Author - admin

Kanker Pembunuh Nomor Tiga setelah Jantung dan Ginjal

Jakarta, Jurnas.com – Dewasa ini kanker masih menghuni urutan nomor tiga dari deretan penyakit mematikan di Indonesia.

Kendati demikian, menurut Direkur Utama Rumah Sakit Kanker Dharmais Prof. Abdul Kadir, penyakit tersebut berpeluang menjadi pembunuh nomor satu, karena jumlah pengidapnya semakin meningkat.

“Kalau di Jepang dan Korea, kanker penyebab kematian pertama. Sementara di Indonesia urutan ketiga setelah jantung dan gagal ginjal,” terang Prof. Kadir dalam kegiatan Fun Walk Ribbon Cancer Awareness, di Car Free Day Bundaran HI, Jakarta pada Minggu (17/2).

Karena itu, dia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berkomitmen menjadikan kanker sebagai musuh bersama, dengan cara rutin melakukan deteksi dini dan menjaga pola hidup sehat.

Sementara Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan Cut Putri Arianie mengatakan, upaya penanggulangan kanker sudah mulai dilakukan dari tingkat masyarakat.

Harapannya, bila masyarakat rutin melakukan deteksi dini kanker, maka tidak akan ada banyak pengobatan di rumah sakit.

“Meski belum diketahui sebab pasti, namun pola makan dan gaya hidup yang sehat merupakan beberapa cara menekan faktor risiko kanker,” jelas Arianie.

Sementara itu Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar mengatakan, setelah melakukan deteksi dini melalui Sadari (Periksa Payudara Sendiri) dan menemukan adanya benjolan, dia mengimbau agar segera pergi ke dokter.

“Langsung pergi ke dokter, jangan ke pengobatan alternatif atau herbal, agar segera diketahui stadium kankernya. Semakin dini ketahui, semakin besar peluang sembuh,” kata mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) ini.

Kegiatan Fun Walk Ribbon Cancer Awareness juga diikuti oleh Yayasan Onkologi Anak Indonesia (YOAI). Dalam acara peringatan Hari Kanker Anak Sedunia setiap 15 Februari itu, ratusan pengurus, survivor kanker anak, orangtua, dan relawan muda YOAI memberikan dukungan untuk Pink Ribbon Awareness, dengan membentuk formasi pita emas, agar semakin banyak orang peduli dan mengenal kanker anak.

Read more...

Wacoal Ajak Penghuni Rumah Singgah Belajar Melukis

Jakarta – Perusahaan pakaian dalam (underwear) Wacoal Indonesia menggelar kegiatan melukis bersama penghuni Rumah Singgah Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), pada Senin (11/2) kemarin.

Kegiatan yang menggandeng Bartega Studio ini juga diakhiri dengan penyerahan sumbangan dari Marketing Deputy Wacoal Indonesia Melinda, kepada Ketua YKPI Linda Agum Gumelar.

“Terima kasih atas sumbangan dari Wacoal Indonesia. Nilai ini sangat besar artinya bagi kami. Dan semoga juga bisa bermanfaat untuk mendukung kegiatan sosial yang YKPI lakukan,” kata Linda.

Dalam sambutannya, Linda menjelaskan secara singkat mengenai Rumah Singgah YKPI. Dia mengatakan, rumah itu diperuntukkan bagi pasien kanker payudara, yang sedang menjalani pengobatan di Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta.

Keistimewaan Rumah Singgah YKPI, lanjut Linda, yakni biaya yang dikeluarkan relatif murah, yakni hanya Rp15.000 per hari. Harga itu sudah termasuk ranjang bertingkat untuk pasien dan pendamping, perlengkapan makan dan mandi, hingga beras.

Sementara Marketing Deputy Wacoal Indonesia Melinda menyebut sumbangan bersumber dari pelanggan Wacoal. Dia berharap, dengan jumlah tersebut dapat bermanfaat bagi Rumah Singgah YKPI.

