Author - admin

Pelatihan Pendamping Pasien Kanker Payudara, Angkatan III, 2017

Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) melaksanakan Pelatihan Relawan Pedamping Pasien Kanker Payudara Angkatan III yang dilaksanakan pada tanggal 4-6 Agustus 2017 di Kampus London School of Public Relations (LSPR), Sudirman Park, Jakarta Pusat. Mengikuti Pelatihan Relawan ini menjadi idaman orang. Ini terbukti dengan kegiatan tahun ketiga yang diadakan YKPI ini pesertanya meningkat.

Dengan peningkatan peserta dari tahun ketahun bertambah dan juga peserta dari daerah yg ikut juga meningkat, di tahun ketiga ini peserta yang mengikuti pelatihan naik 20 % yaitu berjumlah 70 peserta yg berasal berasal dari berbagai daerah yaitu Jakarta, Padang, Pekalongan, Bali, Cirebon, Yogyakarta, Makasar, Palangkaraya, Surabaya, Lampung, Jember, Banjarmasin, dan Bekasi mendaftar mengikuti pelatihan bersertifikat internasional TUV Rheinland ini. “Kami terpaksa membatasi peserta, karena tidak menyangka jika ditahun sebelumnya terdapat 60 peserta, begitu pendaftaran dibuka banyak yang mendaftar namun karena kapasitas ruangan tersedia dan menjaga kualitas dari pelatihan ini, kami terpaksa membatasi jumlah peserta” ujar Linda Amalia Sari Gumelar selaku ketua YKPI.

Pelatihan ini diisi dengan sejumlah materi yang diharapkan akan berguna bagi para peserta yang mengikuti. Berbagai pilar dan pihak terkait kegiatan ini ikut serta diantaranya, perawat, dokter, relawan, penyintas maupun masyarakat umum mendaftar dan ikut serta dalam kegiatan ini.
Begitu besarnya animo peserta untuk mengikuti pelatihan ini, diuraikan faktor penyebabnya oleh ketua dan pendiri YKPI, Linda Gumelar “Karena pada pelatihan ini lebih ditekankan soal materi nya bukan secara teknis saja tapi juga apa dan bagaimana si kanker payudara itu, dan bgm mencegah kanker dengan deteksi dini”.

Dalam pelatihan ini para peserta mendapatkan teori dan penjelasan dari pakarnya, diskusi kelompok, role play hingga ujian tertulis. Peserta juga diberikan materi tentang bagaimana mereka dapat menjadi pendamping yang baik. Materi-materi yang diberikan antara lain pengetahuan dasar tentang kanker payudara, cara berkomunikasi dengan penderita kanker yang benar, dan membaca psikologi penderita kanker.
“Kalau pendamping itu, bukan berarti seperti orang yang sok tau, mentang mentang dia sudah pernah atau mantan penderita jadi sok tau gitu, tetapi harus bisa sharing atau berbagi bukan jadi sok tau”, kata dr.Walta Gautama SpB(K) Onk yang menjadi salah satu pembicara dengan materi pengetahuan tentang kanker payudara di pelatihan ini.

Ini merupakan kedua kalinya dr.Walta Gautama SpB(K) Onk menjadi pembicara di acara pelatihan ini setelah di tahun sebelumnya dia digantikan oleh dr.Bob Adinata,SpB(K) Onk dikarenakan ada tugas ke luar kota. Bahkan dr. Walta pagi itu harus berjuang melawan kantuknya setelah sebelumnya ia harus melakukan operasi hingga pukul tiga pagi, dan jam 8 paginya dokter kanker yang bertugas di RS Dharmais ini berbagi pengetahuan untuk peserta pelatihan YKPI. Beberapa narasumber yang dihadirkan YKPI untuk pelatihan ini diantaranya ibu Rini Sanyoto,MBA, dan ibu Nelly Hursepuny, S.Psi yang membahas tentang psikologi dan komunikasi dengan penderita kanker.

Koordinator Pelatihan ini, bu Ning Anhar menuturkan “Jadi kalau pada waktu pendampingan nanti ada pertanyaan dari pasien kanker, mereka bisa menjawab dengan pengetahuan dari pelatihan ini, kalau yang tidak mereka ketahui itu mereka tampung dulu, lalu ditanyakan pada dokter yang merawat pasien tersebut”
Selain itu para peserta yang lulus akan mendapatkan sertifikat yang bertaraf Internasional TUV Rheinland setelah dapat melewati test yang diberikan, para peserta setelah pelatihan harus memberikan laporan pendampingan pada 3 tahun mendatang untuk membuktikan bahwa para peserta menerapkan ilmu yang sudah didapatkan disini.

