Author - admin

Tak Hanya Wanita, Pria Juga Miliki Risiko Terkena Kanker Payudara

Pontianak – Pemerintah Kota (Pemkot) Singkawang menggelar sosialisasi deteksi dini kanker payudara di Kantor Wali Kota, Jalan Firdaus, Selasa (7/8/2018).

Kegiatan sosialisasi dilakukan bekerjasama dengan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) dan menghadirkan Dr Agus Sutarman Sp.B(K)Onk sebagai pembicara.

Dr Agus Sutarman Sp.B(K)Onk mengatakan, pria memiliki risiko terkena kanker payudara.

“Cuman sedikit dibandingkan perempuan, 1 banding 100,” tuturnya.

Hal ini karena perempuan memiliki kelenjar payudara yang lebih banyak dibandingkan perempuan. Sementara laki-laki tidak terlalu banyak.

Penderita kanker payudara di Indonesia lebih banyak ketimbang jenis kanker yang lain. Bahkan di dunia juga sama.

Deteksi dini sangat penting dilakukan karena dengan diagnosa dini, bisa mengetahui sejak awal.

Bila mengetahui sejak awal, kemungkinan sembuh lebih besar dibandingkan mengetahui pada stadium lanjut, kemungkinan sembuhnya lebih kecil.

“Kanker payudara bisa disembuhkan kalau diketahui sejak dini,” ungkapnya.

Read more...

Waspadai Kanker Payudara Sejak Dini, Inilah Ciri-ciri Gejalanya

Pontianak – Pemerintah Kota (Pemkot) Singkawang menggelar sosialisasi deteksi dini kanker payudara di Kantor Wali Kota, Jalan Firdaus, Selasa (7/8/2018).

Kegiatan sosialisasi dilakukan bekerjasama dengan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) dan menghadirkan dr Agus Sutarman Sp.B(K)Onk sebagai pembicara.

Dr Agus Sutarman Sp.B(K)Onk mengatakan, ada beberapa ciri adanya kanker payudara.

Pertama terdapat benjolan yang tidak disertai dengan nyeri. Benjolan itu tumbuh dengan cepat.

“Atau perubahan seperti kulit jeruk, atau timbul luka di permukaan payudara, itu yang paling sering,” katanya.

Bila menemukan ciri-ciri tersebut, segera datang ke dokter atau fasilitas kesehatan yang ada untuk ditindaklanjuti pemeriksaan medis.

Kanker payudara itu bisa menyebar ke paru-paru dan menyebabkan sesak. Bisa juga ke tulang yang menyebabkan tulang patah.

“Bila tulang belakang yang kena, akibatnya bisa lumpuh. Kalau livernya kena, fungsinya bisa terganggu,” tuturnya.

Read more...

Tjhai Chui Mie Ajak Warga Deteksi Dini Kanker Payudara

Pontianak – Pemerintah Kota (Pemkot) Singkawang menggelar sosialisasi deteksi dini kanker payudara di Kantor Wali Kota, Jalan Firdaus, Selasa (7/8/2018).

Kegiatan sosialisasi dilakukan bekerjasama dengan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) dan menghadirkan Dr Agus Sutarman Sp.B(K)Onk sebagai pembicara.

Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie mengatakan, penyakit kanker harus benar-benar cepat di deteksi agar dapat sedini mungkin di cegah.

Apabila kanker telah menyerang, makan bisa dipastikan akan mempengaruhi umur harapan hidup dalam suatu wilayah.

“Yang berimbas pada derajat kesehatan masyarakat berada pada zona merah,” katanya.

Ia mengajak semua warga yang hadir mengetahui apa itu kanker payudara dan cara deteksi kanker payudara itu sendiri.

Kemudian bagaimana cara menghadapi apabila kanker payudara itu telah menjadi satu di antara masalah gangguan kesehatan.

“Baik pada diri kita, keluarga, maupun lingkungan kita,” ungkapnya.

Read more...

