tes dengan hati yang gundah. Hasil tes mengatakan bahwa di payudara Yulia positif terdapat sel kanker payudara. Tidak seperti orang pada umumnya, Yulia, yang selalu berpikiran positif pada saat itu malah bersyukur kepada Allah karena keanehan dalam tubuhnya sudah terungkap. “Alhamdulillah, penyakitnya ketemu sudah!” ujarnya ketika itu.

Rasa syukur itu tidak berlangsung lama. Yulia merasa lemas seketika, ketika mendapati ia harus melakukan operasi pengangkatan payudara. Air mata mengalir dengan deras. Merasa membutuhkan petunjuk, Yulia pun menghubungi anaknya di Jakarta. Respon yang ia dapat positif sekali, “Jangan ragu, Ma! Lakukanlah operasi itu, karena memang hanya itulah solusinya!” ujar sang anak. Suami Yulia pun pasrah, walaupun pada awalnya sangat sulit baginya untuk menerima keadaan ini.

Wanita yang telah melakukan 12 kali kemoterapi seorang diri ini mengakui bahwa belum banyak yang mengerti soal kanker payudara di daerahnya. Proses penyembuhan yang berat pun tak menghalanginya untuk melakukan sosialisasi kepada masyarakat Bangil “Saya malah tambah aktif menjadi relawan untuk menambah lahan pahala. Itulah prinsip yang saya tanam dalam diri saya selama ini,” akunya.

Yulia telah melakukan penyuluhan mengenai kanker payudara di rumahnya di Bangil. Dengan mendatangkan dokter onkologi, ia mengadakan sesi konsultasi dan tanya jawab. Melalui usaha yang giat, Yulia telah berjasa mengajak banyak penyintas kanker untuk memeriksakan dirinya ke dokter spesialis onkologi. Tidak terkecuali penyintas yang sudah berada pada stage yang sangat krusial. Yulia pun mengaku senang sudah menginspirasi banyak orang untuk berobat, sehingga resiko kematian dapat dicegah se-dini mungkin.

Menutup sesi wawancara dengan tim PR YKPI, Yulia berpesan kepada penyintas kanker payudara lainnya untuk senantiasa menjaga ketenangan jiwa. “Intinya kita tidak boleh merasa sendirian!” himbaunya. “Kalau toh benar-benar ada penyakit, langsung aja ke spesialisnya, tidak perlu takut. Saya dulu merasa ini momok, tapi memang dokter lah yang lebih tau cara mengobatinya,” tutupnya.

Read more...

Kuncinya adalah Pengecekan Dini

Panik dan takut adalah hal yang dirasakan Sumarni ketika ia mendapati benjolan aneh pada payudaranya untuk pertama kali. “Kok bisa sih sakit sepeti ini,” gumamnya dalam hati. Dengan kekhawatiran yang ada dalam benaknya, pada bulan November 2015, Sumarni mengunjungi dokter umum untuk menyampaikan keluhan yang dirasakan pada payudaranya. Dokter umum menyampaikan bahwa tidak perlu ada yang dikhawatirkan oleh Sumarni. Sumarni hanya diberi obat pereda rasa sakit, yang menurut Sumarni pada saat itu sangat berguna untuk menghilangkan gangguan pada payudaranya.

Selang lima bulan, rasa sakit itu muncul kembali. Sumarni pun segera mengunjungi dokter umum atas saran suami dan keluarganya. Kembali memberikan keluhan yang sama, sang dokter yang juga mempunyai keluarga yang menderita kanker payudara menyarankan Sumarni untuk melakukan uji laboratorium dan USG. Hasil tersebut diduga merupakan tumor dan disarankan ke dokter bedah.

Usai mengunjungi dokter bedah di Bandung, pada 14 April 2016 pukul 09.00 WIB, ibu lima anak ini  langsung diopname dan menjalani operasi pengangkatan sel kanker payudara tersebut. “Saya masuk rumah sakit jam sembilan pagi, maghribnya di hari yang sama langsung dioperasi,” ujar Sumarni kepada tim Publick Relation (PR) & Media Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) di acara Temu Penyintas Kanker Payudara Se-Indonesia, 1 Oktober 2016.

Dengan keteguhan hati semua rangkaian pengobatan dilakukan oleh Sumarni. Dukungan pun tak henti-hentinya mengalir, “Aku yakin kamu bisa sembuh!,” adalah ungkapan yang sangat sering dilontarkan oleh sang suami.

Sel kanker sepanjang 1,5cm yang menggerogoti Sumarni diangkat dalam operasi sepanjang 9 cm kemudian dibawa untuk dilakukan patologi anatomi (PA). Hasil PA menunjukan bahwa payudara kanan Sumarni harus diangkat seluruhnya. Dua belas hari berselang wanita 44 tahun ini kembali menjalani operasi untuk mengangkat payudaranya. “Lakukan yang terbaik untuk isteri saya, dok!” merupakan pesan suaminya yang mengharapkan kesembuhan sang isteri.

Dorongan yang kuat dari keluarga dan sanak saudara menjadikan Sumarni tetap bersemangat dalam melakukan serangkaian terapi dan pengecekan lanjutan. Dan karena sel kanker tersebut belum menyebar, Sumarni tidak perlu melakukan kemoterapi. Dorongan keluarga untuk melakukan pengecekan dini juga itulah yang telah membuat Sumarni cukup beruntung, sehingga sel kanker pada tubuhnya dapat dideteksi dalam usia dini.

Dalam kesehariannya, Sumarni tidak pernah merasa putus asa. Dengan keyakinan penuh, Sumarni menyadari bahwa segala cobaan dari Allah pasti akan ada obatnya jika ia berusaha sekuat tenaga dalam mencarinya. “Jangan takut, tetap berusaha kita punya Allah! Allah akan memberikan kemudahan. Ia tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan umat-Nya,” papar Sumarni.

“Kuncinya adalah keberanian. Jangan diam-diam saja. Periksakan sesegera mungkin!,” pesannya kepada segenap penyintas kanker payudara lain. Menyudahi sesi berbagi dengan tim PR & Media YKPI, Sumarni berpendapat bahwa acara berskala nasional seperti yang diadakan oleh YKPI pada Bulan Kepedulian Kanker ini sangat bermanfaat untuk para penyintas kanker, sehingga mereka dapat berbagi pengalaman dan membuat mereka menyadari bahwa mereka tidak sendiri dalam menghadapi cobaan yang tengah dialaminya.

Read more...

Merajut Hidup Bahagia Bersama Kanker

Saya tidak akan pernah lupa dengan apa yang saya alami 12 tahun lalu. Waktu itu, saya berumur 48 tahun dan memutuskan untuk melakukan check-up kandungan dan payudara. Awalnya saya pikir, tidak akan ada sesuatu yang berbahaya mengingat dua tahun sebelumnya, saya pernah melakukan pemeriksaan khususnya payudara dengan Mammografi di Indonesia dan hasilnya baik-baik saja. Namun pemeriksaan kali ini lain karena dokter mengatakan bahwa ada yang mencurigakan di bagian dalam payudara sebelah kanan, dan menyarankan saya untuk melakukan biopsi. Saya masih ingat perasaan saya saat itu: rasanya begitu gundah dan gelisah. Begitu takut saya memikirkan apa yang akan terjadi pada diri saya. Namun saya tetap menguatkan hati untuk melakukan biopsi keesokan hari.