Dalam pelatihan ini YKPI bekerjasama dengan Rumah Sakit Kanker Dharmais, London School of Public Relations, PT. TUV Rheinlad selaku perusahaan  di bidang Testing, Inspection, Certification, Consultation and Training dan Wardah Cosmetic serta BSN Medical. Sebagai anggota Reach to Recovery Internasional (RRI) pelatihan ini sudah disesuaikan dengn Reach to Recovery Training Guidelines.

Sertifikat yang dikeluarkan dalam pelatihan ini diakui oleh Reach to Recovery International dan Rumah Sakit Kanker Dharmais, setiap 3 tahun YKPI bersama TUV Rheinland akan melakukan evaluasi bagi para pendamping yang telah mendapatkan sertifikat.

Penulis: EranitaDewi/Relawan-binaan Humas YKPI

Sejarah Ditetapkannya Hari Ibu di Indonesia

22 Desember 1928 Dalam kongres yang digelar di kota perjuangan Yogyakarta, sejumlah perempuan bertemu membahas perjuangan perbaikan derajat kedudukan perempuan Indonesia.

Mereka mnjalin kesatuan semangat juang kaum perempuan bersama-sama dengan kaum laki-laki berjuang meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka dan berjuang bersama-sama kaum perempuan untuk meningkatkan harkat dan martabat perempuan Indonesia menjadi perempuan yang maju.

1935, menetapkan fungsi utama Perempuan Indonesia sebagai Ibu Bangsa, yang berkewajiban menumbuhkan dan mendidik generasi baru yang lebih menyadari dan lebih tebal rasa kebangsaannya.

Pada 1938, Kongres Perempuan Indonesia III di Bandung menyatakan bahwa tanggal 22 Desember sebagai hari Ibu.
Dan Presiden Soekarno kemudian mengukuhkannya melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-Hari Nasional yang Bukan Hari Libur tertanggal 16 Desember 1959, menetapkan bahwa Hari Ibu tanggal 22 Desember merupakan hari Nasional bukan hari libur.

Ini Penyebab Kanker Payudara Loh…!!

breast cancer - pitapinkPARA ahli dan tenaga medis masih belum bisa menyimpulkan dengan pasti, apa penyebab sel kanker bisa tumbuh. Banyak yang mengira, sel kanker tumbuh karena faktor genetik. Jika memiliki keluarga dengan keturunan kanker, maka keturunannya juga akan berpotensi mengalami hal itu. Apakah betul demikian?
Dokter Spesialis Bedah dan Konsultan Bedah Onkologi dr Sonar Sonny Panigoro Sp.B.Onk mengungkapkan, hampir 90 persen pasien kanker, terutama kanker payudara tidak terkait genetik. Memang ada yang terkena karena faktor keturunan, namun menurutnya tak terlalu signifikan jumlahnya.
“Sebanyak 90 persen bukan faktor genetik. Berarti karena apa? Karena pengaruh lingkungan,” ungkapnya kepada JawaPos.com, Kamis (1/6).

Sonar menambahkan banyak ahli menyimpulkan faktornya karena gaya hidup, kurang gerak, infeksi. Stres juga bisa namun tak langsung berdampak sebagai penyebab munculnya sel kanker. “Ada 100 jenis sel kanker di tubuh. Kanker payudara misalnya menyebar lewat darah atau lewat saluran getah bening. Salah satu penyebabnya misalnya gaya hidup,” jelas Sonar. Sonar mengajak seluruh masyarakat untuk hidup sehat sesuai kampanye yang digaungkan Kementerian Kesehatan. Caranya dengan CERDIK.
C=Cek kesehatan secara berkala,
E=Enyahkan asap rokok,
R=Rajin aktifitas fisik,
D=Diet sehat dengan kalori seimbang,
I=Istirahat cukup dan
K= Kelola stress,” ungkap Sonar.

Dia mencontohkan banyak faktor lain yang juga memicu tumbuhnya sel kanker di dalam tubuh. Tak menutup kemungkinan seorang vegetarian juga bisa terkena sel kanker. “Multifaktor, meskipun vegetarian lebih kecil peluang terkena kanker, tetapi bisa juga terkena. Karena itu berbagai penyebab utamanya masih terus kami lakukan penelitian lebih lanjut,” tuturnya.

