Author - admin

Bra Kawat Menyebabkan Kanker Payudara?!

Wanita banyak yang menggunakan bra kawat karena bisa menyangga payudara lebih kuat. Namun belakangan muncul kekhawatiran penggunaan bra kawat setiap hari bisa menghalangi aliran kelenjar getah bening yang memicu kanker payudara.

“Jawaban singkatnya adalah tidak dan mitos tersebut tidak benar,” ujar Dr Ted Gansler, direktur medis untuk American Cancer Society, seperti dikutip dari New York Times, Kamis (18/2/2010).

Banyak yang percaya bra kawat bisa menekan sistem kelenjar getah bening payudara yang mengakibatkan akumulasi racun di dalam tubuh sehingga dapat menyebabkan kanker payudara.

“Tidak ada bukti terpercaya yang dimuat dalam jurnal ilmiah yang menunjukkan penggunaan bra mencegah keluarnya racun dengan menghalangi aliran kelenjar getah bening. Hal ini tidak sesuai dengan konsep ilmiah mengenai bagaimana kanker payudara berkembang,” ujar Dr Gansler.

Dr Gansler dan tim membandingkan data National Cancer Institute terhadap risiko kanker payudara pada perempuan yang dirawat akibat melanoma (kanker kulit) yang telah dihapus beberapa kelenjar getah bening di ketiaknya dengan perempuan yang tidak. Operasi yang dilakukan untuk menghambat drainase getah bening dari jaringan payudara.

Hasilnya didapatkan tidak ada angka peningkatan kanker payudara pada perempuan yang melakukan operasi tersebut. Hasil penelitian ini menunjukkan pengunaan bra kawat yang diduga dapat menekan sistem getah bening dan menyebabkan kanker payudara tidaklah benar.

Fakta lain menunjukkan tidak adanya penurunan diagnosa kanker payudara di tahun 1960-an, karena pada tahun tersebut sebagian besar kaum perempuan pergi tanpa menggunakan bra jadi seharusnya kejadian kanker payudara menurun tapi yang terjadi tidak demikian.

Fakta yang didapat tak ada kaitannya antara menggunakan bra dengan kanker payudara, tapi pola hidup dan pola makanlah yang lebih banyak menjadi penyebab seseorang terdiagnosis kanker payudara.

((health.detik.com, Adakah Kaitan Kanker Payudara Dan Kebiasaan Pakai Bra Kawat, diakses 5 Juni 2017))

Soft Drink Pemicu Kanker Payudara, benarkah?

Sampai saat ini, kanker payudara menjadi salah satu kanker paling mematikan pada kaum hawa. Penyakit ini bisa menyerang siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Yang lebih mengerikan lagi, banyak dari penderita kanker payudara tidak menyadari gejala risiko kanker payudara.  Para ahli mengungkap bahwa ada banyak hal yang bisa meningkatkan risiko kanker payudara.

Hal tersebut antara lain adalah karena adanya faktor keturunan, karena pola hidup yang tidak sehat, konsumsi junk food secara berlebihan, kurangnya kesadaran akan aktivitas menjaga kesehatan dan kebersihan payudara. Dikutip dari laman boldsky.com, penelitian terbaru yang dipublikasikan di Journal Cancer Epidemiology, Biomarkers & Prevention menyebutkan jika penyebab lain dari risiko kanker adalah kebiasaan buruk konsumsi soft drink atau minuman ringan dan bersoda.

Karin Michels, seorang profesor di University of California, Los Angeles Fielding School of Public Health mengatakan, “Penelitian kami menemukan bahwa kebiasaan konsumsi soft drink, minuman manis dan sejenisnya saat remaja atau anak-anak berisiko meningkatkan risiko kanker payudara. Risiko ini bahkan mencapai 2 kali lipat lebih tinggi”

“Sel kanker butuh waktu selama bertahun-tahun untuk tumbuh dan berkembang. Kebiasaan hidup dan makan yang buruk bisa mempercepat pertumbuhan tersebut. Gejala dari kanker ini juga sangat sulit dideteksi. Penting bagi setiap wanita untuk menjalankan pola hidup sehat sejak ia masih anak-anak atau remaja,” tambah Karin.

Studi lain yang dilakukan oleh ahli kanker di Inggris menyebutkan jika wanita yang terbiasa konsumsi soft drink memiliki risiko kanker payudara hingga 35% lebih besar. Mereka yang sering konsumsi soft drink juga dipercaya bisa meningkatkan risiko menopause lebih cepat dibanding lainnya.

