Author - admin

Awas! Pada Wanita Sibuk, Risiko Kanker Payudara Kerap Terabaikan

Jakarta, Hari Kanker Sedunia diperingati setiap tanggal 4 Februari pada tiap tahunnya. Kanker telah menjadi salah satu penyakit dengan angka kematian tertinggi di dunia, dan salah satunya adalah kanker payudara.

Di Indonesia sendiri kasus kanker payudara merupakan salah satu penyebab kematian yang cukup tinggi. Hal tersebut yang mendasari Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) memberikan sosialisasi tentang pentingnya deteksi kanker payudara sejak dini.

Saat ditemui di acara Pemeriksaan Mamografi Gratis untuk Rekan Media dan Keluarga, Endang Moerniati selaku Humas dari YKPI menjelaskan bahwa wanita karier justru lebih rentan terkena kanker payudara daripada yang tidak bekerja.

“Semua wanita yang bekerja pasti tidak akan sempat memikirkan dirinya sendiri, terutama kesehatan dirinya. Sibuk memikirkan orang lain, memikirkan pekerjaannya. Kita sebagai perempuan selalu punya pemikiran bahwa kita merasa diri kita kuat. Tidak boleh seperti itu. Karena kita tidak tahu, di dalam diri kita ini ada sesuatu. Kita harus peduli, sebagai perempuan kita harus peduli dengan diri sendiri,” tutur Endang kepada detikHealth, di Melawai, Jakarta Selatan.

Endang juga menambahkan, bahwa memeriksakan diri sendiri lebih awal justru lebih baik. Karena jika sudah terlambat, biaya pengobatan kanker payudara sangat mahal.

“Dan kalau sudah tergeletak kita tidak bisa apa-apa. mumpung masih dalam kondisi sehat dan kuat kita periksakan diri sendiri. Jangan tunggu sakit untuk memeriksakan diri sendiri.

 

Link Referensi: health.detik.com

Read more...

Seperti Ini Perubahan Payudara yang Terserang Kanker

WHO memprediksi, tahun 2030 akan terjadi ledakan insiden penyakit kanker di negara berkembang, dan kanker payudara termasuk di dalamnya. Indonesia salah satu negara berkembang yang juga mengalami kenaikan insiden kanker.

Untuk kanker payudara, 70 persen pasien di Indonesia terdeteksi di stadium lanjut. Hal ini berdampak pada beban biaya yang ditanggung BPJS yang mencapai lebih dari Rp1 triliun dalam setahun, sehingga jika ditemukan di stadium awal tentu akan sangat mengurangi beban biaya pengobatan.

“Saat ini kanker payudara menempati urutan pertama dari 10 kanker terbanyak di Indonesia. Masalah di Indonesia adalah belum semua perempuan tahu cara mendeteksi dini kanker payudara,” ujar Dr. Martha Royda Manurung dari RS Kanker Dharmais, dikutip dari rilis YKPI dan Forum Ngobras, Jumat 2 Februari 2018.

Menurut dr. Martha, Umumnya gejala yang diketahui berupa benjolan, perubahan pada struktur kulit payudara misalnya ada cekungan, keluar cairan dari puting atau ukuran payudara kanan dan kiri tidak sama. Faktor risiko tersering kanker payudara adalah faktor hormonal, di antaranya haid sebelum usia 12 tahun, hamil anak pertama di usia lebih 30 tahun, tidak pernah hamil dan menyusui, terlambat menopause di usia lebih dari 50 tahun, dan penggunakan KB hormonal.

“Deteksi dini dilakukan dengan Periksa Payudara Sendiri (Sadari), USG dan mammografi. Mammografi dianjurkan untuk usia lebih dari 40 tahun, dan bisa dikombinasikan dengan USG,” ungkapnya.

Sementara itu, Data YKPI tahun 2016, dari 2.515 yang diperiksa, ditemukan 1,2 persen hasil yang dicurigai tumor ganas. Hasil sampai Desember 2017, dari 3.160 yang diperiksa, ada 1,4 persen yang dicurigai tumor ganas.

Peningkatan angka tersebut disinyalir karena masyarakat mulai memahami peran deteksi dini kanker payudara yakni mammografi.