Sumber: Jawa Post

YKPI Kunjungi Papua Untuk Menekan Angka Kanker Payudara Stadium Lanjut

Jakarta, Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) menyambangi Jayapura guna melakukan sosialisasi Deteksi Dini Kanker Payudara di Papua di kota Jayapura dan Wamena,

“YKPI serius terhadap bahaya kanker Payudara, kami harus menjemput bola dengan mendatangi wilayah propinsi diluar pulau Jawa untuk memberikan sosialisasi deteksi dini kanker Payudara” ujar ibu Linda Agum Gumelar sebagai ketua YKPI.

Kunjungan selama 3 hari di Papua ini dilakukan dalam rangka memperingati bulan Oktober Payudara Internasional. YKPI menancapkan target mendatangi kota Jayapura dan Wamena. Selain pengurus, YKPI menghadirkan dokter ahli kanker payudara dari RS. Dharmais Jakarta, Dr. Walta Gautama Sp.B (k) onk ke berbagai tempat sosialisasi yang dihadiri oleh anggota Persit Kartika Chandra Kirana Cabang xVI Kodim 1701, Dharma Wanita, PIA, KOWAD, pelajar, mahasiswi, PWKI, GOW, PKK, Badan Kerjasama Organisasi Papua dan gabungan organisasi wanita kabupaten Jaya Wijaya,

Dalam rangkaian sosialisasi yang padat tersebut, Dokter Walta juga menyempatkan diri untuk berbagi ilmu dan pengalaman kepada dokter-dokter yang bertugas di Jayapura dengan difasilitasi oleh RS Marthen Indey, Jayapura. “Ini merupakan sejarah bagi Jayapura didatangkan seorang pakar onkology untuk berbagi ilmu dan bersedia sharing bagi dokter-dokter di Papua” ujar perwakilan dokter dalam sambutannya.

Dari pengalaman yang dialami langsung oleh dokter Walta selama bekerja di RS Dharmais, dikatakan “sejak tahun 1997  ia menjadi ahli bedah, kasus kanker payudara  ternyata masih berada diatas 65 % pasien yang datang ke rumah sakit tempat ia bekerja  dan mereka datang dengan stadium lanjut, bahkan sampai 2017 tidak ada peningkatan dan tingkat penurunan angka yang datang, menurutnya pasien yang masih datang dengan stadium lanjut masih berada disekitaran 65 %”.

Dari data tersebut, YKPI meyakini jika di Jakarta saja masih banyak penderita kanker payudara yang datang dalam keadaan stadium lanjut maka di daerah-daerah luar Jakarta dan berbagai propinsi diduga berpotensi besar banyak yang tidak mengetahui cara mendeteksi dini Kanker Payudara.

Dalam kunjungannya ke Papua, ketua bidang organiasi YKPI, Titin Pamudji menyatakan “Dalam 2 hari kami berada di Papua yaitu 9-10 Oktober 2017 banyak kegiatan yang kami lakukan, sosialisasi deteksi dini di empat tempat berbeda dan pertemuan dengan dokter-dokter di Papua serta mengunjungi penderita Kanker Payudara di kota Jayapura dan Wamena”.

Dharma Pertiwi daerah H Jayapura yang diketua ibu Sandra George E. Supit yang menghadirkan 300 orang di Aula Wisma Cendrawasih pada Senin, 9 Oktober 2017 mengungkapkan rasa gembiranya dengan kehadiran tim dari YKPI yang juga menghadirkan dokter ahli kanker payudara dari Rumah Sakit Dharmais, Dr. Walta Gautama untuk memberikan pengetahuan tentang Kanker Payudara. “Saya berharap agar kita dapat mengerti dan mengambil manfaatnya, baik bagi pribadi maupun bagi keluarga dan masyarakat” ujarnya.

“Saat ini penyebab perbedaan sudut pandang tentang kanker payudara masih ada, diantaranya tingkat pengetahuan wanita tentang gejala dan tanda kanker payudara, dan menghindari hambatan memeriksa kanker payudara seperti ada anggapan jika pemeriksaan Mammografi malah akan menyebabkan kanker payudara” jelas Dr Walta yang juga sebagai wakil ketua YKPI. “untuk itu kehadiran YKPI dirasakan sangat perlu ada dan harus terus menerus melakukan sosialisasi” tambahnya.