“Semoga jadi berkah buat YKPI khususnya rumah singgah,” ujar Melinda.

Selain proses penyerahan sumbangan, Wacoal Indonesia juga menggelar kegiatan melukis bersama pasien dan penyintas kanker payudara, penghuni Rumah Singgah YKPI.

Lebih dari 15 peserta masing-masing diberikan satu kanvas dan seperangkat alat melukis, untuk menggambar sebuah objek yang telah ditentukan oleh Wacoal Indonesia.

“Kita ingin happy saja di sini. Tidak perlu dibawa pikiran ya ibu-ibu,” ujar Melinda di depan peserta.

Read more...

Hari Kanker Sedunia: Prioritaskan Terapi Medis

Jakarta, Jurnas.com – Dokter spesialis bedah onkologi Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta dr. Bob Andinata, Sp.B (K) Onk mengimbau masyarakat memprioritaskan terapi medis saat menjalani pengobatan kanker.

Imbauan ini disampaikan dalam rangka memperingati Hari Kanker Sedunia (World Cancer Day) yang jatuh hari ini, Senin, 4 Februari 2019.

“Pada kanker, pilihan terapi utama adalah operasi, kemoterapi, radioterapi, atau terapi medis yang sudah menjadi standar di seluruh dunia,” kata dr. Bob kepada Jurnas.com, pada Senin (4/2).

Sementara terapi herbal atau pengobatan alternatif lainnya, lanjut dr. Bob, hanyalah sebagai pelengkap semata. Sebab banyak ditemukan, pasien yang memprioritaskan terapi herbal, malah membuat kondisi kanker semakin buruk.

“Herbal atau terapi alternatif lainnya merupakan terapi komplementer. Ingat, hanya tambahan atau pelengkap,” tegas dia.

Dr. Bob menambahkan, ketika telah memutuskan pengobatan medis pun, masyarakat diharapkan cermat memilih dokter umum.

Khususnya untuk kasus kanker payudara, dia menyebut tidak semua dokter umum dibekali kurikulum yang khusus untuk menangani kanker payudara.

“Ibu-ibu harus berhati-hati memeriksakan payudara ke dokter. Pelajaran kanker payudara belum menjadi kurikulum di dokter umum. Hanya dokter umum tertentu saja yang mengetahui kanker payudara,” ujar dr. Bob.

“Sebaiknya langsung ke dokter bedah onkologi,” imbau dia.

Tahun ini, Hari Kanker Sedunia mengusung tema “Saya Adalah, Saya Akan” atau “I Am and I Will”. Tema ini bertujuan agar semua pihak menjalankan perannya mengurangi jumlah penderita kanker di dunia.

Read more...

Selamat Hari Kanker Se-Dunia Sahabat Pitapink

Jakarta – Hari Kanker Sedunia diperingati setiap tanggal 4 Februari. Tahun ini tema yang diangkat adalah ”Saya Adalah dan Saya Akan” (I Am and I Will). Tema ini bermakna untuk mengajak semua pihak terkait, menjalankan perannya masing masing dalam mengurangi beban akibat penyakit kanker.

Mengapa Hari Kanker Se-Dunia (HKS) ini penting? Karena angka kematian akibat kanker setiap tahunnya masih tinggi. Dengan peringatan ini, diharapkan dapat menyelamatkan jutaan jiwa dari kematian yang dapat dicegah setiap tahunnya.

Masyarakat dapat mengetahui kegiatan HKS 2019 dengan mengunjungi www.worldcancerday.org dan www.harikankersedunia.com. Diharapkan melalui peringatan Hari Kanker Sedunia 2019 dapat menjadi sarana dalam meningkatkan pengetahuan dan kewaspadaan masyarakat terhadap kanker.