“Meskipun hanya 1,4 persen yang secara statistik mungkin tidak signifikan, tetapi sekecil apapun mereka adalah manusia. Satu nyawa yang bisa diselamatkan sangat berarti. Jadi bagi YKPI ini murni pekerjaan sosial untuk menolong perempuan Indonesia dari ancaman kanker payudara,” ujar Ketua YKPI, Linda Gumelar.

Link Referensi: www.viva.co.id

Read more...

2030, Kanker Payudara ‘Meledak’ di Negara Berkembang

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi tahun 2030 akan terjadi ledakan kanker di dunia berkembang, termasuk kanker payudara yang menyerang kaum perempuan.

Hal itu diungkapkan Dr Martha Royda Manurung dari RS Kanker Dharmais kepada wartawan di Jakarta,Jumat (02/02/2018). Menurutnya, Indonesia salah satu negara berkembang yang juga mengalami kenaikan insiden kanker. Untuk kanker payudara, 70% pasien di Indonesia terdeteksi di stadium lanjut. Hal ini berdampak pada beban biaya yang ditanggung BPJS yang mencapai lebih dari 1 triliun dalam setahun, sehingga jika ditemukan di stadium awal tentu akan sangat mengurangi beban biaya pengobatan.

“Masalah di Indonesia adalah belum semua perempuan tahu cara mendeteksi dini kanker payudara. Umumnya gejala yang diketahui berupa benjolan, perubahan pada struktur kulit payudara misalnya ada cekungan, keluar cairan dari puting atau ukuran payudara kanan dan kiri tidak sama,” ungkapnya saat pemeriksaan Mammografi dalam rangka memperingati Hari Kanker Sedunia yang jatuh setiap 4 Februari.

DR Martha menjelaskan faktor risiko tersering kanker payudara adalah faktor hormonal, di antaranya haid sebelum usia 12 tahun, hamil anak pertama di usia lebih 30 tahun, tidak pernah hamil dan menyusui, terlambat manopuse di usia lebih dari 50 tahun, dan penggunakan KB hormonal. “Mereka ini disarankan rutin melakukan deteksi dini, termasuk yang pernah ada riwayat tumor jinak payudara,” jelas dr. Martha.

Ketua YKPI, Linda Gumelar mengatakan (YKPI) mengadakan pemeriksaan mammografi gratis untuk media dan keluarga.  Sekitar 50 wartawan dari berbagai media di Jakarta, yang dikoordinir oleh Forum Ngobras tampak antusias mengikuti pemeriksaan mammografi yang berlangsung di Sekretariat YKPI di bilangan Jl. Panglima Polim, Jakarta Selatan. Rentang usia peserta antara 35-50 tahun.

“YKPI rutin melakukan mammografi gratis sejak memiliki unit mammografi keliling tahun 2005 dengan bus kecil. Pada tahun 2015 unit mammografi YKPI sudah dilengkapi alat terbaru. Bus mammografi setiap minggu keliling ke puskemas  di seluruh Jakarta, bekerjasama dengan RS Kanker Dharmais,” ungkapnya.

Data YKPI tahun 2016, dari 2.515 yang diperiksa, ditemukan 1,2% hasil yang dicurigai tumor ganas dan 14,8% yang dicurigai tumor jinak. Tahun 2017 lebih banyak lagi yang diperiksa mencapai 3.160 pasien. Bahkan, sampai Desember 2017, dari 3.160 yang diperiksa, ada 1,4% yang dicurigai tumor ganas.

“Meskipun hanya 1,4% yang secara statistik mungkin tidak signifikan, tetapi sekecil apapun mereka adalah manusia. Satu nyawa yang bisa diselamatkan sangat berarti. Jadi bagi YKPI ini murni pekerjaan sosial untuk menolong perempuan Indonesia dari ancaman kanker payudara,” tegas Linda. (Ati)

Link Referensi: krjogja.com

Read more...

Cara Mendeteksi Kanker Payudara Sejak Dini

Jakarta – Kanker payudara dapat menyerang siapa saja, termasuk perempuan muda. Karena itu, pemeriksaan sejak dini berguna untuk memperpanjang harapan hidup pasien.