Well Ladies, jika ingin mengurangi risiko kanker payudara, usahakan untuk mulai mengurangi kebiasaan konsumsi soft drink atau minuman ringan. Alangkah baiknya jika kita semua lebih suka dengan minuman menyehatkan yakni air putih.

 

((www.vemale.com, Konsumsi Minuman Ringan Berisiko Meningkatkan Kanker Payudara, diakses 3 Juni 2017))

Perlunya Deteksi Dini Kanker Payudara

Pada Kamis 1 Juni 2017 kemarin, artis senior Yana Zein telah berpulang. Ia meninggal karena kanker payudara yang sudah dideritanya sejak tahun 2016. Awalnya Yana tidak mengetahui bahwa benjolan di payudaranya adalah kanker. Ia hanya mengira itu masuk angin biasa. Namun benjolan tersebut membesar dan kemudian pecah sehingga ia baru memeriksakan diri ke dokter. Dan dokter pun menyatakan kalau ia sudah menderita kanker payudara stadium 4.

Begitulah kanker payudara. Ia awalnya tampak tak bergejala. Tanpa dideteksi, kita tak akan tahu bahwa kita terkena kanker. Deteksi dini bisa kita lakukan dengan mammogram ataupun SADARI (Periksa Payudara Sendiri). Dengan SADARI, kita bisa dengan mudah mendeteksi kelainan yang ada pada payudara kita sendiri. Caranya juga mudah dan cepat. Seperti yang sudah di sebutkan di artikel sebelumnya, bahwa memang wanita cukup enggan dan takut bila harus langsung memeriksakan diri ke dokter.

Belajar dari pengalaman almarhumah Yana Zein, alangkah baiknya bila kita melakukan pendeteksian dini ini. Baik melakukan SADARI, maupun MAMMOGRAM. Dengan pendeteksian dini, maka akan lebih cepat tertangani. Sayangi tubuh kita, kenali tubuh kita.

http://entertainment.kompas.com/read/2017/06/02/092026910/riwayat.kanker.payudara.yana.zein

((entertainment.kompas.com, Riwayat Kanker Payudara Yana Zein, diakses 3 Juni 2017))

Sadari (Periksa Payudara Sendiri)

Sebagai wanita, kita tentu harus memperhatikan tubuh kita. Apalagi tubuh kita rentan terhadap kanker payudara. Sayangnya, banyak wanita masih enggan memeriksakan dirinya ke fasilitas kesehatan. Takut dan tidak ada waktu kadang menjadi alasannya. Namun, sebenarnya kita bisa mendeteksi dini sendiri, yaitu dengan melakukan periksa sendiri payudara atau SADARI.

Cukup luangkan waktu hanya selama 7 menit untuk periksa sendiri payudara dengan langkah berikut ini :

  1. Perhatikan dengan teliti payudara anda di muka cermin, dengan kedua lengan lurus ke bawah. Perhatikan bila ada benjolan atau perubahan bentuk dan ukuran pada payudara (Payudara kanan dan kiri secara normal tidak persis sama).
  2. Angkatlah kedua lengan ke atas sampai kedua lengan berada di belakang kepala dan tekan ke depan, ulangi pemeriksaan seperti langkah awal
  3. Tekanlah kedua tangan anda kuat-kuat pada pinggul dan gerakan kedua lengan dan siku ke depan sambil mengangkat bahu. Cara ini akan menegangkan otot-otot dada anda dan perubahan-perubahan seperti cekungan (dekok) dan benjolan akan lebih terlihat.
  4. Angkat lengan kiri anda. Rabalah payudara kiri dengan tiga ujung tengah lengan kanan yang di rapatkan.
  • Perabaan dapat dilakukan dengan cara:
    • Gerakan memutar dengan tekanan lembut tetapi mantap, dimulai dari pinggang atas (Posisi Jam 12) dengan mengikuti arah jam bergerak ke tengah kearah puting susu.
    • Gerakan dari atas ke bawah dan sebaliknya
    • Gerakan dari bagian tengah ke arah luar. Lakukan hal yang sama pada payudara kanan anda.
  1. Pencet pelan-pelan daerah sekitar puting kedua payudara dan amatilah apakah keluar cairan yang tidak normal (tidak biasa)?
  2. Berbaringlah dengan tangan kiri di bawah kepala. Letakan bantal kecil di bawah bahu kanan. Rabalah seluruh permukaan payudara kiri dengan gerakan seperti di uraikan pada nomor 1. Lakukan pada pemeriksaan yang sama seperti di atas untuk payudara yang kanan.
  3. Berilah perhatian khusus pada payudara bagian atas dekat ketiak (Kwardran Superolateral) kanan dan kiri seperti terlihat pada gambar, sebab di daerah tersebut banyak di temukan tumor payudara. Jika ditemukan kelainan atau ada perubahan di bandingkan dengan keadaan pada bulan sebelumnya, maka segera periksa diri ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Pemeriksaan di atas dapat dilakukan sewaktu mandi, karena busa sabun akan mempermudah pada saat meraba payudara.