Ketua Umum GOW Jayawijaya, Ny. Yustina Yenny Bonua, S.Ip, Msi, ikut bergembira “Saat sosialisasi saya tidak menyangka masyarakat kota Wamena begitu antusias dengan paparan dari YKPI, Andaikan waktu kehadiran pengurus YKPI cukup panjang, maka pasti banyak perempuan Wamena yang ingin bertanya langsung mengenai kanker payudara” tambahnya. Tim YKPI memang hadir di Wamena hanya sehari saja, pagi hari tiba dan sore harinya langsung kembali ke Papua. “Kami berharap YKPI hadir kembali ke Wamena dan dusun dusun di Wamena untuk memberikan sosialiasi kanker payudara ini.

Menutup perjalanannya dari Papua, ibu Linda yang juga pernah mengalami kanker Payudara ini mengatakan “Kami akan terus membantu menekan kanker payudara stadium lanjut di seluruh Indonesia, dengan melakukan sosialasasi deteksi dini kanker payudara dan memberikan kesadaran agar wanita melakukan SADARI, periksa payudara sendiri secara rutin”.

 

–               Humas YKPI –

Informasi lebih lanjut hubungi:

Ibu Endang Muniarti

0811-826 998

YKPI turut berpartisipasi meramaikan acara Bakti Sosial dalam rangka HUT IKKT ke 52 pada tanggal 11 Juli 2017

YKPI turut berpartisipasi meramaikan acara Bakti Sosial dalam rangka HUT IKKT ke 52 pada tanggal 11 Juli 2017, dengan menghadirkan Mobil mammografi  untuk pemeriksaan mammogram. Ibu Linda Agum Gumelar selaku Ketua YKPI dan ibu Enny Trimurti selaku istri dari Bapak Panglima TNI Jendral Gatot Nurmantyo juga turut hadir.

Semoga bertambah kesadaran masyarakat akan bahaya Kanker Payudara dan juga bisa meningkatkan kesadaran untuk secara rutin melakukan SADARI, sehingga visi YKPI dapat terwujud : Menuju Indonesia Bebas Kanker Stadium Lanjut.

www.pitapink-ykpi.or.id

#kankerpayudara #pitapink #YKPI #seminar #seminarkanker #kesehatanwanita #salingjagasalingpeduli

Ayo Cegah Kanker Payudara!

Meskipun belum ada fakta atau bukti ilmiah yang pasti tentang cara mencegah kaker payudara, beberapa tindakan preventif berikut ini bisa dilakukan untuk mengendalikan faktor resiko penyebab kanker payudara :

  1. Jauhi rokok

Rokok mengandung banyak partikel kimia yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan dan sel. Tidak hanya menghindari kegiatan merokok, menjauhi asap rokok adalah salah satu cara untuk mengurangi resiko kanker payudara.

  1. Konsumsi serat

Banyak mengkonsumsi serat yang berasal dari sayur dan buah sangat bermanfaat untuk tubuh. Serat dan antioksidan yang terkandung dalam buah dan sayur dapat menangkal pengaruh radikal bebas yang berbahaya bagi tubuh.

  1. Menjaga berat badan

Salah satu kunci menjaga kesehatan adalah memiliki berat badan yang ideal. Berat badan dan indeks massa tubuh yang berlebih tidak hanya memicu resiko kanker tetapi penyakit degeneratif lainnya seperti diabetes, stroke dan penyakit jantung.

  1. Hindari konsumsi alcohol

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa alkohol adalah salah satu faktor pemicu kanker payudara. Sebisa mungkin hindari konsumsi alkohol, terutama jika anda terbiasa meminumnya. Jika anda tidak dapat menghentikan kebiasan minum secara total, lakukan perlahan-lahan dengan mengurangi takaran alkohol setiap harinya.

  1. Olahraga teratur

Olahraga teratur dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan menjadikan tubuh anda lebih sehat sehingga tidak mudah terserang penyakit. Olahraga juga dapat membakar sel lemak sehingga mengurangi kadar estrogen yang dihasilkan dalam tubuh.

  1. Konsumsi vitamin

Vitamin juga berperan penting dalam meningkatkan fungsi tubuh, menjaga kekebalan dan membantu proses pemulihan. Konsumsi vitamin C dapat meningkatkan kemampuan tubuh untuk menangkal radikal bebas dan mengurangi efek kerusakan yang ditimbulkannya.

  1. Pemeriksan payudara sendiri (SADARI)

Untuk mengetahui adanya perubahan fisik terutama pada payudara sebaiknya lakukan pemeriksaan pada tubuh dengan menggunakan tangan anda sendiri. Pemeriksaan ini efektif untuk mengetahui gejala awal kanker payudara, sehingga jika ditemukan sesuatu yang tidak semestinya anda bisa langsung melakukan pemeriksaan medis dan mendapat penanganan yang lebih cepat.

