Author - admin

Ini Penyebab Kanker Payudara Loh…!!

breast cancer - pitapinkPARA ahli dan tenaga medis masih belum bisa menyimpulkan dengan pasti, apa penyebab sel kanker bisa tumbuh. Banyak yang mengira, sel kanker tumbuh karena faktor genetik. Jika memiliki keluarga dengan keturunan kanker, maka keturunannya juga akan berpotensi mengalami hal itu. Apakah betul demikian?
Dokter Spesialis Bedah dan Konsultan Bedah Onkologi dr Sonar Sonny Panigoro Sp.B.Onk mengungkapkan, hampir 90 persen pasien kanker, terutama kanker payudara tidak terkait genetik. Memang ada yang terkena karena faktor keturunan, namun menurutnya tak terlalu signifikan jumlahnya.
“Sebanyak 90 persen bukan faktor genetik. Berarti karena apa? Karena pengaruh lingkungan,” ungkapnya kepada JawaPos.com, Kamis (1/6).

Sonar menambahkan banyak ahli menyimpulkan faktornya karena gaya hidup, kurang gerak, infeksi. Stres juga bisa namun tak langsung berdampak sebagai penyebab munculnya sel kanker. “Ada 100 jenis sel kanker di tubuh. Kanker payudara misalnya menyebar lewat darah atau lewat saluran getah bening. Salah satu penyebabnya misalnya gaya hidup,” jelas Sonar. Sonar mengajak seluruh masyarakat untuk hidup sehat sesuai kampanye yang digaungkan Kementerian Kesehatan. Caranya dengan CERDIK.
C=Cek kesehatan secara berkala,
E=Enyahkan asap rokok,
R=Rajin aktifitas fisik,
D=Diet sehat dengan kalori seimbang,
I=Istirahat cukup dan
K= Kelola stress,” ungkap Sonar.

Dia mencontohkan banyak faktor lain yang juga memicu tumbuhnya sel kanker di dalam tubuh. Tak menutup kemungkinan seorang vegetarian juga bisa terkena sel kanker. “Multifaktor, meskipun vegetarian lebih kecil peluang terkena kanker, tetapi bisa juga terkena. Karena itu berbagai penyebab utamanya masih terus kami lakukan penelitian lebih lanjut,” tuturnya.

Sumber: Jawa Post

YKPI Kunjungi Papua Untuk Menekan Angka Kanker Payudara Stadium Lanjut

Jakarta, Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) menyambangi Jayapura guna melakukan sosialisasi Deteksi Dini Kanker Payudara di Papua di kota Jayapura dan Wamena,

“YKPI serius terhadap bahaya kanker Payudara, kami harus menjemput bola dengan mendatangi wilayah propinsi diluar pulau Jawa untuk memberikan sosialisasi deteksi dini kanker Payudara” ujar ibu Linda Agum Gumelar sebagai ketua YKPI.

Kunjungan selama 3 hari di Papua ini dilakukan dalam rangka memperingati bulan Oktober Payudara Internasional. YKPI menancapkan target mendatangi kota Jayapura dan Wamena. Selain pengurus, YKPI menghadirkan dokter ahli kanker payudara dari RS. Dharmais Jakarta, Dr. Walta Gautama Sp.B (k) onk ke berbagai tempat sosialisasi yang dihadiri oleh anggota Persit Kartika Chandra Kirana Cabang xVI Kodim 1701, Dharma Wanita, PIA, KOWAD, pelajar, mahasiswi, PWKI, GOW, PKK, Badan Kerjasama Organisasi Papua dan gabungan organisasi wanita kabupaten Jaya Wijaya,

Dalam rangkaian sosialisasi yang padat tersebut, Dokter Walta juga menyempatkan diri untuk berbagi ilmu dan pengalaman kepada dokter-dokter yang bertugas di Jayapura dengan difasilitasi oleh RS Marthen Indey, Jayapura. “Ini merupakan sejarah bagi Jayapura didatangkan seorang pakar onkology untuk berbagi ilmu dan bersedia sharing bagi dokter-dokter di Papua” ujar perwakilan dokter dalam sambutannya.