Usai melakukan biopsi, hari berikutnya dokter memberitahu saya bahwa saya positif kanker payudara ganas stadium 1. Tapi ajaibnya, ada sebuah kekuatan yang seperti menopang saya. Kegundahan saya tidak sebesar hari sebelumnya. Setelah diskusi dengan beberapa dokter dan atas saran suami saya pula, maka saya memutuskan untuk melakukan mastektomi, yaitu pengangkatan payudara sebelah kanan seluruhnya. Hal ini dilakukan karena posisi benjolan ada di dalam dekat dengan tulang rusuk, tidak teraba, tidak terasa, dan tidak ada keluhan. Seperti yang kita tahu, payudara adalah simbol kebanggaan bagi wanita dan pengangkatan ini mau tidak mau membuat hati saya sedikit bersedih. Saya membayangkan akan berjalan seperti apa operasi tersebut. Namun entahlah, saya merasa kuat dan merasa siap menghadapi apa yang akan terjadi di depan saya.

Mastektomi berjalan dengan lancar. Meskipun awalnya saya merasa berdebar. Tapi bukan hanya hal ini yang harus saya lewati. Ada fase lanjutan yang mau tak mau menggetarkan semangat saya: kemoterapi. Banyak orang yang bilang, kemoterapi bukanlah proses yang menyenangkan.

Toh mau tidak mau, saya harus melewati hal tersebut. Dan memang benar yang dikatakan oleh banyak orang, bahwa kemoterapi begitu menyakitkan. Rasanya seperti nyawa dan raga terpisah. Seringkali saya merasa napas saya tersekat. Bahkan pernah saya lari keluar ruangan, hanya untuk menenangkan perasaan saya. Panas dan terbakar selalu saya rasakan usai kemoterapi. Rasanya seperti antara hidup dan mati. Rasa sakitnya menjalar di seluruh tubuh.

Namun akhirnya saya nikmati saja. Saya membaca buku tentang kanker sehingga sedikit banyak tahu efek-efek yang akan terjadi dalam proses kemoterapi. Ini banyak membantu saya untuk tidak cemas dengan efek kemoterapi. Saya menjalani 6 kali kemoterapi, 5 tahun minum obat Tamoxiven dan 3 tahun Arimidex. Satu yang saya tidak permah lalai adalah kontrol setiap 3 bulan sekali, serta tak lupa check up setahun sekali. Rasanya saya jadi seperti bersahabat dengan segala perawatan dan obat-obatan itu, atas anjuran dokter.

Belum selesai sampai di situ, pada tahun 2008, saya kembali mendapatkan kabar buruk. Bahwa obat-obatan yang saya minum mungkin saja membuat kista Dermoid di indung telur sebelah kanan. Kista yang semula hanya 1 cm, dalam 4 tahun tumbuh menjadi 8 cm. Untuk kedua kalinya saya dianjurkan untuk dilakukan pengangkatan rahim dan indung telur. Betapa rasanya seluruh dunia runtuh di hadapan saya.

Tadinya saya begitu bersedih dan meratapi hal ini. Mengapa harus saya? Mengapa harus organ-organ kewanitaan? Tapi kekuatan tak terlihat itu muncul lagi di diri saya. Kekuatan itulah yang membuat saya tak lelah menebarkan semangat positif ke orang-orang di sekitar saya. Saya tahu, penyakit saya adalah penyakit serius. Bahkan, pada suatu hari, pernah anak saya bertanya, apakah saya kuat menderita seperti ini? Apakah Mama masih bersemangat untuk hidup?

Kepadanya, saya bilang, saya akan hidup sampai waktu yang telah ditentukan untuk saya. Dan mengisinya dengan semangat dan kebahagiaan. “Saya mau kuat. Saya mau mengisi sisa hidup dengan kebahagiaan”

Menjadi perempuan bukan sekadar perkara organ-organ kewanitaan. Saya tetap berdiri tegak dan percaya diri sebagai seorang wanita, meskipun payudara sebelah kanan saya telah diangkat, dan meskipun rahim serta indung telur saya sudah tak ada. Saya tetap merasa cantik meskipun rambut saya rontok. Menjadi cantik adalah tentang menjadi bahagia dan senantiasa merasa sehat

Kini saya sudah survive dari kanker. Desember 2015 kemarin saya sudah boleh periksa 6 bulan sekali. Berkat semangat untuk hidup, saya bisa sampai sekarang. Hal-hal itulah yang selalu saya bagikan kepada sesama penderita kanker payudara. Kita harus disiplin terhadap pengobatan dan patuh pada anjuran dokter. Saya selalu menjadi motivator bagi teman-teman saya yang mengalami hal sama. Saya datangi teman yang melakukan operasi. Jika mereka takut, saya tunjukkan bekas operasi saya.

Menurut saya, penting bagi para penyintas kanker untuk  membuka diri, karena dengan membuka diri, maka informasi pun mudah untuk didapatkan, begitu juga semangat untuk hidup. Kanker memang sebuah momok dalam hidup kita, tapi ada kalanya, kita harus berdamai dengan kanker tersebut, dan mengisi sisa hidup dengan hal-hal yang positif.

Tahun 2005, saya diajak ibu Agum Gumelar untuk bergabung di Pita Pink yang sekarang dikenal dengan YKPI (Yayasan Kanker Payudara Indonesia). Saya senang sekali karena saya selalu suka menyemangati sesama penyintas, mulai dari teman-teman terdekat hingga perempuan yang tidak saya kenal sama sekali. Saya ikut pendidikan khusus pendamping pasiens kanker payudara di gelombang pertama, dan saya sudah lulus bersertifikat dari TUV. Maka informasi pun mudah untuk didapatkan, begitu juga semangat untuk hidup. Kanker memang sebuah momok dalam hidup kita, tapi ada kalanya, kita harus berdamai dengan kanker tersebut, dan mengisi sisa hidup dengan hal-hal yang positif.

—————-

Kisah di atas sebagaimana disampaikan Nani Firmansyah kepada tim Public Relation & Media YKPI untuk menyambut bulan Kanker Payudara Dunia setiap bulan Oktober.

Read more...

Kanker Harus Dilawan, Bukan Ditakuti

Berbarengan dengan meletusnya Gunung Kelud, meletus pula tangisan Handayani ketika ia positif terdiagnosis kanker payudara pada tahun 2014. Awal mulanya, ia menyadari keanehan yang terjadi pada payudaranya ketika mandi. “Kok ketika saya memakai sabun mandi, terasa ada benjolan,” akunya.

Berawal dari rasa penasaran, Handayani pun memutuskan untuk pergi ke Puskesmas. Dokter di Puskesmas menyatakan bahwa tidak ada ada yang perlu dikhawatirkan oleh Handayani. “Saat itu, dokter hanya bilang itu adalah hal normal pada orang yang baru saja menopause,” ujarnya sambil mengingat ucapan dokter kala itu. Namun, kegundahan melanda ibu 2 anak ini, “Loh, apa hubungannya menopause dengan benjolan ini?” tanyanya dalam hati.