Beberapa cara yang dapat digunakan untuk mendeteksi kanker ialah periksa payudara sendiri (SADARI). SADARI dilakukan dengan peralatan medis, di antaranya alat mammografi, ultrasonografi, dan MRI (Magnetic Resonance Imaging).

Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar menjelaskan, YKPI rutin melakukan mammografi gratis sejak 2005 silam. Semenjak beroperasi, bus mammografi yang bekerja sama dengan Rumah Sakit Dharmais dapat ditemui setiap minggu di puskesmas-puskesmas yang ada di seluruh Jakarta.

Linda berharap masyarakat Indonesia semakin sadar untuk melakukan deteksi dini kanker payudara. Sebab, 70 persen orang yang melakukan deteksi dini ternyata sudah menderita kanker payudara stadium lanjut.

“Bahkan WHO memperkirakan akan terjadi ledakan kanker di negara berkembang di tahun 2030,” kata Linda saat menggelar pemeriksaan mammografi gratis di kediamannya, Jakarta, Jumat (2/2).

Data YKPI 2016 menemukan, dari 2.515 perempuan yang memeriksakan payudara mereka lewat mammografi, 1,2 persen di antaranya dicurigai tumor ganas, dan 14,8 persen lainnya terdeteksi tumor jinak. Sedangkan hingga Desember 2017, dari 3.160 pasien yang diperiksa, 1,4 persen di antaranya dicurigai tumor ganas.

“Meskipun hanya 1,4 persen, secara statistik mungkin tidak signifikan. Akan tetapi sekecil apapun mereka, tetaplah manusia. Satu nyawa yang bisa diselamatkan sangat berarti. Jadi, bagi YKPI ini murni pekerjaan sosial untuk menolong perempuan Indonesia,” terangnya.

Dalam kesempatan berbeda, dokter sekaligus penyintas kanker, dr. Inez Nimpuno menekankan pentingnya penyediaan layanan kesehatan, untuk mengenali karakteristik perempuan ketika terkena kanker payudara sejak awal.

Alasannya, ketika perempuan menderita kanker, maka ada dampak langsung yang dirasakan oleh keluarga. Berbeda halnya ketika sakit yang sama diderita oleh laki-laki.

“Contoh, kalau seorang ibu sakit, maka dampak langsungnya juga pada anggota keluarga, anak dan suami akan terpengaruh karena perempuan lah yg mengurus anak dan suaminya. Tetapi kalau laki-laki (suami, Red) yang sakit, maka tidak ada dampak langsung pada anak, karena masih ada perempuan yang ada mengurus anak dan rumah tangga,” terangnya.

Selain itu, kanker payudara menurut Inez juga dinilai melibatkan persoalan identitas diri perempuan. Karena kanker tersebut menyerang organ yang dianggap mendefinisikan apakah seseorang itu perempuan atau bukan.

“Segala usaha untuk mengedukasi masyarakat tentang kesetaraan gender sangat penting, dan makin penting jika dilihat dari sudut pandang perempuan sebagai pasien kanker Penyediaan layanan kesehatan harus ditaruh dalam kerangka ini. Kesimpulannya, kanker payudara adalah persoalan gender,” tegasnya.

Link Referensi: http://www.jurnas.com

Read more...

9 Faktor Risiko Kanker Payudara, Ada yang Anda Miliki?

Jakarta, Kanker payudara tidak hanya menyerang perempuan. Meski relatif jarang, kanker ini juga bisa menyerang laki-laki. Bahkan bisa lebih ganas dibanding kanker payudara pada perempuan.

Ditemui dalam pemeriksaan mamografi gratis yang diselenggarakan oleh Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) di Jakarta baru-baru ini, dr Martha Rodia Manurung selaku dokter dari Poliklinik Deteksi Dini Kanker di Rumah Sakit Kanker Dharmais menyebut sedikitnya ada 9 faktor risiko seseorang terkena kanker payudara.

Berikut ini 9 faktor risiko yang dimaksud:

1. Usia 
Mayoritas kasus kanker payudara terjadi pada perempuan berusia di atas 50 tahun, tetapi juga dapat terjadi pada anak laki-laki atau perempuan mulai dari usia 15 tahun.