  1. Lakukan tes pencegahan

Jika pemeriksaan payudara sendiri dirasa belum cukup, anda bisa berkujung di fasilitas kesehatan setempat untuk mendapatkan tes mammogram yang hasilnya lebih akurat.

  1. Penanganan dengan obat-obatan

Dua jenis obat yang tersedia untuk wanita dengan risiko tinggi terkena kanker payudara adalah tamoksifen dan raloksifen. Wanita yang sudah mengalami menopause dapat menggunakan kedua obat ini, sementara wanita yang belum menopause hanya dianjurkan untuk menggunakan tamoksifen. Jika Anda pernah atau memiliki risiko mengalami penggumpalan darah atau kanker rahim, kedua obat ini juga kemungkinan tidak cocok.

Bagi Anda yang ingin memiliki anak, dokter biasanya akan menganjurkan untuk berhenti meminum tamoksifen setidaknya dua bulan sebelum mencoba untuk hamil karena obat ini akan memengaruhi perkembangan janin. Tamoksifen juga dapat meningkatkan risiko penggumpalan darah, jadi Anda sebaiknya berhenti meminumnya pada enam minggu sebelum operasi.

  1. Mastektomi

Selain untuk menangani kanker payudara, mastektomi juga digunakan untuk menurunkan risiko kanker payudara pada wanita yang berisiko tinggi akibat riwayat keturunan. Operasi ini bisa menurunkan risiko kanker payudara hingga 90%, namun tetap memiliki risiko komplikasi.

Pengangkatan payudara juga mungkin dapat menurunkan kepercayaan diri pasien secara signifikan. Di samping operasi plastik, rekonstruksi payudara yang dilakukan bersamaan atau setelah mastektomi, Anda juga memiliki alternatif lain, yaitu payudara palsu yang dapat digunakan di dalam beha.

Saat ini, yang paling penting untuk setiap perempuan untuk menurunkan risiko kematian akibat kanker payudara adalah melakukan skrining mamogram secara reguler, mengetahui bagaimana cara melakukan pemeriksaan payudara sendiri, dan memeriksakan diri ke dokter secara rutin.

((pitapink-ykpi.or.id, Kanker Payudara, diakses 8 Juni 2017))

((www.familinia.com, Penyebab dan Gejala Kanker Payudara, diakses 8 Juni 2017))

Kita sudah mengetahui bahwa kanker payudara

Kita sudah mengetahui bahwa kanker payudara adalah kanker paling mematikan bagi wanita. Memang beberapa penyebab kanker payudara tidak bisa kita hindari, seperti keturunan, mutasi gen dan gender. Namun ada faktor penyebab kanker payudara yang masih bisa kita hindari. Diantaranya yaitu :

  1. Mengikuti terapi hormone

Terapi penggantian hormon kombinasi memiliki risiko sedikit lebih tinggi daripada terapi penggantian hormon estrogen. Tetapi keduanya tetap dapat mempertinggi risiko terkena kanker payudara. Di antara 1.000 wanita yang menjalani terapi hormon kombinasi selama 10 tahun, diperkirakan akan ada 19 kasus kanker payudara lebih banyak dibanding kelompok wanita yang tidak pernah menerima terapi hormon. Risiko ini juga akan meningkat seiring durasi terapi, tapi akan kembali normal setelah Anda berhenti menjalaninya.

 

  1. Menggunakan pil KB

Pil KB mencegah kehamilan melalui kandungan hormon estrogen dan progestin, dengan menghambat indung telur berovulasi atau melepaskan sel telur. Selain itu, pil juga akan membuat sperma kesulitan mencapai sel telur atau menghalangi sel telur menempel pada lapisan rahim. Ada yang menyebutkan pengguna alat kontrasepsi hormonal, termasuk pil, memiliki kemungkinan sedikit lebih tinggi untuk terdiagnosis kanker payudara.

Namun dengan berhenti mengonsumsi pil KB selama 10 tahun, risiko terkena kanker payudara akan kembali menurun seperti mereka yang tidak pernah mengonsumsi pil KB.

 

  1. Tidak menyusui

Menurut penelitian, bila seorang wanita tidak menyusui, jaringan pada payudaranya akan kembali seperti sebelum hamil. Hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya peradangan pada payudara. Peradangan ini sangatlah progresif dan erat kaitannya dengan kanker payudara.