Dari data Globocan diketahui terdapat 18,1 juta kasus baru dengan angka kematian sebesar 9,6 juta kematian di tahun 2018. Dimana 1 dari 5 laki-laki dan 1 dari 6 perempuan di dunia mengalami kejadian kanker. Data tersebut juga menyatakan 1 dari 8 laki-laki dan 1 dari 11 perempuan, meninggal karena kanker.

Angka kejadian penyakit kanker di Indonesia (136.2/100.000 penduduk) berada pada urutan 8 di Asia Tenggara, sedangkan di Asia urutan ke 23. Angka kejadian tertinggi di Indonesia untuk laki laki adalah kanker paru yaitu sebesar 19,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 10,9 per 100.000 penduduk, yang diikuti dengan kanker hati sebesar 12,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 7,6 per 100.000 penduduk.

Angka kejadian penyakit kanker untuk perempuan di Indonesia yang tertinggi adalah kanker payudara yaitu sebesar 42,1 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 17 per 100.000 penduduk yang diikuti kanker leher rahim sebesar 23,4 per 100.000 penduduk dengan rata-rata kematian 13,9 per 100.000 penduduk.

Berdasarkan data Riskesdas, prevalensi tumor/kanker di Indonesia menunjukkan adanya peningkatan dari 1.4 per 1000 penduduk di tahun 2013 menjadi 1,79 per 1000 penduduk pada tahun 2018. Prevalensi kanker tertinggi adalah di provinsi DI Yogyakarta 4,86 per 1000 penduduk, diikuti Sumatera Barat 2,47 79 per 1000 penduduk dan Gorontalo 2,44 per 1000 penduduk.

Untuk pencegahan dan pengendalian kanker di Indonesia, khususnya dua jenis kanker terbanyak di Indonesia, yaitu kanker payudara dan leher rahim, pemerintah telah melakukan berbagai upaya antara lain deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim pada perempuan usia 30-50 tahun dengan menggunakan metode Pemeriksaan Payudara Klinis (SADANIS) untuk payudara dan Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA) untuk leher rahim.

Kementerian Kesehatan RI mengembangkan program penemuan dini kanker pada anak, pelayanan paliatif kanker, deteksi dini faktor risiko kanker paru, dan sistem registrasi kanker nasional.

Dalam rangka mengoptimalkan upaya pencegahan dan pengendalian kanker di Indonesia, perlu adanya upaya masif yang dilakukan oleh semua pihak baik pemerintah maupun masyarakat dalam pencegahan dan pengendalian kanker.

Rangkaian kegiatan Hari Kanker Sedunia 2019 dilaksanakan mulai dari pusat hingga daerah melalui surat edaran kepada Kepala Dinas Kesehatan dan Direktur Rumah Sakit Umum agar berpartisipasi aktif falam peringatan HKS 2019 dan mengkampanyekan Saya adalah dan saya akan (I Am and I Will).

Rangkaian kegiatan peringatan Hari Kanker Sedunia 2019 di pusat dilaksanakan dengan melibatkan Komite Penanggulangan Kanker Nasional dan organisasi penyintas kanker yang meliputi kegiatan: Media Briefing Hari Kanker Sedunia 2019, deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim, serta penyebaran media komunikasi dan infomasi kepada masyarakat.  (sumber Kemenkes RI)

Read more...

9 dari 10 Benjolan di Payudara Bukan Kanker

Jakarta, Jurnas.com – Kanker payudara selalu diawali dengan tumbuhnya benjolan. Namun jangan salah, menurut dokter spesialis bedan onkologi Rumah Sakit Dharmais Jakarta dr. Bob Andinata, Sp.B (K) Onk, 9 dari 10 benjolan di payudara justru bukan kanker.

Dalam kegiatan ‘Bulan Kesehatan Bank Bukopin’ di Kantor Pusat Bank Bukopin Jakarta, dr. Bob menerangkan, jika benjolan terasa sakit, itu umumnya ciri kista. Untuk kista, penderitanya tidak perlu melakukan operasi atau kemoterapi.