2. Faktor Genetik
Gen yang dibawa oleh anggota keluarga kita dapat diturunkan dan mengakibatkan penyakit tertentu. Penyebab kanker payudara pun bisa disebabkan oleh mutasi gen yang tidak diwariskan biasanya terjadi pada mutasi gen yang disebut Human Epidermal Growth factor receptor 2 atau yang disingkat dengan HER2.

Sedangkan gen paling umum diwariskan adalah gen kanker payudara 1 (BRCA1) dan gen kanker payudara 2 (BRCA2), keduanya meningkatkan risiko kanker payudara dan kanker ovarium.

3. Kontrasepsi Oral
Penggunaan kontrasepsi oral atau hormonal juga berisiko menyebabkan kanker payudara. dr Martha menyarankan untuk menghindari penggunaan alat kontrasepsi hormonal yang secara kumulatif melebihi delapan tahun dan gunakan kontrasepsi mekanik seperti spiral dan kondom untuk mengurangi risiko kanker payudara.

4. Menstruasi Dini
Bagi perempuan yang mengalami menstruasi pertamanya di bawah usia 12 tahun sangat berisiko terkena kanker payudara. Hal ini dikarenakan peningkatan jumlah estrogen dalam tubuhnya, selama jangka waktu yang lama. Estrogen juga dikaitkan dengan kanker payudara karena dapat menyebabkan sel kanker untuk tumbuh.

5. Riwayat Penyakit
Jika Anda sudah pernah menderita kanker payudara pada satu payudara, Anda memiliki peningkatan risiko mengembangkan kanker pada payudara satunya.

6. Kehamilan Pertama di Usia Tua
Hamil di atas usia 35 tahun dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Wanita yang hamil di usia tua berisiko tinggi melahirkan bayi prematur, dan hal ini akan berefek pada proses penyusuan dan penyapihan yang tidak normal.

7. Menopause Usia Lanjut
Menopause setelah usia 50 tahun meningkatkan resiko untuk mengalami kanker payudara. Dijelaskan oleh dr Martha, dalam perbandingan wanita yang telah menjalani ooforektomi bilateral sebelum usia 35 tahun mempunyai resiko sepertiganya dibanding yang mengalami menopause pada usia normal, yaitu 50 tahun ke atas.

8. Pola Hidup Tidak Sehat
“Kasus kanker payudara meningkat karena dewasa ini kebanyakan orang-orang menjalani pola hidup tidak sehat. Banyak makan fast food, mudah stress, jarang berolahraga, bekerja shift malam. Semua itu bisa memicu terjadinya kanker payudara,” papar dr Martha.

Pola hidup tak sehat juga dapat menyebabkan obesitas yang menjadi salah satu penyebab terkena kanker payudara.

9. Tidak menyusui, tidak menikah, tidak punya anak
dr Martha mengungkapkan bahwa wanita yang tidak pernah mengalami kehamilan yang lengkap atau tidak pernah melahirkan, dan tidak pernah menyusui, lebih berpotensi terkena kanker payudara.

Referensi: http://health.detik.com/

Read more...

YKPI Undang Jurnalis Perempuan Lakukan Pemeriksaan Payudara

JAKARTA, ITN- KANKER payudara menempati posisi nomor satu dari 10 kanker terbanyak, lebih tinggi di atas kanker serviks. Saat ini kanker payudara dapat menyerang siapa saja, bahkan pada perempuan muda dengan faktor risiko rendah.

Deteksi dini kanker payudara dapat dilakukan melalui periksa payudara sendiri (Sadari) atau periksa payudara secara klinis (Sadanis) artinya periksa dengan orang yang terlatih, setelah mendapat ceritanya lalu periksa ke dokter, atau melalui pemeriksaan mamografi.

Memperingati Hari Kanker Internasional pada 4 Februari, Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) mengadakan pemeriksaan mamografi gratis di kediaman Ketua YKPI, Linda Agum Gumelar pada Jumat (2/2/18).

“Ada banyak kegiatan yang diselenggarakan YKPI di bulan Februari, diantaranya pemeriksaan mamografi gratis, dan tahun ini kami mengundang rekan-rekan media dikarenakan ditemukan ada beberapa kasus dari rekan media yang terdiagnosa kanker payudara,” ujar Linda Agum Gumelar.