 

  1. Mengkonsumsi minuman beralkohol,

Pada dasarnya alkohol adalah senyawa kimia yang dapat mengganggu proses dan fungsi organ tubuh. Wanita yang mengkonsumsi alkohol secara rutin beresiko 1 ½ kali lebih besar terkena kanker payudara dibandingkan mereka yang bukan peminum. Sebuah penelitian telah dilakukan terhadap 200 wanita pengonsumsi minuman keras dan 200 wanita bukan pengonsumsi minuman keras. Hasilnya menyatakan bahwa anggota kelompok pengonsumsi minuman keras bisa terserang kanker sebanyak tiga orang lebih banyak. Risiko kanker payudara akan meningkat seiring banyaknya jumlah minuman keras yang dikonsumsi.

 

  1. Kelebihan berat badan (terutama setelah masuk masa menopause) dan tidak berolahraga.

Kelebihan berat badan atau kegemukan bisa meningkatkan resiko terkena kanker. Hal ini disebabkan karena hormon estrogen yang merupakan pemicu kanker dihasilkan oleh sel lemak. Semakin banyak sel lemak yang ada dalam tubuh, semakin besar resiko kanker payudara yang dimilki.

Namun, perlu diingat bahwa semua faktor tersebut masih berdasarkan kemungkinan, seseorang yang tidak memiliki faktor yang berisiko tetap saja dapat terkena kanker payudara. Skrining dan deteksi dini adalah alat yang tepat untuk menurunkan risiko kematian yang ditimbulkan oleh penyakit ini.

((pitapink-ykpi.or.id, Kanker Payudara, diakses 8 Juni 2017))

((www.alodokter.com, Kanker Payudara, diakses 8 Juni 2017))

((www.alodokter.com, Ingin Tahu Efek Samping Pil KB, diakses 8 Juni 2017))

((www. prosehat.com, Hubungan Antara Menyusui Dan Kanker Payudara, diakses 8 Juni 2017))

Kanker Payudara, Keturunan kah?

Hingga saat ini belum jelas secara pasti apa penyebab kanker payudara. Namun jika Anda memiliki keluarga inti (misalnya, ibu, kakak, adik atau anak) yang mengidap kanker payudara atau ovarium, risiko Anda untuk terkena kanker payudara akan meningkat.

Hal ini termasuk dalam beberapa faktor penyebab kanker payudara yang tak dapat diubah, yaitu :

1. Riwayat keluarga

Wanita yang memiliki anggota keluarga yang pernah menderita kanker payudara memiliki resiko yang lebih besar. Jika seorang wanita memiliki ibu, bibi atau saudara perempuan yang menderita kanker payudara, ia memiliki resiko 2 kali lipat menderita kanker payudara. Sementara resiko pada generasi selanjutnya, misalnya jika wanita tersebut memiliki anak, maka anak dari wanita tersebut memiliki resiko tiga kali lebih besar dari ibunya. Jika ibu, anak, saudara perempuan atau nenek Anda terkena kanker payudara, lakukan pemeriksaan mamografi 5 tahun sebelum usia mereka didiagnosis terkena kanker. Namun, kebanyakan perempuan yang terkena kanker payudara tidak memiliki riwayat keluarga yang terkena kanker.

2. Gender

Gender atau jenis kelamin adalah salah satu faktor resiko kanker. Wanita beresiko 100 kali lebih besar menderita kanker payudara dibanding laki-laki. Hal ini disebabkan karena pada wanita, payudara lebih berkembang dan memiliki lebih banyak jaringan didalamnya dibandingkan pria.

Jaringan dalam payudara pria tidak mengalami pertumbuhan sebagaimana payudara wanita. Selain itu pria tidak memiliki kadar estrogen dan progesteron yang tinggi seperti pada wanita. Kedua hormon ini adalah salah satu pemicu kanker payudara.

3. Genetik

Sekitar 5% sampai 10% dari penderita kanker payudara disebabkan oleh faktor genetik. Tubuh manusia normal memiliki gen yang mengendalikan pertumbuhan tumor yang disebut Gen BRCA1 dan BRCA2. Apabila gen ini rusak atau bermutasi, maka pertumbuhan sel tidak dapat dikendalikan dan akhirnya timbul sel kanker. Jenis kanker ini juga mungkin diturunkan orang tua kepada anak

4. Usia

Setiap tahunnya, kurang lebih terdapat 77% pasien berusia di atas 50 tahun yang didiagnosis terkena kanker payudara. Wanita yang berusia lebih dari 55 tahun beresiko lebih besar terkena kanker payudara. Hal ini disebabkan oleh kemampuan pengendalian sel dan fungsi organ tubuh yang sudah menurun sehingga menyebabkan sel tumbuh tidak terkendali. Dua dari tiga penderita kanker payudara adalah wanita diatas usia 55 tahun.