Tidak sampai dua bulan kemudian, Handayani berani mengungkapkan keanehan pada payudaranya kepada sang adik yang bekerja di Rumah Sakit Sardjito, Yogyakarta. Kaget karena baru dikabari setelah dua bulan, sang adik pun mengingatkan Handayani untuk tidak “sembrono” dalam menghadapi kasus ini dan meminta sang kakak untuk memeriksakan kembali keadannya di rumah sakit yang lebih besar.

Atas saran sang adik, Handayani pun bertolak dari Magelang ke Yogyakarta untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap kondisi yang dihadapinya. Kekhawatiran sang adik terbukti, setelah malakukan uji laboratorium dan mamografi di Yogyakarta, Handayani dinyatakan positif kanker payudara. Tindakan segera diambil. Dengan perasaan yang masih diguncang shock dan kebingungan, Handayani melakukan operasi pengangkatan dua hari kemudian.

Tidak hanya sampai di situ, setelah operasi pengangkatan, Handayani juga dihimbau untuk melakukan terapi kimia (kemoterapi) selama lima tahun ke depan. “Pas pertama tahu, saya bingung dan pasrah. Namun, memang sudah keharusan saya untuk sembuh.” tuturnya. Sampai sejauh ini Handayani telah melakukan delapan kali kemoterapi ditambah pengecekan rutin selama enam kali dan dua puluh lima kali penyinaran. Semua hal tersebut dilakukan demi mencapai kesembuhan.

Dalam hal inspirasi dan semangat yang didapatnya dalam menghadapi kanker payudara, Handayani mengakui bahwa Ibu Linda Agum Gumelar lah yang menjadi tokoh panutannya. “Saya terinspirasi Ibu Agum untuk mengikuti organisasi seperti YKPI ini. Terlebih setaelah beliau memberikan pengarahan di komunitas kanker milik Akmil di Magelang” ungkapnya dengan kekaguman. Ia menilai kepedulian Ibu Gumelar kepada para penyintas patut dicontoh oleh masyarakat magelang dan masyarakat Indonesia pada umumnya. “Untuk kota Magelang masih kurang dilakukan, ada yayasan dari akmil tapi belum terlalu terstruktur,” paparnya dengan harapan adanya peningkatan kesadaran terhadap kanker payudara di daerahnya.

Handayani juga berpesan kepada masyarakat, baik tua maupun muda, untuk lebih peduli terhadap kanker payudara. “Adik-adik yang masih muda jangan segan juga untuk mengikuti hal-hal seperti ini,” pesannya. Kegiatan seperti seminar nasional ini dinilai sangat berguna oleh Handayani karena selain mendapatkan teman, ia juga dapat mendapat informasi baru yang dibagikan baik oleh survivor maupun tenaga ahli seperti dokter.

Handayani ingin menyampaikan kepada para penyintas kanker bahwa kanker tidak perlu ditakuti, melainkan perlu untuk dilawan. “Jangan takut untuk periksa diri dan harus semangat sembuh, lebih baik periksakan saja, baik masih muda atau tua,” tegasnya menutup sesi wawancara dengan PR YKPI pada acara temu penyintas kanker payudara se-Indonesia.

Read more...

Jangan Pernah Takut Karena Kita Tidak Sendiri

Ketika itu aku menyadari ada gejanggalan dalam tubuhku. Tak lama akupun segera memeriksakan diri ke dokter dan setelah menjalani serangkaian tes pada hari itu juga aku divonis postitif kanker payudarapada sebelah kiri. Pasrah merupakan kata yang tepat untuk aku ungkapkan saat mendengar vonis dari dokter. Ya, tahun 2006 merupakan tahun yang cukup berat untukku. Padahal baru selang tiga tahun, aku harus merelakan kepergian Ibuku tercinta karena penyakit yang sama yaitu kanker payudara. Dan saat itu, ternyata aku juga terkena salah satu penyakit genetik ini. Hanya pasrah dan juga berusaha untuk menyembuhkan penyakit ini.

Tanpa menunda-nunda lagi,  setelah berdiskusi dengan keluargaku, jelang tiga harikemudian akupun langsung menjalani operasi pengangkatan. Dengan dukungan dari suami dan dua anakku, aku beranikan diri untuk menjalani semua rangkaian penyembuhan saat itu. Tanpa rasa takut aku jalani semua rangkaian beratitu dalam upaya penyembuhanku.

Aku jalani kemo pertama, kedua, ketiga sampai dengan kedelapan belas. Helai demi helai mahkota rambutku mulai merontok. Lambat laun akupun harus mengikhlaskan untuk kehilangan mahkotaku. Tiada kata yang dapat aku curahkan untuk mendeskripsikan bagaimana rasa sakit luar biasa yang aku rasakan saat itu. Namun semua itu tidak menghalangkan aktivitas keseharianku dan juga semangatku untuk tetap hidup.

Menurut kebanyakan orang, setalah menjalani penyembuhan selama lima tahun maka akan terbebas dari penyakit kanker payudara ini. Tetapi, tidak untukku. Mungkin Tuhan ingin kembali meningkatkan derajatku di hadapanNya. Lagi, dokter menemukan benjolan pada payudaraku sebelah kanan. Entah rasa apa yang aku rasakan saat dokter memberitahukan kalau aku harus kembali menjalani operasi dan juga kemo. Aku hanya dapat berserah diri kepadaNya sambil terus berusaha.

Mengetahui pertumbuhan akar kanker yang sangat cepat, tanpa menunda aku kembali mengambil keputusan untuk operasi. Suami dan anak-anakku adalah dukungan terbesar untukku. Hari operasi itupun tiba, jam tujuh pagi aku memasuki ruang operasi.Kali ini ada yang berbeda dari operasi pertamaku pada tahun 2006 lalu.Belum sadar, setelah selesai mengangkat benjolan, Dr. Wiwin yang menanganiku tiba-tiba meminta izin kepada suamiku untuk melakukan operasi lainnya yaitu operasi keloid.  Pukul tujuh pagi aku memasuki ruang operasi dan baru pukul tujuh malam aku siuman. Alhamdulillah kondisiku cukup fit sehinggaoperasi yang cukup memakan waktu itu berjalan lancar.

Serangkaian penyembuhan yang menyakitkan itu harus kembali aku jalani. Mudah marah, sangat sensitif juga aku alami akibat bawaan dari kemo. Beruntung aku mempunyai suami dan anak-anak yang mengerti kondisiku. Untuk penyembuhan payudara sebelah kanan ini aku menjalani enam kali kemo. Sekali kemo aku harus mengeluarkan biaya sebesar 32 juta rupiah, sangat berbeda pada tahun 2006 lalu yaitu hanya 6,3 juta rupiah.

Kanker payudara tidaklah menjadi penghalang bagiku untuk melanjutkan hidup dan aku tidak larut dengan kesedihan. Dengan pasrah sambil tetap semangat, aku tetap jalani hidupku seperti biasanya tanpa rasa takut. Bahkan sekarang aku semakin semangat untuk meneruskan hidupku. Aku juga pernah merawat Almarhumah Ibuku yang memiliki penyakit sama denganku sehingga membuatku tidak takut menjalani penyakit ini.