Linda mengatakan, “Saya tahu kehidupan jurnalis yang sangat padat dan berkejaran dengan waktu, mungkin tidak punya waktu melakukan pemeriksaan sehingga dengan kegiatan ini kami berharap walaupun sedikit dapat membantu kesehatan rekan-rekan jurnalis”.

“Melalui kegiatan ini sekaligus bisa sosialisasi tentang pentingnya deteksi dini kanker payudara yang bisa dibantu rekan-rekan jurnalis untuk disampaikan melalui media masing-masing, juga kepada keluarga dan teman-temannya,” ungkapnya.

Kegiatan mamografi menurutnya dilakukan secara rutin setiap minggu. YKPI setiap tahunnya telah memiliki jadwal bekerjasama dengan Rumah Sakit Kanker Dharmais dan Puskesmas di Jakarta.

“Dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu kami juga mendatangi kelompok-kelompok masyarakat yang membutuhkan dengan gratis, dan ada juga program permintaan dari swasta dan lain-lainnya yang tentunya ada biayanya namun lebih ringan dibandingkan dengan bayar pemeriksaan mamografi 50 orang pergi ke tempat pemeriksaan rumah sakit, ini jauh lebih murah,” ungkapnya.

Seluruh kegiatan mobil mamografi kami ini menurutnya bekerjasama dengan Rumah Sakit Kanker Dharmais, karena tenaga kedokterannya maupun tenaga perawatnya serta radiolognya dari rumah sakit tersebut. “Perlu waktu dua minggu paling lama untuk menunggu hasilnya,  lalu kami informasikan kepada teman-teman yang melakukan pemeriksaan langsung. Apakah ada tindak lanjut atau tidak ada masalah,” jelas Linda.

Data Mamografi UMM-YKPI menyebutkan pada Januari – Desember 2017 jumlah pasien yang diperiksa sebanyak 3.160 orang. Dari jumlah tersebut terdapat 472 orang (15%) terkena tumor jinak dan 44 orang (1,4%) memiliki hasil curiga ganas.

“Di Indonesia informasi tentang Sadari masih kurang, seperti masyarakat Indonesia yang tinggal di daerah kepulauan dan di daerah-daerah terpencil. Ada juga yang sudah tahu tetapi tidak melakukan, ini juga persoalan lain lagi. Mereka menganggap ini penyakit orangtua,” ungkapnya.

Lebih lanjut Linda mengatakan, “Saat ini sudah ada dokter yang bergabung dalam yayasan kami yang mendapatkan pasien di usia muda. Ada yang usianya 17 tahun, artinya  dengan perubahan gaya hidup ada kecenderungan walaupun pada umumnya masih di usia 30-an”.

Untuk pemeriksaan mamografi menurutnya di usia 36-40 tahun ke atas. “Tetapi kami memakai patokan usia 36 tahun, nanti kami akan lihat lagi dan akan dikoordinasikan kembali dengan Rumah Sakit Dharmais atau Persatuan Radiolog. Kalau usia masih muda dibawah 36 tahun cenderung jaringan payudaranya masih padat sehingga sulit untuk di deteksi secara awal dengan mamografi dimana mamografi juga pakai sinar, sebaiknya bisa dilakukan melalui Sadari, Sadanis atau melalui USG,” ujarnya.

USG menurutnya bukan alat screening, baru melihat saja. Untuk kepastiannya memang harus melalui mamografi dan ebaiknya pemeriksaan mamografi dilakukan dua tahun sekali.

YKPI merupakan yayasan nirlaba yang didirikan oleh survivors kanker payudara, dokter bedah onkology, dan relawan peduli kanker payudara, dengan visi misi Indonesia bebas kanker payudara stadium lanjut tahun 2030. Dideklarasikan pada seminar Nasional tahun 2015 dengan Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia (Peraboi).

Pemeriksaan awal dilakukan oleh dokter Martha. Dilanjutkan dengan pemeriksaan mamografi di sebuah bus (Mobil Mamografi). Ternyata tidak perlu takut melakukan mamografi, prosesnya cepat, tidak sakit, dan hasilnya akurat.