  1. Riwayat medis personal

Wanita yang pernah menderita kanker payudara pada salah satu bagian payudaranya, misalnya payudara kanan, beresiko 3 sampai 4 kali lebih tinggi menjalarkan kanker payudara tersebut pada bagian lain tubuhnya yakni payudara sebelah kiri. Meskipun sel kankernya sudah diangkat dari dalam jaringan payudaranya, tetap saja wanita tersebut masih beresiko terserang kanker payudara.

6. Risiko Paparan Radiasi

Risiko Anda untuk terkena kanker payudara juga bisa meningkat jika sering terpapar radiasi atau akibat prosedur medis tertentu yang menggunakan radiasi seperti rontgen dan CT scan.

  1. Risiko Paparan Estrogen

Risiko terkena kanker payudara akan sedikit meningkat akibat tingkat paparan terhadap estrogen dalam tubuh. Contoh:

  • Jika Anda tidak memiliki keturunan atau melahirkan di usia lanjut. Hal ini akan meningkatkan risiko kanker payudara karena paparan terhadap estrogen tidak terhalang oleh proses kehamilan.
  • Jika Anda mengalami masa menstruasi yang lebih lama (misalnya, mulai menstruasi sebelum usia 12 tahun atau mengalami menopause setelah usia 55 tahun).
  1. Dense breast

Keadaan dense breast merupakan hal yang normal pada perempuan muda. Pada perempuan dengan usia yang lebih tua dense breast merupakan cermin adanya stimulasi hormonal pada payudara dan meningkatkan risiko terkena kanker payudara.

  1. Keturunan Kaukasia

 

((www.alodokter.com, Kanker Payudara, diakses 6 Juni 2017))

((pitapink-ykpi.or.id, Kanker Payudara, diakses 6 Juni 2017))

((www.familinia.com, Penyebab dan Gejala Kanker Payudara, diakses 6 Juni 2017))

Gejala Kanker Payudara

Indikasi pertama kanker payudara yang biasanya disadari adalah benjolan atau kulit yang menebal pada payudara. Meski demikian, sekitar 9 dari 10 benjolan yang muncul bukanlah disebabkan oleh kanker.

Seringnya kaum wanita tidak menyadari gejala-gejala ini sampai pada akhirnya muncul gejala-gejala lain yang juga menandakan kanker sudah mengganas, sehingga kanker sudah sulit ditangani. Inilah pentingnya untuk selalu melakukan pendeteksian dini, minimal melakukan Periksa Payudara Sendiri (SADARI).

Terdapat beberapa indikasi yang perlu Anda perhatikan agar bisa ditanyakan langsung kepada dokter yang menangani Anda, seperti

  • Benjolan yang tidak hilang atau permanen, biasanya tidak sakit dan terasa keras bila disentuh atau penebalan pada kulit payudara atau di sekitar ketiak yang tidak berhubungan dengan siklus menstruasi.
  • Perubahan ukuran atau bentuk payudara.
  • Kerutan pada kulit payudara.
  • Keluarnya cairan dari payudara, umumnya berupa darah.
  • Pembengkakan atau adanya tarikan pada puting susu
  • gatal-gatal dan muncul ruam di sekitar putting
  • Terdapat lesung pada payudara

Segera periksakan ke dokter jika terdapat gejala tersebut. Jangan menunda lebih lama lagi karena jika terlambat kanker payudara sulit disembuhkan. Juga lakukan pemeriksaan dasar mamografi setiap 2-3 tahun sekali pada perempuan berusia di atas 35-50 tahun, dan setiap satu tahun atau dua tahun pada wanita berusia di atas 50 tahun.

 

((www.alodokter.com, Kanker Payudara, diakses 6 Juni 2017))
((pitapink-ykpi.or.id, Kanker Payudara, diakses 6 Juni 2017))
((www.familinia.com, Penyebab dan Gejala Kanker Payudara, diakses 6 Juni 2017))

Benjolan di Sekitar Payudara tidak Selalu Sebagai Kanker

Apabila kita menemukan benjolan di payudara, belum tentu itu berarti kanker payudara. Terkadang, benjolan tersebut hanyalah tumor yang umumnya tidak berbahaya atau tumor jinak.