Saat ini aku sudah menjadi survivor kanker payudara. Menjalani operasi memang keputusan terbaik untukku dan sampai saat ini aku masih tetap bisa bertahan. Berjaga-jaga jika aku harus menjalani kemo lagi, vena port di tanamkan pada tubuhku yang semakin menua ini. Alat itu ditanam seumur hidup karena bagian tangan kanan dan kiriku sudah tidak dapat ditusuk jarum. Tiga bulan sekali aku harus jalani spooling agar saluran tetap berjalan lancar.

Ya,Semua itu harus aku lewati dengan semangat untuk tetap hidup. Salah satu alasan hingga saat ini aku masih semangat adalah aku masih ingin memomong cucu-cucuku. Dengan begitu aku jadi semakintermotivasi dan selalu ikhlas dengan apa yang telah diberi oleh Yang Maha Kuasa.

Pesanku untuk semua penyintas yang masih berjuang dari kanker payudara, jangan takut untuk menjalani semua rangkaian itu. Aku sudah menjalaninya selama sepuluh tahun dan hingga saat ini aku masih bertahan. Jika sudah divonis agar segera menjalani operasi karena pertumbuhan akar kanker sangat cepat. Dokterku pernah berkata, “Hari ini empat, dan besok sudah menjadi enam belas.”Secepat itulah pertumbahan kanker. Jadi, jangan pernah berfikir untuk pergi berobat ke alternatif karena akan membuang-buang waktu.

Datang jauh-jauh dari Surabaya, aku sempatkan waktuku untuk datang ke acara yang sangat bagus ini, acara Temu Penyintas Kanker Payudara Se Indonesia yang digagas oleh Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI). Meskipun aku tidak bergabung dengan komunitas manapun, tapi aku selalu aktif dalalam acara- acara kanker baik di Surabaya atau di luar kota seperti ini.  Terakhir aku datang ke acara serupa yang di selenggarakanoleh Ibu Linda Gumelar di Hotel Sheraton Surabaya.

Menurutku, acara ini sangat bagus dan sangat bermanfaat, khususnya bagi para penyintas kanker payudara yang pastinya menjadi semakin sensitif. Dengan adanya acara ini, kita bisa saling sharing pengalaman-pengalaman, bercengkrama, bersenang-senang sehingga diri kita dapat terhibur. Karena saat sedang sendiri, rasanya hanya kita saja yang mendapatkan penyakit seperti ini. . Padahal banyak di luar sana yang mengalami hal yang sama seperti kita. Maka, berkomunikasi khusunya dengan sesama penyintas seperti ini akan sangat bermanfaat bagi kita.  Aku berharap, semoga kedepannya, acara ini akan semakin baik lagi. Dan tentunya harus tetap semangat!

—————-

Kisah di atas sebagaimana disampaikan Asia Astrianadari, kelahiran 14 Desember 1955 asal  Surabaya (61 Tahun) kepada tim Public Relation & Media YKPI untuk menyambut bulan Kanker Payudara Dunia setiap bulan Oktober.

Read more...

Kekuatan Doa dan Keluarga Membuatnya Bertahan

Tak pernah terlintas dalam pikiran bahwa Diah Retno Wilaks Kusumaning Tyas akan mengidap kanker payudara. Awal ketakutan yang ia rasakan ketika anak perempuan yang kedua melihat ada kelainan pada bentuk payudara. “Dia memaksa ingin melihatnya namun saya menolak. Akhirnya di suatu sore selesai mandi, anakku memaksa untuk melihat bentuk payudaraku. Dengan berlinang air mata, dia memohon dan menyarankan agar saya untuk periksa ke dokter” ceritanya kepada tim PR & Media YKPI (Yayasan Kanker Payudara Indonesia).

Beberapa hari kemudian, kelahiran 16 November 1957 yang biasa dipanggil dengan Laksy mengunjungi dokter radiologi dan memeriksakan keadaannya. Hasilnya tidak menunjukkan tanda keganasan namun ia dianjurkan untuk kembali enam bulan kemudian. Walau demikian, ada rasa takut yang sangat luar biasa didirinya karena merasakan sesuatu yang tidak beres dengan payudaranya. Anaknya yang berprofesi sebagai dokter terus memantau keadaan orangtua yang tercinta, namun Laksy tetap merasakan ketakutan dan membuat emosinya tidak stabil. Setiap hari Laksy selalu sembunyikan ketakutan itu dengan berdoa setiap malam, “Ya Allah, apa yang aku takutkan jangan sampai terjadi.” Pintanya.

Keraguan yang kerap kali muncul dalam benak membuatnya membuat Laksy tidak tenang. Laksy mengajak anaknya untuk mencari second opinion, oleh karena itu pada 13 Desember 2010, Laksy melakukan pemeriksaan mammografi dan USG di salah satu rumah sakit swasta di Medan.

Perasaan takut dan penasaran membuatnya bergumam, “Udah kelihatan ya dok, tanda-tanda keganasannya?” Dokter pun menjawab, “Belum.” Dan sepuluh menit berselang barulah kata-kata yang tidak diinginkannya keluar dari dokter itu, “Pemeriksaan perlu dilanjutkan dan saya dianjurkan segera menemui dokter bedah onkologi”. Pinta dokter kepadanya

Bagai petir di siang bolong, anaknya yang ikut mendampinginya tertegun hingga berlinang air mata, Ia menguatkan Bundanya dengan berkata, “Bunda, pasti Bunda baik-baik saja, kanker Bunda masih dini. Ayo kita langsung jumpai dokter bedah onkologi. Pandang kami Bunda, kami masih butuh Bunda. Bunda harus semangat menghadapi ini semua, percaya dan yakin bunda pasti baik-baik saja.”

Walaupun kaki rasanya seperti tidak menginjak bumi, hari itu Laksy pulang ke rumah menunggu praktek dokter bedah onkologi sore harinya. Sesampai di rumah, Laksy sholat Zuhur sambil menangis dan berdoa, “Ya Allah, terima kasih Engkau beri aku cobaan, aku yakin karena Engkau tahu aku kuat menerimanya, dan dengan Engkau beri aku cobaan, aku bisa lebih introspeksi diriku yang banyak dosa ini. Laa ila ha illa anta subhanaka inni kuntum minazzolimiin.”

Selesai sholat, Laksy segera menelpon suaminya yang saat itu berada di Tanjungbalai. Ia mengatakan bahwa dirinya mengidap kanker dan seketika itu pula suami tercinta menangis. Saat itu Laksy semakin percaya bahwa suaminya sangat sayang pada dirinya.

Sore harinya Laksy mengunjungi dokter bedah onkologi dengan membawa hasil mamografi dan USG, antrian pasien yang banyak yang dilihatnya membuat dirinya bergumam dalam hati, “Ternyata penderita kanker bukan saya saja.”  Dan setelah konsultasi, malam itu pun Laksy langsung di opname di rumah sakit sambil menunggu suami tiba di Medan.

