Author - admin

Cerita Rima Melati Idap Kanker Payudara Stadium Akhir

Jakarta – Aktris senior Rima Melati masih tak habis pikir pernah mengidap kanker payudara stadium akhir pada akhir 1989 silam. Pyasalnya, informasi itu baru dia dapatkan setelah beberapa tahun pulih dari pembunuh nomor dua di Indonesia tersebut.

Saat ditemui di sela-sela kesibukannnya, Rima mengaku sempat kaget saat divonis dokter menderita kanker payudara, kendati saat itu dokter tak memberi tahu stadium kanker yang dia idap. Satu hal yang mengganggu pikiran Rima, anak-anaknya.

“Saya pikir, aduh, siapa yang mau besarkan anak-anak saya? Saya mohon kepada Tuhan, dokter di atas segala dokter, saya ingin anak-anak saya tetap sehat, jangan ada yang seperti saya,” tutur bintang film Intan Berduri itu beberapa waktu lalu.

Tahun ini, genap 29 tahun Rima sembuh dari kanker payudara. Dia ingat, anak-anak dan mendiang suaminya (Frans Tumbuan) selalu mendukungnya agar tetap berjuang lolos dari penyakit tersebut.

Kesetiaan dan kesabaran sang suami pula lah yang membuat Rima sempat drop bertahun-tahun pasca sembuh, ketika Frans meninggal dunia pada 2015 akibat diabetes.

“Saya menangis berlarut-larut karena ditinggal sama suami. Drop sekali waktu itu. Beruntung ada anak-anak yang selalu meyakinkan bahwa suami saya sudah mendapatkan tempat di surga,” terangnya.

Dan sekarang, seolah tak ingin orang lain merasakan penyakit yang pernah dia derita, Rima kini aktif di Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI). Harapannya, dia bisa membantu para penyintas, dan menyosialisasikan hidup sehat kepada masyarakat.

“Pokoknya satu, serahkan kepada dokter di atas segala dokter, Tuhan yang Maha Kuasa. Pola hidup sehat. Dan terakhir bantu orang-orang di sekitar kita, baik laki-laki maupun perempuan agar terhindar dari penyakit itu,” tandasnya.

Read more...

2030 Indonesia Ditarget Bebas Kanker Payudara Stadium Lanjut

Jakarta – Dalam rangka perayaan hari ulang tahun (HUT) ke-15, Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) kembali menegaskan visi Indonesia bebas kanker payudara stadium lanjut pada 2030.

Ketua YKPI Linda Agum Gumelar mengatakan, target tersebut hanya bisa terpenuhi bila kesadaran diri masyarakat memeriksakan diri secara dini terus tumbuh.

Caranya, lanjut Linda, yakni dengan melakukan periksa payudara sendiri (sadari), atau periksa payudara secara klinis (sadanis), guna mendeteksi adanya benjolan.

“Sadari pintu awal mendeteksi adanya kelainan kanker payudara,” terang Linda kepada Jurnas.com di sela-sela perayaan HUT YKPI ke-15 di Jakarta.

Linda mengimbau masyarakat memanfaatkan akses pemeriksaan mammografi gratis yang diadakan oleh Unit Mobil Mammografi (UMM) YKPI. Program tersebut, hingga saat ini sudah memeriksa lebih dari 10 ribu pasien.

“Dari pemeriksaan sepanjang 2016-2018, 14,7 persen dicurigai jinak, 2,7 persen diucrigai ganas,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Linda juga mengingatkan masyarakat untuk tidak menempuh pengobatan alternatif atau herbal. Pasalnya, selama ini pengobatan herbal belum terbukti menyembuhkan pembunuh nomor dua di dunia tersebut.

“Jangan sampai nanti sudah borok, sudah stadium lanjut, baru pergi ke dokter. Padahal kalau ke dokter sejak awal, angka harapan hidup pasti tinggi,” tandasnya.

Read more...

YKPI: Kesadaran Memeriksa Kanker Payudara Masih Minim

Jakarta – Kesadaran masyarakat terhadap kanker payudara masih minim. Buktinya, menurut Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar, 70 persen pasien yang memeriksakan diri ke dokter, sudah berada pada tahap stadium lanjut.