Dari pengalaman yang dialami langsung oleh dokter Walta selama bekerja di RS Dharmais, dikatakan “sejak tahun 1997  ia menjadi ahli bedah, kasus kanker payudara  ternyata masih berada diatas 65 % pasien yang datang ke rumah sakit tempat ia bekerja  dan mereka datang dengan stadium lanjut, bahkan sampai 2017 tidak ada peningkatan dan tingkat penurunan angka yang datang, menurutnya pasien yang masih datang dengan stadium lanjut masih berada disekitaran 65 %”.

Dari data tersebut, YKPI meyakini jika di Jakarta saja masih banyak penderita kanker payudara yang datang dalam keadaan stadium lanjut maka di daerah-daerah luar Jakarta dan berbagai propinsi diduga berpotensi besar banyak yang tidak mengetahui cara mendeteksi dini Kanker Payudara.

Dalam kunjungannya ke Papua, ketua bidang organiasi YKPI, Titin Pamudji menyatakan “Dalam 2 hari kami berada di Papua yaitu 9-10 Oktober 2017 banyak kegiatan yang kami lakukan, sosialisasi deteksi dini di empat tempat berbeda dan pertemuan dengan dokter-dokter di Papua serta mengunjungi penderita Kanker Payudara di kota Jayapura dan Wamena”.

Dharma Pertiwi daerah H Jayapura yang diketua ibu Sandra George E. Supit yang menghadirkan 300 orang di Aula Wisma Cendrawasih pada Senin, 9 Oktober 2017 mengungkapkan rasa gembiranya dengan kehadiran tim dari YKPI yang juga menghadirkan dokter ahli kanker payudara dari Rumah Sakit Dharmais, Dr. Walta Gautama untuk memberikan pengetahuan tentang Kanker Payudara. “Saya berharap agar kita dapat mengerti dan mengambil manfaatnya, baik bagi pribadi maupun bagi keluarga dan masyarakat” ujarnya.

“Saat ini penyebab perbedaan sudut pandang tentang kanker payudara masih ada, diantaranya tingkat pengetahuan wanita tentang gejala dan tanda kanker payudara, dan menghindari hambatan memeriksa kanker payudara seperti ada anggapan jika pemeriksaan Mammografi malah akan menyebabkan kanker payudara” jelas Dr Walta yang juga sebagai wakil ketua YKPI. “untuk itu kehadiran YKPI dirasakan sangat perlu ada dan harus terus menerus melakukan sosialisasi” tambahnya.

Ketua Umum GOW Jayawijaya, Ny. Yustina Yenny Bonua, S.Ip, Msi, ikut bergembira “Saat sosialisasi saya tidak menyangka masyarakat kota Wamena begitu antusias dengan paparan dari YKPI, Andaikan waktu kehadiran pengurus YKPI cukup panjang, maka pasti banyak perempuan Wamena yang ingin bertanya langsung mengenai kanker payudara” tambahnya. Tim YKPI memang hadir di Wamena hanya sehari saja, pagi hari tiba dan sore harinya langsung kembali ke Papua. “Kami berharap YKPI hadir kembali ke Wamena dan dusun dusun di Wamena untuk memberikan sosialiasi kanker payudara ini.

Menutup perjalanannya dari Papua, ibu Linda yang juga pernah mengalami kanker Payudara ini mengatakan “Kami akan terus membantu menekan kanker payudara stadium lanjut di seluruh Indonesia, dengan melakukan sosialasasi deteksi dini kanker payudara dan memberikan kesadaran agar wanita melakukan SADARI, periksa payudara sendiri secara rutin”.

 

–               Humas YKPI –

Informasi lebih lanjut hubungi:

Ibu Endang Muniarti

0811-826 998

YKPI turut berpartisipasi meramaikan acara Bakti Sosial dalam rangka HUT IKKT ke 52 pada tanggal 11 Juli 2017

YKPI turut berpartisipasi meramaikan acara Bakti Sosial dalam rangka HUT IKKT ke 52 pada tanggal 11 Juli 2017, dengan menghadirkan Mobil mammografi  untuk pemeriksaan mammogram. Ibu Linda Agum Gumelar selaku Ketua YKPI dan ibu Enny Trimurti selaku istri dari Bapak Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo juga turut hadir.