Besoknya, Laksy melakukan full check up. Ia dikenalkan oleh dokter bedah onkologi pada dokter anestesi dan dokter patologi anatomi. Karena rencana didurante operasi langsung diperiksa jaringannya untuk mengetahui batas jaringan yang akan diambil sesuai dengan penyebarannya. Sambil menepuk bahu dirinya, dokter onkologi berkata, “ Sudah siapkah Diah? Besok kita mainkan, semangat dan tegar ya!” Kemudian Laksy menjawab, “Saya sudah siap dan pasrah. Terserah dokter, lakukan yang terbaik buat saya.”

Tanggal 15 Desember 2010, dengan mengucap bismillah Laksy masuk ruang operasi dengan diantar suami, anak-anak, serta para sahabat yang tak pernah berhenti memberikan suntikan semangat. Saat operasi, langsung dilakukan PA dan alhamdullilah belum ada penyebaran di kelenjar. Walaupun demikian, operasi dilakukan seaman mungkin dan tujuh kelenjar ketiak diambil. Operasi berlangsung agak lama karena ternyata dirinya juga mengidap kelainan pada proses pembekuan darah. “Lengkaplah penderitaan saya” ucapnya kala itu.

Seharusnya Laksy diijinkan boleh pulang setelah lima hari paska operasi, namun kelainan darah mengakibatkan dirinya harus tinggal dirumah sakit lebih lama. “Selain lama tinggal di rumah sakit, saya juga ditransfusi sepuluh kantong darah. Setelah itu, hasil jaringan yang telah diangkat diperiksa lagi untuk mengetahui apakah sel kanker tersebut lebih sensitif terhadap obat ataukah kemoterapi. Setelah mengetahui obat yang cocok dan kesiapan tubuh, saya menjalani enam kali kemoterapi yang dilakukan tiga minggu sekali” katanya menceritakan proses menjadi penghuni rumah sakit selamat tiga minggu.

Menurut Laksy, “Kemoterapi ternyata sangat menyakitkan”. Namun kehadiran dan cinta yang dicurahkan suami dan anak-anak memberikan suntikan semangat baru bagi dirinya untuk berjuang. Walaupun ia merasa diberi cobaan yang sangat berat, Laksy tetap ingat kata-kata ini: “Allah tidak akan memberika sesuatu tanpa ada hikmahnya,” dan kunci atas kekuatan yang Laksy miliki adalah selalu yakin pada kekuatan doa.

Bagi pejuang Kanker yang akan memasuki masa pensiunnya sebagai Pegawai Negeri Sipil tahun depan ini memiliki keinginan menjadi relawan YKPI untuk mengisi hari-hari pensiunnya. “Begitu saya dikenalkan dengan komunitas Pita Pink – YKPI saya makin berkeyakinan bahwa saya tidak sendiri, saya dikelilingi oleh orang-orang hebat di komunitas ini” ujarnya. Untuk menunjukan keseriusan untuk menjadi relawan YKPI di bulan Agustus 2016 ia pun berangkat ke Jakarta untuk mengikuti kegiatan Pelatihan Pendampingan Pasien Kanker Payudara angkatan ke-2 yang diselenggarakan YKPI.

Bahkan Laksy juga akan mengajak 2 orang Survivors dan 1 dokter Onkologi dari Medan untuk bersama dirinya hadir diacara Temu Penyintas Kanker Payudara Se-Indonesia yang diselenggarakan pada 1 Oktober 2016. “Mereka nanti akan mudah dikenali karena kami menggunakan kain ulos” tambahnya dengan penuh semangat.

“Kami ingin hadir di Jakarta untuk mengajak para penyintas kanker tidak berputus asa dan mereka tidak sendiri. Mereka bersama kami” Tutupnya mengakhiri wawancara jarak jauhnya dengan tim PR & Media YKPI.

————————————–

Kisah diatas sebagaimana ditulis langsung dan disampaikan dr. Diah Retno Wilaks Kusumaning Tyas kepada YKPI (Yayasan Kanker Payudara Indonesia) untuk menyambut bulan Kanker Payudara Dunia setiap bulan Oktober.

Dalam menyambut bulan Oktober bulan Kanker Payudara Dunia, YKPI akan menyelenggarakan  “TEMU PENYINTAS KANKER PAYUDARA SE-INDONESIA”di Hotel Mercure Ancol Jakarta, pada 1 Oktober 2016 pukul 09.00-12.00 WIB.

Read more...

Berdamai Dengan Kanker

Kanker adalah kata yang sangat menakutkan. Kebanyakan orang mengidentikkan kanker sama dengan menderita, sama dengan kematian. Kenyataan tidaklah demikian. Akhir tahun 2011, saya terdeteksi kanker payudara stadium 3B. Takut, kaget, sedih sudah pasti, belum lagi ketika harus menghadapi dokter untuk pemeriksaan ginjal. Saat itu dokter mengatakan jika saya mendapatkan kemoterapi, maka ada kemungkinan akan merusak fungsi ginjal dan saya harus menjalani hemodialisis (cuci darah) seminggu tiga kali. Ketakutan? Wajar saja, saat itu saya memutuskan tidak mau menjalani kemoterapi dan operasi.

Berawal dari kekhawatiran inilah saya mulai mencari pengobatan alternatif. Selama 2,5 tahun saya menjalani pengobatan alternatif, namun bukan sembuh yang saya dapat, melainkan kerusakan pada payudara saya. Pengalaman dengan pengobatan alternatif membuat saya menyadari bahwa kanker hanya bisa ditangani menggunakan terapi medis.

Tuhan buka jalan bagi saya

Termotivasi dengan pengalaman kakak ipar saya yang menjalani operasi pengangkatan rahim, saya bersedia menjalani terapi medis kembali. Dengan persetujuan suami dan anak-anak, saya berangkan ke Penang, Malaysia untuk menjalani terapi medis di sana. Ditemani kakak ipar dan tante (adik mama) Saya konsultasi dengan Dr. Cheong Yew Teik di Penang Adventis Hospital. Melihat kondisi payudara saya Dr. Cheong geleng-geleng kepala dan berkata “teruk” yang artinya kondisinya sudah buruk. Beliau mejelaskan bahwa saya harus menjalani operasi, dan karena area yang harus dioperasi cukup lebar, maka saya perlu mengambil kulit di bagian punggung untuk menambal area payudara yang akan dioperasi. Terlintas di benak saya operasi pada bagian payudara dan punggung yang harus saya jalani. Sungguh berat. Dr. Cheong kemuudian menjelaskan bahwa kanker payudara saya stadium 3 dan saya disarankan untuk menjalani kemoterapi sebanyak 8 kali. Setelah kemoterapi maka operasi (mastektomi) baru dapat dilakukan. Setelah operasi pun perawatan yang harus saya jalani juga belum selesai. Saya masih harus menjalani 25 kali radioterapi dan 17 kali kemoterapi lagi dengan obat Herceptin.

Wow… terlintas di pikiran saya, apakah harus sepanjang itu saya menjalani pengobatan untuk mempertahankan hidup? Dalam benak saya bertanya, sanggupkah saya menjalani semua ini? Saya disarankan untuk berkonsultasi dengan Dr. Ang Soo Fan, beliau seorang dokter bagian onkologi di Penang Adventist Hospital. Kali ini diagnosa Dr. Ang lebih seram lagi, beliau mengatakan saya stadium 4 dan tak bisa disembuhkan.