Kanker jinak atau tumor adalah kumpulan sel yang merupakan hasil pembelahan abnormal pada suatu jaringan yang menetap di dalam suatu area organ tubuh. Tumor tidak berpindah tempat atau menyebar ke organ lain, terlebih lagi tumor bisa dengan mudah ditangani lewat tindakan medis. Kanker ganas atau kanker payudara adalah sekelompok sel yang tumbuh secara tidak terkendali dalam jaringan dan berpotensi menyebar sekaligus berpindah pada organ lain.

Tumor dapat dibedakan dari bentuk benjolannya. Apabila tidak terasa nyeri, dan jika diraba terasa padat, bulat, sekaligus kenyal dan dapat bergeser, mala kemungkinan ini hanya merupakan tumor jinak yang disebut Fibroadenoma.

Tumor jinak paling sering dialami wanita usia 20 – 30 tahun. Fibroadenoma terjadi ketika tubuh membentuk jaringan kelenjar susu berlebihan. Fibroadenoma umumnya dapat hilang dengan sendirinya, tapi terkadang dapat juga tinggal dan membesar, terutama saat hamil. Penyebab fibroadenoma umumnya tidak diketahui dengan pasti. Namun, karena kondisi ini banyak dialami wanita menopause dan pasca-menopause yang menjalani terapi penggantian hormon, maka diduga fibroadenoma akibat perubahan kadar hormon estrogen. Fibroadenoma yang tidak kunjung hilang umumnya ditangani dengan operasi.

Saat wanita mengalami siklus menstruasi bulanan juga terkadang mengalami peubahan payudara. Hal ini disebabkan karena adanya perubahan hormone selama siklus. Cirinya biasnaya   benjolan ada pada satu atau kedua payudara. Benjolan ini bertambah besar dan mengeras sebelum masa menstruasi. Benjolan yang dirasakan dapat terasa keras ataupun lunak dan dapat terdiri dari satu atau beberapa benjolan. Terkadang keluar cairan dari puting. Nyeri pun terkadang terasa, dan juga ada perubahan ukuran payudara. Ini disebut dengan fibrosistik.

Fibrosistik tidak memerlukan penanganan khusus. Namun dokter biasanya akan memberikan resep untuk membantu meredakan nyeri saat datang bulan. Benjolan dan rasa sakit yang disebabkan oleh fibrosistik umumnya akan reda setelah menstruasi.

Ada juga benjolan yang merupakan kista, benjolan berisi cairan yang biasanya terbentuk pada satu atau kedua payudara dengan jumlah dan ukuran yang berbeda. Ukuran dan lunak atau kerasnya berubah sesuai siklus menstruasi. Kondisi ini tidak memerlukan operasi dan dapat ditangani dengan prosedur jarum aspirasi halus. Jarum digunakan untuk menyerap beberapa sel keluar dari benjolan payudara. Jika benjolan ini adalah kista, maka akan mengempis setelah cairan dikeluarkan. Kondisi yang paling sering dialami wanita 30-60 tahun ini umumnya tidak mendatangkan gejala lain. Hormon diduga menjadi penyebab timbulnya kista payudara ini.

Selain itu, ada pula yang disebut Papiloma intraductal. Umumnya terjadi pada wanita berusia 45-50 tahun, berbentuk seperti benjolan kecil menyerupai kutil pada dinding saluran susu dekat puting. Pada beberapa kasus papiloma intraduktal dapat menyebabkan perdarahan dari puting. Papiloma intraduktal dapat ditangani dengan operasi.

Lemak pada payudara pun membentuk benjolan, yang umumnya berbentuk bulat, padat, kencang, tapi tidak terasa nyeri. Kondisi ini terjadi akibat cedera pada payudara. Umumnya kondisi ini tidak memerlukan penanganan khusus.

Kendati setiap benjolan pada payudara bukan menandakan kanker, namun Anda disarankan memeriksakan diri ke dokter. Anda mungkin tidak akan tahu apakah benjolan pada payudara Anda bersifat kanker atau tidak sebelum diperiksa atau diuji secara medis.

((familinia.com, Penyebab Dan Gejala Kanker Payudara, diakses 5 Juni 2017))

((www.alodokter.com, Benjolan dan Tumor Payudara Belum Tentu Kanker, diakses 5 Juni 2017))