Semoga bertambah kesadaran masyarakat akan bahaya Kanker Payudara dan juga bisa meningkatkan kesadaran untuk secara rutin melakukan SADARI, sehingga visi YKPI dapat terwujud : Menuju Indonesia Bebas Kanker Stadium Lanjut.

www.pitapink-ykpi.or.id

#kankerpayudara #pitapink #YKPI #seminar #seminarkanker #kesehatanwanita #salingjagasalingpeduli

Ayo Cegah Kanker Payudara!

Meskipun belum ada fakta atau bukti ilmiah yang pasti tentang cara mencegah kaker payudara, beberapa tindakan preventif berikut ini bisa dilakukan untuk mengendalikan faktor resiko penyebab kanker payudara :

  1. Jauhi rokok

Rokok mengandung banyak partikel kimia yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan dan sel. Tidak hanya menghindari kegiatan merokok, menjauhi asap rokok adalah salah satu cara untuk mengurangi resiko kanker payudara.

  1. Konsumsi serat

Banyak mengkonsumsi serat yang berasal dari sayur dan buah sangat bermanfaat untuk tubuh. Serat dan antioksidan yang terkandung dalam buah dan sayur dapat menangkal pengaruh radikal bebas yang berbahaya bagi tubuh.

  1. Menjaga berat badan

Salah satu kunci menjaga kesehatan adalah memiliki berat badan yang ideal. Berat badan dan indeks massa tubuh yang berlebih tidak hanya memicu resiko kanker tetapi penyakit degeneratif lainnya seperti diabetes, stroke dan penyakit jantung.

  1. Hindari konsumsi alcohol

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa alkohol adalah salah satu faktor pemicu kanker payudara. Sebisa mungkin hindari konsumsi alkohol, terutama jika anda terbiasa meminumnya. Jika anda tidak dapat menghentikan kebiasan minum secara total, lakukan perlahan-lahan dengan mengurangi takaran alkohol setiap harinya.

  1. Olahraga teratur

Olahraga teratur dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan menjadikan tubuh anda lebih sehat sehingga tidak mudah terserang penyakit. Olahraga juga dapat membakar sel lemak sehingga mengurangi kadar estrogen yang dihasilkan dalam tubuh.

  1. Konsumsi vitamin

Vitamin juga berperan penting dalam meningkatkan fungsi tubuh, menjaga kekebalan dan membantu proses pemulihan. Konsumsi vitamin C dapat meningkatkan kemampuan tubuh untuk menangkal radikal bebas dan mengurangi efek kerusakan yang ditimbulkannya.

  1. Pemeriksan payudara sendiri (SADARI)

Untuk mengetahui adanya perubahan fisik terutama pada payudara sebaiknya lakukan pemeriksaan pada tubuh dengan menggunakan tangan anda sendiri. Pemeriksaan ini efektif untuk mengetahui gejala awal kanker payudara, sehingga jika ditemukan sesuatu yang tidak semestinya anda bisa langsung melakukan pemeriksaan medis dan mendapat penanganan yang lebih cepat.

  1. Lakukan tes pencegahan

Jika pemeriksaan payudara sendiri dirasa belum cukup, anda bisa berkujung di fasilitas kesehatan setempat untuk mendapatkan tes mammogram yang hasilnya lebih akurat.

  1. Penanganan dengan obat-obatan

Dua jenis obat yang tersedia untuk wanita dengan risiko tinggi terkena kanker payudara adalah tamoksifen dan raloksifen. Wanita yang sudah mengalami menopause dapat menggunakan kedua obat ini, sementara wanita yang belum menopause hanya dianjurkan untuk menggunakan tamoksifen. Jika Anda pernah atau memiliki risiko mengalami penggumpalan darah atau kanker rahim, kedua obat ini juga kemungkinan tidak cocok.

Bagi Anda yang ingin memiliki anak, dokter biasanya akan menganjurkan untuk berhenti meminum tamoksifen setidaknya dua bulan sebelum mencoba untuk hamil karena obat ini akan memengaruhi perkembangan janin. Tamoksifen juga dapat meningkatkan risiko penggumpalan darah, jadi Anda sebaiknya berhenti meminumnya pada enam minggu sebelum operasi.