Biaya Kanker Payudara Mahal, Pasien Disarakankan Gabung BPJS

Jakarta – Kanker payudara merupakan salah satu penyakit dengan biaya menguras kantong. Betapa tidak, untuk melakukan satu kali mammografi saja, butuh biaya rata-rata Rp600.000-800.000. Itu belum termasuk biaya operasi dan obat-obatan lainnya.

Karena itu, untuk menekan pengeluaran tersebut, Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar menyarankan pasien bergabung Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Paling tidak, kata Linda, BPJS membuat harapan hidup para penyintas kanker payudara tetap terjaga, kendati untuk obat-obatan tertentu tidak tertutupi oleh BPJS Kesehatan. Juga, bagi mereka yang tidak sakit, berpeluang ikut membantu pasien kanker payudara yang membutuhkan.

“Masalah biaya itu relatif karena sekarang kan sudah dicover oleh BPJS, walau beberapa juga tidak (dicover),” terang Linda di sela-sela nonton bareng (nobar) ‘Si Doel The Movie’ di XXI Plaza Senayan Jakarta, bersama Yayasan LIONS Club Jakarta Cosmopolitan, pada Sabtu (4/8).

Penggunaan BPJS untuk pengobatan kanker payudara merupakan upaya Linda mendorong para penderita supaya menempuh jalur medis, ketimbang memanfaatkan cara alternatif alias obat-obatan herbal.

Sebagaimana pengalamannya melawan kanker payudara beberapa tahun silam, Linda menilai pengobatan medis sudah terbukti sebagai metode penyembuhan.

“Saya menyarankan sesuai pengalaman saya dan teman lain. Kita harus menempuh cara medis, karena itu sudah teruji secara klinis. Artinya secara internasional sudah diakui, dan para dokter di Indonesia sudah ahli,” tandasnya.

Read more...

Obat Herbal untuk Kanker Payudara Tak Teruji Klinis

Jakarta – Penggunaan obat herbal untuk pengobatan kanker payudara masih berisiko. Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar mengatakan, obat herbal belum teruji secara klinis untuk menyembuhkan penyakit mematikan nomor dua di dunia tersebut.

“Seharusnya memang menempuh cara medis, karena sudah teruji secara klinis. Artinya secara internasional sudah diakui,” ujar Linda di sela-sela nonton bareng (nobar) ‘Si Doel The Movie’ di XXI Plaza Senayan Jakarta, bersama Yayasan LIONS Club Jakarta Cosmopolitan, pada Sabtu (4/8).

“Obat herbal belum teruji klinis dapat menyembuhkan kanker,” tambahnya.

Linda tak melarang penggunaan obat herbal. Namun, menurutnya sejauh ini obat herbal digunakan hanya untuk menjaga daya tahan tubuh, bukan pengobatan.

“Mungkin itu (obat herbal, Red) untuk menjaga daya tahan tubuh,” lanjut Linda.

Jika pasien tetap menginginkan penggunaan obat herbal, Linda menyarankan agar berkonsultasi kepada dokter terlebih dahulu. Karena obat herbal hanya untuk meningkatkan daya tahan tubuh, maka pengobatan kanker payudara perlu mendapatkan perawatan khusus.

“Harus konsultasi dengan dokter supaya sejalan dengan obat-obatan yang disarankan dokter. Jadi, hanya meningkatkan daya tahan tubuh tidak mengobati penyakit,” jelasnya.

Read more...

YKPI-LIONS Gelar Nobar “Si Doel” untuk Penderita Kanker Payudara

Jakarta – Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) bersama Yayasan LIONS Club Jakarta Cosmopolitan menggelar nonton bareng (nobar) gratis film ‘Si Doel The Movie’, untuk para survivor dan warrior kanker payudara (breast cancer), di XXI Plaza Senayan Jakarta pada Sabtu (4/8) siang.

Ketua YKPI Linda Agum Gumelar mengatakan, acara yang terselenggara berkat dukungan Yayasan LIONS tersebut, menjadi motivasi tersendiri bagi para penderita kanker payudara, yang sedang maupun telah menjalani pengobatan.