Kemudian saya berpikir apa gunanya saya menjalani rangkaian pengobatan ini apabila tidak bisa sembuh. Namun saya punya keyakinan dokter bukanlah Tuhan, masih ada Tuhan Yang Maha Penyembuh. Mendengar vonis Dr. Ang saya berbisik kepada kakak ipar dan tante yang menemani saya agar jangan menceritakan hal ini kepada suami dan anak-anak. Rupanya bisikan saya ini didengar oleh Dr. Ang. Beliau marah dan mengharuskan saya untuk memberi tahu seluruh keluarga, termasuk asisten rumah tangga di rumah. Hal ini diperlukan untuk mendukung proses penyembuhan.

Setelah berkonsultasi dengan dokter pada kunjungan pertama saya ke Penang itu saya langsung menjalani kemoterapi untuk pertama kalinya. Sebelumnya saya belum bisa membayangkan apa yang dimaksud dengan kemoterapi. Ternyata kemoterapi yang saya jalani hanya menggunakan infus dan berjalan dengan baik. Pada kemoterapi pertama ini ada pengalaman yang unik. Karena perawat melihat wajah saya yang ketakutan, perawat mempersilakan saya menjalani kemoterapi di atas tempat tidur, padahal sebenarnya tempat tidur ini diperuntukkan bagi pasien yang sudah dalam kondisi parah. Setelah itu saya juga dipanggilkan seorang pendoa agar saya tenang dan dikuatkan melalui doa.

Kemoterapi pertama sudah saya jalani kemudian kembali ke Jakarta, saya mengalami pendarahan di payudara. Terbersit di benak saya, tamatlah hidup saya. Atas inisiatif kakak ipar saya dilarikan ke RS Medistra, Jakarta. Melihat kondisi payudara saya, dr. Aru yang saat itu menangani saya menanyakan bagaimana cerita pengobatan saya. Kemudian saya ceritakan semua termasuk pengalaman saya menjalani pengobatan alternatif. Mendengar cerita saya dr. Aru bertanya “Kapan Ibu bertobat?” Saya menjawab, “Mulai hari ini saya bertobat dan kembali ke terapi medis”

Saya menjalani rangkain kemoterapi di Penang dengan bolak-balik ke Jakarta-Penang. Sampai pada kemoterapi kedelapan. Dr. Cheong yang baik hati berkunjung ke ruang kemoterapi dan bertanya, “Saya mendengar Ibu telah menjalani delapan kali kemoterapi dan tidak mengalami muntah dan lainnya ya? Bagus!”. Saya kemudian mengatakan kepada Dr. Cheong jika saya berharap agar dengan kondisi yang semakin baik ini saya tidak perlu menjalani operasi. Dr. Cheong menjelaskan bahwa apabila hasil observasi setelah kemoterapi benjolan yang ada di payudara saya lembut maka bisa saja tidak perlu dilakukan operasi. Namun hasilnya ternyata ada benjolan berukuran kecil yang keras di payudara. Saya pun tetap harus menjalani operasi. Mendengar kata ‘operasi’ saya terus terang sangat takut. Dr. Cheong kemudian bertanya. “Kenapa Takut?”. Saya jawab “Saya takut mati.”. Dr. Cheong berusaha menenangkan saya dan berdasarkan pengalamannya selama ini belum ada pasiennya yang meninggal karena operasi payudara.

Jadwal operasi bulan Januari 2015 saya kembali ke Penang dengan seluruh anggota keluarga, suami, dan tiga anak saya beserta dengan kakak ipar bersama suaminya dan tante saya yang selalu setia medampingi saya selama menjalani kemoterapi. Kebetulan saat itu, Martin anak pertama saya sedang kembali ke Indonesia, ketika itu Martin menetap di Den Haag, Belanda. Maka kesempatan ini saya manfaatkan juga untuk berkumpul dengan keluarga. Sama dengan kunjungan sebelumnya, saya masih belum bersedia untuk dioperasi. Dr. Cheong mengizinkan saya untuk pulang dan berpikir kembali.

Atas dukungan suami dan ketiga anak saya yang sudah secara langsung mendengarkan penjelasan Dr. Cheong pada kunjungan sebelumnya. Saya akhirnya memberanikan diri berangkat ke Penang ditemani adik, kakak ipar dan tante yang bersama anak bungsu saya untuk menjalani operasi.

Puji Tuhan, operasi berjalan lancar dan saya tidak merasakan apa-apa. Begitu membuka mata, mastektomi yang saya jalani sudah selesai. Malam hari setelah dioperasi, Dr. Cheong berkunjung ke kamar perawatan dan meminta saya untuk mengangkat tangan kanan. Saya pun sudah bisa mengangkat tangan kanan saya. Dr. Cheong mengatakan bahwa ini sangat baik. Beliau sebelumnya mengkawatirkan akan ada infeksi karena saat akan operasi HbAlc (gula darah) saya 17 dan delapan titik getah bening saya juga diangkat karena positif mengidap kanker. Setelah diperbolehkan pulang dari rumah sakit, saya berjalan kaki ke gereja Katolik terdekat dengan kantong darah untuk menampung darah sisa operasi masih terpasang di badan saya. Sekali lagi saya memohon kekuatan kepada Sang Pencipta.

Perjalanan selanjutnya adalah saya harus menjalani radioterapi sebanyak 25 kali. Saya memutuskan untuk menjalani radioterapi di rumah sakit yang ada di Jakarta. Saya kemudian menggunakan Jaminan Kesehatan Nasional yang diselenggarakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Kesehatan (BPJS Kesehatan) mengingat biaya yang sudah saya keluarkan sudah sangat besar dan proses pengobatan saya masih panjang.

Cerita kebanyakan orang bahwa dengan menggunakan fasilitas yang disediakan BPJS Kesehatan kita harus menunggu selama berbulan-bulan tidak saya alami. Puji Tuhan, saya hanya menunggu selama dua minggu dan mendapatkan panggilan dari MRCCC Siloam Hospital untuk menjalani radioterapi. Dokter yang menangani radioterapi saya adalah dr. Fielda, yang kemudian memutuskan bahwa radioterapi yang harus saya jalani adalah sebanyak 30 kali. Bersamaan dengan radioterapi saya masih harus menjalani kemoterapi dengan Herceptin sebanyak 17 kali selama satu tahun sesuai dengan anjuran Dr. Ang dari Penang. Sebagai informasi Herceptin ditanggung oleh BPJS Kesehatan sebanyak 8 ampul. Harga 1 ampul Rp 22.400.000 dengan ukuran 440 cc. Herceptin ini diberikan berdasarkan berat badan, untuk saya memerlukan 350 cc untuk sekali infus. Dengan kemasan 440 cc maka setiap kali pengobatan ada sisa yang dapat saya gunakan untuk pengobatan selanjutnya. Saya sempat membayar sendiri sebanyak 3 kali karena jumlah yang ditanggung oleh BPJS Kesehatan dibatasi.  Perlu saya sampaikan di sini, bahwa penggunaan obat Herceptin yang ditanggung oleh BPJS Kesehatan harus memenuhi syarat pasien dengan kondisi IHK -HER 2 (+) yang dibuktikan dengan hasil patologi dan mengalami penyebaran (metastasis). Puji Tuhan, tidak ada efek samping yang saya rasakan selama menjalani kombinasi pengobatan radioterapi dan kemoterapi Herceptin ini. Namun setelah memasuki siklus kemoterapi Herceptin yang ke 13, muncul nodul (benjolan kecil) di bekas jahitan. Pada saat siklus ke 14 sudah disiapkan, saya pamit kepada dokter di Jakarta untuk kembali berangkat ke Penang.

