Antara aku, Keluarga Ku, dan Kanker

Aku terlahir dengan nama lengkap  Sripanti Handayani, orang orang disekelilingku sering memanggilku Anda. “Bersyukur”. Apabila ada kata sempurna di dunia, mungkin itu kata yang paling pas untuk menggambarkan hidupku. Aku  wanita 38 tahun yang memiliki suami yang perhatian dan juga 2 anak yang membanggakan. Rutinas harianku  bekerja di salah satu perusahaan swasta di Ibukota sebagai Manager  Customer Care Department, dimana hariku harus senantiasi memperlihatkan keceriaan dan semangat agar dapat melayani orang-orang yang berbeda setiap harinya.

Aku termasuk seseorang yang sangat menikmati apa itu hidup, aku jalani hidup dengan rasa syukur dan juga ceria. Aku beranggapan bahwa hidup itu hanya sekali dan aku harus menikmati arti kehidupan. Hingga akhinya…

Tahun 2016 menjadi tahun yang membolak-balikkan hidupku dan pikiranku. Tahun di mana aku merasa kehilangan sesuatu yang aku miliki. Tahun di mana aku merasa ini adalah akhir dari segalanya.

Aku merasa ada yang berbeda di tubuhku, aku merasakan adanya benjolan dibagian payudaraku. Seperti biasa, aku melakukan pemeriksaan sederhana dengan menggunakan tangan dan terasa ada benjolan sekitar 4 cm. Awalnya aku beranggapan bahwa ini hanya benjolan biasa yang hanya terjadi karena aku sedang dalam masa menstruasi. Tapi, anggapanku salah. Di malam hari sebelum aku tidur, aku merasa benjolan ini semakin membesar. Dan akhirnya aku memutuskan untuk memeriksanya kerumah sakit.

Keesokan harinya, aku berangkat menuju Rumah Sakit Kanker Darmais. Di sana aku melakukan pemeriksaan seluruh tubuh, termasuk pemeriksaan fisik dan USG . Hari berikutnya, hasil dari rumah sakit sudah kupegang. Dokter mengatakan bahwa ada keganasan hinggap di bagian payudaraku. Dan dokter tersebut langsung merujuk diriku ke dokter bedah, diputuskan untuk melakukan mamografi  untuk mengetahui seberapa ganasnya benjolan itu di dalam tubuhku.

Dan akhirnya, dokter bedah mengatakan untuk melakukan pembedahan dengan melakukan operasi untuk mengangkat benjolan yang ada di daerah payudaraku. Seminggu setelah melakukan operasi, aku menunggu hasil dari dokter  apakah ada kanker atau tidak. Dan akhirnya tiba saatnya dokter pun mengatakan memang ada kanker stadium 2B di payudaraku dan diputuskan untuk diangkat. Saat itu aku tidak berpikir apapun selain kesembuhanku. Aku tidak memikirkan fisik luarku , Yang aku pikirkan adalah bagaimana penyakit ini hilang dari tubuhku dan juga untuk menghindari penyebaran lebih ke bagian tubuhku yang lain. Walaupun tidak dipungkiri ada rasa sedih mendalam yang hinggap di jiwaku.

Sebagai wanita aku memang tidak bisa membohongi diri sendiri. Sedih! Pedih! Bingung! Dan aku belum bisa menerima apa yang terjadi. Aku merasa sangat menjaga makanan yang aku asup setiap harinya, dalam hati aku sering berpikir kenapa harus aku? Aku sudah menjaga badanku, tapi kenapa harus aku?! Aku wanita yang tidak merokok, aku juga wanita yang sudah melahirkan dan juga menyusui, bahkan 2 kali! Yang seharusnya resiko penyakit itu tidak ada di dalam hidupku. Tapi inilah nasibku, aku harus bisa menerimanya dan apapun itu juga harus aku jalani.

Hampir setiap malam aku berpikir aku adalah wanita yang tidak sempurna, yang ada didalam pikiranku adalah ketakutanku akan suamiku yang meninggalkanku karena penyakitku ini. Dan juga dalam tangis aku berpikir tentang bagaimana anak-anakku? Mereka masih kecil! Dalam pikirku bagaimana mereka apabila tidak memiliki ibu padahal mereka masih sangat kecil? Saat itu aku juga memikirkan kemoterapi yang aku tahu bahwa orang yang mengidap kanker harus menjalankannya. Seperti gemuruh yang ada dipikiranku saat itu, perang pikiran terus menerus yang aku rasakan. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya kemoterapi dan rontoknya rambut setelah proses itu, juga efek lainnya seperti sepengetahuanku. Dan juga keluarga yang sedih memikirkan penyakit yang kurasakan, sama sepertiku, mereka belum bisa menerima. Ini merupakan titik terendah dalam hidupku, ini merupakan hal tersedih dalam hidupku.

Akhirnya keluargaku bisa menerima apa yang ku alami. Mereka memiliki peranan yang sangat berati. Peranan keluarga juga sangat berpengaruh, terutama dukungan dari suami dan juga anak – anakku. Aku harus menjelaskan perlahan mengenai penyakit ini kepada anak-anakku. Mereka masih kecil dan tidak mengetahui apa itu kanker. “Mommy, nanti payudaranya tumbuh lagi kan?”, pertanyaan yang lucu, pikirku. Berbeda dengan suamiku, yang lebih stress memikirkan, karena dia adalah tipe pemikir yang berbanding terbalik denganku yang lebih ceria menghadapi apa yang terjadi, meskipun  kekhawatiran itu selalu ada. Tapi aku bangga dengan suamiku, yang masih bisa menerimaku apa adanya dengan apa yang terjadi di dalam hidupku.

Akhirnya aku diundang di dalam Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), yang di dalamnya terdapat orang-orang yang sama denganku, bahkan aku mungkin jauh lebih beruntung dari mereka yang terdiagnosa dengan macam-macam penyebaran. Tapi mereka semua ceria, mereka bersemangat. Mereka semua memiliki semangat hidup yang lebih besar dibandingkan diriku yang seharusnya aku bersyukur kanker yang ada di tubuhku termasuk stadium rendah. Ya, YKPI banyak sekali manfaatnya di dalam hidupku dan juga hidup teman-temanku. Banyak kegiatan positif yang sering dilaksanakan untuk tidak hanya kita memikirkan diri kita dan juga penyakit yang kita rasakan. Dan sedikit banyak  bisa melupakan bahwa kita rata2 pasukan “dada rata”.

Kanker, menurutku memang penyakit yang sangat menakutkan. Semua orang tidak ingin dihampiri oleh penyakit itu. Tapi, dengan kanker ada di dalam tubuhku, aku sadar untuk lebih menghargai hidup, sadar untuk menikmati hidup. Aku katakan bahwa  kita yang terdiagnosa kanker adalah orang-orang terpilih. Tuhan telah memilih kita artinya kita dapat kesempatan untuk selalu dan sealu berbuat baik dan  terus bersyukur  serta menghargai helai demi helai arti kehidupan kita saat ini. Dan juga aku tahu aku memiliki kekuatan terbesar dalam hidupku. Ya, anak-anak menjadi hal yang paling berperan untuk membuatku lebih semangat. Pesanku untuk semua adalah, apabila kita sakit, jangan mengganggap kita sakit dan tidak bisa melakukan berbagai aktivitas dan hanya terpuruk dengan apa yang terjadi. Kita harus sadar bahwa banyak orang yang menyayangi kita dan memberi kita support. Dan hal itulah yang bisa membuat kita lebih semangat untuk menghadapi hidup.

Penulis: Fatin Hamamah Zain/ Team PR & Media YKPI

Share this post