  1. Mastektomi

Selain untuk menangani kanker payudara, mastektomi juga digunakan untuk menurunkan risiko kanker payudara pada wanita yang berisiko tinggi akibat riwayat keturunan. Operasi ini bisa menurunkan risiko kanker payudara hingga 90%, namun tetap memiliki risiko komplikasi.

Pengangkatan payudara juga mungkin dapat menurunkan kepercayaan diri pasien secara signifikan. Di samping operasi plastik, rekonstruksi payudara yang dilakukan bersamaan atau setelah mastektomi, Anda juga memiliki alternatif lain, yaitu payudara palsu yang dapat digunakan di dalam beha.

Saat ini, yang paling penting untuk setiap perempuan untuk menurunkan risiko kematian akibat kanker payudara adalah melakukan skrining mamogram secara reguler, mengetahui bagaimana cara melakukan pemeriksaan payudara sendiri, dan memeriksakan diri ke dokter secara rutin.

((pitapink-ykpi.or.id, Kanker Payudara, diakses 8 Juni 2017))

((www.familinia.com, Penyebab dan Gejala Kanker Payudara, diakses 8 Juni 2017))

Kita sudah mengetahui bahwa kanker payudara

Kita sudah mengetahui bahwa kanker payudara adalah kanker paling mematikan bagi wanita. Memang beberapa penyebab kanker payudara tidak bisa kita hindari, seperti keturunan, mutasi gen dan gender. Namun ada faktor penyebab kanker payudara yang masih bisa kita hindari. Diantaranya yaitu :

  1. Mengikuti terapi hormone

Terapi penggantian hormon kombinasi memiliki risiko sedikit lebih tinggi daripada terapi penggantian hormon estrogen. Tetapi keduanya tetap dapat mempertinggi risiko terkena kanker payudara. Di antara 1.000 wanita yang menjalani terapi hormon kombinasi selama 10 tahun, diperkirakan akan ada 19 kasus kanker payudara lebih banyak dibanding kelompok wanita yang tidak pernah menerima terapi hormon. Risiko ini juga akan meningkat seiring durasi terapi, tapi akan kembali normal setelah Anda berhenti menjalaninya.

 

  1. Menggunakan pil KB

Pil KB mencegah kehamilan melalui kandungan hormon estrogen dan progestin, dengan menghambat indung telur berovulasi atau melepaskan sel telur. Selain itu, pil juga akan membuat sperma kesulitan mencapai sel telur atau menghalangi sel telur menempel pada lapisan rahim. Ada yang menyebutkan pengguna alat kontrasepsi hormonal, termasuk pil, memiliki kemungkinan sedikit lebih tinggi untuk terdiagnosis kanker payudara.

Namun dengan berhenti mengonsumsi pil KB selama 10 tahun, risiko terkena kanker payudara akan kembali menurun seperti mereka yang tidak pernah mengonsumsi pil KB.

 

  1. Tidak menyusui

Menurut penelitian, bila seorang wanita tidak menyusui, jaringan pada payudaranya akan kembali seperti sebelum hamil. Hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya peradangan pada payudara. Peradangan ini sangatlah progresif dan erat kaitannya dengan kanker payudara.

 

  1. Mengkonsumsi minuman beralkohol,

Pada dasarnya alkohol adalah senyawa kimia yang dapat mengganggu proses dan fungsi organ tubuh. Wanita yang mengkonsumsi alkohol secara rutin beresiko 1 ½ kali lebih besar terkena kanker payudara dibandingkan mereka yang bukan peminum. Sebuah penelitian telah dilakukan terhadap 200 wanita pengonsumsi minuman keras dan 200 wanita bukan pengonsumsi minuman keras. Hasilnya menyatakan bahwa anggota kelompok pengonsumsi minuman keras bisa terserang kanker sebanyak tiga orang lebih banyak. Risiko kanker payudara akan meningkat seiring banyaknya jumlah minuman keras yang dikonsumsi.

 

  1. Kelebihan berat badan (terutama setelah masuk masa menopause) dan tidak berolahraga.

Kelebihan berat badan atau kegemukan bisa meningkatkan resiko terkena kanker. Hal ini disebabkan karena hormon estrogen yang merupakan pemicu kanker dihasilkan oleh sel lemak. Semakin banyak sel lemak yang ada dalam tubuh, semakin besar resiko kanker payudara yang dimilki.