Tentu hal ini, kata Linda, menyulitkan proses penyembuhan. Pasalnya, semakin awal kanker payudara dideteksi, angka harapan hidup semakin tinggi.

“Di masyarakat ada yang sudah paham (harus memeriksakan diri) tapi tidak berani. Khawatir dan takut. Padahal kalau ditemukan di stadium awal, harapan hidupnya masih tinggi. Berbeda halnya kalau sudah busuk gara-gara terus menerus ditunda,” kata Linda di sela-sela hari ulang tahun (HUT) YKPI ke-15, di Panglima Polim, Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

Pernyataan senada juga diungkapkan oleh ahli onkologi dr. I Made Christian Binekada, M.Repro, Sp.B (K) Onk. Rendahnya kesadaran masyarakat memeriksakan diri ke dokter ditandai dengan lebih dipilihnya pengobatan alternatif atau herbal.

Hal itu, menurut Christian, tak lepas dari pola pikir masyarakat setempat. Mereka menganggap seakan-akan pengobatan alternatif lebih menjamin, dari pada mengeluarkan ongkos mahal untuk memeriksakan diri ke dokter.

“Akhirnya pengobatan medis jadi second line-nya. Pengobatan di luar medis jadi first line. Sehingga sekarang bagaimana mengubah paradigma itu dengan kehadiran para pendamping, relawan, dan klinisi untuk menerobos tradisi demikian,” ujar Christian.

Read more...

Psikolog: Pasien Kanker Payudara Butuh Empati

Jakarta – Dukungan kerabat dan keluarga bagi penderita kanker payudara (breast cancer) merupakan hal yang sangat penting. Alasannya, menurut psikolog dari London School of Public Relation (LSPR), Cindy Dwi Utami, para penyintas kanker payudara membutuhkan empati sebagai salah satu sandaran hidup mereka.

Namun untuk menunjukkan rasa empati, kata Cindy, bukan dengan menampilkan mimik prihatin. Menurut Cindy, empati berbeda dengan rasa kasihan. Jika mengasihani yakni melihat objek dari luar, maka empati berarti menyelam ke dalam kehidupan objek.

“Kita harus bisa memahami konteks kehidupannya seperti apa. Kita harus mendengarkan ceritanya, pengalamannya, apa yang dirasakan, kemudian nilai-nilainya, dan memahami latar belakang budayanya,” kata Cindy pada Minggu (26/8) di sela-sela Pelatihan Relawan Pendamping Pasien Kanker Payudara Angkatan IV Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), di LSPR Jakarta.

Selain itu, empati dapat ditunjukkan dengan tidak melakukan justifikasi kepada pasien kanker payudara. Apapun yang diekspresikan oleh para penderita kanker, merupakan apa yang mereka rasakan secara nyata (real).

“Kita memvalidasi apapun perasaan yang mereka laporkan, karena itulah yang mereka rasakan,” ujar Cindy.

Dalam kesempatan lainnya, Ketua YKPI Linda Agum Gumelar mengatakan, keahlian psikologi dan komunikasi dibutuhkan oleh seorang pendamping pasien kanker payudara. Pasalnya, kedua hal itu berguna untuk menguatkan pasien, di samping ikhtiar kesehatan melalui pengobatan medis.

Dia mencontohkan, saat terkena kanker payudara pada 1996 lalu, mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) itu merasa tertekan akibat kalimat-kalimat bernada memojokkan dari sejumlah pihak.

“Saya mendapatkan tekanan yang luar biasa, dari banyak orang, karena psikologi dan komunikasi tidak dipahami. Sehingga setelah bertemu dengan mereka, bukannya tambah kuat, tapi justru memojokkan kita, perasaan dan emosi kita,” tutur Linda.

Diketahui, Pelatihan Relawan Pendamping Pasien Kanker Payudara merupakan agenda tahunan YKPI. Tahun ini, kegiatan tersebut diikuti oleh 51 orang, yang terdiri dari dokter, perawat, akademisi, bidan, dan survivor dari berbagai daerah di Indonesia.

 

Sumber: http://www.jurnas.com/artikel/39908/Psikolog-Pasien-Kanker-Payudara-Butuh-Empati/

Read more...

YKPI Gelar Pelatihan bagi Pendamping Kanker Payudara Angkatan IV

Jakarta – Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) menggelar pelatihan bagi relawan pendamping pasien kanker payudara. Ini merupakan pelatihan keempat, yang dilaksanakan secara berturut-turut dalam empat tahun terakhir.