Tepat pada satu tahun setelah operasi pertama yaitu pada Februari 2016, saya kembali menjalani operasi ke-2 untuk mengangkat 3 nodul kecil yang ada pada saya. Nodul yang diangkap ini juga diambil untuk dilakukan penelitian patologi untuk kemudian menentukan status IHK-HER2 saya. Pada operasi pertama hasil patologi saya dengan HER2 (+) adalah dengan ER (-), PR (-) Cerb B2 (+). Sementara pada operasi kedua hasil patologi HER2 (+) dengan ER (+), PR (-), Cerb B2 (+). Hasil ini oleh Dr. Dismas Chaspuri yang menangani saya selama berobat di MRCCC Siloam Hosptal dianggap satu tingkat lebih baik dari sebelumnya. Kemudian saya diberi obat “Letrozole” untuk diminum setiap hari selama 2 tahun hingga saat ini.

Setelah operasi kedua, hasil CT Scan pada tulang dada saya ada penyebaran sel kanker dan dokter meminta saya untuk melakukan radioterapi selama 17 hari di Penang. Saya tinggal di Penang selama 17 hari ditemani oleh suami. Radioterapi yang saya terima sebanyak 10 kali.

Saat ini saya masih menjalani pengobatan untuk mencegah terjadinya pertumbuhan sel kanker kembali. Saya dirujuk pada dr. Andhika Rachman onkologi di MRCCC Siloam Hospital. Beliau kemudian menganjurkan saya untuk mengikuti uji klinis Herceptin Emtansine sebuah obat formulasi baru daripada Herceptin yang sudah pernah saya gunakan sebelumnya. Uji klinis ini memungkin saya mendapatkan obat tanpa perlu membayar dan semua biaya ditanggung oleh penyelenggara uji klinis yaitu perusahaan farmasi Roche. Saat ini saya sedang menunggu jadwal konsultasi dr. Andhika Rachman untuk menjalani tes elektrokardiogram (EKG) sebab salah satu syarat seleksi awal membaca hasil EKG dan hasil lab sebagai syarat untuk mengikuti uji klinis ini.

Puji Tuhan lagi, beberapa bulan lalu melalui kebaikan hati Ibu Ati Windratmo saya diundang dr. Shanti Gultom masuk dalam Komunitas Pita Pink pimpinan Ibu Linda Gumelar. Komunitas ini sangat bermanfaat bagi saya karena dapat berbagi pengalaman dengan sesama pejuang kanker. Saya berkesempatan diundang dalam diskusi panel “Implementasi JKN dalam Penjaminan Pelayanan Kepada Pasien Kanker Anak & Kanker Payudara”.

Dalam kesempatan ini saya berterima kasih kepada keluarga, YKPI dan handai taulan yang selalu mendukung saya dalam doa.

Tak dapat dipungkiri “Kuasa doa” sungguh luar biasa.

Berdoa, semangat menjalani pengobatan medis, kita pasti sembuh.

—————-

Kisah diatas sebagaimana ditulis langsung dan disampaikan Maria Cecilia kepada YKPI (Yayasan Kanker Payudara Indonesia) untuk menyambut bulan Kanker Payudara Dunia setiap bulan Oktober.

Dalam menyambut bulan Oktober bulan Kanker Payudara Dunia, YKPI akan menyelenggarakan  “TEMU PENYINTAS KANKER PAYUDARA SE-INDONESIA”di Hotel Mercure Ancol Jakarta, pada 1 Oktober 2016 pukul 09.00-12.00 WIB.

Read more...

Kanker: Awal dari Kehidupan yang Lebih Bermakna

Sebagai individu, kita seringkali dihadapkan pada pahit manisnya kehidupan. Layaknya roda yang berputar pada porosnya, kehidupan juga memiliki porosnya sendiri yang membawa kita ke titik puncak maupun titik terendah.

Lisamerie Parantean mungkin beranggapan bulan Oktober 2014 adalah salah satu titik terendah dalam hidupnya. Setelah melakukan biopsi, ia didiagnosa kanker payudara dengan stadium 0, saat itu dokter onkologi sudah mengajurkan untuk operasi pengangkatan tumor ganas tersebut. Satu hari menjelang operasi, Lisa memutuskan untuk tidak datang ke RS dan menolak untuk di operasi karena ia belum bisa menerima kenyataan dan memutuskan untuk berobat secara alternatif. Enam bulan berlalu, di bulan April 2015 Lisa memutuskan untuk kembali berobat secara medis, sesuai janji yang ia pegang kepada dirinya dan keluarganya yaitu jika dalam 6 bulan keadaannya tidak membaik maka ia akan kembali kontrol ke dokter. Kali ini dokter menegaskan bahwa kanker payudaranya sudah mencapai stadium 3B. Lisa merasa dunia hampir berhenti untuknya. Beberapa dokter di beberapa kota di Indonesia maupun di luar negeri ia temui untuk mencari opini tambahan sambil berharap bahwa diagnosa akan berubah menjadi lebih baik. Semua dokter berpendapat sama, Lisa tidak bisa menunda lagi, ia secepatnya harus ditangani.

Perlahan tapi pasti Lisa akhirnya berkomitmen untuk menjalani semua proses pengobatan secara medis, yaitu dimulai dengan 3x kemoterapi neoadjuvant (sebelum operasi), operasi pengangkatan tumor, dilanjutkan dengan 6x kemoterapi lanjutan dan diakhiri dengan radiasi sebanyak 27x.  Dalam proses menjalani pengobatan inilah Lisa menemukan pandangan dan misi baru atas tantangan hidup yang menimpanya saat itu.

“Saya bukan saja merasa lebih dikuatkan tapi saya memilki pandangan-pandangan baru tentang hidup yaitu menjadi lebih mensyukuri dan menghargai kehidupan. Saya juga ingin mengisi kehidupan ini dengan hal-hal yang berguna, bukan saja untuk diri sendiri tapi untuk banyak orang,” kata wanita yang kini memasuki usia 38 tahun.

Ungkapan Lisa tersebut diutarakannya paska bergabung dengan YKPI (Yayasan Kanker Payudara Indonesia) sejak Agustus 2015 silam. Ia merasa senang karena banyak memiliki teman-teman baru seperjuangan yang tentunya sangat memahami apa yang sedang dialaminya. Oleh karena itu, wanita yang bekerja sebagai Freelancer Journalist ini tidak merasa berjalan sendiri dalam menghadapi kanker payudaranya.