((pitapink-ykpi.or.id, Penapisan Skrining, diakses 2 Juni 2017))

Benarkah Pemeriksaan Kanker Payudara Bisa Mencegah Kanker Payudara?

Sebagai wanita, kanker payudara adalah salah satu penyakit yang paling ditakuti. Di Indonesia, kanker payudara  termasuk  jenis  kanker  tertinggi  diantara  perempuan. Berdasarkan data Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) tahun 2010, kanker payudara merupakan jenis kanker tertinggi pada pasien rawat inap maupun rawat jalan di seluruh rumah sakit di Indonesia. Proporsinya sebesar 12.014 orang atau 28,7 persen dari total pasien.

Wanita jarang menyadari kalau dirinya terkena kanker payudara. Untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan pun terkadang ada rasa enggan dan takut. Ini lah yang terkadang menjadikan kanker payudara terlambat ditangani.

 

Saat ini, YKPI sudah memiliki mobil mammografi yang bisa digunakan untuk pendeteksian dini kanker payudara. Karena sepertinya kaum wanita enggan untuk memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Dengan mobil mammografi ini, kaum wanita tidak perlu takut lagi untuk memeriksakan dirinya.

Hanya dibutuhkan waktu sekitar 5-10 menit bagi mereka untuk menyelesaikan pemeriksaan mammografi dengan menggunakan monil mammografi ini. Apalagi pelayaan pemeriksaan dengan mobil mammografi ini gratis. Jadi tak ada lagi alasan untuk tidak memeriksakan diri. Karena dengan pendeteksian dini, kanker payudara akan bisa lebih tertangani.

((lifestyle.kompas.com, Deteksi Dini Jawaban untuk Menghindari Kanker Payudara, diakses 2 Juni 2017))

Bisakan Penderita Kanker Payudara Menyusui Bayinya?

Seorang ibu yang sudah sadar manfaat menyusui tentu sangat ingin memberikan ASI pada bayinya. Namun bila keadaan ibu sakit kronis seperti kanker payudara, masih bisakah ia menyusui?

Menurut dr. Utami Roesli, SpA, pakar laktasi, ibu dengan kanker payudara bisa saja menyusui anaknya. Pasalnya kanker mungkin berada bukan pada sel-sel pembuat ASI. Hanya saja, diperlukan pertimbangan-pertimbangan tertentu.

Pertama, ibu tidak dalam pengobatan dengan obat-obatan. Utami mengatakan, obat-obatan mengalir dalam darah yang bisa terlarut juga dalam ASI. Sehingga pemberian ASI ke bayi mungkin akan memberikan efek obat.

“Jika pengobatan bersifat radiasi, asalkan tidak saat mendapat terapi, ibu boleh saja menyusui,” tuturnya.

Selain terapi radiasi, pengobatan yang bisa dilakukan untuk kanker payudara adalah lumpektomi. Karena pengobatan ini sifatnya yang tidak terlalu ekstensif sehingga tidak mempengaruhi kemampuan untuk menyusui.

Namun keadaan fisik ibu yang memiliki kanker payudara berbeda-beda sehingga membutuhkan konsultasi secara khusus pada dokter yang memeriksa. Apabila sel kanker mempengaruhi produksi ASI, maka diperlukan cara lain agar anak tetap mendapat ASI. Sebagai alternatif, ibu dapat memberikan ASI dari payudara yang tidak terkena kanker. Dikhawatirkan produksi ASI lebih sedikit di payudara yang terkena kanker.

Utami mengatakan, ASI dapat memberikan kekebalan alami bagi bayi. Sehingga bayi dapat terhindar dari penyakit-panyakit, termasuk kanker di kemudian hari. Maka kanker yang diderita ibu, tidak akan menurun ke anak.