Ketua YKPI Linda Agum Gumelar mengatakan, pelatihan tahun ini sukses menarik 51 peserta, jauh lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Apalagi, kata Linda, praktisi, tenaga medis, hingga akademisi juga turut bergabung dalam kegiatan yang digelar di London School of Public Relation (LSPR) Jakarta pada 22-24 Agustus tersebut.

“Materi yang diberikan antara lain psikologi, komunikasi, dan secara luas tentang kanker payudara. Kenapa materi ini? Karena untuk memberikan suatu pengetahun dan berbagi kepada peserta, tentang psikologi dan komunikasi bagi pasien kanker, khususnya kanker payudara,” kata Linda pada Minggu (26/8) kemarin.

Kedua materi ini menurut Linda sangat penting bagi relawan pendamping kanker payudara. Pasalnya, acap kali di lapangan masih ditemui pendamping yang tidak memahami kedua pendekatan ini dengan baik.

“Seperti saya kena kanker payudara pada 1996, itu saya benar mendapatkan tekanan yang luar biasa, dari banyak orang, karena psikologi dan komunikasi kami tidak dipahami. Sehingga setelah bertemu dengan mereka, bukannya tambah kuat, tapi justru memojokkan kita, perasaan dan emosi kita,” ujarnya.

Mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ini menambahkan, setelah menjalani dua hari pelatihan, para peserta pelatihan akan mendapatkan sertifikat dari TUVRheinland, yakni perusahaan yang berbasis di Jerman.

“Sertifikatnya hanya berlaku setiap tahun. Jadi setiap tiga tahun dievaluasi,” jelasnya.

Read more...

Ketua YKPI Sebut Kanker Payudara Stadium Awal Bisa Selamat

Pontianak – Pemerintah Kota (Pemkot) Singkawang menggelar sosialisasi deteksi dini kanker payudara di Kantor Wali Kota, Jalan Firdaus, Selasa (7/8/2018).

Kegiatan sosialisasi dilakukan bekerjasama dengan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) dan menghadirkan Dr Agus Sutarman Sp.B(K)Onk sebagai pembicara.

Ketua YKPI, Linda Agum Gumelar mengatakan, pentingnya deteksi dini kanker payudara dilakukan.

Hal ini karena kanker payudara pada stadium awal bisa selamat.

“Tapi kenapa 70 persen yang datang ke dokter sudah stadium lanjut,” katanya.

Artinya kemungkinan untuk hidupnya semakin sedikit. Sementara bila awal, 80 hingga 90 persen bisa selamat.

“Itu kenapa faktor-faktornya banyak sekali,” ungkapnya.

Read more...

Tak Hanya Wanita, Pria Juga Miliki Risiko Terkena Kanker Payudara

Pontianak – Pemerintah Kota (Pemkot) Singkawang menggelar sosialisasi deteksi dini kanker payudara di Kantor Wali Kota, Jalan Firdaus, Selasa (7/8/2018).

Kegiatan sosialisasi dilakukan bekerjasama dengan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) dan menghadirkan Dr Agus Sutarman Sp.B(K)Onk sebagai pembicara.

Dr Agus Sutarman Sp.B(K)Onk mengatakan, pria memiliki risiko terkena kanker payudara.

“Cuman sedikit dibandingkan perempuan, 1 banding 100,” tuturnya.

Hal ini karena perempuan memiliki kelenjar payudara yang lebih banyak dibandingkan perempuan. Sementara laki-laki tidak terlalu banyak.

Penderita kanker payudara di Indonesia lebih banyak ketimbang jenis kanker yang lain. Bahkan di dunia juga sama.

Deteksi dini sangat penting dilakukan karena dengan diagnosa dini, bisa mengetahui sejak awal.

Bila mengetahui sejak awal, kemungkinan sembuh lebih besar dibandingkan mengetahui pada stadium lanjut, kemungkinan sembuhnya lebih kecil.

“Kanker payudara bisa disembuhkan kalau diketahui sejak dini,” ungkapnya.

Read more...