“Yang penting jaga pola hidup sehat, tidak makan sembarangan, dan rutin olahraga,” terang dr. Bob kepada Jurnas.com.

Kista ini, lanjut dr. Bob, akan hilang dengan sendirinya, dua bulan setelah benjolan pertama kali dirasakan. Berbeda halnya dengan kanker payudara, di mana benjolan semakin lama semakin membesar, karena bekerja dengan mengikat kulit hingga jaringan yang ada di sekitar payudara.

Adapun jika benjolan itu merupakan kanker payudara, umumnya tidak terasa sakit. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang menganggap benjolan kanker sepele, dan baru memeriksakan diri setelah memasuki stadium lanjut.

“Benjolan kanker payudara di stadium awal tidak nyeri. Ini yang berbahaya karena banyak yang menganggap sepele,” jelas dia.

Karena itu, dalam rangka Hari Kanker Sedunia yang jatuh pada 4 Februari 2019 mendatang, dr. Bob mengimbau kepada para perempuan agar melakukan deteksi dini payudara, baik dengan cara melakukan Sadari (Periksa Payudara Sendiri) maupun Sadanis (Periksa Payudara secara Klinis).

Alasannya, semakin awal kanker payudara diketahui, maka harapan hidup juga semakin tinggi. Begitu pula sebaliknya.

“Jika 10 orang berobat ketika berada di stadium empat, maka lima tahun kemudian sisa yang hidup kemungkinan cuma dua orang. Tapi kalau 10 orang berobat pada stadium satu, maka lima tahun kemudian 10 orang itu masih hidup,” tandasya.

Read more...

Pengetahuan SADARI Kurang Dikenal di Sekolah

Jakarta – Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar menyayangkan pengetahuan Sadari (Periksa Payudara Sendiri) belum dikenal secara luas di institusi pendidikan dasar dan menengah.

Padahal metode tersebut sangat bermanfaat untuk mengetahui kanker payudara sejak dini, juga menekan tingginya angka kanker payudaranya stadium lanjut di Indonesia.

Linda menceritakan, dirinya pernah membandingkan antara sekolah yang berada di pinggiran dan perbatasan, dengan sekolah-sekolah top yang ada di ibu kota Jakarta. Saat ditanya soal Sadari, jawaban yang dia peroleh tak jauh berbeda.

“Tidak cuma sekolah pinggiran dan terpencil, namun juga sekolah top di Jakarta ketika ditanya tentang Sadari, tidak ada yang tahu,” ujar Linda saat menjadi pembicara di STMT Trisakti, Jakarta pada Kamis (17/1).

Linda menyebut sudah pernah berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), agar memasukkan mata pelajaran kesehatan reproduksi dalam kurikulum.

“Tapi alasannya selalu sudah penuh kurikulumnya, atau sudah masuk di pelajaran lain,” terang Linda.

Oleh karena itu, mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) ini mendorong agar Sadari gencar disosialisasikan di tengah masyarakat.

Dia berharap, bukan saja masyarakat teredukasi mengenai kesehatan payudaranya, namun juga bisa diajarkan kepada anak-anak.

Read more...

Gejala Kanker Payudara Pria dan Perempuan Ternyata Sama

Jarang sekali kita mendapatkan informasi secara rinci tentang kanker payudara pada pria. Padalah sering kita melihat postingan di media sosial, kanker payudara pada pria lebih ganas daripada perempuan dan sangat mematikan. Tidak ada yang tahu penyebab kanker payudara pada pria. Jarang pula pria pengidap kanker payudara yang mau dengan leluasa berbagi kisah atau perjuangan melawan kanker payudara yang dialaminya.