Pada kesempatan yang sama dokter Martha mengatakan, “Mengapa Sadari harus dilakukan? Karena Sadari merupakan salah satu cara untuk mengetahui ada tidaknya kelainan pada payudara. Pemeriksaan ini dilakukan sendiri oleh pasien setiap bulan. Bagi wanita yang masih haid, pemeriksaan dilakukan setelah selesai haid”.

“Bila sudah monopause Sadari dilakukan setiap tanggal tertentu yang mudah diingat, misalnya setiap tanggal 1 atau setiap tanggal kelahiran,” ujarnya lebih lanjut.

Menurutnya pada saat melakukan Sadari yang harus diperhatikan, antara lain bila terasa benjolan, penebalan kulit, perubahan ukuran dan bentuk payudara, pengerutan kulit, keluar cairan dari puting susu, nyeri, pembengkakan lengan atas, dan teraba benjolan di ketiak atau di leher.

“Jika ditemukan kelainan-kelainan seperti hal  tersebut atau terasa ada perubahan dibandingkan dengan keadaan pada bulan sebelumnya, maka segera periksakan diri ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut,” tutup dokter Martha.

Referensi: https://indonesiatripnews.com/popular/ykpi-undang-jurnalis-perempuan-lakukan-pemeriksaan-payudara/

Read more...

YKPI Sosialisasikan Deteksi Dini Bahaya Kanker Payudara Di Korem 171/PVT

Kota Sorong, 19 Februari 2018- PW: Bagi sebagian wanita yang ada di Indonesia bahkan dunia, kanker payudara merupakan salah satu penyakit yang di takuti. Karena banyak pemahaman yang menyebutkan, jika seorang wanita yang terkena penyakit kanker payudara ini akan menyebabkan kematian bagi penderita. Namun sebenarnya pemahaman itu keliru, karena banyak wanita yang menderita penyakit ini dapat bertahan hidup dan sembuh dari sakit. Oleh sebab itu Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), untuk terus mensosialisasikan deteksi dini bahaya kanker payudara dan kanker servik. Bertempat di Aula Makorem 171/PVT Kota Sorong, YKPI yang di pimpin langsung Ketua yayasan Ibu Linda Agum Gumelar dan Ibu Titien Pamudji mengadakan sosialisasi deteksi dini bahaya kanker payudara.

Kegiatan sosialisasi ini hasil kerjasama antara YKPI dan Persit Kartika Chandra Kirana Koorcab Rem 171 PD XVIII/Kasuari. Kegiatan yang dibuka langsung oleh Ketua Persit Kartika Chandra Kirana Koorcab Rem 171 PD XVIII/Kasuari Ibu Natalia Ignatius Yogo Triyono MA ini, dilanjutkan dengan pemaparan deteksi dini bahaya kanker oleh Dr Bob Andinata SpB(K)Onk (Spesialis Onkologi/Kanker). Para peserta nampak sangat serius mencermati setiap detail materi deteksi dini bahaya kanker yang disampaikan oleh Dr Bob. Dan dalam beberapa saat diselingi kuis, yang di pandu oleh Suster Ester. Semua peserta yang hadir Nampak ingin mengetahui lebih jauh tentang kanker payudara. Hal itu terlihat pada saat sesi tanya jawab, dimana banyak pertanyaan yang dilontarkan perwakilan peserta dari IWAPI, FKPPI, Ibu-ibu Persik KCK, Mahasiswi dan Dosen pendamping, Murid-murid SMA serta Guru pendamping.

Ibu Linda Agum Gumelar yang pernah di diagnosa terkena penyakit kanker payudara ini, menganjurkan agar setiap wanita melakukan “SADARI – Periksa Payudara Sendiri”. “Saya pernah di diagnosa kanker, tapi dengan SADARI itu dapat mengetahui ada benjolan dan langsung berkonsultasi dengan dokter. Jadi lakukan SADARI dan bila merasa ada kejanggalan, segera ke dokter”, anjur Ibu Linda. “Banyak pasien kanker yang berpikiran meninggal, namun YKPI ini ingin terus membangun semangat/ pikiran positif bagi mereka. Kami ingin mengatakan bahwa kami ada (tidak meninggal). Kenapa? Karena kami mengetahui sejak dini dan melakukan cara pengobatan yang benar berdasarkan petunjuk kedokteran”, tambah Ibu Linda.