“Bahkan apabila ibu terkena infeksi ringan seperti influenza, ibu tidak akan menularkan bayi yang disusuinya berkat kekebalan alami yang dimiliki ASInya,” imbuhnya.

((www. lifestyle.kompas.com.com, Kanker Payudara Bolehkah Menyusui, diakses 1 Juni 2017))

Menyusui dapat mencegah ibu terkena kanker payudara

Banyak penelitian telah dilakukan tentang hubungan kanker payudara dan menyusui. Beberapa penelitian, seperti yang dilakukan oleh University of North Carolina School of Medicine tahun 2009 menunjukkan bahwa wanita dengan riwayat keluarga kanker payudara yang menyusui bayinya dapat menurunkan risiko kanker payudara sebesar 59%. Penelitian kolaboratif internasional lain yang diterbitkan oleh Annals of Oncology juga menunjukkan bahwa menyusui dapat mengurangi risiko pengembangan hormon reseptor negatif kanker payudara sebesar 20%.

Dengan menyusui artinya sel-sel payudara memproduksi susu setiap waktu, sehingga membatasi kemampuan sel-sel payudara untuk berbuat menyimpang. Wanita yang menyusui memiliki siklus menstruasi yang lebih sedikit, sehingga menyebabkan kadar hormon estrogen dalam tubuh lebih rendah. Hormon estrogen merupakan salah satu hal yang berperan memicu kanker payudara.

Saat menyusui biasanya wanita juga lebih memperhatikan asupan gizinya, cenderung memilih makanan yang bergizi dan menerapkan pola hidup sehat, seperti tidak merokok dan minum alkohol, sehingga juga membantu menurunkan risiko kanker payudara.

Sangat disarankan untuk ibu menyusui bayinya sampai usia 6 bulan atau biasa disebut dengan ASI eksklusif, karena di dalam ASI terdapat antibodi yang mampu memperkuat sistem kekebalan tubuh bayi, sehingga bayi ASI tidak rentan terhadap penyakit infeksi. Sedangkan bagi ibu, tentu saja menyusui dapat mencegah risiko terkena kanker payudara

((www. hellosehat.com, Benarkah Menyusui Dapat Mencegah Kanker Payudara, diakses 1 Juni 2017))

Benarkah deodorant menyebabkan kanker payudara?

Banyak orang mengira bahwa deodoran yang dioleskan di ketiak dapat menajadi penyebab kanker payudara. Dikatakan bahwa deodorant mengandung senyawa berbasis aluminium yang dapat diserap oleh kulit. Penyerapan ini dapat menyebabkan efek yang serupa dengan yang diakibatkan oleh efek estrogen, yaitu mampu mendukung pertumbuhan sel-sel kanker payudara.

Namun, sebuah penelitian menyatakan bahwa hanya 0,012% aluminium yang dapat terserap. Kemungkinan aluminium yang berasal dari deodorant masuk ke dalam tubuh melalui penyerapan kulit jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan aluminium yang kita dapat dari makanan.

Selain aluminium, unsur lain yang bernama parabens juga dicurigai dapat menimbulkan efek serupa di atas. Paraben menghasilkan senyawa yang menyerupai estrogen, tetapi estrogen yang dihasilkan oleh tubuh ratusan kali lebih kuat. Ini menjadikan estrogen yang memang diproduksi oleh tubuh dan obat-obatan hormon terkait estrogen memiliki pengaruh lebih besar terhadap kemungkinan terjadinya kanker payudara dibandingkan dengan estrogen yang berasal dari paraben.

Kesimpulannya, tidak ada bukti ilmiah kuat yang dapat membuktikan dugaan bahwa deodoran dapat membahayakan kesehatan penggunanya. Namun ada baiknya kita cermati bahan-bahan yang terkandung dalam deodoran yang tertera pada kemasan, termasuk kandungan parabens. Karena mengingat fakta bahwa jaringan tubuh manusia memang menyimpan parabens, maka ada baiknya menghindari bahan serupa untuk digunakan.

Untuk menghindarkan bau badan, kamu juga dapat mencoba bahan alami yang sudah jelas bebas dari aluminium dan parabens, seperti mengoleskan teh atau lemon pada ketiak. Di Indonesia, tawas juga sering digunakan untuk menghilangkan bau badan.