Ahli Onkologi Ida Bagus Tjakra Wibawa pada Tempo.co menegaskan gejala pada pria itu sama dengan perempuan. Ada benjolannya tapi justru benjolan pada pria lebih gampang ketahuan. Kenapa? karena pria memiliki sedikit jaringan payudara, jadi perubahan sedikit saja yang terjadi pada payudara pria dapat langsung terdeteksi.Meski ukuran kankernya cenderung lebih kecil dibanding perempuan saat pertama terdeteksi, kanker payudara pada pria lebh sering telah menyebar ke jaringan atau kelenjar terdekat.

Kendati angka kejadian kanker payudara pada pria lebih sedikit dibanding perempuan, tapi lebih mematikan. Salah satu penyebabnya adalah pasien kanker payudara pria cenderung datang diperiksa dalam kondisi stadium lanjut. Ternyata, deteksi dini payudara juga berlaku untuk pria loh. Kenapa harus malu-malu melakukannya.

Tjakra juga mengatakan kecenderungan faktor keturunan kanker payudara para pria itu sebesar 5-10%, sama halnya dengan perempuan, selebihnya karena faktor gaya hidup seperti makanan yang dikonsumsi. Anggapan makanlah semua makanan yang kita suka dikala usia muda karena tidak akan berpengaruh pada kesehatan adalah sangat tidak tepat. Seperti yang diutarakan Tjakra, aturlah pola makan sehat selagi muda dan beraktivitaslah dengan aktif.

Read more...

Berbagai Penelitian Kanker Payudara pada Pria

Ahli bedah payudara asal San Fransisco Amerika Serikat, Dr Jon Greif, mengatakan tingkat kelangsungan hidup untuk pria yang memiliki kanker payudara secara keseluruhan lebih rendah ketimbang perempuan. Dengan kata lain kasus kanker payudara pada pria meski lebih jarang terjadi tetapi bisa lebih mematikan. Hal ini dikarenakan pria pengidap kanker payudara mungkin tidak menyadari penyakit itu dapat dialami pria dan enggan mendapatkan perawatan seperti halnya perempuan.

Saat melakukan risetnya pada periode 1998 – 2007, Greif menemukan bahwa harapan hidup wanita dengan kanker payudara dalam jangka waktu lima tahun setelah penelitian dilakukan (2012) sekitar 83% sedangkan pria hanya 74 % berlaku untuk setia tingkat stadium kanker.

Bagaimana dengan penelitian para ahli lainnya setelah 2012?

American Cancer Society mengestimasi sekitar 2.250 kasus kanker payudara pada pria ditemukan pada 2018. Sekitar 480 diantaranya diperkirakan meninggal dunia.

Kanker payudara pada wanita dan pria umumnya memiliki banyak kesamaan seperti terdapat tumor atau pembengkakan pada payudara, kulit yang mengeras, puting yang masuk ke dalam, dan kemerahan.

Hingga saat ini, masih belum dapat diketahui secara pasti penyebab munculnya kanker payudara pada pria. Namun, para ahli sepakat beberapa gaya hidup, hormon dan gen mempengaruhi kanker payudara pada pria. Mulai dari terpapar radiasi, alkohol, obesitas, usia, riwayat keluarga terkena kanker, hingga mutasi gen yang diwariskan. Rata-rata pria yang didiagnosis menderita kanker payudara berusia 68 tahun.

Karena penyebab pasti yang tak diketahui, upaya pencegahan khusus juga belum ditemukan. Namun, para ahli dari Cancer.org menyarankan agar para pria selalu menjaga berat badan ideal dan menghindari alkohol untuk mengurangi risiko terkena kanker payudara.

(dari berbagai sumber : cnnindonesia.com, kompas.com, Times for India)

Read more...

Wahai Pria, Bersiaplah Terdiagnosis Kanker Payudara

Jakarta – Tak ada satupun pria percaya dapat mengidap kanker payudara. Baginya, di dada bidangnya tidaklah terdapat payudara seperti halnya perempuan. Hal ini membuat mereka sulit merasakan sedikitpun keluhan yang dirasakan di payudaranya atau menyadari perubahan pada payudaranya. Bahkan jika itu terjadi, pria enggan diperlakukan sama dengan perempuan dalam melakukan perawatan medis kanker payudara.