“Kami teman-teman YKPI menyampaikan terima kasih kepada LIONS, karena memberikan perhatian kepada para penyintas kanker payudara. Dan kami harap para survivor bisa memanfaatkan suasana gembira ini, dan kembali ke rumah nanti dengan perasaan senang untuk kembali menjalani pengobatan,” kata Linda Agum Gumelar.

Selain nobar, kegiatan tersebut juga diisi dengan penyerahan donasi dari LIONS kepada YKPI. Linda berharap, bantuan tersebut dapat bermanfaat bagi YKPI dalam menjalankan program-program untuk penyintas kanker payudara.

“Dari pertemuan ini, kami harap LIONS akan lebih sering lagi membantu kami tidak hanya dari sisi finansial, namun juga terus memberikan dukungan dan motivasi,” pinta Linda.

Sementara Presiden LIONS Club Jakarta Cosmopolitan Lany S. menuturkan, donasi yang digalang melalui fundrising tersebut merupakan wujud berbagi kasih kepada para penyintas kanker. Film ‘Si Doel The Movie’ dipilih sebagai dukungan atas film nasional.

“Jadi kami mengundang para donatur untuk berpartisipasi dengan membeli tiket di atas harga normal, selisihnya kami sumbangkan kepada YKPI,” jelas Lany.

Selain dari LIONS, penyerahan donasi kejutan juga diberikan oleh Rano Karno, yang diserahkan istrinya, Dewi Indriati yang hadir dalam acara tersebut.

Read more...

Hati-hati, Kanker Payudara Bisa Karena Faktor Keturunan

Jakarta – Ada banyak hal yang dapat menimbulkan risiko terkena kanker payudara. Di antaranya pola hidup tak sehat, jarang berolahraga, hingga konsumsi makanan berlemak.

Dokter Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD) dr. Zora Revina mengatakan faktor keturunan juga bisa menjadi salah satu pemicu risiko kanker payudra. Karena itu, bagi keluarga yang memiliki riwayat terkena penyakit ini, harus memeriksakan diri sebelum terlambat.

“Kalau ibunya menderita kanker payudara, maka anaknya yang perempuan bisa jadi ada risiko terkena kanker payudara. Untuk memastikan hal itu, nanti ada screening-nya untuk menghitung presentase si anak terkena kanker,” ujar dr. Zora kepada Jurnas.com akhir pekan lalu, dalam kegiatan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), pemeriksaan mamografi gratis di Puskesmas Kebon Jeruk, Jakarta Barat.

Meski faktor keturunan bisa memicu risiko kanker payudara, dr.Zora menggarisbawahi tidak ada yang bisa memastikan seseorang akan terkena kanker payudara.

Hal yang bisa dilakukan oleh masyarakat untuk mengetahui mereka terkena kanker payudara atau tidak, yakni dengan melakukan Periksa Payudara Sendiri (Sadari) atau Periksa Payudara secara Klinis (Sadanis), agar selanjutnya bisa dilakukan upaya pengobatan dini.

Dr. Zora menjelaskan perbedaan antara Sadari dan Sadanis. Sadari merupakan teknik memeriksa payudara sendiri, sementara Sadanis adalah pemeriksaan payudara dengan bantuan tenaga medis. Kedua-duanya dilakukan secara manual, yakni meraba, namun akurasinya berbeda.

“Orang awam baru mengetahui benjolan setelah dua sentimeter atau lebih, tapi petugas medis (Sadanis), akurasinya lebih tinggi. Satu senti pun sudah bisa diraba,” terang dr. Zora.

Besarnya benjolan dalam pemeriksaan kanker payudara, menurut dr. Zora, sangat berarti dalam penentuan stadium, dan pengobatan selanjutnya. Prinsipnya, semakin cepat diketahui, semakin besar pula kesempatan bertahan hidup.

“Satu senti dan dua senti dalam pengobatan kanker itu sangat berarti, karena akan menentukan stadium. Satu senti orang akan mengatakan, di bawah stadium 2B. Tapi dua senti, orang bisa terkena di 3A atau 3B,” paparnya.

Read more...