((www. hellosehat.com, Benarkah Deodoran Menyebabkan Kanker Payudara, diakses 31 Mei 2017))

((www.alodokter.com, Deodoran Memicu Kanker Payudara, diakses 31 Mei 2017))

Pria Bisa Terkena Kanker Payudara

Ternyata, kanker payudara bukan hanya dialami oleh kaum wanita, namun kaum pria pun bisa mengalaminya. Seperti pada wanita, gejala utama kanker payudara pada pria adalah terdapat benjolan keras pada salah satu dada. Benjolan umumnya selalu tidak terasa sakit.

Benjolan biasanya terletak di bawah puting dan aerola (lingkaran bewarna gelap di sekeliling puting). Gejala yang juga mungkin terjadi meskipun jarang, adalah:

  • Puting masuk ke dalam (retraksi)
  • Puting menjadi keras dan iritasi dan terlihat sakit (korengan pada puting)
  • Cairan keluar dari puting

Apabila kanker sudah menyebar dari satu payudara ke bagian lain pada tubuh, seperti tulang, hati, atau paru-paru, maka hal ini sering disebut dengan kanker payudara metastasis. Gejala kanker payudara metastasis termasuk:

  • Tulang terasa sakit
  • Pembengkakan pada kelenjar limpa, biasanya di dalam atau sekitar ketiak
  • Nafas pendek
  • Merasa lelah sepanjang waktu
  • Merasa sakit
  • Kulit gatal dan menguning pada kulit dan mata

Segeralah mencari pertolongan medis apabila Anda menyadari ada benjolan pada payudara atau jika Anda memiliki masalah yang berhubungan dengan puting, seperti koreng, atau mengeluarkan cairan.

Untuk mengurangi risiko terjangkit kanker payudara dan kondisi kesehatan lainnya, ada baiknya Anda mengurangi konsumsi alkohol. Pria disarankan untuk tidak meminum lebih dari 3-4 unit alkohol sehari. Satu unit dihitung sebagai setengah sloki atau 25 ml. Jagalah berat badan yang sehat melalui kombinasi makanan yang sehat dan olahraga secara teratur.

((www. hellosehat.com, Cara Mendeteksi Gejala Kanker Payudara Pada Pria, diakses 31 Mei 2017))

Terapi Hormon dalam Penyembuhan Kanker Payudara

Biasanya, penyembuhan kanker payudara adalah dengan melakukan operasi, namun sebenarnya kanker payudara dapat disembuhkan juga melalui terapi hormon. Terapi hormon ini dapat dilakukan apabila pertumbuhan sel kanker pada kanker payudara dipicu oleh estrogen atau progesteron alami (kanker positif reseptor-hormon). Langkah ini juga kadang dilakukan sebelum operasi untuk mengecilkan tumor agar mudah diangkat, tapi umumnya diterapkan setelah operasi dan kemoterapi. Apabila pasien dalam kondisi kurang sehat sehingga tidak dapat menjalani operasi, kemoterapi, atau radioterapi, maka terapi hormon dapat menjadi alternatif sebagai proses pengobatan tunggal.

Durasi terapi hormon yang umumnya dianjurkan adalah maksimal lima tahun setelah operasi. Jenis terapi yang akan dijalani tergantung kepada usia, apakah Anda sudah menopause atau belum, tingkat perkembangan kanker, jenis hormon yang memicu kanker, dan jenis pengobatan lain yang dijalani.

Tamoksifen dan penghambat enzim aromatase adalah dua jenis obat yang biasanya digunakan dalam terapi hormon. Tamoksifen berfungsi untuk menghambat estrogen agar tidak mengikatkan diri pada sel-sel kanker.

Sedangkan penghambat enzim aromatase dianjurkan untuk penderita yang sudah mengalami menopause. Fungsinya adalah menghalangi kinerja aromatase, yaitu substansi yang membantu produksi estrogen dalam tubuh setelah menopause. Contoh obat ini dalam bentuk tablet yang tersedia dan diminum setiap hari adalah letrozol, eksemestan, dan anastrozol.

Tamoksifen dan penghambat enzim aromatase dapat menyebabkan beberapa efek samping yang mirip, antara lain sakit kepala, mual, muntah serta sensasi rasa panas, berkeringat, dan jantung berdebar (hot flushes). Tetapi, tamoksifen memiliki efek samping khusus, yaitu dapat menyebabkan perubahan siklus menstruasi pada penderita kanker payudara.

((www.alodokter.com, Pengobatan Kanker Payudara, diakses 30 Mei 2017))