Dari sekian banyak pria yang terdiagnosis kanker payudara, tak banyak pula pria yang mengalami kanker payudara mau terbuka berbagi kisahnya. Tapi tidak bagi Ian Cranston, 71 tahun, asal Irlandia Utara. Negara yang rata-rata diketahui 10 pria terdiagnosis menderita kanker payudara setiap tahunnya. Ian didiagnosis kanker payudara pada Mei 2017. Dua minggu kemudian dia menjalani mastektomi.

Ayah dua anak dari kota Portadown ini dinyatakan sembuh dari kanker payudara pada bulan Juni dan memutuskan untuk berbicara secara terbuka, agar semua pria sadar bahwa kanker payudara tidak hanya menyerang kaum perempuan.

Dia mengatakan para pria juga perlu memeriksakan payudara mereka agar mengetahui setiap perubahan. Untunglah saat itu, Elizabeth, istri Ian, melihat puting suaminya melesak ke dalam saat keluar dari kamar mandi.

Kala itu Ian berpikir pria tidak pernah terkena serangan kanker payudara dan tidak perlu ke dokter. Karena pria tidak punya payudara, melainkan dada.

Kini Ian memutuskan untuk membantu dan meningkatkan kesadaran akan penyakit ini, karena dengan berbicara bisa membantu orang, dan itu akan sangat berharga. “Saya bisa mengerti mengapa perempuan bisa terkena kanker payudara, karena saya mengalaminya sendiri,” katanya.

Lain halnya dengan Ian, penabuh grup band legendaris KISS, Peter Crisis, langsung melakukan pemeriksaan sistematis dan terbuka pada umum saat dinyatakan mengidap kanker payudara pada 2008. Kini, Peter aktif sebagai spokeperson untuk menumbuhkan kewaspadaan terhadap kanker payudara pada pria. Setiap Oktober yang dikenal sebagai bulan peduli kanker payudara, Peter pun ikut andil dalam pawai besar yang melibatkan ribuan orang. Tujuannya hanya satu, mengumpulkan dana untuk penelitian kanker payudara. Semoga semakin banyak pria yang peduli terhadap payudaranya dan akan siap jika kemungkinan itu terjadi pada dirinya. Pria melakukan deteksi dini? Kenapa tidak?

(summber bbc.com, Kompas.com & Tribunnews.com)

Read more...

Empat Gejala yang Patut Dicurigai oleh Pria pada Payudaranya

1. Benjolan
Benjolan merupakan tanda pertama dan utama kanker payudara, baik pada pria ataupun perempuan. Nah, pria sering cenderung mengabaikannya ketimbang perempuan. Biasanya muncul tanpa rasa sakit, tetapi terkadang benjolan ini terasa lembut disentuh. Jika kanker sudah menyebar, peradangan bisa sampai ke ketiak.

2. Puting susu
Posisi puting yang terbalik menandakan adanya pertumbuhan tumor ganas atau kanker payudara. Saat tumbuh, sel-sel kanker dapat menarik ligamen di dalam payudara. Efeknya, bisa membuat puting menjadi penyok, kering dan juga bersisik.

3. Keluar cairan
Jika Anda melihat ada noda di baju sekitar dada, itu bisa menandakan adanya cairan yang keluar dari puting payudara. Cairan tersebut merupakan cairan tumor yang menumpuk dalam jaringan payudara, sehingga keluar melalui saluran puting.

4. Luka terbuka
Puting yang memiliki luka terbuka adalah situasi yang ekstrim, yang menandakan adanya pertumbuhan tumor melalui kulit. Karena jaringan payudara pada pria tidak sebanyak pada perempuan, maka gejala luka akan terlihat seperti jerawat yang sudah dipencet, berdarah serta bernanah.

Read more...