YKPI: Banyak Stigma Kanker Payudara sama dengan Mati

Jakarta – Stigma masyarakat terhadap kanker payudara masih memprihatinkan. Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar mengatakan, ada anggapan harapan hidup penderita kanker payudara sangat tipis, sehingga penyakit tersebut diidentikkan dengan kematian.

“Banyak stima kanker (payudara) sama dengan mati. Atau jangan pakai pisau, kalau sudah kena pisau nanti cepat menyebar,” kata Linda saat menghadiri ‘Forum Komunikasi: Environment and Social Responsibility‘ yang digelar PT Astra Internation Tbk, di William Soeryadjaya Hall kantor Astra Pusat di Sunter, Jakarta Utara pada Rabu (18/7).

Salah kaprahnya pemahaman tersebut, lanjut Linda, ditambah pula dengan minimnya dukungan dari keluarga. Menurut pengalamannya, ada beberapa penderita kanker payudara yang tak lagi mendapatkan pengobatan, karena dianggap menderita penyakit kutukan.

“Ada yang bilang istrinya sakit karena diguna-guna. Jadi daripada uang buat pengobatan kanker, mending buat hidup,” tutur Linda.

Tak hanya itu, Linda juga kerap menemui penderita kanker payudara yang tak langsung memeriksakan benjolan di payudara ke dokter. Sebaliknya, malah melakukan pengobatan alternatif dan mengonsumsi obat-obatan herbal.

“Baru setelah hancur, bau, dan herbal tidak mendukung lagi, dia pergi ke dokter, lalu kesannya dokter Indonesia kurang pintar, karena pada umumnya meninggal. Padahal itu karena keterlambatan. Sudah di stadium lanjut,” tegasnya.

Linda menambahkan, dukungan dari pihak swasta terhadap kanker payudara belum optimal. Karena itu, dia berterima kasih karena PT Astra International Tbk masih memberikan perhatian untuk program-program pengerak kanker payudara.

Dalam acara tersebut, Linda beserta Dewan Pembina Tati Hendropiyono, secara simbolis menerima bantuan CSR Mobil Innova dari PT Astra International. Replika kunci mobil diserahkan langsung oleh Head of Corporate Communication, Boy Kelana Subroto.

“Kendaraan ini akan kami gunakan untuk nendukung kegiatan operasional YKPI yang volume kegiatannya cukup tinggi, salah satunya program Unit Mobil Mamografi YKPI yang perlu kendaraan untuk keperluan transportasi  tenaga medis dan tim,” kata Linda.

“Bantuan juga akan digunakan untuk keperluan pendukung kegiatan Rumah Singgah YKPI,” imbuhnya.

Read more...

Kanker Payudara Bisa Dideteksi Sejak Dini, Begini Caranya

Jakarta – Kanker payudara dapat menyerang siapa saja, termasuk perempuan muda. Karena itu, pemeriksaan sejak dini berguna untuk memperpanjang harapan hidup pasien.

Beberapa cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi kanker ialah periksa payudara sendiri (SADARI). SADARI dilakukan dengan peralatan medis, di antaranya alat mamografi, ultrasonografi, dan MRI (Magnetic Resonance Imaging).

Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar menjelaskan, YKPI rutin melakukan mamografi gratis sejak 2005 silam. Semenjak beroperasi, bus mamografi yang bekerja sama dengan Rumah Sakit Dharmais dapat ditemui setiap minggu di puskesmas-puskesmas yang ada di seluruh Jakarta.

Linda berharap masyarakat Indonesia semakin sadar untuk melakukan deteksi dini kanker payudara. Sebab, 70 persen orang yang melakukan deteksi dini ternyata sudah menderita kanker payudara stadium lanjut.

“Bahkan WHO memperkirakan akan terjadi ledakan kanker payudara di negara berkembang di tahun 2030,” tuturnya.

Data YKPI 2016 menemukan, dari 2.515 perempuan yang memeriksakan payudara mereka lewat mamografi, 1,2 persen di antaranya dicurigai tumor ganas, dan 14,8 persen lainnya terdeteksi tumor jinak. Sedangkan hingga Desember 2017, dari 3.160 pasien yang diperiksa, 1,4 persen di antaranya dicurigai tumor ganas.