Namun, perlu diingat bahwa semua faktor tersebut masih berdasarkan kemungkinan, seseorang yang tidak memiliki faktor yang berisiko tetap saja dapat terkena kanker payudara. Skrining dan deteksi dini adalah alat yang tepat untuk menurunkan risiko kematian yang ditimbulkan oleh penyakit ini.

((pitapink-ykpi.or.id, Kanker Payudara, diakses 8 Juni 2017))

((www.alodokter.com, Kanker Payudara, diakses 8 Juni 2017))

((www.alodokter.com, Ingin Tahu Efek Samping Pil KB, diakses 8 Juni 2017))

((www. prosehat.com, Hubungan Antara Menyusui Dan Kanker Payudara, diakses 8 Juni 2017))

Kanker Payudara, Keturunan kah?

Hingga saat ini belum jelas secara pasti apa penyebab kanker payudara. Namun jika Anda memiliki keluarga inti (misalnya, ibu, kakak, adik atau anak) yang mengidap kanker payudara atau ovarium, risiko Anda untuk terkena kanker payudara akan meningkat.

Hal ini termasuk dalam beberapa faktor penyebab kanker payudara yang tak dapat diubah, yaitu :

1. Riwayat keluarga

Wanita yang memiliki anggota keluarga yang pernah menderita kanker payudara memiliki resiko yang lebih besar. Jika seorang wanita memiliki ibu, bibi atau saudara perempuan yang menderita kanker payudara, ia memiliki resiko 2 kali lipat menderita kanker payudara. Sementara resiko pada generasi selanjutnya, misalnya jika wanita tersebut memiliki anak, maka anak dari wanita tersebut memiliki resiko tiga kali lebih besar dari ibunya. Jika ibu, anak, saudara perempuan atau nenek Anda terkena kanker payudara, lakukan pemeriksaan mamografi 5 tahun sebelum usia mereka didiagnosis terkena kanker. Namun, kebanyakan perempuan yang terkena kanker payudara tidak memiliki riwayat keluarga yang terkena kanker.

2. Gender

Gender atau jenis kelamin adalah salah satu faktor resiko kanker. Wanita beresiko 100 kali lebih besar menderita kanker payudara dibanding laki-laki. Hal ini disebabkan karena pada wanita, payudara lebih berkembang dan memiliki lebih banyak jaringan didalamnya dibandingkan pria.

Jaringan dalam payudara pria tidak mengalami pertumbuhan sebagaimana payudara wanita. Selain itu pria tidak memiliki kadar estrogen dan progesteron yang tinggi seperti pada wanita. Kedua hormon ini adalah salah satu pemicu kanker payudara.

3. Genetik

Sekitar 5% sampai 10% dari penderita kanker payudara disebabkan oleh faktor genetik. Tubuh manusia normal memiliki gen yang mengendalikan pertumbuhan tumor yang disebut Gen BRCA1 dan BRCA2. Apabila gen ini rusak atau bermutasi, maka pertumbuhan sel tidak dapat dikendalikan dan akhirnya timbul sel kanker. Jenis kanker ini juga mungkin diturunkan orang tua kepada anak

4. Usia

Setiap tahunnya, kurang lebih terdapat 77% pasien berusia di atas 50 tahun yang didiagnosis terkena kanker payudara. Wanita yang berusia lebih dari 55 tahun beresiko lebih besar terkena kanker payudara. Hal ini disebabkan oleh kemampuan pengendalian sel dan fungsi organ tubuh yang sudah menurun sehingga menyebabkan sel tumbuh tidak terkendali. Dua dari tiga penderita kanker payudara adalah wanita diatas usia 55 tahun.

  1. Riwayat medis personal

Wanita yang pernah menderita kanker payudara pada salah satu bagian payudaranya, misalnya payudara kanan, beresiko 3 sampai 4 kali lebih tinggi menjalarkan kanker payudara tersebut pada bagian lain tubuhnya yakni payudara sebelah kiri. Meskipun sel kankernya sudah diangkat dari dalam jaringan payudaranya, tetap saja wanita tersebut masih beresiko terserang kanker payudara.

6. Risiko Paparan Radiasi

Risiko Anda untuk terkena kanker payudara juga bisa meningkat jika sering terpapar radiasi atau akibat prosedur medis tertentu yang menggunakan radiasi seperti rontgen dan CT scan.