Dr Bob dalam kesempatan lain juga menghimbau agar media-media terus mempublikasikan masalah kanker payudara ini, baik deteksi dininya sampai penanganan medisnya jika sudah ada gejala terkena kanker payudara. “Ketidaktahuan masyarakat dan banyak mitos yang menyesatkan masyarakat, sehingga masyarakat melakukan pengobatan alternatif bukan medis. Saat masyarakat menggunakan pengobatan alternatif dan tidak kunjung sembuh, mereka kemudian ke dokter. Tetapi sudah terlambat, dikarenakan waktu sudah terbuang saat melakukan pengobatan alternatif. Jadi saat datang di dokter sudah stadium tinggi dan susah di sembuhkan. Sebenarnya ini yang menyebabkan kematian (karena terlambat di tangani dokter)”, terang Dr Bob.

Menurut Dr Bob, penderita kanker payudara tidak semuanya harus di kemoterapi. “Tidak semua penderita kanker payudara harus di kemoterapi. Karena saat ini momok masyarakat adalah takut di operasi dan kemoterapi. Jadi pikiran itu harus dihilangkan dan jika pengobatan sudah bagus, dapat dipastikan angka kematian akan semakin kecil”, jelas Dr Bob. Kegiatan yang dihadiri Danrem 171/PVT Brigjen TNI Ignatius Yogo Triyono MA, Kasi Pers Korem 171/PVT Letkol Inf Rudi Andriono SIP serta Dandenkesyah/Srg Letkol Ckm Agung Sunarko, S.sos ini, dihadiri lebih dari 400 orang peserta.

Read more...

Pelatihan Pendamping Pasien Kanker Payudara, Angkatan III, 2017

Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) melaksanakan Pelatihan Relawan Pedamping Pasien Kanker Payudara Angkatan III yang dilaksanakan pada tanggal 4-6 Agustus 2017 di Kampus London School of Public Relations (LSPR), Sudirman Park, Jakarta Pusat. Mengikuti Pelatihan Relawan ini menjadi idaman orang. Ini terbukti dengan kegiatan tahun ketiga yang diadakan YKPI ini pesertanya meningkat.

Dengan peningkatan peserta dari tahun ketahun bertambah dan juga peserta dari daerah yg ikut juga meningkat, di tahun ketiga ini peserta yang mengikuti pelatihan naik 20 % yaitu berjumlah 70 peserta yg berasal berasal dari berbagai daerah yaitu Jakarta, Padang, Pekalongan, Bali, Cirebon, Yogyakarta, Makasar, Palangkaraya, Surabaya, Lampung, Jember, Banjarmasin, dan Bekasi mendaftar mengikuti pelatihan bersertifikat internasional TUV Rheinland ini. “Kami terpaksa membatasi peserta, karena tidak menyangka jika ditahun sebelumnya terdapat 60 peserta, begitu pendaftaran dibuka banyak yang mendaftar namun karena kapasitas ruangan tersedia dan menjaga kualitas dari pelatihan ini, kami terpaksa membatasi jumlah peserta” ujar Linda Amalia Sari Gumelar selaku ketua YKPI.

Pelatihan ini diisi dengan sejumlah materi yang diharapkan akan berguna bagi para peserta yang mengikuti. Berbagai pilar dan pihak terkait kegiatan ini ikut serta diantaranya, perawat, dokter, relawan, penyintas maupun masyarakat umum mendaftar dan ikut serta dalam kegiatan ini.
Begitu besarnya animo peserta untuk mengikuti pelatihan ini, diuraikan faktor penyebabnya oleh ketua dan pendiri YKPI, Linda Gumelar “Karena pada pelatihan ini lebih ditekankan soal materi nya bukan secara teknis saja tapi juga apa dan bagaimana si kanker payudara itu, dan bgm mencegah kanker dengan deteksi dini”.