Ada pepatah yang mengatakan ‘everything happens for a reason.’ Hal yang menimpa Lisa ini tentunya terjadi untuk sebuah alasan. Ia mengungkapkan bahwa banyak hal baik dan berguna yang dulu ia ingin lakukan tetapi selalu ditunda, sekarang tidak lagi. Dia tidak pernah lagi menunda, karena setiap detik begitu berharga dan penuh dengan kesempatan untuk berbuat hal yang berguna. “Seperti kata Benjamin Franklin ‘you may delay but time will not,” ujarnya.

Bergabung dengan komunitas Pita Pink yang merupakan bagian dari YKPI ini menjadi salah satu hal baik yang tidak ingin ditundanya yang akhirnya menjadi salah satu titik balik kehidupannya untuk menjadi lebih positif dan termotivasi. Lisa mengungkapkan kesan mendalam setelah bergabung dengan komunitas yang peduli terhadap penderita Breast Cancer (BC) ini. Tidak tanggung-tanggung, ia pun menjadi peserta dalam workshop ‘Pelatihan Relawan Pendamping Pasien Kanker Payudara Bersertifikat Internasional’. “Sangat mengesankan dan berguna sebagai bekal untuk memiliki pengetahuan yang cukup mengenai do’s and dont’s bagi pasien BC dan juga tentunya untuk melatih diri menjadi relawan pendamping pasien kanker payudara yang kompeten.”

Menghadapi breast cancer bukan menjadi alasan untuk tidak berbagi dan menutup diri, ini telah dibuktikan Lisa bersama survivors lainnya yang tergabung dalam komunitas Pita Pink-YKPI. Banyak hal positif yang bisa diambil serta pelajaran berharga yang dapat dibagikan. Salah satunya adalah kanker bukanlah akhir dari kehidupan, melainkan awal dari kehidupan yang lebih bermakna! Lakukan apa yang bisa kamu lakukan SEKARANG! You may delay but time will not!

—————-

Kisah diatas sebagaimana disampaikan Lisamerie Parantean kepada tim Public Relation & Media YKPI untuk menyambut bulan Kanker Payudara Dunia setiap bulan Oktober.

Dalam menyambut bulan Oktober bulan Kanker Payudara Dunia, YKPI (Yayasan Kanker Payudara Indonesia) akan menyelenggarakan  “TEMU PENYINTAS KANKER PAYUDARA SE-INDONESIA” di Hotel Mercure Ancol Jakarta, pada 1 Oktober 2016 pukul 09.00-12.00 WIB.

Read more...

“Keluargaku adalah Kekuatanku”

Aku Cynthia, wanita berusia 51 tahun yang tidak memiliki kelebihan apapun. Tetapi, Aku memiliki  suami, anak-anak dan keluarga besar di dalam hidupku yang membuat aku tahu bahwa aku memiliki kelebihan yang sangat besar. Ya, keluargaku adalah kekuatan dan segalanya bagiku yang menjadi kelebihan dalam diriku.

Aku wanita biasa, wanita normal layaknya wanita lainnya yang ada di muka bumi, hingga pada suatu waktu di pertengahan tahun 2013 aku sadar bahwa aku berbeda. Aku tidak sama seperti mereka! Aku sakit! Aku merasakan adanya benjolan di payudaraku. Aku sadar ini bukan pertanda baik untuk diriku.

Awalnya aku mencoba meyakinkan diriku bahwa ini hanyalah benjolan biasa dan tidak akan membahayakan diriku, hingga setelah lima bulan lamanya aku merasakan benjolan ini semakin membesar, dan ini membuat aku takut, “Tuhan apa ini yang tumbuh dalam payudaraku,” ujarku dalam hati. Pada akhirnya aku memberanikan diri untuk datang ke dokter untuk memeriksakan apa yang terjadi. Seperti dipukul bongkahan kayu! Mendengar dokter mengatakan bahwa aku mengidap kanker payudara stadium 2B. Aku benar-benar sakit! Apa yang harus aku lakukan?!

Aku tidak percaya dengan apa yang aku alami…

Aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan dokter kepada diriku…
Aku tidak percaya dengan semua diagnosis itu…
Hanya sedih yang kurasakan, hanya tangis yang bisa aku lakukan…
Aku takut! Ya, aku sangat takut! Kenapa ini harus terjadi kepadaku?!…
Seperti luka yang menganga yang di tetesi perasan jeruk, pedih, ya itu yang aku rasakan kala itu…

Akan tetapi aku disadarkan oleh suami, anak-anak dan keluarga besarku. Ya aku memiliki kelebihan dalam hidupku, dan mereka adalah kelebihan yang kumiliki. Aku tahu aku menjalani semua ini tidak sendiri. Mereka sangat sabar menghadapi dan mendampingi diriku dalam keadaan kondisi tidak stabil. Dan aku juga tahu mereka tidak akan meninggalkanku.

Pada awalnya aku merasa sendiri yang mengidap penyakit ini. Hanya aku dan diriku yang harus merasakan sakit ini, tetapi aku salah, aku bertemu dengan teman-teman yang sama seperti diriku. Teman teman yang memiliki semangat walaupun mereka tau ada penyakit berbahaya  yang singgah di tubuh mereka.

Teman teman pengidap kanker Payudara sangat menolong diriku, menolong dalam mengendalikan emosi untuk bisa lecapture01-1bih tenang dan juga mengajarkan aku untuk selalu percaya diri. Yang aku tahu, rasa percaya diriku sudah hancur dikala dokter mendiagnosis penyakitku. Dan juga, merekalah yang membimbingku dalam mengambil keputusan cara apa yang akan aku tempuh nantinya.

Aku sadar betul harus melawan penyakit ini, harus mengobati penyakit  ini. Pada akhirnya dengan bimbingan teman-teman penderita kanker payudara, serta mempertimbangkan kekurang dan kelebihan metode pengobatan, aku mantap untuk mengambil rangkaian pengobatan medis. Aku menjalani kemoterapi, operasi pengangkatan kanker dan radiasi. Karena aku tahu bahwa medis lebih terjamin keberhasilannya dan begitulah kenyataannya.

Bulan Oktober menjadi bulan berarti bagi aku, ya, bulan ini adalah bulan Kanker Payudara Dunia, dimana aku kini menjadi bagian didalamnya, dimana kini teman dan keluargaku bertambah dalam naungan YKPI. Menurut aku kehadiran Yayasan Kanker Payudara Indonesia sangat membantu para penderita kanker Payudara. Selamat Ulang tahun bulan Kanker Payudara Dunia.

?Happiness is the best way to survive Cancer.

?Saling Jaga Saling Peduli

Cynthia SM Ponto
(51 tahun)

———-
Kisah diatas sebagaimana disampaikan Cynthia SM Ponto kepada tim Public Relation & Media YKPI untuk menyambut bulan Kanker Payudara Dunia setiap bulan Oktober.

Dalam menyambut bulan Oktober bulan Kanker Payudara Dunia, YKPI (Yayasan Kanker Payudara Indonesia) akan menyelenggarakan  “TEMU PENYINTAS KANKER PAYUDARA SE-INDONESIA” di Hotel Mercure Ancol Jakarta, pada 1 Oktober 2016 pukul 09.00-12.00 WIB.

Read more...