  1. Risiko Paparan Estrogen

Risiko terkena kanker payudara akan sedikit meningkat akibat tingkat paparan terhadap estrogen dalam tubuh. Contoh:

  • Jika Anda tidak memiliki keturunan atau melahirkan di usia lanjut. Hal ini akan meningkatkan risiko kanker payudara karena paparan terhadap estrogen tidak terhalang oleh proses kehamilan.
  • Jika Anda mengalami masa menstruasi yang lebih lama (misalnya, mulai menstruasi sebelum usia 12 tahun atau mengalami menopause setelah usia 55 tahun).
  1. Dense breast

Keadaan dense breast merupakan hal yang normal pada perempuan muda. Pada perempuan dengan usia yang lebih tua dense breast merupakan cermin adanya stimulasi hormonal pada payudara dan meningkatkan risiko terkena kanker payudara.

  1. Keturunan Kaukasia

 

((www.alodokter.com, Kanker Payudara, diakses 6 Juni 2017))

((pitapink-ykpi.or.id, Kanker Payudara, diakses 6 Juni 2017))

((www.familinia.com, Penyebab dan Gejala Kanker Payudara, diakses 6 Juni 2017))

Gejala Kanker Payudara

Indikasi pertama kanker payudara yang biasanya disadari adalah benjolan atau kulit yang menebal pada payudara. Meski demikian, sekitar 9 dari 10 benjolan yang muncul bukanlah disebabkan oleh kanker.

Seringnya kaum wanita tidak menyadari gejala-gejala ini sampai pada akhirnya muncul gejala-gejala lain yang juga menandakan kanker sudah mengganas, sehingga kanker sudah sulit ditangani. Inilah pentingnya untuk selalu melakukan pendeteksian dini, minimal melakukan Periksa Payudara Sendiri (SADARI).

Terdapat beberapa indikasi yang perlu Anda perhatikan agar bisa ditanyakan langsung kepada dokter yang menangani Anda, seperti

  • Benjolan yang tidak hilang atau permanen, biasanya tidak sakit dan terasa keras bila disentuh atau penebalan pada kulit payudara atau di sekitar ketiak yang tidak berhubungan dengan siklus menstruasi.
  • Perubahan ukuran atau bentuk payudara.
  • Kerutan pada kulit payudara.
  • Keluarnya cairan dari payudara, umumnya berupa darah.
  • Pembengkakan atau adanya tarikan pada puting susu
  • gatal-gatal dan muncul ruam di sekitar putting
  • Terdapat lesung pada payudara

Segera periksakan ke dokter jika terdapat gejala tersebut. Jangan menunda lebih lama lagi karena jika terlambat kanker payudara sulit disembuhkan. Juga lakukan pemeriksaan dasar mamografi setiap 2-3 tahun sekali pada perempuan berusia di atas 35-50 tahun, dan setiap satu tahun atau dua tahun pada wanita berusia di atas 50 tahun.

 

((www.alodokter.com, Kanker Payudara, diakses 6 Juni 2017))
((pitapink-ykpi.or.id, Kanker Payudara, diakses 6 Juni 2017))
((www.familinia.com, Penyebab dan Gejala Kanker Payudara, diakses 6 Juni 2017))

Benjolan di Sekitar Payudara tidak Selalu Sebagai Kanker

Apabila kita menemukan benjolan di payudara, belum tentu itu berarti kanker payudara. Terkadang, benjolan tersebut hanyalah tumor yang umumnya tidak berbahaya atau tumor jinak.

Kanker jinak atau tumor adalah kumpulan sel yang merupakan hasil pembelahan abnormal pada suatu jaringan yang menetap di dalam suatu area organ tubuh. Tumor tidak berpindah tempat atau menyebar ke organ lain, terlebih lagi tumor bisa dengan mudah ditangani lewat tindakan medis. Kanker ganas atau kanker payudara adalah sekelompok sel yang tumbuh secara tidak terkendali dalam jaringan dan berpotensi menyebar sekaligus berpindah pada organ lain.