Dalam pelatihan ini para peserta mendapatkan teori dan penjelasan dari pakarnya, diskusi kelompok, role play hingga ujian tertulis. Peserta juga diberikan materi tentang bagaimana mereka dapat menjadi pendamping yang baik. Materi-materi yang diberikan antara lain pengetahuan dasar tentang kanker payudara, cara berkomunikasi dengan penderita kanker yang benar, dan membaca psikologi penderita kanker.
“Kalau pendamping itu, bukan berarti seperti orang yang sok tau, mentang mentang dia sudah pernah atau mantan penderita jadi sok tau gitu, tetapi harus bisa sharing atau berbagi bukan jadi sok tau”, kata dr.Walta Gautama SpB(K) Onk yang menjadi salah satu pembicara dengan materi pengetahuan tentang kanker payudara di pelatihan ini.

Ini merupakan kedua kalinya dr.Walta Gautama SpB(K) Onk menjadi pembicara di acara pelatihan ini setelah di tahun sebelumnya dia digantikan oleh dr.Bob Adinata,SpB(K) Onk dikarenakan ada tugas ke luar kota. Bahkan dr. Walta pagi itu harus berjuang melawan kantuknya setelah sebelumnya ia harus melakukan operasi hingga pukul tiga pagi, dan jam 8 paginya dokter kanker yang bertugas di RS Dharmais ini berbagi pengetahuan untuk peserta pelatihan YKPI. Beberapa narasumber yang dihadirkan YKPI untuk pelatihan ini diantaranya ibu Rini Sanyoto,MBA, dan ibu Nelly Hursepuny, S.Psi yang membahas tentang psikologi dan komunikasi dengan penderita kanker.

Koordinator Pelatihan ini, bu Ning Anhar menuturkan “Jadi kalau pada waktu pendampingan nanti ada pertanyaan dari pasien kanker, mereka bisa menjawab dengan pengetahuan dari pelatihan ini, kalau yang tidak mereka ketahui itu mereka tampung dulu, lalu ditanyakan pada dokter yang merawat pasien tersebut”
Selain itu para peserta yang lulus akan mendapatkan sertifikat yang bertaraf Internasional TUV Rheinland setelah dapat melewati test yang diberikan, para peserta setelah pelatihan harus memberikan laporan pendampingan pada 3 tahun mendatang untuk membuktikan bahwa para peserta menerapkan ilmu yang sudah didapatkan disini.

Dalam pelatihan ini YKPI bekerjasama dengan Rumah Sakit Kanker Dharmais, London School of Public Relations, PT. TUV Rheinlad selaku perusahaan  di bidang Testing, Inspection, Certification, Consultation and Training dan Wardah Cosmetic serta BSN Medical. Sebagai anggota Reach to Recovery Internasional (RRI) pelatihan ini sudah disesuaikan dengn Reach to Recovery Training Guidelines.

Sertifikat yang dikeluarkan dalam pelatihan ini diakui oleh Reach to Recovery International dan Rumah Sakit Kanker Dharmais, setiap 3 tahun YKPI bersama TUV Rheinland akan melakukan evaluasi bagi para pendamping yang telah mendapatkan sertifikat.

Penulis: EranitaDewi/Relawan-binaan Humas YKPI

Read more...

Sejarah Ditetapkannya Hari Ibu di Indonesia

22 Desember 1928 Dalam kongres yang digelar di kota perjuangan Yogyakarta, sejumlah perempuan bertemu membahas perjuangan perbaikan derajat kedudukan perempuan Indonesia.

Mereka mnjalin kesatuan semangat juang kaum perempuan bersama-sama dengan kaum laki-laki berjuang meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka dan berjuang bersama-sama kaum perempuan untuk meningkatkan harkat dan martabat perempuan Indonesia menjadi perempuan yang maju.

1935, menetapkan fungsi utama Perempuan Indonesia sebagai Ibu Bangsa, yang berkewajiban menumbuhkan dan mendidik generasi baru yang lebih menyadari dan lebih tebal rasa kebangsaannya.

Pada 1938, Kongres Perempuan Indonesia III di Bandung menyatakan bahwa tanggal 22 Desember sebagai hari Ibu.
Dan Presiden Soekarno kemudian mengukuhkannya melalui Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-Hari Nasional yang Bukan Hari Libur tertanggal 16 Desember 1959, menetapkan bahwa Hari Ibu tanggal 22 Desember merupakan hari Nasional bukan hari libur.

Read more...