“Meskipun hanya 1,4 persen, secara statistik mungkin tidak signifikan. Akan tetapi sekecil apapun mereka, tetaplah manusia. Satu nyawa yang bisa diselamatkan sangat berarti. Jadi, bagi YKPI ini murni pekerjaan sosial untuk menolong perempuan Indonesia,” terangnya.

Dalam kesempatan berbeda, dokter sekaligus penyintas kanker, dr. Inez Nimpuno menekankan pentingnya penyediaan layanan kesehatan, untuk mengenali karakteristik perempuan ketika terkena kanker payudara sejak awal.

Alasannya, ketika perempuan menderita kanker, maka ada dampak langsung yang dirasakan oleh keluarga. Berbeda halnya ketika sakit yang sama diderita oleh laki-laki.

“Contoh, kalau seorang ibu sakit, maka dampak langsungnya juga pada anggota keluarga, anak dan suami akan terpengaruh karena perempuan lah yg mengurus anak dan suaminya.  Tetapi kalau laki-laki (suami, Red) yang sakit, maka tidak ada dampak langsung pada anak, karena masih ada perempuan yang ada mengurus anak dan rumah tangga,” terangnya.

Selain itu, kanker payudara menurut Inez juga dinilai melibatkan persoalan identitas diri perempuan. Karena kanker tersebut menyerang organ yang dianggap mendefinisikan apakah seseorang itu perempuan atau bukan.

“Segala usaha untuk mengedukasi masyarakat tentang kesetaraan gender sangat penting, dan makin penting jika dilihat dari sudut pandang perempuan sebagai pasien kanker  Penyediaan layanan kesehatan harus ditaruh  dalam kerangka ini. Kesimpulannya, kanker payudara adalah persoalan gender,” tegasnya.

Read more...

YKPI Ajak Masyarakat Periksa Payudara Sejak Dini

Semarang – Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar mengajak masyarakat melakukan deteksi dini kanker payudara. Sebab kanker payudara tidak mengenal usia maupun jenis kelamin.

“Bahkan laki-laki juga bisa kena (kanker payudara, Red). Selama memiliki payudara maka berpotensi mengidap kanker jenis ini,” ujar Linda saat berbicara dalam seminar ‘Deteksi Dini Kanker Payudara’ di Semarang, Rabu (7/2).
Kegiatan tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Kanker Sedunia (World Cancer Day) yang jatuh pada 4 Februari 2018.

Sehari sebelumnya, kegiatan yang sama juga digelar di Aula Kaloka gedung Setda Kota Salatiga, yang dihadiri oleh 300 peserta dari organisasi perempuan se-Salatiga, bekerja sama dengan Yayasan Pendidikan Kasih Baru Internasional Kota Salatiga dan Pemerintah Kota Salatiga.

Linda mengatakan, deteksi dini payudara sangat penting untuk tindak pengobatan yang lebih efektif. Namun karena kesadaran masyarakat terkait hal itu masih minim, pemeriksaan payudara umumnya baru dilakukan ketika sudah memasuki stadium lanjut.

“Sekarang ini stigma di masyarakat kan kalau kanker payudara ujung-ujungnya meninggal. Padajal, banyak yang bertahan hidup jika ditemukan pada tahap awal. Banyak sekali kok contohnya,” katanya.

Sementara dr. Walta Gautama mengungkapkan, rata-rata kasus kanker payudara di Indonesia baru diperiksakan ketika sudah memasuki stadium empat. Berbeda halnya dengan negara-negara maju seperti Amerika dan Australia, yang ditemukan sejak stadium awal.

“Dengan demikian angka harapan hidup juga tinggi. Sedangkan jika sudah stadium lanjut maka yang terjadi adalah sebaliknya. Kita bisa mengetahui gejala kanker payudara melalui munculnya benjolan, kelainan kulit, puting tertarik kedalam, keluar cairan dari puting, dan luka yang tidak sembuh,” terang Kepala Instalasi Bedah RS Kanker Dharmais Jakarta ini.

Read more...