Tumor dapat dibedakan dari bentuk benjolannya. Apabila tidak terasa nyeri, dan jika diraba terasa padat, bulat, sekaligus kenyal dan dapat bergeser, mala kemungkinan ini hanya merupakan tumor jinak yang disebut Fibroadenoma.

Tumor jinak paling sering dialami wanita usia 20 – 30 tahun. Fibroadenoma terjadi ketika tubuh membentuk jaringan kelenjar susu berlebihan. Fibroadenoma umumnya dapat hilang dengan sendirinya, tapi terkadang dapat juga tinggal dan membesar, terutama saat hamil. Penyebab fibroadenoma umumnya tidak diketahui dengan pasti. Namun, karena kondisi ini banyak dialami wanita menopause dan pasca-menopause yang menjalani terapi penggantian hormon, maka diduga fibroadenoma akibat perubahan kadar hormon estrogen. Fibroadenoma yang tidak kunjung hilang umumnya ditangani dengan operasi.

Saat wanita mengalami siklus menstruasi bulanan juga terkadang mengalami peubahan payudara. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan hormone selama siklus. Cirinya biasnaya   benjolan ada pada satu atau kedua payudara. Benjolan ini bertambah besar dan mengeras sebelum masa menstruasi. Benjolan yang dirasakan dapat terasa keras ataupun lunak dan dapat terdiri dari satu atau beberapa benjolan. Terkadang keluar cairan dari puting. Nyeri pun terkadang terasa, dan juga ada perubahan ukuran payudara. Ini disebut dengan fibrosistik.

Fibrosistik tidak memerlukan penanganan khusus. Namun dokter biasanya akan memberikan resep untuk membantu meredakan nyeri saat datang bulan. Benjolan dan rasa sakit yang disebabkan oleh fibrosistik umumnya akan reda setelah menstruasi.

Ada juga benjolan yang merupakan kista, benjolan berisi cairan yang biasanya terbentuk pada satu atau kedua payudara dengan jumlah dan ukuran yang berbeda. Ukuran dan lunak atau kerasnya berubah sesuai siklus menstruasi. Kondisi ini tidak memerlukan operasi dan dapat ditangani dengan prosedur jarum aspirasi halus. Jarum digunakan untuk menyerap beberapa sel keluar dari benjolan payudara. Jika benjolan ini adalah kista, maka akan mengempis setelah cairan dikeluarkan. Kondisi yang paling sering dialami wanita 30-60 tahun ini umumnya tidak mendatangkan gejala lain. Hormon diduga menjadi penyebab timbulnya kista payudara ini.

Selain itu, ada pula yang disebut Papiloma intraductal. Umumnya terjadi pada wanita berusia 45-50 tahun, berbentuk seperti benjolan kecil menyerupai kutil pada dinding saluran susu dekat puting. Pada beberapa kasus papiloma intraduktal dapat menyebabkan perdarahan dari puting. Papiloma intraduktal dapat ditangani dengan operasi.

Lemak pada payudara pun membentuk benjolan, yang umumnya berbentuk bulat, padat, kencang, tapi tidak terasa nyeri. Kondisi ini terjadi akibat cedera pada payudara. Umumnya kondisi ini tidak memerlukan penanganan khusus.

Kendati setiap benjolan pada payudara bukan menandakan kanker, namun Anda disarankan memeriksakan diri ke dokter. Anda mungkin tidak akan tahu apakah benjolan pada payudara Anda bersifat kanker atau tidak sebelum diperiksa atau diuji secara medis.

((familinia.com, Penyebab Dan Gejala Kanker Payudara, diakses 5 Juni 2017))

((www.alodokter.com, Benjolan dan Tumor Payudara Belum Tentu Kanker, diakses 5 Juni 2017))

Bra Kawat Menyebabkan Kanker Payudara?!

Wanita banyak yang menggunakan bra kawat karena bisa menyangga payudara lebih kuat. Namun belakangan muncul kekhawatiran penggunaan bra kawat setiap hari bisa menghalangi aliran kelenjar getah bening yang memicu kanker payudara.

“Jawaban singkatnya adalah tidak dan mitos tersebut tidak benar,” ujar Dr Ted Gansler, direktur medis untuk American Cancer Society, seperti dikutip dari New York Times, Kamis (18/2/2010).