Waspadai Kanker Payudara Sejak Dini, Inilah Ciri-ciri Gejalanya

Pontianak – Pemerintah Kota (Pemkot) Singkawang menggelar sosialisasi deteksi dini kanker payudara di Kantor Wali Kota, Jalan Firdaus, Selasa (7/8/2018).

Kegiatan sosialisasi dilakukan bekerjasama dengan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) dan menghadirkan dr Agus Sutarman Sp.B(K)Onk sebagai pembicara.

Dr Agus Sutarman Sp.B(K)Onk mengatakan, ada beberapa ciri adanya kanker payudara.

Pertama terdapat benjolan yang tidak disertai dengan nyeri. Benjolan itu tumbuh dengan cepat.

“Atau perubahan seperti kulit jeruk, atau timbul luka di permukaan payudara, itu yang paling sering,” katanya.

Bila menemukan ciri-ciri tersebut, segera datang ke dokter atau fasilitas kesehatan yang ada untuk ditindaklanjuti pemeriksaan medis.

Kanker payudara itu bisa menyebar ke paru-paru dan menyebabkan sesak. Bisa juga ke tulang yang menyebabkan tulang patah.

“Bila tulang belakang yang kena, akibatnya bisa lumpuh. Kalau livernya kena, fungsinya bisa terganggu,” tuturnya.

Read more...

Tjhai Chui Mie Ajak Warga Deteksi Dini Kanker Payudara

Pontianak – Pemerintah Kota (Pemkot) Singkawang menggelar sosialisasi deteksi dini kanker payudara di Kantor Wali Kota, Jalan Firdaus, Selasa (7/8/2018).

Kegiatan sosialisasi dilakukan bekerjasama dengan Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) dan menghadirkan Dr Agus Sutarman Sp.B(K)Onk sebagai pembicara.

Wali Kota Singkawang, Tjhai Chui Mie mengatakan, penyakit kanker harus benar-benar cepat di deteksi agar dapat sedini mungkin di cegah.

Apabila kanker telah menyerang, makan bisa dipastikan akan mempengaruhi umur harapan hidup dalam suatu wilayah.

“Yang berimbas pada derajat kesehatan masyarakat berada pada zona merah,” katanya.

Ia mengajak semua warga yang hadir mengetahui apa itu kanker payudara dan cara deteksi kanker payudara itu sendiri.

Kemudian bagaimana cara menghadapi apabila kanker payudara itu telah menjadi satu di antara masalah gangguan kesehatan.

“Baik pada diri kita, keluarga, maupun lingkungan kita,” ungkapnya.

Read more...

Biaya Kanker Payudara Mahal, Pasien Disarakankan Gabung BPJS

Jakarta – Kanker payudara merupakan salah satu penyakit dengan biaya menguras kantong. Betapa tidak, untuk melakukan satu kali mammografi saja, butuh biaya rata-rata Rp600.000-800.000. Itu belum termasuk biaya operasi dan obat-obatan lainnya.

Karena itu, untuk menekan pengeluaran tersebut, Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar menyarankan pasien bergabung Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.

Paling tidak, kata Linda, BPJS membuat harapan hidup para penyintas kanker payudara tetap terjaga, kendati untuk obat-obatan tertentu tidak tertutupi oleh BPJS Kesehatan. Juga, bagi mereka yang tidak sakit, berpeluang ikut membantu pasien kanker payudara yang membutuhkan.

“Masalah biaya itu relatif karena sekarang kan sudah dicover oleh BPJS, walau beberapa juga tidak (dicover),” terang Linda di sela-sela nonton bareng (nobar) ‘Si Doel The Movie’ di XXI Plaza Senayan Jakarta, bersama Yayasan LIONS Club Jakarta Cosmopolitan, pada Sabtu (4/8).

Penggunaan BPJS untuk pengobatan kanker payudara merupakan upaya Linda mendorong para penderita supaya menempuh jalur medis, ketimbang memanfaatkan cara alternatif alias obat-obatan herbal.

Sebagaimana pengalamannya melawan kanker payudara beberapa tahun silam, Linda menilai pengobatan medis sudah terbukti sebagai metode penyembuhan.

“Saya menyarankan sesuai pengalaman saya dan teman lain. Kita harus menempuh cara medis, karena itu sudah teruji secara klinis. Artinya secara internasional sudah diakui, dan para dokter di Indonesia sudah ahli,” tandasnya.

Read more...