Banyak yang percaya bra kawat bisa menekan sistem kelenjar getah bening payudara yang mengakibatkan akumulasi racun di dalam tubuh sehingga dapat menyebabkan kanker payudara.

“Tidak ada bukti terpercaya yang dimuat dalam jurnal ilmiah yang menunjukkan penggunaan bra mencegah keluarnya racun dengan menghalangi aliran kelenjar getah bening. Hal ini tidak sesuai dengan konsep ilmiah mengenai bagaimana kanker payudara berkembang,” ujar Dr Gansler.

Dr Gansler dan tim membandingkan data National Cancer Institute terhadap risiko kanker payudara pada perempuan yang dirawat akibat melanoma (kanker kulit) yang telah dihapus beberapa kelenjar getah bening di ketiaknya dengan perempuan yang tidak. Operasi yang dilakukan untuk menghambat drainase getah bening dari jaringan payudara.

Hasilnya didapatkan tidak ada angka peningkatan kanker payudara pada perempuan yang melakukan operasi tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan pengunaan bra kawat yang diduga dapat menekan sistem getah bening dan menyebabkan kanker payudara tidaklah benar.

Fakta lain menunjukkan tidak adanya penurunan diagnosa kanker payudara di tahun 1960-an, karena pada tahun tersebut sebagian besar kaum perempuan pergi tanpa menggunakan bra jadi seharusnya kejadian kanker payudara menurun tapi yang terjadi tidak demikian.

Fakta yang didapat tak ada kaitannya antara menggunakan bra dengan kanker payudara, tapi pola hidup dan pola makanlah yang lebih banyak menjadi penyebab seseorang terdiagnosis kanker payudara.

((health.detik.com, Adakah Kaitan Kanker Payudara Dan Kebiasaan Pakai Bra Kawat, diakses 5 Juni 2017))

Soft Drink Pemicu Kanker Payudara, benarkah?

Sampai saat ini, kanker payudara menjadi salah satu kanker paling mematikan pada kaum hawa. Penyakit ini bisa menyerang siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Yang lebih mengerikan lagi, banyak dari penderita kanker payudara tidak menyadari gejala risiko kanker payudara.  Para ahli mengungkap bahwa ada banyak hal yang bisa meningkatkan risiko kanker payudara.

Hal tersebut antara lain adalah karena adanya faktor keturunan, karena pola hidup yang tidak sehat, konsumsi junk food secara berlebihan, kurangnya kesadaran akan aktivitas menjaga kesehatan dan kebersihan payudara. Dikutip dari laman boldsky.com, penelitian terbaru yang dipublikasikan di Journal Cancer Epidemiology, Biomarkers & Prevention menyebutkan jika penyebab lain dari risiko kanker adalah kebiasaan buruk konsumsi soft drink atau minuman ringan dan bersoda.

Karin Michels, seorang profesor di University of California, Los Angeles Fielding School of Public Health mengatakan, “Penelitian kami menemukan bahwa kebiasaan konsumsi soft drink, minuman manis dan sejenisnya saat remaja atau anak-anak berisiko meningkatkan risiko kanker payudara. Risiko ini bahkan mencapai 2 kali lipat lebih tinggi”

“Sel kanker butuh waktu selama bertahun-tahun untuk tumbuh dan berkembang. Kebiasaan hidup dan makan yang buruk bisa mempercepat pertumbuhan tersebut. Gejala dari kanker ini juga sangat sulit dideteksi. Penting bagi setiap wanita untuk menjalankan pola hidup sehat sejak ia masih anak-anak atau remaja,” tambah Karin.

Studi lain yang dilakukan oleh ahli kanker di Inggris menyebutkan jika wanita yang terbiasa konsumsi soft drink memiliki risiko kanker payudara hingga 35% lebih besar. Mereka yang sering konsumsi soft drink juga dipercaya bisa meningkatkan risiko menopause lebih cepat dibanding lainnya.

Well Ladies, jika ingin mengurangi risiko kanker payudara, usahakan untuk mulai mengurangi kebiasaan konsumsi soft drink atau minuman ringan. Alangkah baiknya jika kita semua lebih suka dengan minuman menyehatkan yakni air putih.

 

((www.vemale.com, Konsumsi Minuman Ringan Berisiko Meningkatkan Kanker Payudara, diakses 3 Juni 2017))